
Di tengah malam, Bus tiba di pelataran Pondok Pesantren.
Setelah Pak Kiai dan Bu Nyai turun, Kemudian Ustadz Adnan, Mbak Anna dan Faza melangkah di belakangnya. Namun Zayn yang melangkah di belakang Faza memegang gamis panjangnya untuk menghentikannya.
Ning Faza terperanjat melihat Zayn memegangi gamisnya.
Zayn yang sengaja memegang gamisnya karena tidak ingin menyentuh Ning Faza memasang wajah penuh harap pada Ning Faza. Namun Ning Faza segera menurunkan pandangannya dan menarik gamisnya sampai terlepas dari genggaman tangan Zayn.
Zayn menggelengkan kepalanya dengan sedih seakan kesempatannya untuk mendapatkan Ning Faza telah tertutup karena kehadiran Carissa di depan matanya.
Dengan lemah Zayn kembali ke asrama dan langsung pergi mandi kemudian melanjutkan shalat tahajud karena di perjalanan Zayn sudah sempat tidur meskipun beberapa menit.
Setelah melaksanakan tahajud serta shalat hajat, Zayn melanjutkan dengan berdoa dan berdzikir untuk merayu Allah dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia. la yang menggenggam hati keturunan Adam diantara dua jemari Ar-rahman Yang Maha Pengasih. Dengan kehendak-Nya Ia membolak-balikkan hati manusia.
Hingga sampai para santri tidur pulas, Zayn masih tidak meninggalkan sajadahnya hingga waktu subuh tiba.
•••
Pagi harinya, Zayn menjalani aktivitas seperti biasa bersama santri lain, Setelah mengaji, Aktifitas di lanjutkan dengan berolahraga sambil menunggu waktu sarapan pagi.
Zayn yang sejak pulang Ziarah tidak tidur, Di tambah lagi dengan perutnya yang masih kosong, Merasa tubuhnya mulai lemas tak bertenaga, Apalagi matahari yang semakin naik membuat Zayn merasa pandangannya gelap dan tiba-tiba tubuhnya jatuh pingsan.
__ADS_1
Ketika Zayn membuka mata samar-samar Zayn melihat Ning Faza berdiri di hadapannya.
"Mas Zayn sudah siuman?" suara lembut itu membuat Zayn semakin ingin cepat-cepat membuka matanya dan menatap gadis pujaannya dengan jelas. dan benar saja, Saat Zayn membuka matanya dengan penuh, Zayn melihat Faza berdiri di depannya.
"Bagaimana bisa?" batin Zayn yang masih tak percaya dengan apa yang Ia lihat. Kemudian Zayn melihat sekeliling ruangan dan ternyata Ia tengah berada di ruang UKS.
Pantas saja Ning Faza ada di sini, Ning Faza selain sering menggantikan Ustadzah yang tidak masuk untuk mengajar, Ning Faza juga dengan sukarela menjaga UKS untuk membantu para santri yang membutuhkan pertolongan kesehatan sebelum dokter datang.
"Minumlah, Ini akan sedikit membantu memulihkan tenaga mu."
Zayn mengambil alih gelas jus buah yang Ning Faza sodorkan dan langsung menenggaknya.
"Dokter akan segera datang, Jadi jangan kemana-mana sebelum Dokter memeriksa mu"
Faza tak menjawab pertanyaan Zayn dan langsung memutar tubuhnya untuk meninggalkannya. Namun Zayn langsung menarik tangannya untuk kembali mendekat. Meskipun masih terhalang baju lengan panjang yang Ning Faza kenakan tapi hal itu membuat Faza gemetar karena untuk pertama kalinya di sentuh oleh pria yang bukan mahramnya.
Zayn langsung melepaskan tangannya menyadari apa yang Ia lakukan tidaklah benar.
"Maafkan Aku Ning, Aku tidak sengaja, Aku hanya tidak ingin Ning Faza pergi sebelum mengatakan apa yang akan Ning Faza putuskan."
"Keputusan apa yang Mas Zayn bicarakan? Keputusan Abi untuk menikahkan ku dengan Ustadz Adnan adalah keputusan yang paling tepat untuk ku, Lagi pula kita tidak ada hubungan apa-apa, Jadi apa yang harus di putuskan?" dengan sedikit terbata Faza bicara tanpa berani menatap wajah pria yang selalu melelehkan hatinya.
__ADS_1
Zayn begitu shock mendengar apa yang Ning Faza ucapkan. Padahal sebelumnya Ning Faza telah menunjukkan perasaan yang sama terhadapnya. Namun karena sekali melihat Carissa mendekatinya langsung merubah semuanya.
Dengan mata berkaca-kaca Zayn turun dari raanjang dan mendekati Ning Faza.
Sudah tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi jika ada yang mengetahui perbuatannya, Zayn memegang lengan Faza dan mendorongnya di dinding ruangan tersebut.
Faza semakin takut melihat sisi lain dari Zayn yang selama ini menunjukkan sikap yang begitu manis dengan segala kata-kata yang melelehkan hatinya. Namun Zayn yang merasa putus asa tidak tau lagi bagaimana caranya menjelaskan pada Faza jika Ia begitu mencintainya.
"Bagaimana caranya agar kamu mengerti jika Aku benar-benar mencintaimu, Bagaimana caranya agar kamu mengakui perasaan mu padaku?" Zayn semakin mendekat hingga membuat Faza begitu gugup karena untuk pertama kalinya Ia berhadapan dengan pria yang bukan mahramnya dari jarak yang begitu dekat.
"Pada saat dirimu mencintai seseorang tanpa sebab, Saat itu pula yakinlah bahwa seribu sebab sekalipun tidak akan bisa mencabutnya dari hatimu, Lalu kenapa hanya dengan satu sebab kamu mengurungkan niat mu dan memilihnya?"
Tidak merasa takut lagi Ning Faza malah begitu terpesona dengan ketampanan Zayn dengan mata indahnya yang memerah berkaca-kaca.
"Kalaulah Aku kumpulkan saat-saat bahagia dalam hidupku, Semuanya tidak akan dapat menandingi indahnya waktu yang Aku habiskan dengan mu selama kita berziarah."
Zayn terus berusaha untuk meyakinkan Ning Faza jika hanya Ning Faza lah satu-satunya wanita yang begitu Ia cintai, Sedangkan Ning Faza hanya terdiam menatap Zayn sambil terus berharap Zayn kembali mengucapkan Kata-kata yang selalu melelehkan hatinya. Namun melihat tatapan mata Ning Faza yang tidak biasa membuat Zayn gugup dan mengalihkan pandangannya kesana-kemari.
Seolah baru sadar dengan apa yang Ia lakukan, Zayn melihat tangannya yang menggenggam lengan Faza. Namun belum sempat Zayn melepasnya, Mereka di kagetkan oleh suara menggelegar yang tidak asing di telinganya.
"ZAYN...!!!"
__ADS_1
Ning Faza dan Zayn yang masih berdiri berhadapan dengan jarak yang begitu dekat menoleh ke arah pintu dan betapa terkejutnya Mereka melihat Pak Kiai yang telah berdiri di sana.
Bersambung...