Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Pentingnya Rasa Malu


__ADS_3

Pak Kiai langsung menghempas tangan Faza dengan kasar sampai Faza nyaris tersungkur. Namun Ummi yang kebetulan baru keluar dari dalam dengan cepat menahan tubuh sang putri.


"Dimana rasa malu mu sebagai seorang muslimah?


Allah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لِكُلِّ لُقًا لُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء


“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain,


الحَيَاءُ الإيمَانُ ا ا ا الآخَر


“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lain pun akan terangkat.” (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)


Begitu jelas Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam memberikan teladan pada kita, Bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, Rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya patut dipuji dan dimuliakan.


Namun apa yang kamu lakukan Faza! Kamu mengabaikan itu semua hanya untuk menuruti nafsu yang kamu anggap itu cinta!"


Faza hanya bisa menangis di lantai. Sementara Ummi terus mencoba menenangkan putrinya, Ummi sendiri tidak tau apa yang harus ia lakukan.


"Wanita yang seharusnya menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, Menjadi tak lagi bermakna karena perilakunya sendiri sehingga di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu para lelaki! Apa itu yang kamu inginkan Faza?!"


"Tidak Abi, Maafkan Faza, Faza tidak bisa mengendalikan diri begitu melihat Zayn pergi."


"Faza, Apa yang Abi lakukan hanya untuk kebaikan mu, Untuk kebaikan dunia akhirat mu, Percayalah pada Abi."

__ADS_1


Mendengar Abi mulai melunakkan suaranya Faza merasa sedikit tenang dan menganggukkan kepalanya.


"Sekarang pergilah berwudhu perbanyaklah istighfar memohon ampun kepada Allah."


Faza mengangguk dan beranjak dari duduknya. Namun sebelum masuk kedalam, Faza kembali menoleh ke arah Abi yang kini tengah menatap layar ponselnya.


"Abi, Boleh Faza tanya satu hal pada Abi?"


"Ya." Abi hanya menjawab singkat dengan terus menatap layar ponselnya.


"Kemana Abi mengirim Zayn pergi?"


Abi langsung mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Faza.


Faza langsung menundukkan kepalanya dan tak berani lagi bertanya.


Ummi menganggukkan kepalanya pada Faza dan memintanya masuk ke dalam. Namun baru saja Faza memutar tubuhnya, Faza kembali menoleh ke arah Abi yang menjawab pertanyaannya.


Sakit melihat kepergian Zayn, Belum seberapa di banding rasa sakit harus melupakannya. Namun Faza tidak ingin lagi membantah Abinya, Dengan senyum getirnya Faza mengangguk dan masuk ke dalam.


Abi menghelai nafas panjang dan menghubungi seseorang melalui ponselnya.


•••


Zayn harus melewati beberapa kilometer perbukitan dengan jalan yang terus menanjak sebelum akhirnya menjelang magrib ia tiba di sebuah rumah kecil yang menyatu dengan perkebunan cengkeh. Sementara kanan kiri rumah di kelilingi pohon salak hingga membuat suasana sekitar terasa sedikit membuat bulu kuduk berdiri.


"Zayn Athallah Faraz Shaikh?" ucap salah seorang Pria berkopiah putih dengan Koko putih dan sarung kotak-kotak keluar dari rumah tersebut.


"Ya." Zayn menatap Pria berkulit putih yang usianya sekitar 35th dan terlihat begitu tampan.

__ADS_1


"Perkenalkan, Saya Saifullah, Untuk malam ini kamu bisa tidur di sini besok baru saya tunjukkan apa saja kegiatan mu selama tinggal disini."


"Baik Tadz."


Zayn mengikuti Ustadz Saifullah memasuki rumah yang masih anyaman bata, Sementara lantainya masih tanah merah seperti yang berada di depan rumahnya.


Zayn kembali harus menarik nafas dalam-dalam saat melihat hanya ada amben bambu beralaskan tikar tanpa ada kasur maupun bantal.


"Shalat lah setelah itu istirahat."


"Kamar mandinya di sebelah mana Tadz?"


"Di dalam rumah ini tidak ada kamar mandi, Kamar mandi ada di masjid samping rumah ini. Tapi kalau untuk toilet, belum ada."


"Hah! Tak ada toilet?"


Ustadz Saifullah menggelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana jika kita mau buang hajat Tadz?"


"Penduduk sini biasa melakukannya di kebun masing-masing setelah itu mensucikan diri di rumah."


"Hagh!" Zayn memegang berat kepalanya. Ia tidak pernah menyangka akan mengalami kesulitan sedemikian rupa.


"Ini belum seberapa dibandingkan apa yang akan kamu hadapi selama berada disini, Semoga berhasil Zayn!" Ustadz Saifullah menepuk lengan Zayn dan pergi meninggalkan.


Zayn terdiam menatap kepergiannya. Kemudian mengingat apa yang di katakan Bimo dan yang di katakan Pak Kiai sebelum ia pergi.


"Bagaimana jika Pak Kiai benar-benar menikahkan Ning Faza dan Ustadz Adnan? Bukankah kesengsaraan ku disini akan sia-sia?" batin Zayn yang menjadi ragu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2