Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Aksi Cepat Zayn


__ADS_3

"Carissa, Kembali ke asrama." tegas Ustadz Andan.


Dengan sikap cueknya Carissa meninggalkan Mereka. Kemudian Ustadz Adnan menatap Zayn yang terlihat menunduk tak seperti biasanya.


"Ikut denganku."


"Tadz..."


Ustadz Andan menoleh ke belakang menatapnya tajam sampai Zayn tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Setelah itu Ustadz Andan membawa Zayn ke kantor asrama.


"Apa kamu lupa jika ini kesempatan terakhir mu di pesantren?"


"Tidak."


"Lalu kenapa kamu melanggar peraturan?"


"Jika saja Ustadz datang lbih awal pasti Ustadz tau Aku tidak sengaja bertemu dengan nya."


"Jika tidak sengaja, Seharusnya Kamu langsung menghindar, Bukan malah berlama-lama berduaan."


"Aku sudah berusaha menghindarinya tapi Dia terus menghentikan ku pergi."


"Dia juga pasti akan mengatakan jika kamu yang menahannya pergi."


Zayn menundukkan kepalanya, Ia tak tau apa yang harus Ia katakan lagi.


"Biar Pak Kiai yang menentukan apa kalian perlu di hukum atau tidak."


"Saya mohon Tadz, Jangan sampai Pak Kiai tau, Ini hanya salah faham."


"Kenapa Kamu jadi terlihat begitu takut jika di keluarkan, Apa ini karena Ning Faza?"


Zayn mengangkat wajahnya karena tercengang mendengar ucapan Ustadz Adnan.

__ADS_1


"Apa benar dugaan saya?"


"Maaf Tadz, Pertanyaan Ustadz sudah masuk ranah pribadi saya, Jadi saya tidak perlu menjawabnya."


Ustadz Andan terdiam, Secara manusiawi Ustadz Adnan memang begitu cemburu dengan keberanian Zayn yang tanpa basa-basi menunjukkan rasa ketertarikannya pada Faza. Ingin rasanya mencampur adukkan perasaan pribadi dan peraturan pesantren. Namun Imannya jauh lebih kuat dari pada dorongan batin untuk berbuat yang kurang baik pada Zayn.


"kembalilah ke asrama."


Zayn menatap Ustadz Adnan tak percaya.


"Kamu tidak mendengar ku?"


Zayn mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan kantor.


•••


Satu bulan kemudian di sebuah taman universitas di mana Faza menuntut ilmu, Dalam kesendiriannya Ia mengingat Zayn dan kata-katanya yang selalu penuh arti dan melelehkan hatinya,


Namun Faza di kejutkan oleh suara seorang laki-laki yang tak asing di telinganya.


"Kamu tidak bisa berhenti memikirkan ku?"


Faza langsung membuka mata dan begitu terkejut melihat Zayn sudah berdiri di depannya.


"M-m... Mas Zayn." Faza langsung mengalihkan pandangannya membelakanginya.


"Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tuhfatul Hama," Tidaklah cinta itu dilarang dan dosa di mata manusia dan hukum. Karena Hati dalam kekuasaan Allah Azza wajala," ucap Zayn yang kemudian duduk di belakang Faza.


"Aku tidak mengerti kenapa kamu mengatakan itu padaku," ucap Faza yang terus membelakangi Zayn.


"Lihat Aku maka Aku akan menjelaskan."


"Dari Jarir bin Abdullah, "Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang cuma selintas atau yang tida disengaja. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar Aku segera memalingkan pandanganku." saut Faza.

__ADS_1


"Baiklah, Kamu tidak perlu memandang ku, Karena dalam mata terpejam pun Aku bisa melihat wajahmu."


"Jangan melewati batasmu, Bagaimana Kamu berada di sini."


"Aku meminta Izin pada Pak Kiai untuk pulang ke Jakarta, Tapi sebelum itu Aku ingin menemui mu."


"Kamu membohongi Abi?"


"Tidak, Aku akan benar-benar pulang, Tapi setelah Aku mengatakan satu hal padamu."


"Katakan dan segera pergilah, Aku tidak ingin pertemuan kita menjadi fitnah."


"Baiklah, Dengar Aku baik-baik, Layaknya Idgham Mithlain sighair cuma satu mim, Di hatiku juga cuma ada satu yaitu Ning Faza."


Seketika hati Faza berbunga, Ingin rasanya menatap laki-laki yang baru saja mengatakan itu. Namun Imannya tidak mengizinkannya.


"Jika Ning Faza memiliki perasaan yang sama, Aku siap menghadap Abi untuk menghalalkan hubungan kita."


"Seharusnya Kamu bicara pada Abi terlebih dahulu sebelum bicara padaku."


Zayn terseyum bahagia mendengarnya "Apakah ini kode jika kamu menginginkan hal yang sama?"


Faza terperanjat mendengarnya, Bahkan Ia seakan tak sadar mengatakan itu.


"Baiklah Ning, Aku akan segera bicara pada Abi sesuai keinginan mu."


Faza langsung menoleh ke belakang. Namun Ia hanya bisa melihat punggung Zayn yang telah melangkah jauh meninggalkannya.


"Apa yang ku katakan, Bagaimana jika dia benar-benar bicara pada Abi, Dan bagaimana dengan Ustadz Adnan?"


Bersambung...


šŸ“Œ Masih super sibuk nih, Maaf kalau tidak maksimal šŸ™

__ADS_1


__ADS_2