Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Kepergian Zayn


__ADS_3

Aksi saling kejar-kejaran Zayn dan Bimo akhirnya berhenti ketika mereka melihat Ustadz Azmi datang ke kamarnya.


"Zayn..."


"Ya Tadz." Zayn langsung menyingkirkan tangan Bimo yang berada di pundaknya.


"Pak Kiai sudah menunggumu di parkiran."


"Baik Tadz, Terimakasih."


Ustadz Azmi mengangguk dan pergi meninggalkan asrama.


Sedangkan Bimo kembali merengek melihat Zayn yang menggendong tas ranselnya.


Tak lagi meminta izin, Kini Bimo langsung memeluk Zayn dari samping dan menyandarkan kepalanya di pundak Zayn.


Zayn pun tidak lagi usil kepada sahabat jailnya tersebut dan menepuk-nepuk lengan Bimo untuk menenangkannya.


"Aku akan sangat merindukan mu Zayn."


"Hih!" Zayn bergidik geli dan langsung mendorong tubuh Bimo.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Geli tau, Masa kamu yang merindukan ku, Kalau Ning Faza yang ngomong gitu sih Aku seneng banget tapi kamu, Hih!" Zayn melangkah keluar dan Bimo terus menguntitnya di belakang.


"Sama temen pasti juga akan ada rasa rindunya Zayn, Apa lagi kita sudah bersama-sama hampir satu tahun, Suka duka, Canda tawa, Makan, Tidur kita lalui bersama-sama, Bahkan mandi pun kita pernah bersama."


"Bimo hentikan! Itu terdengar sangat menggelikan, Orang-orang akan berfikiran yang tidak-tidak jika mendengarnya dari mulut mu!"


"Itu biasa terjadi di kalangan santri jika tidak mau mengantri."


"Iya tapi hentikan ocehan mu itu, Lagi pula Aku hanya mandi dengan mu dua kali dan Aku menggunakan boxer ku, Jadi jangan pernah membayangkan benda paling berharga dalam diri ku!"


Bimo menghentikan langkahnya sembari menggaruk-garuk kepalanya.


Zayn menoleh ke arah Bimo dan menggelengkan kepalanya.


"Lama-lama Dia membuat ku tidak waras," ucap Zayn yang kembali melangkahkan kakinya. Bimo yang seolah baru sadar langsung berlari mengejar Zayn. Ia tidak ingin sahabatnya pergi begitu saja.


Sesampainya di pelataran parkir, Terlihat Pak Kiai sudah berdiri di samping mobil yang akan membawa Zayn pergi ke pelosok desa yang akan Zayn tinggali selama menjalani ujian cinta dari Pak Kiai.


Dengan sedikit membungkukkan badannya Zayn dan mencium tangan Pak Kiai.


Pak Kiai cukup senang melihat Zayn yang terlihat ikhlas menjalani ujian darinya dengan menunjukkan sikap Tawadhu nya.


"Pergilah Zayn, Jalani kehidupan mu disana sampai Saya memutuskan kapan kamu akan kembali!"

__ADS_1


"Baik Pak Kiai." tanpa bertanya apapun Zayn masuk ke mobil menuruti perintah Pak Kiai. Namun sebelum pintu tertutup Pak Kiai kembali memberi peringatan kepada Zayn.


"Satu hal lagi Zayn, Lakukan semuanya dengan ikhlas karena Allah, Karena Saya tidak bisa berjanji untuk tidak menikahkan Faza dengan Ustadz Adnan saat kamu berada jauh dari sini."


Seketika hatinya terasa begitu sakit bagaikan tertusuk seribu belati.


Zayn mengingat apa yang baru saja Bimo katakan padanya saat di asrama, Tapi ia tidak bisa mundur begitu saja dengan mendengar satu ucapan Pak Kiai yang menusuk hatinya. Selagi masih ada harapan, Meskipun sekecil apapun, Zayn akan terus menjalaninya selebihnya biar Allah yang bekerja.


Bimo yang melihat beberapa meter dari mereka begitu merasa sedih, Kekhawatirannya yang ia ucapkan sama persis dengan apa yang Pak Kiai ucapkan "Bagaimana jika Pak Kiai benar-benar melakukannya, Bukankah usaha sahabatnya akan sia-sia? Ah entahlah, Dia memang benar-benar keras kepala, Dia tidak akan menyerahkan sebelum mendapatkan yang ia inginkan." Bimo terus berbicara dalam hatinya sampai Pak Kiai menutup pintu mobilnya.


"Ning... Ning! Bukankah itu Zayn?" tanya Mbak Anna yang tak sengaja melihat Zayn dari kaca mobil yang belum tertutup sepenuhnya.


Ning Faza yang melihatnya begitu terkejut dan langsung melepaskan semua belanjaan di tangannya, Kemudian tanpa mempedulikan apapun di sekitarnya, Ning Faza langsung berlari mengejar mobil Zayn yang mulai meninggalkan gerbang Pondok Pesantren.


"Mas Zayyyyn...." pekik Faza yang langsung mengagetkan Abinya.


Pak Kiai langsung menyuruh Satpam menutup pintu gerbang ketika Faza nyaris sampai ke sana.


"Mas Zayn... Hiks... Hiks... Hiks...." tubuh Faza melorot memegangi pintu gerbang yang tak memberinya kesempatan melihat pria yang membuat hati dan pikirannya kacau melampaui batas keimanannya.


Sedangkan Zayn yang telah melewati gerbang pondok menoleh ke belakang merasakan ada seseorang yang memanggilnya. Namun mobil sudah membawanya semakin menjauh, Membuat Zayn tidak melihat apapun selain penduduk sekitar yang tengah melakukan aktivitasnya.


Di dalam pesantren beberapa santri melihat Ning Faza yang masih menangisi kepergian Zayn, Tak terkecuali dengan Bimo yang tidak menyangka jika cinta Ning Faza sama besarnya dengan cinta sahabat tengilnya.

__ADS_1


Ustadz Azmi yang sedari tadi juga berada di sana segera berlari meninggalkan parkiran dan berniat memanggil Ustadz Adnan. Sedangkan Pak Kiai yang merasa begitu di permalukan putrinya langsung menyeret tangan Faza dan membawanya pulang.


Bersambung...


__ADS_2