
Setelah makan malam selesai, Sakinah membantu ibu mertuanya mengemasi meja makan. Meskipun sebelumnya ia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Namun berkat nasehat Adnan yang memintanya untuk menjaga perasaan sang ibu selama tinggal bersama, Membuat Sakinah mau melakukan pekerja tersebut demi melegakan hati ibu mertuanya.
"Letakkan saja, Biar bibi yang mengerjakan." ujar Nisa.
"Beneran gak papa Bu?"
"Iya gak papa, Kamu istirahat saja, Sejak kamu datang kamu sudah sibuk membantu ibu."
"Baiklah, Kalau gitu Saki ke kamar dulu ya, Nyusul Mas Ustadz, Hehehe..."
Nisa hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah menantunya.
Ckleekkk...
"Mas Ustadz... Hehehe..."
"Assalamualaikum Khumaira..."
"Oh iya, Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam, Kemarilah." Adnan menepuk sisi ranjang meminta sang istri mendekat padanya.
Tanpa rasa malu-malu Sakinah langsung melompat ke ranjang hingga membuat Adnan kaget dan memundurkan sedikit tubuhnya.
Sakinah terkekeh melihat ekspresi wajah sang suami yang seakan mau di memperko'sa olehnya. Sementara Adnan yang melihat sang istri menertawakannya, Menghelai nafas dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"E... Bagaimana hari pertama mu tinggal bersama ibu?" tanya Adnan.
"Tidak ada masalah, Ibu Nisa baik, Aku juga tidak banyak melakukan pekerjaan, Hanya bantu-bantu dikit aja, Kata Mas Ustadz yang penting kelihatan, Hehehe..."
"Ya, Karena terkadang orang tua hanya ingin di temani, Jadi meskipun kita tidak melakukan apapun, Mereka sudah merasa lega, Yang penting..."
"Saat ibu sedang melakukan sesuatu, Aku tidak di kamar saja." sambung Sakinah yang langsung memotong ucapan Adnan.
"Ya." Adnan tersenyum menatap Sakinah yang selalu mengingat nasehat yang ia ajarkan.
Melihat Adnan yang menatapnya. Sakinah ikut menatap Adnan sembari menaik turunkan kedua alisnya hingga membuat Adnan malu dan memalingkan wajahnya.
"E... Ayo kita tidur, Jangan sampai kita tidur kemalaman dan kesiangan mengerjakan sholat subuh." Adnan langsung membaringkan tubuhnya dengan kedua tangan yang saling bertautan di perutnya.
Melihat sang suami yang terus menatap ke langit-langit kamarnya. Sakinah melepaskan tautan tangan Adnan dan memeluk Adnan dengan berbantalkan dada kanannya. Adnan yang belum terbiasa menjadi gugup dan merasa ragu untuk memeluk Sakinah.
"Kenapa Mas Ustadz merasa ragu, Sekarang Aku adalah istrimu," dengan gemas, Sakinah mengecup dada Adnan yang masih terbalut kaos putihnya.
"Di lansir dari Pustaka Ilmu Sunii Salafiyah, Disebutkan seorang istri yang meminta hajat atau berjima lebih dulu kepada suaminya, Maka akan mendapat fadhilah atau kemuliaan sebagaimana di kitab Adabun Nisa' karya Abdul Malik bin Habib (Abu Marwan) Al-Qurthubi:
Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka: (1) Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka;Ā (2) memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh;Ā (3) dicatatkan untuknya dua ribu kebaikan;Ā (4) diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga.
Dan siapa saja seorang istri yang masuk bersama suaminya dalam satu selimut, maka malaikat dari bawah 'Arsy memanggilnya,
"Mulailah duluan olehmu perbuatan itu (merangsang suami):
__ADS_1
(1) Maka Allah akan mengampuni dari dosamu yang telah lalu dan yang akan datang; (2) Dan Allah akan mencatat untuknya pahala seorang yang memerdekan budak; (3) Dan mencatatnya dari setiap sehelai rambut dengan satu kebaikan."
"Jadi?" tanya Adnan yang semakin di buat tegang Oleh Sakinah.
"Jadi Aku akan masuk dalam satu selimut bersama Mas Ustadz."
Di dalam selimut yang menutupi tubuh keduanya, Sakinah memulai merang'sang Adnan yang masih saja merasa canggung. Namun hal itu tidak membuat Sakinah berhenti bersikap agresif hingga membuat gair'ah Adnan bangkit dan membalas setiap sentuhan yang sakinah lakukan. Meskipun begitu, Sakinah tetap mendominasi permainan hingga keduanya menuntaskan hasratnya dengan membaca doa setelah berjimak.
"Giliran pelajaran begini, Semangat banget praktekinnya."
Sakinah di buat tercengang oleh ucapan Adnan.
"Hagh!Benarkah Mas Ustadz mengatakan itu?" pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokannya. Kemudian Sakinah terkekeh dan kembali menggoda Adnan.
"Kan yang mudah, Pahalanya gede lagi." saut Sakinah tertawa ngakak.
"Dasar, Ngamalin ilmu kok pilah pilih." saut Adnan sembari mencubit hidung Sakinah.
Sakinah hanya tertawa dan memegangi hidungnya.
"Mandi bersama juga sunah kan? Ayo kita lakukan."
"Khumairaaaa..."
Sakinah tak bisa berhenti tertawa melihat ekspresi wajah Adnan yang semakin membuat ia ingin terus menggodanya.
__ADS_1
š„ Maaf Nepati Extra Bab Nya lama. Fokus ke Novel yang sedang Ongoing š
Buat yang belum mampir ke "Cinta Yang Haram" jangan lupa mampir ya, Sampai jumpa lagi kapan-kapan š