
...SRAAKK...
Pria tinggi berambut hitam ke biruan keluar dari semak-semak. Ia begitu kesusahan saat berjalan. Ranting kayu yang menempel di rambut indahnya. Cia dan Eira termenung dan tak percaya yang mereka lihat.
"Charles?"
Tanpa sadar, Eira mengucapkan apa yang ia pikirkan.
.......
.......
.......
Mata mereka bertemu, mereka terdiam dan tak percaya. Padangan seakan berkata 'Bagaimana bisa kau di sini?'
Para prajurit menurunkan pedangnya saat mengetahui siapa orang yang di balik semak-semak. Dengan canggung, Charles memulai pembicaraannya.
"S..salam saya berikan kepada Nona Eira Victoria"
"S..salam juga, untuk Tuan Charles Vasello"
Mereka berdua menunduk dengan sopan dan memberi salam masing-masing.
Keheningan terjadi, rasa canggung di antara mereka berdua. Sudah lama sejak terakhir mereka bertemu. Namun tidak dengan Cia, dengan mata kucingnya ia sedari tadi memandang waspada Charles.
Penampilan biasa tanpa ada satupun ruby ataupun berlian terpasang. Jika dilihat, sudah pasti Charles berniat sama sepertiku. Ia akan pergi di salah satu Kerajaan, dan jika kita bertemu di situasi ini tujuan utamanya pasti di Kerajaan Forest. Dan jika dilihat dari ekspresinya ia pasti juga tak menyangka aku akan tiba di sini.
Saat melihat ke belakang, mereka semua diam seakan membiarkan ku berbicara kepada Charles. Posisi Charles sudah di akui oleh para Bangsawan. Bahkan ada rumor mengatakan ada Bangsawan tak di kenal memberikan gelar sementara untuknya.
Dengan kata lain...mengusir Charles seenaknya bukanlah pilihan yang tepat. Jadi mau tidak mau aku akan membiarkannya duduk dulu, hanya mengobrol ringan dan dengan sopan aku akan menyuruhnya untuk pergi.
"Jadi Tuan..."
"Nona..."
Charles dan Eira secara kebetulan bicara secara bersamaan. Mereka kembali canggung, namun tak lama Eira kembali berbicara.
"Ehem...Tuan duluan" ~Eira
"Hahaha, maafkan saya. Tetapi, kenapa Nona Eira bisa sampai ke sini?" ~Charles
"Saya hanya bosan berdiam diri" ~Eira
"Dengan pergi ke Kerajaan Forest yang letaknya sangat jauh dari kediaman anda?"
Kini Charles memandang curiga, Eira tetap tenang dan terus memandang Charles dengan seksama.
"Sepertinya pembicaraan kita akan panjang. Jika berkenan, anda boleh duduk dahulu"
Charles hanya mengangguk, mereka duduk berdua beralaskan kain. Gastor, Felix, serta prajurit lain menunduk dan mundur beberapa langkah. Emma menyeduh secangkir teh kepada mereka berdua. Dengan hati-hati dan sopan, setelah selesai Emma mundur 4 langkah tepat dibelakang Eira.
"Tak ada yang aneh bila saya pergi ke Kerajaan Forest. Sebenarnya Tuan Lewis lah yang merekomendasikan tempat ini kepada saya"
Ucap Eira sambil meminum teh. Mata Charles terbelalak, mendengar nama sang 'ayah' membuatnya sedikit curiga.
__ADS_1
"Apa saja yang Tuan Lewis katakan kepada anda?"
"Tidak banyak, beliau hanya mengatakan bahwa tempat ini cocok untuk saya"
"Benarkah hanya itu?"
"Tentu saja"
Tapi itu tidak benar, yang kuceritakan saat ini adalah setengah ucapan Lewis kepadaku. Toh kenapa dia penasaran sekali aku pergi ke Kerajaan Forest. Dan juga...entah perasaan ku yang salah atau tidak, terdapat kebencian di mata Charles saat mendengar kata 'Tuan Lewis'. Sebenarnya, bagaimana kehidupan kedua ayah dan anak ini?
...SRAAKK...
Suara semak-semak kembali terdengar, refleks Eira dan Charles menengok sumber suara.
"Tuaaannn!!"
Suara keras terdengar, suara tak asing di telinga Charles. Kini wajah pria itu tak peduli dan melanjutkan meminum tehnya. Terlihat gadis berambut merah dengan mata yang juga merah. Pupil mata bagai kucing, Cia yang melihat gadis itu mengeong tak nyaman.
Gadis itu menyadari ada Bangsawan, ia dengan cepat menunduk memberikan hormat.
"Maafkan ketidaksopaan saya Nona Eira Victoria"
"Dia..." ~Eira
"Perkenalkan, saya Ren Nona"
Ucap Ren dengan senyuman.
Sialan, kenapa dia ada di sini?!
Batin Cia, ia menatap tajam Ren. Gadis berambut merah itu tak menyangka ia akan bertemu dengan sesama iblis di dunianya. Ia hanya tersenyum memandangi Frecia yang masih menjadi kucing hitam berbulu lebat.
Tanya Eira kepada Charles. Ren dengan semangat menjawab pertanyaan Eira, namun...
"Ah, saya adalah..." ~Ren
"Dia pembantu saya" ~Charles
Belum juga melanjutkan kalimat, Charles memotong pembicaraan Ren. Kini kedua gadis itu memandang Charles tak percaya.
"Ya? Apa?"
Ucap Eira dan Ren secara bersamaan.
"Ren adalah pembantu yang saya pilih. Dialah yang membantu membawakan semua peralatan saya"
Jelas Charles kepada mereka berdua.
"Apa?💢" ~Ren
Sejak kapan aku menjadi pembantu mu bocah sialan!
Batin Ren menahan amarahnya. Eira hanya mengangguk mengerti, ia melirik ke arah Cia. Eira mencoba berbicara melewati pikiran yang sama dengan Cia.
'Cia, apakah wanita itu berbahaya? Sejak kedatangannya aku merasakan hawa jahat di sekitar'
__ADS_1
'Sangat! Sebisa mungkin Nona harus menjauh darinya'
"Ehem, jadi Tuan sepertinya kami sudah cukup beristirahat"
Eira berdiri dan membenarkan gaun yang ia kenakan.
"Anda akan melanjutkan perjalanan?" ~Charles
"Tentu, semakin cepat semakin baik"
Ucap Eira sambil melihat ke arah langit. Maksud dari perkataan Eira adalah...sebelum hari menjadi gelap mereka harus segera pergi.
"Silahkan Nona, tetapi setelah melihat kondisi kereta kuda anda sepertinya sudah tidak memungkinkan"
Ucap Charles dengan senyuman.
"Apa maksudnya?" ~Eira
"Roda yang rusak tidak akan bisa bergerak" ~Charles
Rombongan Eira terkejut, mereka langsung melihat kereta kuda yang mereka bawa. Dan benar saja, salah satu roda yang terpasang entah kenapa patah. Eira berdecak kesal, walau roda yang mereka kenakan terbuat dari kayu namun tak mungkin bisa patah tanpa alasan. Apalagi kualitas produk kediaman Duke tak perlu di ragukan. Merasa ada yang aneh, spontan Eira melihat ke arah Ren. Gadis rambut merah hanya menunduk seolah tak melakukan apa-apa.
"Jika berkenan, anda boleh bergabung dengan rombongan saya. Kereta dari Kerajaan cukup luas jika hanya menambah beberapa penumpang"
Tawaran Charles membuat Eira bimbang.
"Itu..."
Eira melihat ke arah Gastor, pria bertubuh besar itu hanya diam dan memandang Eira dengan senyum canggung. Helaan nafas terdengar, ia tak punya pilihan lain. Gadis itu memanggil 2 prajurit yang ia bawa, Eira memerintahkan mereka berdua untuk segera pulang ke kediaman Duke.
"Pergi dan bawalah kereta kuda. Jika kalian lelah, kalian bisa menggantikan tugas kalian ke prajurit lain" ~Eira
"Baik Nona, kami akan tiba secepatnya saat matahari terbit"
"Jangan konyol, kalian akan tiba di kediaman Duke pada malam hari. Berarti setelah kalian membawa kereta kuda, kalian akan langsung pergi menjemputku? Melewati hutan yang banyak hewan liar!?"
Ucap Eira penuh kemarahan, kedua prajurit menunduk.
"A..apa yang harus kami perbuat Nona?"
"Haah, setidaknya pergilah pada pagi hari, hutan akan lebih berbahaya pada saat malam. Perjalanan pun juga cukup jauh. Toh aku akan menginap beberapa hari"
Kedua prajurit memandang tak percaya. Awalnya mereka menganggap Eira tidak setuju dan marah kepada mereka. Namun kemarahan Eira bukan tanpa alasan, ia hanya khawatir terhadap 2 prajurit itu.
"Ah saya punya rekomendasi penginapan..."
"Saya sudah menentukan penginapan yang saya pilih Tuan"
Ucap Eira dengan tatapan sinis, Charles hanya tersenyum seakan tak terjadi apa-apa. Sedangkan Cia ataupun Ren menahan tawa. Mereka menganggap Charles yang gagal mendapatkan perhatian Eira lebih lucu dari siapa pun.
.......
.......
.......
__ADS_1
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...