
Hari pernikahan yang Sakinah tunggu-tunggu akhirnya tiba juga.
Dengan balutan busana pengantin syar'i, Sakinah di temani sang ibu menunggu di kamar mendengarkan Pak penghulu mulai membacakan hutbah pernikahan. Setelah itu acara di lanjutkan dengan akad yang dilakukan langsung oleh Papahnya dan di balas satu kali tarikan nafas oleh Adnan menggunakan bahasa Arab.
Kata sah dari para saksi dan dan para tamu membuat Sakinah langsung melompat kegirangan.
"Yeyyyy...!" soraknya tanpa mempedulikan gaun panjang yang membalut tubuhnya.
"Sakinah... Jaga sikap mu, Nanti berantakan, Sebentar lagi kamu akan di panggil keluar," tegur sang ibu.
"Mamah, Kenapa menganggu kebahagiaan ku, Aku bahagia sekali,"
"Ya, Mamah tau tapi bersikaplah sedikit lembut layaknya mempelai wanita pada umumnya."
"Hemm baiklah, Apakah Aku harus berjalan seperti ini?" dengan menyatukan jemari di depan perutnya Sakinah mencoba melangkah bak seorang putri.
"Dasar konyol," ucap sang ibu kemudian membenarkan jilbab dan mahkota yang miring karena Sakinah yang tidak bisa diam.
Tak lama kemudian pintu kamar pun di ketuk dari luar.
Tok...Tok...Tok...
Pak Arsyad yang datang ke kamar Sakinah menyuruh mereka keluar untuk menjalani rangkaian pernikahan berikutnya. Dengan girang Sakinah mengangkat gaunnya tinggi-tinggi dan melangkah keluar. Namun sang ibu langsung menariknya dan kembali memperingatkannya agar bersikap lembut.
"Baru saja Mamah bilang, Bersikaplah yang lembut."
__ADS_1
"Oh ya, Aku lupa, Hehehe." Sakinah kembali melangkah dan lagi-lagi tangannya di cekal oleh sang ibu.
"Apa lagiiii?"
"Turunkan tangan mu, Apa sepanjang jalan kamu akan mengangkat gaun mu?"
"Oh... Hehehe." Sakinah menurunkan tangannya dan membiarkan gaun panjangnya menyapu lantai. Tidak mau membiarkan tangan sang putri kembali mengangkat gaunnya, Sakinah di apit kedua orang tuanya keluar menuju meja akad.
Adnan yang biasa melihat Sakinah berperilaku dan berpenampilan tomboi begitu terpukau melihat Sakinah yang kini berbalut busana syar'i dengan langkah anggun hingga meninggalkan sisi tomboinya. Namun kesan itu tidak berlangsung lama karena Sakinah menginjak gaunnya hingga nyaris tersungkur.
"Sakinah..." pekik Adnan mengulurkan tangan seakan ingin menolongnya.
Sakinah yang masih cukup jauh dan mampu menjaga keseimbangannya tersenyum menatap Adnan yang terlihat mengkhawatirkannya. Melihat hal itu Adnan menundukkan kepala dan melihat orang-orang yang menatap kearah nya.
"Hsssttt jaga sikap mu, Ada Pak kiyai dan tamu penting di sini." bisik sang Ayah pada Sakinah yang selalu cuek dengan sikapnya tanpa memandang tempat dan situasi.
"Oh." Sakinah menutup mulutnya melihat Pak Kiai yang duduk di sebelah Pak Rudi yang mendampingi Adnan.
Kemudian Sakinah duduk di sebelah Adnan dan mencium tangan Adnan seperti apa yang Pak Penghulu perintahkan. Setelah itu dengan lembut Adnan mengusap kepala Sakinah dengan membaca shalawat. Dan saat ingin mengecup keningnya Adnan berhenti karena merasa begitu tegang.
"Lakukan saja. Dia sudah halal untuk mu," ucap penghulu yang di iyakan oleh Sakinah dengan menaikkan kedua alisnya.
Adnan menurunkan pandangannya sambil mengecup sekilas kening Sakinah kemudian memalingkan wajah untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Aku rasa Sakinah yang akan memegang kendali saat mereka malam pertama." bisik Zayn yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hsssttt! Hentikan pikiran kotor mu Mas." protes Faza.
Zayn hanya tertawa dan kembali mendengarkan Ayah mertuanya yang mengisi ceramah tentang nasehat pernikahan.
"Sebab salah satu tujuan di syariatkannya perkawinan adalah terwujudnya "Ketenangan dinamis", Yang dalam istilah al-Quran disebut 'Sakinah' Sesuai namanya ya?" ucap Pak Kiai menjeda ucapannya.
Sakinah tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Dari QS. Ar Rum ayat 21.
اتِهِ لَقَ لَكُمْ اجًا لِتَسْكُنُوا لَيْهَا لَ لِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menciptakan Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri (manusia), supaya sayang kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih (mawaddah wa warahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum [30]:21)
Jadi untuk Nak Adnan dan Sakinah. Semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan yang Sakinah, Mawadah dan Warahmah."
"Aamiin..." saut kedua mempelai maupun para tamu yang hadir.
Kemudian Pak Kiai menutup ceramah dengan membaca Do'a,
“Barakallahu laka, Wa baraka alaikuma, Wa jamaa bainakuma fii khair,”. Yang artinya: “Semoga Allah rekatkan keberkahan padamu (di kala senang), dan semoga Allah rekatkan keberkahan kepada kalian berdua (di kala susah), dan semoga Allah selalu menghimpun kalian berdua dalam kebaikan,”
Acara di lanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua dari kedua belah pihak. Mengabadikan momen sakral mereka, Menjamu tamu dan rangkaian acar lainnya.
Bersambung...
__ADS_1