
Setelah sarapan Zayn mengajak Faza ke rumah Sakinah.
Zayn merasa berhutang budi pada Sakinah karena berkat dirinya lah ia bisa membuktikan pada keluarga Faza jika ia tidak bersalah atas apa yang Carissa tuduhkan sehingga merasa perlu untuk memberikan undangan secara langsung tanpa perantara seperti kepada teman-teman lainya.
Sesampainya di rumah Sakinah Zayn membukakan pintu untuk Faza dan menuntunnya keluar.
Dengan kebingungannya Faza hanya mengikuti Zayn yang mengajaknya mendejati gerbang itu dan menekan bel pintu nya.
Ting... Tong...
Tak lama kemudian salah seorang asisten rumah tangga membuka pintu dan ngedumel pada Satpam yang berjaga. "Gimana sih Pak ada yang datang malah ngorok aja," ucapnya kesal.
"E... Maaf Mbok, Habis ngantuk banget, Semalam jaga sampai pagi."
"Ahh banyak alasan!"
"Den ganteng, Cari Non Sakinah ya?" tanya si Asisten begitu membukakan pintu gerbang dan melihat Zayn yang berdiri di sana.
Mendengar nama Sakinah Faza langsung menatap wajah Zayn yang masih fokus menunggu jawaban dari asisten.
"Iya, Sakinah ada Mbok?"
"Ada Den, Lagi sarapan, Mau Saya panggilkan?"
"Nggak usah, Aku langsung masuk aja," ucap Zayn tanpa basa-basi.
"Oh ya, Baiklah. Mari masuk Den."
Baru saja Zayn ingin melangkahkan kakinya. Faza langsung menghentikannya. "Siapa Sakinah, Kenapa Mas terlihat begitu dekat, Sampai asisten terlihat sudah sangat akrab dengan Mas, Apa Mas sering kemari menemuinya, Apa Sakinah juga salah satu mantan kekasih Mas?"
"Ning Faza Sayang, Aku tau suami mu memang sangat tampan tapi percayalah Aku hanya mencintai mu, Dan wanita yang berbentuk laki-laki ini tidak pernah menjadi kekasih ku, Dia seperti saudara laki-laki untuk ku." dengan senyum mengejeknya Zayn menarik tangan Faza masuk kedalam.
Mendengar apa yang Zayn ucapkan membuat Faza semakin bingung dan penasaran seperti apa Sakinah sampai Zayn menyebutkan sebagi laki-laki.
Zayn yang mau nyelonong masuk langsung menghentikan langkahnya saat kening mereka beradu.
"Aww..." keduanya memegangi keningnya karena benturan itu.
"Apa kau tidak punya mata?!" umpat Zayn.
"Hey! Kau memaki ku di rumah ku sendiri, Apa kau tidak punya sopan santun main nyelonong masuk ke rumah orang?!"
"Sejak kapan Aku harus meminta izin untuk masuk ke rumah mu, Hem? " Zayn mau merengkuh tubuh Sakinah. Namun Faza langsung menghentikannya.
__ADS_1
"Mas Zayn!"
Zayn dan Sakinah langsung menoleh ke arah Faza.
Sakinah menelisik seluruh tubuh Faza memperhatikan penampilannya yang tertutup rapat hanya menyisakan telapak tangan dan wajahnya.
"Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengingatkan tentang besarnya kerusakan dan fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan terhadap laki-laki, Dalam sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah (keburukan/kerusakan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi (fitnah) kaum perempuan” [3. HSR al- Bukhari (no. 4808) dan Muslim (no. 2740)]
Oleh karena itulah, Islam melarang segala bentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, Kecuali dalam batasan-batasan yang sempit yang diperbolehkan dalam syariat Islam."
"Sayang dia bukan wanita." ejek Zayn yang langsung di simut oleh Sakinah.
"Itu hanya penampilannya, Tapi raganya tetaplah wanita." jelasnya lagi.
"Zayn apa ini istri mu? Dia begitu cemburuan sekali." bisik Sakinah.
"Maklum lah suaminya kan ganteng." saut Zayn penuh percaya diri.
Faza melihat keduanya yang terlihat asik berbisik dengan begitu dekatnya.
Begitupun dengan Adnan yang baru sampai di depan pintu gerbang. Ia begitu terkejut melihat kedatangan Zayn, Terlebih ada Faza juga di sana. Hal itu membuat Adnan ragu untuk masuk dan kembali ingin keluar. Namun Sakinah yang sudah melihatnya langsung berteriak memanggilnya.
Zayn dan Faza terkejut dan menoleh ke arah Adnan.
Sakinah langsung berlari mendekati Adnan. Begitupun dengan Zayn dan Faza yang melangkah mengikuti Sakinah.
"Kok mau pergi lagi?"
"E..." Adnan menatap Faza sekejap dan segera mengalihkan pandangannya.
"Aku akan menunggu di mobil, Kenapa kamu belum siap?"
"Kenapa di mobil, Apa Ustadz merasa terganggu dengan kehadiran kami?" sambung Zayn.
"Tidak, Aku hanya..." Adnan tidak memiliki alasan apapun karena ia tidak biasa berbohong.
"Tenang saja, Aku kesini hanya ingin memberikan undangan resepsi pernikahan ku kepada Saki." Zayn memberikan undangan tersebut pada Saki dan langsung di terima olehnya.
"Ustadz juga boleh datang bersama, Karena disana juga ada Pak Kiai."
"Aku tidak janji," ucap Adnan datar.
__ADS_1
"Baiklah tidak masalah. Kalau begitu kami pulang dulu." Zayn mengulurkan tangannya pada Faza. dan uluran tangan itu di lihat oleh Adnan yang seolah masih ada rasa-rasa tersisa di hatinya.
"Assalamualaikum Tadz," ucap Faza yang melangkah melewati Adnan.
"Wa'alaikumsalam." Adnan menoleh ke belakang melihat Zayn dan Faza masuk ke mobil hingga meninggalkan rumah Sakinah.
"Jadi itu wanita yang kalian perebutkan?" pertanyaan Sakinah sontak mengagetkan Adnan.
"Apa yang kamu katakan?"
"Terlihat jelas dari wajah Ustadz!" dengan nada sinis Sakinah langsung berlari masuk ke dalam.
Adnan memandang Sakinah bingung, Tidak biasanya dia bersikap begitu.
Sakinah yang masuk ke kamarnya langsung membanting pintu dengan begitu kerasnya. Entah kenapa melihat tatapan Adnan kepada Faza membuat hatinya begitu terusik. Ia mengusap kepalanya dengan kasar sementara tangannya bercekak pinggang. Pandangan matanya tertuju pada cermin di depannya. Kemudian ia mendekati cermin itu dan memperhatikan penampilannya sendiri.
"Zayn benar, Aku memang tidak terlihat seperti wanita, Rambutku saja yang panjang tapi lihatlah semua terlihat seperti laki-laki." gumamnya.
Kemudian ia mengingat bagaimana Faza berpenampilan.
"Bukan hanya penampilannya saja yang terlihat begitu anggun. Namun pembawaannya juga terlihat begitu lembut."
"Apa karena itu Ustadz Adnan dan Zayn begitu tergila-gila dengan nya?" batinnya lagi.
Kemudian Sakinah membuka lemari pakaiannya dan melihat-lihat gamis yang Ayahnya belikan namun tidak ada satupun yang ia pakai karena ia hanya sekali memakai gamis dan merasa begitu kepanasan. Namun kini setelah melihat Faza, Tiba-tiba rasa ingin mengenakan nya kembali muncul dalam dirinya. Ia mencoba satu persatu gamis tersebut hingga ia merasakan begitu nyaman dengan gamis berwarna army. Ia kembali mengamati penampilannya dalam cermin. Kemudian ia meraih ikat rambutnya dan menutup kepalanya dengan jilbab berwarna senada. Tidak seperti biasanya kini Sakinah merasa begitu nyaman dengan apa yang ia kenakan.
"Ini tidak terasa panas seperti biasanya," ucapnya sambil mengukir senyum.
Sementara Adnan yang masih menunggunya di luar merasa bingung apa yang tengah Sakinah lakukan.
"Sebenarnya apa yang Sakinah lakukan, Kenapa lama sekali, Sebenarnya dia bersiap atau mar..." ucapannya terhenti saat melihat Sakinah keluar dengan begitu anggunnya.
Tidak dapat dipungkiri melihat Sakinah membuat Adnan begitu kagum dengan penampilan Sakinah yang berbeda dari biasanya.
"Apa Aku sudah terlihat seperti Faza?"
Mendengar hal itu seketika Adnan menjadi kesal dan mengalihkan pandangannya.
"Jadi kamu berpenampilan seperti ini karena ingin sepertinya?!"
Sakinah terdiam menggelengkan kepalanya, Ia tidak menyangka pertanyaannya akan membuat Adnan marah padanya.
"Berubah lah demi dirimu sendiri, Demi menjaga aurat mu, Demi menjalani perintah Allah, Tidak untuk terlihat seperti Faza atau demi siapapun!" dengan perasaan kecewa Adnan keluar dari rumah Sakinah.
__ADS_1
Bersambung...