
Setelah mendapat laporan perkembangan Zayn selama dalam pengawasa Ustadz Saifullah. Tidak ada reaksi berlebihan dari Pak Kiai. Malah Pak Kiai terkesan cuek dan malah mencoba mengambil kesempatan untuk kembali mendekatkan putrinya dengan Ustadz Adnan.
Seperti malam ini dengan di temani Ustadz Azmi dan Mbak Anna Ustadz Adnan dan Faza kembali bertemu setelah sekian lama tidak saling menyapa secara langsung.
Seperti yang sudah-sudah tidak banyak pembicaraan yang terjadi pada keduanya, Sebelum akhirnya Ustadz, berinisiatif untuk membuka pembi.
"Saya sudah mendengar apa yang sudah terjadi beberapa hari ini kepada Dek Faza, Jika Dek Faza merasa keberatan dengan pernikahan ini..."
"Tidak!"
Seketika Ustadz Andan terhenyak mendengar apa yang Faza ucapkan.
"Jika Ustadz mau bersabar dan memahami Saya, Maka Saya akan menjalani pernikahan ini dengan ikhlas."
"Dek Faza yakin?"
"Ya." jawab Faza singkat.
Setelah perbincangan itu pertemuan mereka berakhir.
Ustadz Andan dan Ustadz Azmi meninggalkan rumah Pak Kiai. Sementara Mbak Anna mendekati Faza untuk mempertanyakan keputusan Faza.
"Apa yang Ning Faza katakan? Seharusnya tadi menjadi kesempatan Ning Faza untuk mengatakan yang sebenarnya jika Ning Faza keberatan dengan pernikahan ini."
"Percuma Mbak, Zayn sudah tidak ada lagi disini dan Aku tidak tau apakah Zayn akan kembali atau tidak."
__ADS_1
"Tapi itu bukan akhir segalanya Ning,"
"Percayalah kepada Allah ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Allah telah merencanakan sesuatu yang lebih baik untuk kita.”
Mbak Anna terdiam mendengar ucapan Faza yang terlihat benar-benar ikhlas dengan apa yang telah menjadi takdirnya.
"Bersabarlah Ning, Ketika suatu hal yang sangat kamu sayangi hilang, Percayalah Allah sedang menyiapkan sesuatu hal lebih indah dari sebelumnya."
"Ya, Insya Allah."
•••
Dua Minggu Kemudian.
"Zayn... Zayn..."
"Ada apa Tadz, Kenapa berlarian seperti itu?" tanya Zayn yang masih fokus memanen buah berduri tersebut.
"Ning Faza..."
Mendengar nama Faza di sebut, Seketika membuat hatinya bergetar, ingatan saat kebersamaan mereka membuat Zayn merasa sedih dengan keadaannya kini. Namun Zayn mencoba tabah dan berusa mendengar apa yang akan Ustadz Saifullah sampaikan padanya.
"Kenapa dengannya Tadz?"
"Ning Faza hari ini menikah."
__ADS_1
DEG!
Mendengar hal itu tanpa Zayn sadari pisau yang ia pegang terkena tangannya.
"Zayn!" Ustadz Saifullah meraih tangan Zayn untuk melihat lukanya.
Namun Zayn segera menariknya kembali.
"Aku tidak papa Tadz," ucap Zayn yang kembali melanjutkan memotong buah salak dari pohonnya yang penuh dengan duri tajam yang siap melukai tangan mulusnya.
"Zayn, Jangan paksakan diri mu lihatlah tangan mu berdarah, Ayo kita obati,"
"Ini tidak sebanding dengan apa yang ku rasakan Tadz." dengan air mata yang tidak lagi tertahan, Zayn terus memotong tangkai buah salak sampai pandangannya mulai terhalang oleh air matanya.
"Zayn Aku mengerti perasaan mu, Sekarang ikut dengan ku, Ayo kita ke pesantren dan hentikan pernikahan Ning Faza."
"Tidak Tadz, Jika ini yang sudah Pak Kiai putuskan, Berarti ini yang Allah gariskan."
"Kenapa kamu menyerah dengan mudah Zayn, Bukankah kalian saling mencintai? Percayalah pada ku Zayn, Sekali saja kamu menampakkan diri, Maka Ning Faza akan meninggalkan pernikahannya dan lari bersama mu."
“Seorang Mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain, Maka tak halal bagi seorang mukmin membeli barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang tunangan saudaranya, kecuali pertunangan tersebut telah putus, Biarkan Aku belajar mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan untuk ku.”
Ustadz Saifullah ikut merasa sedih melihat keadaan Zayn. Meskipun awalnya Zayn terlihat terpaksa menjalani kehidupan sebagai petani. Namun seiring berjalannya waktu, Zayn terlihat menjalaninya dengan ikhlas tanpa mengeluh.
Bersambung...
__ADS_1