
Setelah Sakinah mengganti pakaiannya dengan pakaian syar'i,
Sakinah di tuntun Mamahnya duduk di samping Papahnya menghadap Adnan dan kedua calon mertuanya. Ia tak melepaskan pandangannya pada Adnan. Hatinya benar-benar bahagia tak terkira, Tanpa pembicaraan apapun sebelumnya, Tiba-tiba Ustadz yang begitu ia kagumi membawa kedua orang tua serta rombongan untuk melamarnya.
Adnan yang melihat tatapan Sakinah mengalihkan pandangannya dan menyenggol tangan Ayahnya.
"Oh, E... Jadi bagaimana Nak Sakinah?"
"Apanya?" tanya Sakinah yang tidak mengetahui pembahasan sebelumnya.
Adnan menahan senyumnya. Setelah cukup lama mengenal Sakinah. Baru kali ini Adnan melihat wajah Sakinah yang terlihat begitu polos karena kebingungannya atas pertanyaan yang Rudi ajukan.
"Begini Sayang, Pak Rudi mengajukan lamaran untuk mu, Dan Papah sudah menyetujuinya sekarang giliran kamu, Apa kamu..."
"Setuju, Setuju banget malah," ucap Sakinah memotong pertanyaan Papahnya tanpa rasa sungkan kepada Adnan maupun kepada kedua calon mertuanya. Hal itu membuat Adnan dan kedua orang tuanya terhenyak. Sementara para rombongan terlihat menahan tawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan masing-masing.
"Jangan bikin Papah malu." bisik Pak Arsyad yang nyaris tak membuka mulutnya.
"Bukankah kalau menolak baru bikin Papah malu?" tanya Sakinah tanpa rasa bersalah.
"Iya tapi kaya gini juga bikin Papah malu, Kamu kan wanita, Setidaknya jaga image mu, Bersikaplah malu-malu dalam menyetujui sebuah lamaran, Apa lagi dari seorang Ustadz."
__ADS_1
"Pah, Ini sudah ku impikan sejak lama, Jadi Aku tidak sabar lagi untuk mengatakan iya, Untuk apa malu-malu kalau memang mau."
Melihat Ayah dan Anak itu yang terus berbisik, Nisa juga berbisik pada Rudi setelah melihat kelakuan calon menantunya tersebut.
"Mas, Apa kamu yakin akan menjadikannya menantu?"
"Apa yang kamu katakan Dek, Bukankah kamu yang begitu mendukung Adnan untuk segera menikahinya?"
"Iya, Tapi Aku tidak menyangka jika Sakinah se bar-bar ini, Namanya saja Sakinah masa kelakuannya begitu," gerutu Nisa.
"Nama seseorang tidak menentukan karakter orang tersebut," ucap Rudi tersenyum.
"Putra kita adalah seorang Ustadz, Pendakwah, Bagaimana jika Sakinah tidak bisa menjaga adabnya di depan orang banyak saat mendampingi Adnan?"
Nisa terdiam memperhatikan calon menantunya tersebut. Realita yang begitu jauh dari Ekspektasi nya.
•••
Zayn yang tidak bisa tidur menatap Faza yang sudah tidur pulas ia mengusap kepalanya dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia keluar ke balkon untuk menghirup semilirnya angin malam yang sudah lama tidak ia rasakan.
Dengan bertumpu pada kedua tangannya di railing balkon Ia memejamkan mata merasakan sapuan angin di wajahnya yang terasa begitu menyegarkan. Namun ketenangan terganggu saat mendengar teriakan seorang wanita yang tidak asing di telinganya.
__ADS_1
Ia membuka mata dan melihat ke seberang jalan rumahnya.
Terlihat Devita tengah bertengkar dengan seorang pria mengenakan pakaian serba hitam yang terlihat seperti tengah menjelaskan. Namun terlihat Devita tidak mau mendengarkan pria tersebut dan mendorong pria itu dari pagar rumahnya. Meskipun pertengkaran itu terlihat begitu alot. Namun akhirnya pria itu menyerah dan meninggalkan rumah Devita dengan mobil mewahnya. Zayn yang begitu penasaran berlari turun dan mendatangi rumah Devita.
"Devita."
Devita yang hampir menutup pintu kembali membukanya dan begitu terkejut melihat kedatangan Zayn di tengah malam.
"Zayn, Apa yang kamu lakukan? Kenapa kemari, Bagaimana jika istrimu tau?"
"Jangan salah paham Devita, Aku kesini hanya ingin tau sedikit tentang mu, Biar bagaimanapun dulu kamu begitu baik padaku, Dan Aku tidak melupakan itu."
"Jadi maksud kedatangan mu?"
"E... Devita, Aku sudah mendengar sedikit cerita tentang mu, Dan tadi Aku tidak sengaja melihat mu bertengkar dengan seorang pria, Apa itu Ayah dari bayi mu?"
Mendengar pertanyaan itu Devita langsung menangis menundukkan kepalanya. Terlihat ia begitu menderita dengan keadaan saat ini. Hal itu semakin membuat Zayn penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada nya.
"Jika kamu mempercayai ku, Kamu bisa ceritakan apa yang terjadi pada mu setelah Aku ke pesantren."
Devita mengusap air matanya dan menatap Zayn dengan perasaan haru. Laki-laki yang begitu ia cintai sejak dulu, yang tidak pernah peduli padanya kini menunjukkan kepeduliannya di saat terburuknya.
__ADS_1
Bersambung...