
Dia gila ya!? Apakah ini cara dia melakukan seorang wanita!?///
Dengan mata memohon Hugo terus menatap Alesya. Dengan wajah tidak bersalah Hugo tidak bergeser sedikit pun dari tempat Alesya terlentang.
" Aku tanya sekali lagi, apakah aku benar tidak boleh mengetahui nya? "
Hugo menatap Alesya dengan senyum licik nya.
Dasar orang gila ini!///
Akhirya dengan sedikit paksaan Alesya menuruti permintaan Hugo. Ia menganggukan kepala nya, seketika Hugo bangun dari atas tubuh Alesya dan menjaga jarak aman.
" Nah gitu dong "
Ucap Hugo tertawa puas, ia merasa menang dalam hal ini.
' Kau gila ya!? Dasar mesum dan pemaksa!/// '
" Hahaha, apakah tadi terlalu berbahaya? Maaf, intinya jangan lupa janji mu "
Ucap Hugo tersenyum licik. Alesya hanya menelan ludah dan terpaksa harus menceritakan apa yang terjadi.
Aku tidak menjanjikan apapun, ini namanya jebakan yang tidak bisa kutolak. *pikir
Dengan susah payah Alesya memberikan isyarat agar Hugo mengerti apa yang ia maksud. Hugo mengamati tangan Alesya dan sentak ia terkejut dan marah dengan apa yang terjadi.
Aku juga seorang budak, pada suatu hari ada pemuda yang mendatangi ku. Pemuda itu membeli ku dengan harga yang tidak murah tentunya. Awalnya aku percaya saja, dan melakukan tugas nya dengan baik. Namun ternyata dia hanya memperalat ku saja. Satu kesalahan... pisau mendarat tepat di luka yang sedang kau lihat ini.
Jelas Alesya setengah berbohong kepada Hugo. Hugo menjadi marah dan menggenggam tangan nya sangat kuat. Alesya yang melihat tingkah Hugo hanya diam tidak bergeming. Setidaknya ia sudah menepati janji walau dengan cerita karangan nya.
" Cih, brengsek! " ~Hugo
Aku setuju, dia sangat brengsek. Ditambah dengan aku yang bodoh.
" Tetapi bukan nya dulu kau pernah bilang bahwa dirimu seorang pengembara? " ~Hugo
Aku lupa! Sial, ternyata dia lebih teliti dari dugaan ku.
' Kejadian ini sudah lama terjadi '
" Benarkah? "
Alesya hanya mengangguk mengiyakan. Lagi- lagi Hugo tersenyum, seakan sudah menemukan sesuatu dari kalimat Alesya.
" Oh begitu "
Hugo mengangguk mengiyakan. Kenapa dia kelihatan seperti tidak percaya begitu? Pikir Alesya.
" Menurut mu, apakah orang jahat itu salah? "
Tanya Hugo kepada Alesya.
Kenapa dia menanyakan sesuatu secara tiba- tiba? Dan lagi dari berbagai pertanyaan kenapa harus itu yang di tanyakan, merepotkan.
Kemudian Alesya menjawab nya dengan bahasa isyarat.
__ADS_1
' Menurut ku, orang yang di jahati itulah yang bodoh. Mereka terlalu naif dan pengecut untuk menghadapi penjahat '
" Jadi intinya, orang baik itu salah? "
Alesya hanya mengangguk mengiyakan.
' Dan lagi, mereka semua selalu baik kepada orang lain, tidak memikirkan diri sendiri termasuk memikirkan apa yang terjadi di masa depan '
Jelas Alesya kepada Hugo.
" Apakah Lily salah satunya? "
Alesya sempat terdiam, entah bagaimana menjawab pertanyaan Hugo. Hugo mengerti dan hanya tersenyum kepada Alesya.
" Hahaha, aku setuju dengan jawaban mu... tetapi menjadi orang baik tidak ada salah nya kan? Toh mereka juga yang membuat kita keluar dari dunia yang kejam "
Hugo menatap Alesya dengan senyuman nya, gadis itu hanya termenung dan sedikit terpesona dengan senyuman tulus pemuda itu.
" Nah tuan putri, sepertinya sudah cukup bagi kita beristirahat "
Ucap Hugo seraya berdiri dan menyulurkan tangan nya untuk membantu Alesya.
" Kau ambil beberapa tanaman saja, itu lumayan untuk dijual "
Hugo menatap tajam Alesya agar ia mengiyakan. Semoga saja kali ini berhasil, itulah yang ada di pikiran Hugo. Namun nampak wajah bingung dari wanita itu.
Eee, aku tidak tau soal tanaman mana yang laku di jual dan mana yang tidak. Apa yang ini ya?
Alesya dengan polosnya mengambil rumput hijau dan menyerah kan nya ke Hugo. Pemuda kekar itu hanya memukul jidat nya.
" Lily, kakak sudah tidak kuat lagi " *gumam
Apa aku tidak salah lihat? Kenapa dia menangis!?
Di tempat Eira...
" Nona, tolong berhentilah "
Ucap Cia kepada Eira yang masih ada di atas. Apanya yang diatas? Sekarang Eira sedang membaca buku, karena buku itu terletak di rak yang paling tinggi Eira terpaksa mengambil tangga dan membaca dari atas.
Namun Eira tidak mendengar Cia, ia sedang fokus membaca buku. Ia juga sedang mencari tahu apa saja yang ada di Kerajaan Forest dan Kerajaan Melia.
Em, jika tidak salah pemasaran di Kerajaan Forest kebanyakan melakukan barter daripada menggunakan koin. Ini saja sudah membuktikan bagaiman acuh nya Kerajaan ini pada sesuatu yang mewah. Aku kagum dengan Kerajaan ini karena tidak ada masalah apapun selain perdebatan nya dengan Kerajaan Melia.
Krisis makanan, tempat tinggal, dan lain- lain juga normal. Bahkan korban yang terbawa dalam perang kecil juga mendapatkan perlakuan yang layak.
Sedangkan Kerajaan Melia berbeda jauh dari Kerajaan Forest. Mereka menyukai sesuatu yang cantik, misal berlian, ruby dan sebagainya. Bahkan dulu juga ruby merah yang ku berikan ke Deon ia menjual nya ke Kerajaan Melia. Krisis dan lain- lain juga tidak masalah. Hiss, ini memang sulit.
Tidak ada celah bagaimana cara agar dua Kerajaan ini dapat berdamai. Atau... belum ada.
Tak lama Cia menggeserkan tangga yang membuat Eira terkejut.
" Apa yang kamu lakukan!? Ini tinggi lho! "
Ucap Eira seraya cepat- cepat turun dari tangga dan masih membawa 2 buku tebal nya.
__ADS_1
" Bosan "
Ucap Cia dengan wajah tanpa dosa. Eira menghela nafas nya.
" Kenapa tidak keluar saja? Jika perlu aku akan panggil pelayan dan menyuruh nya menghidangkan makanan enak untuk mu "
" Haaa itu boleh juga "
Ucap Cia dengan mata ber binar- binar. Akhirnya Eira memenuhi permintaan Cia, dengan begini dia tidak akan terganggu. Kucing kecil itu segera pergi ke kamar dan menunggu pelayan menyajikan makanan nya.
" Nona, bukan anda yang makan? "
Tanya pelayan terhadap Eira yang masih membaca buku.
" Tidak, antarkan saja ke kamar... sudah ada ada kucing ku yang menunggu "
Ucap Eira yang masih fokus terhadap buku tersebut.
" Apakah tidak apa- apa memberikan makanan manusia kepada kucing anda? "
Pelayan sekali lagi bertanya untuk memastikan. Eira hanya mengangguk mengiyakan.
Toh dia bukan kucing biasa, dia hanya iblis jadi- jadian. Pelayan itu menuruti perintah majikan nya.
" Tunggu, dan siapkan secangkir kopi untuk ku "
" Baik Nona "
Ini akan menjadi hari yang panjang dan membosankan. Setidak nya ada secangkir kopi untuk menguatkan ku dari rasa kantuk. Ngomong- ngomong, aku masih penasaran dengan buku misterius itu. Mumpung masih ada di perpustakaan, membaca beberapa bab tidak masalah kan.
Eira lagi- lagi mencari buku yang ada kaitan nya dengan perjanjian iblis. Tentu saja sekarang ia sudah tidak perlu repot- repot mencari kerena buku itu ada di penjaga perpustakaan.
...Bukkk!...
Huft, masih tebal saja buku ini. Sekarang aku sudah tidak kaget lagi jika ada hal aneh dalam isi buku tersebut. Malahan akan menjadi pentujuk tentang keberadaan iblis dan bagaimana keadaan Eira asli.
Bersamaan dengan itu, Eira membuka buku hitam dan tebal yang berisi hal diluar kewajaran manusia tersebut. Setiap kata ia cermati agar paham akan makna buku itu. Namun ada beberapa kalimat yang membuat Eira tertarik.
" Jiwa akan terbayarkan dengan hal yang manis "
Sepertinya aku paham dengan kalimat ini. Em... tunggu!
" Harga jiwa sepadan dengan hadiah yang diterima"
(Glup)
Entah mengapa aku merinding saat membaca dan mengartikan kalimat ini. Mungkin aku harus menyiapkan mental ku untuk hal esok yang akan datang.
Jiwa ya... apakah bayaran Eira asli sesuai dengan iblis itu, jika tidak... mungkin aku akan tau apa yang terjadi kedepan nya.
Ucap Eira menelan ludah nya.
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...
__ADS_1