
"Apakah kau tidak punya tata krama? Percuma saja kalian dari Istana, tetapi mulut kalian sangat busuk" ~Hugo
.......
.......
.......
"Cih, kurang ajar!"
"Berhentilah dan jaga sopan santun mu! Maaf atas perlakuan anak buahku pada mu"
Pemuda yang menyerang Hugo berdecak kesal sambil menatap tajam Hugo. Namun pria itu tidak memperdulikan nya.
"Aku bukan orang yang membuang- buang waktu anak muda. Menyingkirlah!"
Ucap pemimpin pasukan. Ia segera melewati Hugo, pemuda itu tetap tidak terima dan hendak menghandang nya. Berniat melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada salah satu pengawal tersebut. Namun bukan nya orang tersebut yang terjatuh, melainkan Hugo lah yang terjatuh.
Pria itu terlihat gesit dan langsung memegang tangan Hugo, melemparnya dengan mudah sampai suara retakan tulang terdengar. Hugo dengan mudah nya di taklukan oleh orang itu.
"Jika kau tidak salah, kau seharusnya tidak takut dengan kami"
"Cih, MENJAUHLAH KALIAN! JANGAN MENTANG- MENTANG KALIAN DARI KERAJAAN!"
...DUGG!...
Pria itu lagi- lagi menaklukan Hugo, ia menendang Hugo karena berisik. Tentu saja Hugo melakukan ini dengan maksud agar Alesya mendengarnya. Dan benar saya Alesya mendengar teriakan Hugo dengan sangat jelas.
Gadis itu segera mengambil mantel milik Hugo dan kabur lewat jendela.
Hugo, apakah kau sebenarnya tau siapa aku... Daripada itu, terima kasih karena kau mau melindungi gadis br*ngsek ini, terima kasih.
Batin Alesya yang masih berlari.
Sedangkan adik- adik Hugo yang mendengar kegaduhan di luar langsung bangun dan bingung apa yang terjadi. Bahkan Leon langsung menangis karenanya.
Tak lama para penjaga langsung masuk ke kamar. Mereka melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apa yang terjadi. Jendela terbuka sangat lebar yang membuat hawa dingin masuk.
"Cih jangan bilang... SEGERA CEK DILUAR! GADIS ITU KABUR"
Pengawal yang mendengar langsung melakukan apa yang rekan nya katakan. Adik- adik Hugo hanya bisa menangis tak tau harus apa, bahkan mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Pemimpin pasukan Istana yang mendengar anak buahnya mengernyitkan alis nya. Ia masih menahan Hugo agar tidak memberontak.
"Jadi kau menyembunyikan nya? Kenapa?"
"Bukan urusan mu!"
...KRAAKK!...
"AAKKKHHH"
Pria itu mematahkan beberapa tulang Hugo.
__ADS_1
"Entah kenapa kau seperti ini tapi ingatlah, perbuatan mu sama sekali tidak benar. Toh percuma saja kau seperti ini, sebentar lagi gadis itu akan tertangkap oleh anak buah ku"
Hugo berdecak kesal, walau wajah nya penuh goresan dan darah tetap saja dirinya memaksakan diri untuk memberontak.
Sedangkan Alesya ia masih saja berlari tanpa tujuan yang jelas. Yang penting lolos dari kejaran para penjaga Istana, itulah yang Alesya pikirkan.
Cih, ini sama seperti saat aku keluar dari penjara. Tidak mungkin aku yang bersusah payah untuk keluar dari sana kembali lagi ke tempat menjijikan itu! Tidak, tidak mau!
Pikiran negatif ada di pikiran Alesya. Membuat siapa saja yang melihatnya menyangka bahwa dia gila. Dengan tatapan ketakutan ia masih saja berlari.
Hawa dingin yang menusuk, suara seseorang yang mengejar, merasakan kedengkian dan kebencian orang lain membuat kejadian yang dialami Alesya sama seperti Eira asli di masa lalu. Entah apa yang terjadi, namun Alesya merasakan sakit di dada. Apakah takdir berbalik agar Alesya merasakan apa yang dulu mantan sahabatnya alami...
Tak lama terdengar langkah kaki kuda dibelakang. Alesya terkejut dan bingung apa lagi yang harus ia lakukan. Suara semakin dekat membuat tubuh Alesya tergoncang hebat. Menangis tidak menyelesaikan apapun, marah namun ini ulahnya sendiri.
Dan yah, seketika tanpa Alesya sadar pasukan kerajaan sudah mengelilinginya. Pandangan Alesya menjadi kabur saking takut nya. Ia hanya bisa menatap tajam dan mencoba menjauh dari mereka.
"Ikutlah dengan tenang, selagi kami bicara baik- baik"
Dengan cepat Alesya di bawa oleh mereka. Alesya sudah tidak punya tenaga lagi untuk memberontak.
.......
.......
.......
Sedangkan di tempat Hugo. Lily yang melihat kakak pertamanya terkejut dan terbelalak apa yang terjadi. Kata- kata tak dapat ia keluarkan dari mulutnya. Sampai adik nya Matteo menyusul nya dari belakang dan menyaksikan hal yang sama. Beda dengan Lily, Matteo dengan berani berlari ke arah kakak nya dan berteriak dengan lantang.
"LEPASKAN KAK HUGO!"
"Bocah kecil ini..."
"Matteo! Menyingkirlah bodoh!" *marah
Teriak Hugo kepada adik nya. Namun bukan nya pergi Matteo hanya menangis dan masih mendorong sekuat tenaga kepada pria dengan lambang kerajaan di baju nya.
Suasana menjadi kacau, tangisan Leo semakin kencang begitu pula Matteo. Lily hanya diam dengan badan bergetar melihat kakaknya penuh dengan luka dan darah.
Tak lama seorang dari penjaga Istana mendatangi mereka, lebih tepatnya pemimpin mereka. Ia membuat laporan bahwa Alesya sudah dibawa di Istana, mereka dalam perjalanan sampai kesana. Pemimpin pasukan itu mengerti dan melepaskan Hugo. Ia memberikan bungkusan besar dan berat kepada Hugo yang terpapar di lantai.
Matteo langsung memeluk kakak nya sambil menangis.
"Aku tidak butuh ini, dimana... uhuk A..Alesya? Akan kalian apakan dia?"
Ucap Hugo berbicara seadanya.
"Mana aku tau? Hanya Baginda Raja yang berhak menentukan hukuman apa yang sesuai kepada gadis itu"
"Cih, dan dari..darimana kalian tau Alesya di sini?"
Tanya Hugo sekali lagi memastikan.
"Kami tau kepada warga bernama Cyrilo, jika ucapan nya benar ia bilang semua hadiah akan diberikan kepada mu. Ia tidak menerima sepeser pun"
__ADS_1
Jelas peminpin pasukan. Ia segera pergi bersama dengan anak buahnya menaiki kuda. Hugo terkejut dengan nama yang penjaga Istana ucapkan.
Flashback, hari ke-2 Hugo pekerja.
"Ngomong- ngomong, kertas apa yang ada di tasmu?"
Tanya Cyrilo sambil menunjuk benda yang ia maksud. Ia penasaran terhadap benda tersebut. Hugo dengan sekejab langsung membenarkan tas nya dengan memasukan kembali kertas yang Cyrilo maksud.
"Bukan apa- apa" ~Hugo
"Kau tidak bisa berbohong dari ku, cepat katakan apa yang ada disana!"
Teriak Cyrilo kepada Hugo. Pria itu hanya menelan ludah dan memberikan poster tersebut kepada Cyrilo.
"Ini... kau mengenalnya? Kau bertemu dia? Tidak kan? Tidak mungkin"
Pertanyaan demi pertanyaan di lontarakan oleh Cyrilo.
"T..tidak, daripada itu sejahat apa gadis itu?" ~Hugo
" Dia selalu saja merendahkan para rakyat katanya dia tidak selevel dengan kita. Membuat masalah kepada Bangsawan lain, lebih parahnya katanya dia melakukan penghianatan terhadap Kerajaan "
Jelas Cyrilo terhadap Hugo.
Ucapan nya sama seperti pria itu, haaah.
"Alesya tidak sejahat itu" *gumam
"Kau mengatakan sesuatu?" ~Cyrilo
"Ah tidak, bukan apa- apa"
Cyrilo hanya tersenyum.
"Laporkan saja jika kau melihat dia, uang nya kan lumayan untuk mu hahaha" ~Cyrilo
.......
.......
.......
T..tidak, tidak! Tidak mungkin Cyrilo yang melaporkan nya!
Batin Hugo dengan mata menyeramkan.
Lily yang mengendong Leon berlari kecil menuju ke arah Hugo. Wajah nya yang basah karena air mata, membuat Hugo merasa bersalah.
.......
.......
.......
__ADS_1
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...