
Setelah kepergian Zayn, Adnan turun dari mobilnya dan menghentikan Sakinah yang akan menutup pintu gerbangnya.
"Sakinah..."
"Ustadz, Anda kembali?"
"Ya, Sepertinya ponselku tertinggal di dalam."
"Oh, Baiklah akan ku ambilkan."
Adnan mengangguk dan melihat punggung Sakinah yang masuk ke dalam rumah.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit. Sakinah kembali keluar dengan membawa ponsel di tangannya.
"Yang ini?"
"Ya, Terimakasih."
"Baiklah,"
"E... Sakinah boleh Aku bertanya?"
"Ya tentu saja."
"Berapa lama kamu kenal Zayn? dan sedekat apa kamu dengannya?"
"Wah wah wah... Apakah Ustadz melihat ku bersamanya? Apa Ustadz merasa cemburu, Hem?" Sakinah menarik turunkan alisnya dengan senyum menggodanya.
__ADS_1
"Sakinah, Jawab saja pertanyaan ku."
"Hem baiklah, Aku dan Zayn berteman sudah lebih dari lima tahun, dan sedekat apa Aku dengan nya itu saaangaaattt dekat..."
Mendengar hal itu seketika raut wajah Adnan berubah.
"Tapi tenang saja Tadz, Aku tidak pernah pacaran dengan nya, Dia mana mau dengan gadis berpenampilan seperti ku, Dia kan sukanya gadis berpenampilan seksi, Pinggul aduhai, Dada...."
"Sakinah hentikan! Tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi."
Sakinah mencebikan bibirnya.
"Baiklah, Aku pulang dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
•••
Baru saja Sakinah sampai di sana, Sakinah melihat Carissa keluar dari rumah dengan menenteng tas pakaiannya. Lalu tak lama kemudian Malvin berlari mengejarnya dan menarik tangan Carissa. Melihat Malvin dan Carissa yang terlihat sedang bertengkar, Sakinah segera membuka helmnya dan turun dari motornya. Kemudian ia bersembunyi di semak-semak tanaman bunga yang tidak jauh dari mereka berdiri.
"Carissa kamu berrani sama Papah?"
"Hegh... Papah? Apa pantas Anda masih di sebut Papah?"
Sakinah yang mendengar segera mengambil ponselnya dari saku celananya. "Aku akan merekamnya, Siapa tau ada kata-kata berguna untuk Aku berikan pada Zayn."
"Carissa, Kamu lupa siapa yang sudah membuat mu menjadi seperti sekarang?"
__ADS_1
"Tidak akan! Bagaimana Aku bisa lupa dengan keadaan ku sekarang, Keadaan yang Anda ciptakan hingga Aku tidak memiliki masa depan karena dendam masa lalu Anda yang tidak pernah padam meskipun puluhan tahun sudah berlalu."
"Masa depan apa yang kamu bicarakan, Masa depan mu sudah jelas, Ya itu bersama ku dan anak yang ada dalam kandungan mu."
"Lalu kenapa Anda tidak mau menerima nya, dan melimpahkannya pada Zayn?"
"Carissa berapa kali Papah jelaskan, Papah hanya ingin menggagalkan rencana pernikahan Zayn, Papah tidak akan membiarkan Faraz dan anak-anaknya hidup tenang dan bahagia. Percayalah Carissa Papah akan menerima bayi ini dengan senang hati, Sudah bertahun-tahun Papah berobat dan menantikan darah daging Papah hadir dalam hidup Papah, dan sekarang kamu akan memberikannya untuk ku, Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini Sayang."
Sakinah menutup mulutnya karena begitu terkejut dengan apa yang ia dengar. Ia benar-benar tidak menyangka, Malvin yang selama ini ia tau adalah Ayah tiri Carissa berbuat demikian hingga membuat Anak tirinya hamil dan menuduh Zayn yang melakukannya.
"Jika benar Anda bahagia dengan kehamilan ku, Maka lupakanlah dendam Anda pada Tuan Faraz dan keluarganya, Anda marah karena Tuan Faraz membuat Anda tidak bisa memiliki anak kan, Sekarang Anda sudah pulih dan akan segera memiliki anak, Jadi semuanya sudah selesai."
"Saki, Kamu memang selalu beruntung, Kamu datang di waktu yang sangat tepat." ucapnya pada diri sendiri.
Melihat Malvin yang masih terdiam tak menjawab, Carissa kembali melangkah pergi meninggalkannya.
Malvin mengangkat wajahnya dan kembali berlari mengejar putri angkatnya tersebut.
"Carissa..."
"Baiklah, Aku akan melupakan dendam ku kepada Faraz, Tapi Papah mohon, Jangan tinggalkan Papah, Papah sangat menyayangi mu, Terlebih Kamu tengah mengandung darah daging Papah, Papah tidak ingin kehilangan kalian berdua."
Carissa menangis haru dan memeluk Papah angkatnya yang sebentar lagi akan berganti gelar menjadi Papah dari anak yang ia kandung.
"Kita masuk?" tanya Malvin mengambil alih tas pakaian yang ada di tangan Carissa. Tanpa menunggu kata IYA keluar dari bibir sang putri angkat, Malvin merangkul pundaknya dan menitahnya masuk.
"Sempurna. Tugas ku selesai dalam waktu sehari."
__ADS_1
"Zayn... Kamu akan sangat berhutang budi padaku dengan bukti yang akan ku berikan padamu." Sakinah tersenyum bangga dan bersiap meninggalkan rumah Malvin.
Bersambung...