
Zayn keluar dari kamar mandi dan terus menghirup Jari-jemarinya.
Sudah lebih dari sepuluh kali Zayn bolak balik ke kamar mandi karena tidak percaya dirinya telah bersih dari hajat. Ia benar-benar merasa masih kotor dan tidak sanggup jika tiap hari harus buang hajat sedemikian sulit dan memalukan dirinya. Ingin rasanya pulang ke rumah dan berendam di bathtub nya yang besar dengan taburan bunga yang tidak hilang wanginya selama tujuh hari tujuh malam.
Terbersit dalam pikirannya untuk lari saja dari desa yang ia sendiri tidak tau dimana letaknya. Namun apa yang di katakan pemuda setempat membuatnya tercengang dan tak bisa melakukan apa-apa.
"Apa!"
"Iya Mas, Di sini memang tidak ada kendaraan umum baik itu angkot maupun ojek, dan jarak desa ini ke kota sangatlah jauh, Jika Mas mau jalan kaki belum tentu sehari sampai kota."
"Jadi uang sebanyak ini tidak berguna di desa ini?" tanya Zayn dengan memegang segepok uang di tangannya.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya karena memang begitulah kenyataannya.
"Lalu.... Ponsel? Kamu ponsel?"
"Percuma saja punya ponsel di sini karena di sini tidak terdapat sinyal."
"Oh ya ampun, Pergi saja ke Neraka Zayn!" ucapnya pada diri sendiri.
•••
__ADS_1
Di pesantren Pak Kiai tengah menerima panggilan telepon dari Faraz.
Sebagai orang tua pasti sedikit banyak merasakan apa yang Anak-anaknya rasakan, Apa lagi jika anaknya tengah mengalami kesulitan. Tak terkecuali dengan Faraz yang tiba-tiba merasa khawatir tentang keadaan Zayn yang sudah lama tidak menghubunginya.
"Mohon maaf Pak Faraz, Saya tidak memberitahu Anda terlebih dahulu jika Zayn tengah menjalani hukuman di salah satu desa terpencil yang jauh dari sini."
"Apa! Apa Zayn berulah lagi? Bukankah sebelumnya Zayn telah benar-benar berubah? Lalu apa yang terjadi Pak Kiai?"
"Zayn telah melewati batas dengan menyentuh Faza, Putri saya!"
Faraz tercengang mendengar apa yang Pak Kiai katakan.
"Maaf Pak Kiai, Apa Pak Kiai yakin?"
"Tapi tidak adakah cara lain untuk menghukum putra Saya Pak Kiai?" protes Faraz yang merasa keberatan.
"Besarnya fitnah perempuan bagi laki-laki, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengingatkan tentang besarnya kerusakan dan fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan terhadap laki-laki dalam sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam: “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah (keburukan/kerusakan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi (fitnah) kaum perempuan” [3. HSR al- Bukhari (no. 4808) dan Muslim (no. 2740)]
Termasuk hubungan yang diharamkan dalam Islam karena besarnya kerusakan yang ditimbulkannya adalah apa yang disebut sebagai “pergaulan bebas” Antara laki-laki dan perempuan tanpa ada ikatan yang dibenarkan dalam syariat. Perbuatan ini akan menimbulkan banyak keburukan dan kerusakan besar, Seperti menyentuh yang bukan mahram, Bertemunya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, Berkenalan, Berjabat tangan, Berteman dekat dan berpacaran. Dan tentu saja semua hubungan yang tidak halal ini bisa mengantarkan kepada perbuatan zina dan penyimpangan akhlak lainnya, na’dzu billahi min dzaalik."
Faraz menarik nafas dalam-dalam, Rasanya tidak mungkin untuk kembali memprotes apa yang sudah jadi keputusan Pak Kiai.
__ADS_1
"Saya melakukan ini untuk kebaikan Zayn dan Faza agar terhindar dari fitnah dan rasa cinta yang tidak bisa mereka kuasai."
"Apa ini artinya Pak Kiai mengakui jika mereka saling mencintai?"
Pak Kiai terdiam mendengar pertanyaan Faraz.
"Mohon maaf Pak Kiai, Jika sudah menyangkut masalah cinta jangankan orang lain, Bahkan diri sendiri juga tidak bisa mengontrolnya."
"Bisa! Jika Cinta itu di landasi oleh keimanan yang kuat dan selalu melibatkan Allah SWT di setiap langkahnya, Maka Cinta itu tidak akan melewati batasannya, Cinta yang tidak bisa di kontrol hanya untuk mereka yang memiliki iman lemah sehingga mudah bagi syaitan menguasai hati manusia untuk membuat kerusakan mengatasnamakan cinta."
Mendengar hal itu Faraz tidak bisa lagi menjawab dan hanya bisa memasrahkan nasib putranya pada Pak Kiai sambil berharap apapun yang di jalani putranya demi kebahagiaan dan kebaikannya kelak.
•••
Di perkebunan, Zayn mulai melakukan aktivitasnya seperti yang sudah Ustadz Saifullah perintahkan. Ya itu memanen cengkeh dengan memanjat pohonnya. Pengalaman pertama bagi Zayn memanjat pohon membuat Zayn sedikit gemetar, Apa lagi di pohon tersebut terdapat banyak semut rangrang, Membuat Zayn harus siap kapanpun semut-semut itu menggigit kulit mulusnya.
Perkebunan yang luas membuat Zayn harus berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
Menjelang sore Zayn turun dari pohon terakhir dan mengumpulkan cengkeh untuk di masukan ke karung, Tidak hanya cengkehnya saja, Zayn juga harus memasukan daun-daun cengkeh kering ke dalam karung yang berbeda. Karena Cengkeh dan daunnya sama-sama memiliki nilai jual yang tinggi sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.
Zayn memikul cengkeh dan membawanya pulang ke rumah Ustadz Saifullah hingga beberapa kali balik.
__ADS_1
Ustadz Saifullah yang melihatnya merasa kagum kepada Zayn yang terlihat tidak lagi mengeluh menjalani kehidupannya sebagai petani. Hal ini membuat Ustadz Saifullah merasa perlu memberitahu perkembangan Zayn kepada Pak Kiai selama satu minggu menjalani kehidupannya di kota terpencil.
Bersambung...