
Langkah demi langkah terdengar di tempat gelap nan lembab. Diiringi suara hewan kecil tidak membuat pria ini takut. Ia terus melangkah menuju tempat yang ingin di tuju.
" Siapa disana!? "
Salah seorang prajurit berteriak ke pria itu. Dengan memakai jubah hitam membuatnya tidak dikenali.
" Cih, merepotkan " *gumam
Pria itu mengambil benda aneh di balik jubah. Ia melempar benda aneh tersebut tepat di hadapan prajurit. Asap muncul bersamaan terjatuhnya benda aneh.
" Uhuk... ini... obat tidur!? " ~Prajurit
Prajurit tergeletak saat menghirup asap, sekalipun ia menutup hidungnya efek nya masih bekerja. Pria itu langsung berlari meninggalkan prajurit yang tidak sadarkan diri.
Sesampainya...
" ... "
Jeruji besi menjadi penghalang pria itu. Ia segera membuka jubah hitam yang membuat wajahnya terlihat lebih jelas.
" K..kau... Tuan... bagaimana anda bisa s..sampai disini? "
Suara lirih terdengar di balik jeruji. Rambut merah dengan mata hijau, ya dia adalah Alesya Ferca. Pria itu hanya memandang remeh Alesya.
" Tidak berguna "
Alesya hanya diam tidak berkutip, ia tau bahwa dirinya sangat ceroboh. Alesya menatap kembali pria tinggi dengan rambut biru. Dia adalah Charles dengan tatapan kosong dan penuh dengan amarah.
" T..tuan Vasello, tolong keluarkan saya "
Charles hanya menatap Alesya yang kini memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya. Makanan tidak layak dihidangkan oleh para tahanan. Pria itu hanya menatap jijik Alesya.
" Kenapa aku harus mengeluarkan mu? " *senyum
Alesya hanya diam sesaat, di sebelah sel deruji terdapat pria setengah baya yang bahkan sudah hilang kewarasan nya. David Ferca, ayah dari Alesya.
" Setidaknya tolong lepaskan saya... LEPASKAN SAYA TUAN! SAYA MOHON!! SAYA AKAN MELAKUKAN APA SAJA "
Teriakan Alesya membuat ruang bawah tanah bergema.
" Astaga, kau berisik sekali... sayangnya sekarang kau sudah tidak berguna "
Charles membalikan badan nya.
" A..anda juga membenci Tuan Lewis kan!? Anda sangat dendam dan bahkan ingin menghabisinya kan!? Saya bisa membantu anda Tuan, kita sama- sama jahat... hahahaha, bahkan ibu anda sendiri menjadi korban. Kenapa anda tidak langsung membunuhnya Tuan? Hahaha keluarga anda sangat aneh, benar- benar aneh " *tertawa
Alesya tidak berhenti mengoceh untuk membuat Charles menatap nya. Ia tidak peduli dianggap gila dan sebagainya. Akhirnya Charles menatap Alesya sekali lagi dan semakin dekat dengan nya.
" Hahaha, a...anda kembali kan? "
Dengan lubang kecil di jeruji membuat tangan Charles mampu mengapai Alesya. Ia memegang dagu Alesya dan tersenyum menyeringai.
" Kau berisik sekali ya " *senyum
Satu tangan mengapai sebuah pisau dan langsung memotong lidah gadis malang itu. Darah berceceran dimana- mana. Alesya hanya menutup mulutnya sambil menahan sakit.
" Nah sekarang kau tidak akan cerewet lagi " *senyum
__ADS_1
Alesya ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Rasa sakit yang tak pernah ia rasakan dan tidak bisa berbicara membuat Alesya menangis tersedu- sedu. Charles hanya menatap nya dengan pandangan kosong. Tak lama dibalik kegelapan terdengar langkah kaki dan bayangan seorang gadis. Semakin lama semakin pula nampak gadis itu. Sekarang ia sudah ada di hadapan Alesya dan Charles.
" Tuan, kenapa tidak memotong tangan dan kaki nya sekalian? " *senyum
Alesya yang mendengar itu langsung bergidik ketakutan. Perempuan dengan rambut merah seperti Alesya dan mata merah padam hanya tertawa terbahak- bahak.
" Berisik! "
Charles segera menutup dirinya dengan jubah. Perempuan itu segera berhenti tertawa. Namun pandangan nya tak lepas dari Alesya yang kesakitan.
" Hancurkan penjara gadis menjijikan itu "
Ucap Charles mengembalikan badan. Dua gadis itu terkejut dan tak percaya apa yang dikatakan Charles. Di satu sisi Alesya senang namun ketakutan nya belum reda.
" Apa maksudnya Tuan!? Dia sama sekali tidak berguna! "
Charles hanya tersenyum menyeringai.
" Bukannya asik jika kita memanah kelinci yang berlari daripada kelinci yang diam? "
Alesya bergidik ketakutan, yang dimaksud kelinci adalah dirinya. Perempuan mata merah itu hanya tersenyum dan paham apa maksud Tuan nya. Dengan menutup mata gadis itu menghancurkan jeruji besi yang sangat kuat, entah bagaimana ia melakukan nya. Alesya yang tidak percaya apa yang sedang terjadi hanya diam dengan badan bergetar.
" Apa lagi yang kau tunggu bocah? Bukan nya tadi kau ingin pergi? "
Ucap perempuan bermata merah ke Alesya, gadis itu dengan sempoyongan langsung pergi meninggalkan 2 orang gila.
" Hei, lurus saja jika ada lubang masuklah! Kau akan keluar dengan sendirinya "
Teriak perempuan bermata merah. Alesya sudah pergi menjauh dari hadapan mereka berdua. Charles hanya menghela nafas.
" Kenapa kau memberi tahu jalan keluarnya? " *tepuk jidat
Charles hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu hanya memalingkan pandangan nya seolah tidak terjadi apa- apa.
" Yah aku juga tidak peduli, ayo pergi Ren "
Gadis bernama Ren itu segera mengikuti Charles dari belakang.
" Tetapi Tuan, bukan nya gadis itu enak ya? "
Ucap Ren dengan mata berbinar. Charles hanya diam sesaat.
" Kau mau memakan nya? Bukannya kemarin sudah kuberikan ya? "
" Aish, saya lebih suka daging daripada darah. Ah, apakah pak tua itu boleh kumakan? "
Yang dimaksud Ren adalah David. Charles hanya menggelengkan kepalanya.
" Dia tidak enak, aku tidak mau kau memakan sesuatu yang menjijikan "
Ucap Charles dingin.
" Saya ingin makan sesuatu Tuan. Bahkan dia juga butuh makan " *cemberut
" Baiklah, kalian akan kuberikan banyak darah. Selesai kan? "
Ren hanya diam karena kalah omongan dengan Charles.
__ADS_1
" Tetapi Tuan, bagaimana dengan gadis itu? Apakah tidak apa dia dibebaskan? "
Ren bingung karena Alesya dibebaskan semudah itu. Bahkan ia juga tidak diperintahkan untuk membunuh Alesya.
" Buat keributan sedikit tidak apa kan? " *senyum
Ren diam tidak berkutip karena tidak paham cara pemikiran Tuan nya yang aneh. Charles melemparkan pisau yang ia gunakan tadi ke Ren. Dengan sigap gadis itu menangkapnya.
" Hihihi, saya sudah bilang pisau ini akan berguna "
Ucap Ren sambil menghapus noda darah di pisau tersebut. Charles tidak memperdulikan Ren dan masih berjalan lurus.
.......
.......
.......
Di tempat Alesya...
' Lubang, dimana lubang!? Kata gadis aneh itu hanya lurus saja. Akkhh '
Alesya berlari dengan rasa sakit tak tertahan. Ia menangis berkali- kali.
' Hikss, si brengsek itu... lidah ku... '
Sesampainya gadis itu hanya melihat lubang kecil dihadapan nya. Bukan hanya itu, di dalamnya sangat lembab dan bau. Tak sesekali makhluk kecil keluar dari sana.
' Bukannya ini selokan!? Sial, apa gadis itu berbohong '
Karena Alesya tidak punya pilihan, terpaksa ia segera masuk ke lubang yang ukuran nya pas dengan tubuhnya.
' Menjijikan! Semoga saja gadis itu tidak berbohong '
Dengan perasaan geli dan takut, Alesya segera menelusuri selokan ini dengan harapan bahwa ia segera keluar. Tetapi ia juga bingung, apa yang akan ia lakukan jika benar- benar keluar dari tempat ini? Ia tidak yakin rumahnya yang sekarang masih ada atau tidak. Sekarang ia juga salah satu tahanan yang kabur, tidak akan ada orang yang mau menerimanya.
' Sekarang aku harus melakukan apa kedepannya. Sial, andai saja aku tidak bergabung dengan anggota aneh itu. Bahkan setelah masuk ke penjara tidak ada satupun mereka yang membatu ku dan ayah!! Cih, demi kebaikan bersama apanya, mereka hanya omong kosong! '
.......
.......
.......
Nama \= Ren
Umur manusia \= 19
Status \= ?
.......
.......
.......
__ADS_1
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...