
...----------------...
Suasana yang dingin menyelimuti tubuh. Berlari tanpa beralaskan kaki. Dua gadis berlari tanpa tau arah. Gadis berambut pirang dengan mata biru indah. Dan gadis berambut putih indah tertutup salju, mata merah indah nan tajam. Namun terdapat ketakutan dan kesedihan di mata mereka. Suara langkah kaki kuda yang semakin mendekat menambah ketakutan kedua gadis itu.
"Cepat pergi!"
Ucap gadis berambut putih kepada temannya. Dengan wajah tak percaya dan amarah, gadis berambut pirang berteriak dan tak mau melaksanakan apa yang di katakan.
"Kau tidak lihat, luka mu sangat parah!"
Gadis berambut putih tersenyum sebelum akhirnya terjatuh. Bercak merah di baju, luka tertusuk masih terlihat, gaun robek yang masih di gunakan. Wajahnya tambah pucat dan seputih salju pada hari itu. Dengan suara pelan dan perlahan, ia kembali berbicara.
"Aku...tidak apa, toh sudah saat nya. Kau tau, sekarang...aku tak dapat merasakan semua...bagian tubuhku"
Gadis pirang menangis tiada henti, putus asa dan tak tau harus melakukan apa. Ia mencoba memapah temannya namun kakinya telah membeku dan sulit untuk bergerak. Berkali-kali terjatuh namun berkali-kali juga berdiri dan mencoba untuk berlari sambil membantu temannya. Keinginan bertahan hidup lambat laun menghilang. Kini ia hanya dapat menangis.
"Kau bicara apa!? Hiks..darah sudah kemana- mana, sekarang berhentilah berbicara tidak jelas!! Hiks...k..kumohon bertahanlah"
Suara langkah kaki kuda semakin jelas. Kedua gadis itu hanya menunggu nasib sampai mereka tiada. Gadis berambut putih berdecak kesal, dengan perlahan ia meraih tangan temannya dan mengatakan...
"Aku masih punya satu harapan, intinya aku tidak mau rencana si sialan itu berhasil. Bantu aku untuk balas dendam ... Emely "
...----------------...
.......
.......
.......
Emely terbangun dari tidurnya. Keringat bercucuran dari wajah menawannya. Bahkan tubuh gadis itu panas dingin tak karuan.
...BRAKK!!...
Suara dobrakan pintu terdengar, pria berambut merah tinggi, bermata merah dengan pupil mata berbentuk celah vertikal bagai mata kucing. Dengan wajah khawatir, ia langsung berlari ke arah Emely.
"Ada apa Nona?!"
Emely masih belum menjawab. Melihat wajah pucat dan keringat bercucuran Emely membuat pria itu khawatir. Ia segera mengambil segelas air untuk Emely.
"Ini Nona"
Emely mengambil dan meminum air dengan perlahan. Pria itu terdiam sejenak menunggu Emely agar lebih tenang. Dengan suara pelan dan hati-hati, pria itu mulai membuka suaranya.
"Apakah...mimpi itu lagi ya? "
Emely mengangguk pelan. Pria itu dengan perlahan mengelus kepala Emely bermaksud untuk menenangkannya.
"Kenapa kau meminta permohonan dari orang lemah sih"
Ucap Emely dengan wajah sedih dan penuh amarah.
"Kenapa tidak terus terang kepada dia saja Nona? Secara tidak langsung dia juga majikan ku"
Tanya Ray sambil menghela nafas. Mata Emely menjadi sayu, dengan lemas dan suara pelan gadis itu berkata...
"Aku tidak mau kejadian dulu terulang kembali"
Melihat kesedihan di mata Emely, pria itu terdiam dan masih mendengarkan Emely. Ia dengan sabar menunggu gadis itu berbicara dan meluapkan emosinya.
" ... "
"Bahkan aku terpaksa menculik nya untuk si sialan itu. Intinya...selemah apapun aku, aku ingin mengabulkan permohonannya"
Ucap Emely dengan keyakinan yang kuat.
"Di kehidupan dulu, dia yang selalu menderita. Sekarang biarkan aku yang menukar posisinya..."
Lanjut Emely, ia kembali diam.
"Bahkan anda rela menjadi buronan untuk sahabat anda, tetapi menurut saya ini cara yang salah"
Ucapan pria berambut merah itu membuat Emely tersinggung. Emely menatap tajam pria tersebut.
"Lalu, apa rencana mu?" ~Emely
"Setidaknya, ijinkan saya untuk memberi tau kepada dia Nona"
__ADS_1
"Jangan bercanda!!" ~Emely
"Lalu, anda akan terus menerus sembunyi dari kebenaran?Anda yang akan terus menderita? Bahkan di kehidupan ini dia juga tidak tenang Nona!"
Emely mengepal tangan nya, semua yang dikatakan pria itu ada benarnya.
"TERSERAH KAU SAJA RAY!"
Teriak Emely dengan penuh kemarahan. Pria bernama Ray diam sejenak dan masih memandang Emely. Tanpa ragu, ia langsung pergi meninggalkan Emely sendiri.
Setelah Ray pergi, emosi Emely belum menghilang. Ia menggigit jarinya dan bergumam.
Apakah aku sudah melakukan hal yang benar... Eira?
.......
.......
.......
Di tempat Eira berada...
Seperti biasa putri Duke itu masih ada di kamarnya. Namun ada kejadian tak terduga terjadi. Seorang pria asing bergelantungan di pohon dekat dengan jendela Eira. Gadis itu terdiam sejenak, merinding dan tak tau harus berkata apa.
" .... "
"Halo Nona, selamat pagi"
Ucap pria berambut merah dengan santainya, ya...dia adalah Ray yang sudah tiba di kediaman Duke tempat Eira berada.
Situasi apa ini... Di hadapan ku ada seorang pria berambut dan bermata merah di dekat jendela kamarku. Felix belum datang lagi, aku harus bagaimana? Apakah dia pembunuh bayaran yang biasanya terdapat di cerita novel klasik? Tapi dilihat dari tingkahnya yang konyol...sepertinya bukan💧
"Setidaknya, tolong buka 'kan jendela" ~Ray
"Maaf, orang asing dilarang masuk"
Ucap Eira dengan wajah datar.
"Aku bukan orang asing, tolong buka dulu"
Orang aneh manakah yang akan membuka jendela kamar untuk orang asing? Felix sedang pergi keluar sebentar. Kasihan juga sih, yah sudahlah. Aku akan menjadi salah satu orang aneh tersebut. Semoga saja tak ada niat buruk pada pria ini.
Eira membuka jendela kamarnya. Ray dengan lincah langsung melompat dan masuk ke kamar Eira.
"Fiuh" ~Ray
Eira takjub dengan pria asing yang baru saja ia temui. Tanpa rasa takut ia masuk melalui jendela kamar yang tinggi.
"Kau siapa?"
"Ah, halo Nona... maafkan saya karena sudah bertindak lancang"
Ray membungkuk dan mencium tangan Eira dengan sopan.
Dia...siapa? Tapi saat melihat rambut merah dan suaranya...aku merasa tidak asing.
Dengan riang, Ray langsung mengubah ekspresinya menjadi ceria. Bagai anak anjing yang semangat, ia begitu senang saat melihat Eira. Wajah rindu dan senang ada di mata merah Ray.
"Hei majikan ku, anda tidak lupa dengan saya 'kan?" ~Ray
"Ah aku tau, kau salah satu pasien rumah sakit jiwa yang kabur 'kan?" ~Eira
"Bukan!💢"
Teriak Ray yang tersingung. Sikapnya kembali berubah menjadi sedih. Sikap seperti anak kecil yang merajuk, dengan pelan Ray kembali berbicara.
"Padahal dulu anda yang memanggil saya, sekarang anda malah melupakannya dan memerintah untuk menjaga Nona Emely" *gerutu
Memanggil? Emely?!
"Tunggu, kau tau dimana Emely? Siapa dirimu sebenarnya?"
Tanya Eira dengan wajah tak percaya. Bukannya menjawab, Ray malah sama terkejutnya dengan Eira.
Ternyata benar, saat Nona Eira melakukan perjanjian dia kehilangan sebagian ingatan. Aku...turut bersedih.
Batin Ray dengan wajah merasa bersalah.
__ADS_1
"Anda benar- benar lupa siapa saya?"
Tanya Ray sekali lagi memastikan.
"Makanya aku bertanya💢 " ~Eira
"Hah baiklah kita berkenalan sekali lagi. Hai anda memanggil dan memberi nama saya Ray. Mungkin anda merasa tak asing kepada nama saya, karena kita pernah bertemu sekali. Anda juga melakukan perjanjian iblis dengan permintaan kembali ke masa lalu untuk membalas dendam. Sekian penjelasan saya"
Jelas Ray sambil tertawa. Ray dan Eira terdiam sejenak, mereka saling bertatapan.
" ... " ~Eira
" ... " ~Ray
"Aku akan memanggil Felix dan menyuruhnya mengantarkan mu ke rumah sakit. Tunggu ya Tuan" ~Eira
Eira membalik 'kan badan dan berniat memanggil Felix. Ray dengan cepat langsung memegang tangan Eira dan merengek bahwa itu semua tidak benar.
"Bukan oii, tadi 'kan sudah saya katakan panjang lebar💢 "
Aku ingin pingsan di suatu tempat dan tidak akan bangun dalam beberapa hari. Malang benar nasibku menghadapi cobaan ini. Perjanjian? Perjanjian apa lagi astagaaa!!!
.......
.......
.......
Di tempat Eira asli... sama seperti sebelumnya gadis cantik itu tidak sendirian.
"Mereka berdua melakukannya dengan baik. Walau aku masih mencium bau keegoisan kepada gadis berambut pirang itu"
Ucap bayangan hitam kepada Eira. Gadis itu terdiam, namun tak lama ia kembali membuka suaranya.
"Mereka tidak tau jika Eira yang ditemuinya bukan Eira yang meminta permohonan darinya. Aku sedikit kasihan dengan sahabat ku Emely" ~Eira
"Hahahaha, ini pertunjukan yang seru! Aku menantikan masa depan apa yang di buat oleh dirimu di masa depan. Siapa namanya? Di...an? Ya Dian Bwahaha"
"Jangan tertawa, dan lagi kenapa kau tidak mengabulkan permohonan ku? Aku ingin membalas dendam dengan tangan ku sendiri"
Ucap Eira dengan amarah yang memuncak. Bayangan itu tersenyum sinis ke Eira.
"Khi khi khi, bayaran mu terlalu sedikit dengan permintaan yang terlalu besar Nona kecil. Bahkan kau membuat peliharaan dengan nyawamu sendiri. Aku berbaik hati mengambil jiwamu dari masa depan untuk membalas dendam. Apa itu belum cukup? Ck ck ck kau serakah sekali"
Eira memutup telinganya dan berpura-pura tak mendengar apa-apa.
"Bla bla bla bla bla, hanya ada suara angin di sini bla bla bla
" 💢 "
Bayangan itu tersinggung.
"Tetapi ini bagus karena saat Ray memberi tau nya, ini tidak bertentangan dengan takdir"
Ucap Eira lirih dan sedikit senang.
"Tentu saja, itu karena sebelum Ray dipanggil, dia tidak tau kejadian apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya"
"Kenapa tidak bilang dari dulu💢" ~Eira
"Kau tidak bertanya"
Jawab bayangan dengan senyum liciknya.
"Dasar iblis!" ~Eira
"Memang iya khi khi khi"
.......
.......
.......
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...
__ADS_1