
Hah, akhirnya bisa keluar. Sudah 2 hari terakhir aku dibuat sibuk oleh rumor itu.
Saat aku berjalan melalui koridor, ada 1 tempat yang membuatku penasaran setelah masuk ke dunia ini.
Di ingatan Eira juga tidak ada kenangan tentang itu, melainkan hanya larangan Duke untuk tidak memasuki nya. Hm, tetapi manusia semakin dilarang semakin penasaran bukan? Hah sudahlah aku tidak mau mencari masalah lagi.
" ... "
Baru juga berbalik badan, pintu terbuka mendapati seorang pria keluar dari sana. Pria tinggi setengah baya.Tunggu, ayah keluar dari ruangan itu? Aku tidak salah melihat. Hahaha, pura- pura tidak tau saja.
Aku berniat untuk meninggalkan Duke dan memilih jalan memutar, namun tak lama terdengar suara tak asing memanggilku.
"Eira?"
Kenapa malah ketahuan sih.
"I..iya ayah, saya akan pergi kok"
Dengan canggung, aku mengaruk kepala dan berusaha untuk tersenyum. Didalam ingatan Eira, Duke akan marah jika membahas ruangan itu. Tak lama, Felix mendekat dan berbisik kepadaku...
...----------------...
"Anda kenapa Nona?" ~Felix
"Memang aku kenapa?" ~Eira
"Suara dan seluruh badan anda bergetar💧" ~Felix
"Begitukah? Hahaha" ~Eira
...----------------...
Bagaimana aku tidak bergetar, aku seperti orang yang terciduk. Aku bersyukur karena selama disini Duke tidak pernah marah kepadaku.
Duke mendekat kearah ku. Aku tidak salah apa- apa kan? Kami berdua tertunduk dan memberikan salam.
"Salam kepada Tuan Duke" ~Felix
"Salam kepada ayah" ~Eira
"Kenapa kalian sampai ada disini?" ~Duke
"Saya hanya ingin keluar jalan- jalan" ~Eira
Duke terdiam, ia membalikan badan dan berjalan menuju ruang yang sama.
__ADS_1
"Eira, ikut ayah" ~Duke
"Baik" ~Eira
Aku mengikuti Duke dari belakang. Sementara Felix berhenti berniat menunggu di luar. Sepertinya kita menuju ke ruangan itu. Bukannya seharusnya tidak boleh ya?
"Ayah..." *bimbang
"Ikuti saja" ~Duke
" ... "
Suara derit pintu terdengar, kami berjalan menuju kegelapan dan hanya di dampingi oleh cahaya lentera yang dibawa oleh Duke.
Tidak seperti di luar, disini terlihat nyaman dan terawat. Hanya saja tak tau kenapa, banyak barang wanita disini.
Dimulai dari gaun berumbai,cangkir teh bangsawan yang biasa digunakan para putri, beberapa aksesoris dan perhiasan untuk wanita.
"Ini barang- barang siapa?"
Tanya ku dengan hati-hati, Duke hanya diam dan masih terus berjalan. Duke mengantarkan ku ke tempat dimana ada bingkai yang tertutup dengan kain merah. Bingkai ukuran yang cukup besar dan mungkin melebihi tinggi badan ku. Rasa penasaran membuat kaki ku bergerak mendekat maju. Maraihnya namun tak jadi, menatap Duke dengan canggung.
"Boleh saya buka?" ~Eira
"Ya, tidak ada alasan bagiku untuk melarang mu" ~Duke
"I..ibu..."
"Eira!?" ~Duke
Duke terlihat terkejut. Ah, secara tak sadar aku meneteskan air mata. Bukan, bukan aku yang melakukannya. Melainkan pemilik tubuh asli ini, Eira Victoria. Entah mengapa tubuh ini ingin bergerak dengan sendiri nya.
Jadi semua barang ini adalah milik Nyonya Callista?
"Kenapa semua barang ini ada di sini?" ~Eira
"Mungkin kamu tidak ingat, karena kepergian ibumu kamu sampai sakit beberapa hari...selalu bergumam dan memanggil ibu mu"
Ucap Duke sambil tersenyum kecil saat melihat lukisan Nyonya Callista. Sakit? Tetapi di ingatan Eira tidak ada tuh. Apakah karena ini ingatan masa kecil yang cukup kelam makanya sekarang tak ada kenangan tersebut?
"Karena ayah tidak mau kejadian dulu terulang kembali, ayah menyembunyikan semua barang peninggalan ibumu disini. Ini juga membantu ayah untuk melupakan ibu mu walau hanya sejenak. Namun sepertinya..."
Duke tidak melanjutkan kalimatnya. Tanpa di tanya pun aku sudah tau, bahwa cinta Duke Eiden dengan Nyonya Callista tak mungkin dapat menghilang hanya karena menyembunyikan barang peninggalan Nyonya Callista.
"Dan kenapa ayah berubah saat kepergian ibu? Ayah juga sama 'kan tidak mau kehilangan ibu?" ~Eira
__ADS_1
"Aku tak dapat membantahnya. Maaf jika dulu ayah bersikap dingin kepadamu. Benar jika ayah belum menerima kepergian ibu mu. Ayah sampai gila kerja untuk mengalihkan masalah ini. Tetapi tetap saja tidak bisa, itu malah membuat ku semakin gila" ~Duke
Ayah mendekat ke lukisan ibu.
"..."
Jadi, Duke bersikap dingin karena tidak menerima kepergian Nyonya Callista dan tidak mau Eira teringat masalah yang membuat nya sampai sakit. Dan Eira juga berperilaku buruk karena salah paham jika Duke tidak sayang kepadanya? Kenapa mereka tidak saling jujur saja sih.
Aku benar- benar ingin merobek buku novel yang diceritakan ini. Penulis hanya menyeritakan sisi buruk Eira tetapi tidak diberikan alasannya. Bahkan pemeran utama wanita pergi entah kemana. Padahal masalah Eira tak kalah kelam dengan Emely💢
" ... "
"Kenapa Eira?" ~Duke
"Ah tidak apa- apa kok ayah, hehehe" ~Eira
Duke terdiam sejenak, tak lama ia mengambil sesuatu di balik jas Bangsawannya.
"Eira, sekarang kau boleh datang kesini sesuka hatimu" ~Duke
" ? " ~Eira
Duke memberikan satu kunci cadangan kepadaku. Eira asli sekarang akan menangis atau bahagia ya. Mungkin kedua nya, hahaha.
"Terima kasih, saya akan menjaganya dengan baik" ~Eira
Duke mengelus kepalaku, tangan besar yang hangat mampu membuat hati ku yang waspada menjadi luluh.
"Jika begitu, saya mohon pamit ayah" ~Eira
"Ya, pergilah" ~Duke
Dan saya mohon pamit Nyonya Callista..ah maksudku, Ibu.
Eira sudah hilang dari pandangan. Duke terdiam dan masih saja melihat lukisan istrinya. Matanya terhanyut, senyum hangat terlihat.
"Dia persis denganmu Callista. Senyum, semangat, keberanian, juga...sisi tegas dan keras kepalanya sama seperti mu"
.......
.......
.......
...( Dukungan kalian \= Penyemangat Author❤️ )...
__ADS_1
...B e r s a m b u n g...