
"Itu tidak penting, sekarang kita kalahkan para preman sialan ini dulu" ~Eira
Deon tersenyum...
"Sesuai perintah anda, Partner"
.......
.......
.......
Mata Deon nampak lebih bersemangat dari biasanya. Begitu juga Eira, ketakutan akan kekalahannya mereda saat Deon datang. Dan beberapa pukulan kemudian...
Semua penjaga sudah dikalahkan Eira dan Deon.
"Ini terlalu mudah jika ada anda"
Ucap Eira seraya menendang badan para penjahat yang sudah tergeletak di lantai.
"Bukannya malah bagus?" ~Deon
"Tapi aku masih ingin bersenang- senang" ~Eira
" Kau ini menganggap penculikan seperti apa sih?Tetapi alat ku kau gunakan kan?" ~Deon
Eira tersenyum dan mengangkat jempol nya.
"Hehehe, tentu sudah beres" ~Eira
"Bagus" ~Deon
Aku dan Deon melakukan toss, aku lupa kalo tangan ku masih sakit.
Tak lama suara langkah kaki kuda terdengar. Para anggota yang lain sudah sampai kemari. Eira yang melihat mereka semua hanya diam tidak percayam
"Tu...tuan, kami minta maaf karena terlambat datang"
Ucap salah satu anggota dengan suara bergetar. Deon menatap tajam, mereka semua hanya bisa menelan ludah. Tak lama kemarahan mereda dan Deon menghela nafas.
"Sudahlah, kalian hanya perlu menyingkirkan orang- orang ini"
Perintah Deon ke seluruh anggota kelompok gagak hitam.
"Baik Tuan"
Eira masih tidak percaya apa yang terjadi. Berbeda dari kabarnya, para kelompok gagak hitam tidak mengenakan jas hitam seperti apa yang dulu Tuan N lakukan. Cukup lama Eira berdiam, tak lama ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Mereka anggota gagak hitam kan? Aku hampir tidak mengenali mereka"
Deon memberikan Eira jubah Kerajaan nya dan memakaikan nya kepada gadis itu.
"Tentu kau tidak mengenali mereka, selain tidak menggunakan tanda anggota nya, mereka juga menyamar menjadi bangsawan"
Jelas Deon kepada Eira, gadis itu mengangguk mengerti.
Mereka berdua memperhatikan para anggota sedang mengangkut para penjahat yang ada. Hawa malam yang dingin menusuk kulit, Eira hanya mengandalkan jubah Deon untuk menghangatkan diri.
Tak lama Deon membalikan tubuh Eira untuk berhadapan dengannya. Matanya yang sayu membuat Eira bertanda tanya dengan sikap Deon. Namun tak lama pria itu ambruk di pelukan Eira. Tubuh Deon yang hangat membuat hilangnya hawa dingin.
...Bruk!...
Eira bingung dan khawatir dengan keadaan Deon.
"H..hei, kau tidak apa?"
Tanya Eira dengan khawatir. Deon mengelengkan kepalanya perlahan, kemudian dia memeluk Eira dalam pelukannya. Sontak gadis itu terkejut dengan apa yang dilakukan Deon. Untuk gadis remaja sepertinya, perbuatan Deon membuat pipi Eira merah padam.
__ADS_1
"P..Pangeran?"
"Biarkan aku begini sebentar. Kau ini sangat merepotkan"
Bisik Deon, Eira terdiam. Tak lama ia tersenyum dan menepuk pundak Deon.
"Maaf, padahal aku tau jika akan ada kejadian yang lebih berbahaya. Tetapi aku kurang waspada" ~Eira
"Jangan salahkan dirimu, ini diluar ekspektasi kita. Yang jadi masalah kenapa kamu tidak menunggu ku, sekarang kau banyak luka dan darah"
Deon melepas pelukannya dan menjitak pelan jidat Eira. Eira tertawa kecil sambil memegang kepala.
"Hehehe, jika saya menunggu pangeran berkuda putih, bisa- bisa saya sudah tidak ada di sini" ~Eira
"Hush, jangan bicara seperti itu" ~Deon
Mereka terdiam dan saling menatap. Mata merah Eira yang tajam di sertai oleh mata biru Deon yang gemerlap oleh cahaya bulan. Tak lama mereka tertawa.
"Kau benar- benar wanita yang tangguh dan kuat" ~Deon
"Aku tau itu" ~Eira
Saat sedang asyik mengobrol, salah satu anggota mendekat ke Eira.
"Em, maaf mengganggu Tuan dan Nona, tetapi saya mendengar laporan jika pasukan Duke sedang dalam perjalanan menuju kemari"
Eira terkejut, mata nya menunjukan harapan dan kesenangan. Ia berbalik dan menatap kembali Deon. Mencengkram pelan lengan Deon dengan tatapan tak percaya. Deon tersenyum ke Eira.
"Ayah?!Bagaimana ayah tau keberadaan saya?" ~Eira
"Aku memerintah 'kan salah satu anak buah untuk mengantarkan Tuan Duke kemari. Dia harus tau apa yang terjadi dengan putri nya, benar 'kan?"
Entah mengapa Eira merasa senang dengan ini semua. Namun tatapan Deon teralihkan ke tangan Eira dengan lilitan kain merah.
" ... "
Tangan? Aku memberikan tangan ku ke Deon. Dia membuka ikatan kain yang ku lilitkan ke tangan. Dia terlihat terkejut saat melihat luka ku, tak lama Deon memberikan sesuatu di tangan ku ini.
"Akh, sakit" ~Eira
"Tahan lah sebentar, aku sedang melakukan pertolongan pertama" ~Deon
"..."
Eira kembali diam dan menahan rasa sakitnya.
......................
Selesainya Deon melilitkan kain baru di luka Eira. Senyum terukir, tak lama terdengar suara langkah kaki kuda mengarah kemari. Suara lantang tak asing di telinga Eira, ia mengenal suara itu.
"EIRA!!"
Pria setengah baya dengan rambut hitam dan mata merah yang tajam. Ia turun dari kuda dan berlari menuju Eira.
"Ayah?!"
Duke langsung memeluk erat putrinya. Eira belum pernah merasakan perasaan ini, pelukan hangat dan tulus dari seorang ayah. Perasaan nyaman dan aman saat di peluk oleh beliau. Tetesan air mengalir membuat Eira terkejut dan tak percaya.
Duke menangis?!
"A..ayah?"
"Kau tidak apa- apa kan?"
Ucap Duke yang sudah menghapus air matanya. Ia menatap lekat-lekat putrinya.
"Hanya luka saja" ~Eira
__ADS_1
Jawab Eira seadanya sambil tertawa canggung. Duke diam, tak lama ia menanyakan sesuatu ke Eira.
"Apa kau tau siapa yang melakukan ini?"
Tanya Duke dengan serius, Eira tersenyum.
"Saya tau, tetapi sepertinya saya butuh istirahat. Yang mulia pangeran yang akan menjelaskan"
Eira melemparkan alat kecil berwarna hitam ke Deon. Pria itu langsung menangkapnya. Bentuknya seperti batu biasa, bahkan seperti batu sihir jika di lihat dari dunia fantasi dan kegunaan dari batu ini.
...----------------...
Flashback
Di istana saat sedang berdansa, Dia memberiku benda aneh...kenapa dia memberi 'kan ku batu?
Deon mendekat dan berbisik...
"Ini untuk mu" ~Deon
"Apa ini?" ~Eira
"Alat rekam, entah mengapa aku merasa kau membutuhkan nya. Tinggal tekan tombolnya dan dia akan merekam suara. Tetapi ingat ini hanya bertahan 15 menit waktu rekam" ~Deon
"Saya tidak mengerti kenapa anda memberikan ini kepada saya. Dan lagi siapa yang mengatakan kepada anda batu bisa merekam suara? Anda yakin ini bukan benda aneh?" ~Eira
"Firasat ku sangat kuat dan tidak pernah salah, ini hanya untuk berjaga- jaga saja. Dan soal itu, aku membelinya ke pedagang asing. Jika benar bukannya alat ini berguna?" ~Deon
Aku terdiam sebentar sambil memegang batu di tanganku. Ternyata jika di perhatikan lagi ada sesuatu yang menonjol di batu ini. Aku tersenyum ke Deon.
"Saya tidak mengerti apa yang Pangeran bicarakan namun, baiklah saya akan menerimanya dengan senang hati"
...----------------...
Dan yah, disana ada rekaman suara ku dan Alesya. Tak kusangka alat nya ku gunakan untuk ini.
Duke menatap Deon, ia membungkuk dan mengucapkan rasa terimakasih.
"Terima kasih yang mulia anda sudah menyelamat kan putri saya"
Enak saja, dia yang datangnya lebih lama malah mendapat pujian Dukeš¢
Deon tersenyum dan menyilangkan tangannya, menatap Eira dengan tatapannya.
"Sepertinya Nona Eira juga mengalahkan beberapa penjahat. Saya hanya datang membantu setengahnya saja Tuan Duke"
Jelas Deon ke Duke, pria itu menatap Eira dengan serius.
"Benarkah itu Eira?" ~Duke
"Benar sekali, lihat luka ini menandakan nya"
Ucap Eira dengan sombong. Bukannya bangga Duke marah dengan tindakan gegabah Eira. Duke memukul pelan jidat putrinya. Eira bengong sambil memegang jidatnya dan berpikir 'apa perasaan ku saja akhir-akhir ini banyak orang memukul jidat ku?'
Satu hal yang aku ketahui lagi, ternyata buku novel yang kubaca tidak 100% benar.
Untuk seterusnya aku yakin jika cerita selanjutnya aku sendiri yang tentukan, bukan karena buku itu lagi. Aku harus menyiapkan diriku untuk takdir selanjutnya. Aku berharap jalan takdir yang ada di hadapanku...semoga tidak merepotkan.
.......
.......
.......
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Authorā¤ļø )...
__ADS_1