Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Qabultu


__ADS_3

Adnan tiba di pesantren menjelang subuh bersama kedua orang tuanya. Meskipun begitu, Suasana pesantren sudah begitu ramai dengan kegiatan santri yang bersiap untuk melaksanakan shalat subuh, Sementara sebagian santri lainnya tengah khusuk melaksanakan shalat sunah dan membaca Al-Qur'an. Melihat itu semua membuat Adnan begitu merindukan saat-saat ia mengabdi di pesantren selama bertahun-tahun lamanya.


Ia menarik nafas dalam-dalam ketika mengingat ia terpaksa harus meninggalkan pesantren yang sudah ia anggapnya rumah kedua karena masalah percintaannya dengan Faza, Meskipun ia telah ikhlas melepaskan Faza. Namun sisa-sisa rasa belum hilang sepenuhnya.


"Astaghfirullahhaladzim..." lirih Adnan memejamkan mata untuk menepis ingatannya tentang Faza. Namun belum sempat ia membuka matanya kembali. Adnan di kagetkan oleh suara yang tidak asing di telinganya.


"Adnan..."


"Pak Kiai, Assalamualaikum." Adnan langsung menyambut Pak Kiai dan mencium tangannya dengan ta'dzim.


"Wa'alaikumsalam. Kamu baru datang?"


"Ya Pak Kiai, Kami baru saja datang ini belum sempat kemana-mana," ucap Adnan menoleh ke kanan kirinya melihat kedua orang tuanya yang mengapitnya.


"Apa kabar Pak Kiai?" tanya Rudi.


"Alhamdulillah, Bagaimana Pak Rudi dan Bu Nisa?"


"Alhamdulillah kami juga baik."


"Kalau begitu mari kita ke rumah, Kamu dan Ayah ibu mu bisa mandi sebelum melaksanakan shalat subuh."


"E... Tidak Pak Kiai, Kami di rumah Ustadz Azmi saja, Atau di asrama juga tidak papa, Iya kan Yah, Bu?"


"Itu benar Pak Kiai, Kami tidak ingin merepotkan."


"Sama sekali tidak merasa di repot kan Pak Rudi, Tidak masalah mari-mari..."


Dengan terpaksa Adnan mengangguk dan mengikuti kedua orang tuanya yang lebih dulu melangkah mengikuti Pak Kiai. Hatinya begitu berdebar begitu memasuki pintu rumah Pak Kiai yang sudah cukup lama ia tidak lagi menginjakkan kakinya di sana. Ia yang seharusnya berada di hari membahagiakan itu, Kini harus rela hanya menjadi tamu undangan saja.


Adnan seketika membatu saat melihat Faza keluar dari dalam bersama Ummi nya. Perasaan cinta yang pernah ia rasakan nyatanya belum sepenuhnya hilang dari hatinya. Begitupun dengan Faza yang terlihat canggung melihat Adnan dan kedua orang tuanya. Biar bagaimanapun mereka cukup lama berhubungan baik bahkan hampir menikah.


Ummi yang melihat Faza hanya berdiam diri menyikut Faza untuk menyapa kedua orang tua Adnan.


"E... Assalamualaikum Pak Rudi, Bu Nisa, Apa kabar?"


"Alhamdulillah Nak Faza. Bagaimana kabar mu?"


"Alhamdulillah baik juga, E.. Ustadz Adnan bagaimana kabar Anda?" tanya Faza yang merasa begitu canggung.


"Aku juga baik, Selamat untuk pernikahan mu, Semoga di lancarkan tanpa kendala apapun."


"Aamiin, Terimakasih Do'a nya, Semoga Ustadz juga segera di pertemukan dengan jodoh yang terbaik menurut Allah SWT."


"Aamiin." Adnan menundukkan kepala, Sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sesak di dadanya dari kedua orang tuanya dan juga seluruh keluarga Faza yang juga telah berkumpul menyambut kedatangannya.


•••

__ADS_1


Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu oleh kedua mempelai tinggal menunggu beberapa jam lagi menuju Akad.


Seluruh keluarga Zayn juga telah tiba di kediaman mempelai wanita.


Zayn yang mengenakan stelan jasko serba putih dengan kopiah berwarna putih terlihat semakin memancarkan aura ketampanannya.


Dengan di gandeng saudara kembarnya, Zayn melangkah turun dari mobilnya yang terparkir di pelataran pesantren.


"Assalamualaikum, Selamat datang Pak Faraz." Sambut Pak Kiai yang dengan rendah hati menyambut calon besannya.


"Wa'alaikumsalam, Terimakasih Pak Kiai."


Pak Kiai menjabat seluruh keluarga Faraz tak terkecuali dengan kedua putranya yang juga ikut menyambut mereka.


"Oh ya perkenalkan, Dia Hasan dan Husain Kakaknya Faza."


Dengan senyum ramah mereka saling berjabat tangan.


"Apakah mereka juga kembar?" tanya Faraz.


"Tidak, Mereka lahir dengan selisih satu setengah tahun."


"Oh ya, Pantas saja, Mereka terlihat seperti kembar."


"Jadi ini yang akan menjadi suami dari Faza?" tanya Hasan.


"Iya Gus." saut Zayn.


"Hasan jangan Su'udzon." tegur Pak Kiai.


"Insya Allah tidak Gus, Meskipun wajah kami serupa, Tapi sifat dan karakter kami jauh berbeda, Ning Faza tidak akan kesulitan membedakan kami." jelas Zayn.


"Baiklah lanjut perbincangannya nanti saja, Mari masuk ke dalam."


Zayn pun mengangguk dan melangkah mendekati meja Akad yang terlihat masih kosong.


"Duduklah Zayn," ucap Zayd menepuk pundak saudara kembarnya.


Dengan patuh Zayn bersiap duduk. Namun belum sempat ia duduk, Zayn yang melihat Penghulu datang menjadi begitu tegang.


"Tenanglah Zayn," ucap Faraz mengusap-usap punggungnya.


"Tarik nafas dalam-dalam hembuskan perlahan, Ingat tujuan utama mu, Kamu ingin menikahi Faza, Maka ingatlah dia terus. Jangan sampai kamu melepaskan kesempatan ini dan kembali gagal mendapatkannya." lanjut Faraz.


"Model tersesat sekaligus mantan Casanova bisa nerves juga, Hahahaha" Bimo yang baru datang membisikan ejekannya pada sahabatnya tersebut.


"Bimo!" Zayn yang merasa geram harus menahan amarahnya karena melihat Penghulu yang telah sampai di hadapannya.

__ADS_1


Bimo hanya terkekeh dan duduk di kursi tamu.


"Silahkan duduk," ucap Pak Kiai mempersilahkan semuanya duduk di kursi masing-masing.


Terlihat Adnan dan kedua orang tuanya juga telah di duduk di kursi tamu dengan tamu penting lainnya. Meskipun hatinya begitu resah namun demi ta'dzim nya kepada Pak Kiai Adnan harus tetap menyaksikan mantan tunangannya itu menikah dengan pria lain di depan matanya.


"Tenanglah Nak, Percaya pada Allah, Kelak kamu akan mendapatkan jodoh yang menentramkan hati dan menyejukkan mata saat kamu memandangnya," ucap Rudi menggenggam tangan putranya.


"Aamiin terimakasih Yah."


Mereka kembali menatap kedepan ketika Pak Kiai bersiap menikahkan putri kandungnya secara langsung tanpa perantara.


Dengan tegang Zayn menjabat tangan Pak Kiai yang mulai membacakan lafal ijab.


أنكحتك وزوجتك مخطوبتك بنتي…. علىالمهر…. حالا


Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Faza Aishaqila alal mahri kitab suci Al-Qur'an dan uang tunai sebesar 100.322 dirham hallan.


Artinya: "Aku nikahkan engkau, dan Aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, Puteriku Faza Aishaqila dengan mahar kitab suci Al-Qur'an dan uang tunai sebesar 100.322 dirham dibayar tunai"



Dengan lancar Zayn mengucapkan lafal qabul dengan satu kali tarikan nafas.


قبلت نكاحها وتزويجها على المهر المذكور ورضيت بهى والله ولي التوفيق


Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq


Artinya: "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah"


Faza yang yang sejak tadi menunggu di dalam kamarnya dengan perasaan cemas angsung sujud syukur begitu mendengar kata SAH dari para saksi dan tamu undangan yang hadir.


"Alhamdulillah nduk, Kamu sudah resmi menjadi istrinya Zayn," ucap Ummi yang sejak tadi menemani Faza.


"Alhamdulillah Ummi." dengan tangis Haru, Faza memeluk Umminya.


"Selamat Ning," ucap Mbak Anna yang juga menemani Faza selama menunggu prosesi akad berlangsung.


"Terimakasih Mbak." Faza memeluk Mbak Anna yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya sendiri.


"Nangisnya nanti aja, Suami mu sudah tidak sabar ingin melihat istri yang baru ia nikahi," ucap Husain yang menjemput Faza di kamarnya.


Faza mengurai pelukannya dan menghapus air matanya.


"Ayo kita keluar," ucap Ummi.


Faza mengangguk dan keluar dari kamar untuk prosesi berikutnya.

__ADS_1


Bersambung.


📌 Mohon maaf jika ada kesalahan bacaan ijab, Hanya itu sepengetahuan Author 🙏😁


__ADS_2