Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Flashback Devita


__ADS_3

"E... Maafkan sikap Sakinah Pak Rudi, Bu Nisa," ucap Pak Arsyad hingga membuat Nisa tersentak.


"Tidak masalah Pak Arsyad, Namanya juga Anak-anak," saut Rudi.


"Ya, Dia memang ceplas-ceplos, Tidak bisa menjaga image sama sekali." lanjut Pak Arsyad.


"Tidak masalah, Justru itu akan berdampak positif pada putra kami yang cenderung pendiam."


Mendengar hal itu Adnan terdiam menatap Sakinah dan langsung di sambut oleh Sakinah yang menaikan kedua alisnya hingga membuat Adnan langsung mengalihkan pandangannya. Hal itu membuat Sakinah terkekeh dan semakin ingin menggodanya jika memiliki kesempatan lagi.


"Baiklah kita mulai bicarakan tanggal pernikahan mereka?" tanya Rudi.


"Tentu." saut Pak Arsyad.


Sementara para orang tua membicarakan tanggal pernikahan Adnan dan Sakinah serta segala persiapan apa saja yang harus dilakukan. Adnan dan Sakinah ke teras untuk bicara secara pribadi.


Sakinah menahan diri untuk bicara terlebih dahulu dan menunggu Adnan untuk membuka pembicaraan. Namun setelah menunggu beberapa menit, Sakinah melihat keringat dingin dan jari jemarinya yang tidak bisa berhenti bergerak seperti memetik piano. Hal ini membuat Sakinah tak bisa menahan diri untuk menggodanya.


"Apa Ustadz merasa gugup?"


"Hagh!" Adnan tersentak dengan pertanyaan Sakinah.


"Ada apa Ustadz, Kemana sikap garang Ustadz seperti saat mengajari ku mengaji?"


Adnan semakin gelagapan dengan apa yang Sakinah katakan.


"Ustadz, Ustadz benar-benar banyak kejutan. Ustadz begitu garang dan tegas saat mengajari ku mengaji, Ustadz juha tidak pernah menyinggung apalagi mengatakan rasa ketertarikan kepada ku, Tapi tiba-tiba Ustadz melamar ku dan setelah melamar, Sekarang Ustadz terdiam seribu bahasa seperti Aku saja yang baru melamar Ustadz," ucap Sakinah terkekeh.


"Sakinah hentikan!" tegas Adnan yang begitu merasa malu sekaligus kesal dengan apa yang Sakinah katakan. Namun Sakinah tetap terkekeh hingga membuat Adnan bangkit dari duduknya dan mendekati Sakinah dengan berdiri di depannya.

__ADS_1


"Aku bilang hentikan, Ini tidak lucu!"


Sakinah terdiam saat sepasang mata mereka bertemu. Melihat tatapan yang tak biasa dari Sakinah, Adnan langsung mengalihkan pandangannya dan berbalik badan membelakangi Sakinah.


"Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa seorang muslim yang menikah berarti telah menyempurnakan agama. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: 


“Jika seseorang menikah, Maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, Bertakwalah kepada Allah pada separuh lainnya."


"Jadi selain karena permintaan Papah mu, Aku juga ingin menyempurnakan separuh agama ku."


Setelah mengucapkan itu, Adnan kembali masuk dan kembali duduk bersama kedua orang tuanya.


Sakinah mencebikan bibirnya mendengar perkataan Ustadz Adnan yang dianggapnya hanya sebuah alasan.


"Apa kalian sudah selesai bicara?" tanya Pak Arsyad begitu melihat Adnan masuk.


"Sudah Pak."


Adnan tersenyum tipis dan menatap Ayahnya.


"Itu benar Nak, Pernikahan kalian Akan di selenggarakan Jum'at ini, Jadi bersiaplah."


"Hagh! Jadi kurang dari seminggu lagi Aku akan menikah?" saut Sakinah yang masih berdiri tak jauh dari mereka.


"Iya, Apa kamu keberatan?" tanya Pak Arsyad.


"Apa yang Papah katakan, Justru ini terlalu lama, Bahkan malam ini pun Aku siap menikah dengan Pak Ustadz." seperti biasa Sakinah tersenyum nenaik turunkan kedua alisnya menggoda calon suaminya.


Adnan langsung mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepalanya. Sementara Nisa terheran-heran dengan sikap calon menantu yang akan mendampingi putranya.

__ADS_1


•••


Melihat Zayn yang begitu peduli dan sungguh-sungguh ingin mengetahui kisah hidupnya akhirnya Devita mulai menceritakan apa yang terjadi setelah Zayn pergi ke pesantren.


Saat itu Devita yang begitu sedih atas kepergian Zayn. Menerima tawaran temannya untuk menghadiri pesta yang temannya adakan di sebuah club' malam. Minuman yang memabukkan tentu hal biasa di tempat seperti itu hingga membuat Devita tidak bisa menolak saat temannya menyodorkan minuman langsung ke mulutnya.


"Sekali saja Devita, Ini tidak akan membuat mu mabuk," ucapnya.


Mau tidak mau Devita menenggak minuman itu, Melihat Devita yang sudah mau menenggak minuman yang ia berikan. Membuat teman-teman yang lain tertawa dan ikut mencekoki Devita hingga ia meminum beberapa gelas dan membuatnya mabuk. Di saat itulah seorang pria menawarkan diri untuk membantu Devita dan mengantarkan pulang. Karena teman-teman Devita mengenal pria tersebut. Mereka pun membiarkan Devita di bawa pergi oleh pria tersebut. Namun bukannya mengantar Devita pulang, Pria itu malah membawanya ke sakah satu hotel.


"Dan tidak perlu kamu tanyakan lagi apa yang pria itu lakukan pada ku Zayn." tangis Devita mengingat saat ia terbangun di pagi hari dan melihat seorang pria berbaring di sampingnya dengan hanya berbalut satu selimut dengan nya.


"Dan karena peristiwa itu kamu melahirkan anaknya?" tanya Zayn yang begitu terkejut sekaligus iba mendengar nya.


Devita menangis sesenggukan sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa pria yang datang tadi yang melakukannya?"


"Ya " jawabnya singkat.


"Apa yang ia katakan, Kenapa Aku meligat kamu mengusirnya? Bukankah ia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan?"


"Ya, Tapi saat Aku meminta tanggung jawabnya, Dia menolak untuk bertanggung jawab karena dia akan menikah dengan orang lain, Jadi jika dia datang sekarang semua sudah terlambat."


"Tidak ada kata terlambat Devita, Semua orang butuh waktu untuk berubah, dan semua orang berhak di beri kesempatan."


"Benarkah? Kalau begitu apa Aku masih berhak di beri kesempatan untuk bersama mu?"


Zayn tercengang mendengar apa yang Devita tanyakan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2