Bertukar Dengan Tokoh Antagonis

Bertukar Dengan Tokoh Antagonis
Tolong Lupakan Dia


__ADS_3

T..tidak, tidak! Tidak mungkin Cyrilo yang melaporkan nya!


Batin Hugo dengan mata menyeramkan.


Lily yang mengendong Leon berlari kecil menuju ke arah Hugo. Wajah nya yang basah karena air mata, membuat Hugo merasa bersalah.


Dengan perlahan Hugo membenarkan posisinya. Matteo segera mengambil handuk dengan air dingin untuk menyembuhkan lebam Hugo. Pria itu tersenyum kecil ke arah mereka.


" Hiks, s..sebenarnya apa yang terjadi? "


Ucap Matteo yang terisak- isak.


" Tidak ada, diamlah Matteo aku tau kau tidak sepengecut ini "


Hugo mencoba tersenyum dan menenangkan adik nya. Bukan nya menjadi lebih tenang mereka malah menangis lebih kencang.


" Kalian, sudahlah "


" Hiks, d..dimana kak Alesya? Mereka selalu menyebut nama kak Alesya "


Tanya Lily ke Hugo. Namun pria itu terdiam tak tau harus menjawab apa.


" Lily, kita harus melupakan Alesya "


Jawab Hugo yang berusaha berdiri. Ia menenangkan Leon yang ada di gendongan Lily. Walau ia merasakan sakit di seluruh badan nya. Mengantarkan Leon ke kasur dan menenangkan nya di sana.


" Kenapa? Kenapa harus melupakan Alesya? " ~Lily


" Diamlah Lily, dan turuti perintah kakak! " ~Hugo


" Alesya bukan orang jahat, dia selalu membantu dan baik kepada kami " ~Lily


Suara decak kesal ada di Hugo. Ia menatap sinis adik nya agar berhenti bicara. Walau terkejut dan takut, Lily bersikeras ingin tau apa yang terjadi.


" Aku akan menyusul kak Alesya! " ~Lily


" Lily! Dengarkan perintah kakak! " ~Hugo


" Tapi hiks..dia bukan orang jahat, kenapa mereka menangkap orang yang tidak bersalah " ~Lily


" JUSTRU ITU, DIA MEMBOHONGI KITA! APAKAH KAU PUAS? Huft, tutup mulutmu dan bayangkan kejadian tadi hanya sebuah ilusi, tidak nyata! "


Teriakan Hugo membuat orang di sekitar sana ketakutan. Badan mereka bergetar dan membeku secara tiba- tiba, karena baru kali ini Hugo meluapkan emosi nya.


" Maaf, intinya lupakan saja yang tadi "


Hugo kembali berdiri setelah menenangkan adik bungsu nya. Ia mengambil sebungkus koin yang tergeletak di lantai. Melihat nominal koin yang di berikan.


Sesuai yang ada di poster, 80 koin emas. Haah...

__ADS_1


" Anak- anak lihatlah "


Ucap Hugo yang mencoba menghibur.


" Ini banyak sekali "


Ucap Matteo tidak percaya apa yang ia lihat.


" Kita bisa membetulkan atap rumah agar tidak bocor lagi. Membuat tempat khusus api unggun agar kita tidak kedinginan, dan membeli berbagai macam barang. Kalian suka kan? "


Matteo dan Lily hanya diam. Mereka tau kepergian Alesya digantikan dengan sejumlah koin emas.


" Kak, tolong bawa Alesya lagi, kumohon " ~Lily


" Dia tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu " ~Matteo


Entah apa yang kalian harapkan. Percuma saja kalian memohon kepada orang lemah seperti ku, tidak mungkin.


" Alesya bilang dia harus mengembara lagi, toh mereka tidak akan berani berbuat sesuatu ke Alesya. Berhentilah mengeluh, dia baik- baik saja "


Jelas Hugo, dia mengarang cerita.


" Kakak tidak berbohong 'kan? " ~Lily


Hugo menggelengkan kepala nya.


" Jika ini yang dia mau...baiklah kami tidak bisa memaksanya " ~Matteo


Lily setuju dengan Matteo, walau sedih kehilangan seseorang mereka mencoba untuk mengerti. Hugo tersenyum ke saudara- saudara nya, mengusap rambut mereka sampai berantakan. Isakan tangis berubah menjadi tawaan.


Di kediaman Duke...


Seorang pelayan berlari kecil di koridor sambil membawa teh di tangan nya. Membawanya ke ruang tamu dengan tergesa- gesa. Sedangkan pria ber jas dengan santai menunggu mereka. Tuan rumah menyambut pria itu.


" Saya tersanjung anda mengundang saya yang hina ini bertamu di kediaman anda Nona "


Pria dengan mata tajam bagai predator. Setiap kata- katanya memiliki arti berbeda dari yang di ucapkan. Lewis Adelric, ayah dari Charles Adelric yang sekarang menetap di Istana. Hari ini seperti yang di bilang Lewis, aku mengundang nya untuk meminum teh dan berbincang- bincang. Karena alasan itulah yang ada di pikiran ku agar dia mau datang kemari.


" Jadi, sepertinya tidak mungkin bagi Nona Eira memanggil saya tanpa ada maksud dan tujuan " ~Lewis


Sesuai yang kuduga dia orang yang tidak suka basa- basi. Dia memang sangat peka terhadap sekitar.


" Tidak ada Tuan, anggap saja anda di undang dalam pesta teh kecil- kecilan "


Tentu hanya omong kosong. Tujuan awal ku mencoba meracuni si Lewis. Walau rencana ini bisa di bilang pengecut, tapi aku yakin dengan pasti jika Lewis akan terhindar dari segala bahaya yang mengancam nya. Yang melindunginya... tentu saja adalah iblis kontrak nya itu. Anggap saja saat ini aku sedang bermain.


Eira bisa melihat dengan jelas bayangan hitam di belakang Lewis. Walau para pelayan tidak melihat makhluk itu, tetapi mereka merasakan hawa yang menusuk.


Dan benar saja, teh di tuangkan di cangkir Lewis.

__ADS_1


"Silahkan di minum Tuan" *senyum


Kata Cia dia akan memasukan obat ke dalam teh tanpa ketahuan pelayan. Cih aku tidak bodoh Cia. Racun itu tidak di masukan ke dalam teh, melainkan pinggir cangkir yang akan di minum Lewis.


Batin Eira yang segera minum teh mendahulukan Lewis.


"Ada apa Tuan, apakah teh ini tidak cocok untuk anda?"


Tanya Eira kepada Lewis, namun pria setengah baya itu hanya membalas senyuman Eira. Ia dengan santai nya meminum teh yang di sediakan.


"Baik sekali anda menambahkan beberapa bunga di dalam sini Nona"


Sudah kuduga, racun itu tidak mempan padanya. Haah, setidaknya dia bisa menutup mulut atas kejadian ini. Karena semua bukti sudah ia minum dan tidak akan membekas di cangkir tersebut.


"Ngomong- ngomong apakah anda tahu kompetisi akan dilaksanakan kembali?"


Tanya Lewis ke Eira.


"Ku kira itu hanya kabar burung saja, jika benar aku harap para rakyat memilih pemimpin mereka dengan tepat"


Ucap Eira dengan nada tidak peduli.


"Apakah anda tidak tau, jika pangeran Deon gagal menjadi Raja, anda akan menikah dengan putra ku Charles" *senyum


Sesaat Lewis mengatakan kata 'menikah', Eira mengernyitkan alis nya. Sudah cukup baginya untuk membuat skenario pernikahan palsu dengan Deon, ia sebisa mungkin dan tidak mau terlibat lagi dalam urusan di dimensi ini.


"Sepertinya itu kurang tepat, karena pada dasarnya kedua pihak harus setuju dalam perjodohan ini. Banyak wanita lain yang lebih anggun, terhormat, dan pintar di banding saya yang hanya memiliki gelar putri Duke. Kenapa Tuan Charles tidak memilih mereka saja?"


Jawab Eira dengan tatapan tajam nya.


Lebih baik aku sendiri seumur hidup. Menikmati kekayaan daripada tinggal serumah dengan para iblis ini. Ah tidak, aku tidak bisa. Karena masalah Eira dan dunia ini belum selesai. Sampai kapan aku terus merasa tertekan seperti ini.


Batin Eira mengernyitkan alis nya.


"Dan lagi, jangan remehkan pangeran Deon. Karena pada dasarnya beliau adalah Putra Mahkota yang sebenarnya"


Lewis tertawa kecil saat mendengar ucapan Eira.


"Apakah ada yang lucu?" *tersinggung


"Tidak ada, saya terkesan dengan kegigihan anda saja"


Walau dia musuh, tetapi lumayan dapat informasi darinya. Kukira kabar ini hanya rumor belaka. Haah, mungkin beberapa menit lagi aku bisa mengusirnya.


Pikir Eira yang masih tidak memperdulikan Lewis.


Walau begitu, Frecia yang daritadi memperhatikan Eira selalu menatap waspada Lewis.


...B e r s a m b u n g ......

__ADS_1


...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...


__ADS_2