Bertukar Dengan Tokoh Antagonis

Bertukar Dengan Tokoh Antagonis
Ini Lebih Baik Daripada di Penjara


__ADS_3

Lily hanya menatap bingung terhadap dua orang dewasa yang ada di depan nya. Alesya hanya memalingkan wajahnya sedangkan Hugo menatap curiga Alesya.


" Apa ada yang salah? "


Ucap Lily sambil menarik baju Hugo. Ia kembali sadar dan mengendong bayi yang di bawa Lily. Hugo juga memberikan sesuatu kepada adik- adik nya berupa setengah karung kentang.


" Kalian cuci sebagian, jika sudah berikan kepada ku "


Lily serta adik nya mengerti. Wajah yang awalnya mulai khawatir kini bisa bernafas lega. Senyum terukir dari wajah Lily. Mereka kemudian pergi meninggalkan Alesya serta Hugo.


Hugo menyuruh Alesya untuk duduk di bangku yang sudah di persiapkan. Gadis itu segera duduk, namun jarak antara Alesya dan Hugo lumayan jauh.


" Kau kenapa? "


Ucap Hugo dengan wajah penuh tanda tanya. Alesya hanya menggelengkan kepalanya.


" Hei, sepertinya aku pernah melihat mu di suatu tempat "


Alesya yang mendengar itu menjadi terkejut dan khawatir. Namun pria yang membawa bayi itu kembali diam seolah tidak terjadi apa- apa. Mungkin ia salah lihat? Itulah yang ada di pikiran Hugo.


Rasa canggung diantara keduanya membuat hening suasana. Bahkan Lily dan adik nya belum kembali. Hugo juga bingung apa yang harus ia lakukan.


" Kau siapa nya Lily? "


Alesya hanya diam, bagaimana ia menjawab sedangkan sekarang ia sudah tidak bisa berbicara.


" Nona, jika ada seorang bertanya seharusnya kau menjawab "


Ucap Hugo dengan ketus. Kesabaran Alesya sudah mencapai batas, kemudian ia berdiri dari kursi dan berteriak sebisanya. Karena teriakan Alesya membuat bayi yang ada di gendongan Hugo menangis.


" Apa yang kau lakukan!? " *bisik


Hugo segera menenangkan adik nya, Alesya kembali diam dan merasa bersalah atas perbuatan nya. Setelah sang bayi tenang, Hugo mengambil sesuatu di meja yang tepat di hadapan nya. Kemudian ia memberikan nya kepada Alesya, Hugo sepertinya sudah mengetahui keadaan. Ia membuka suaranya lagi.


" Apa kau tidak bisa berbicara? "


Alesya hanya menganggukan kepalanya. Benda yang di bawa Hugo berupa selembar kertas serta tinta yang sepertinya sudah lama tidak dipakai. Terdapat debu di sekitarnya, Hugo memberikan nya ke Alesya.


" Jika ada yang ingin dibicarakan gunakan saja kertas itu. Dan lagi, kau harus menjelaskan kenapa kau bersama adik ku "


Alesya segera menilis susuatu di kertas. Ia menuliskan "kenapa adik mu Lily menangis?"


" Benarkah? Apa kau tau alasan nya? Tunggu, aku akan bicara terhadap Lily "


Hugo akan pergi namun ditahan oleh Alesya. Ia menulis kembali yang membuat Hugo membatalkan niatnya.


" Aku tidak tau masalah kalian, tetapi ia mengatakan sesuatu seperti di pecat dan persediaan makanan mulai menipis " ~Alesya


Hugo hanya menepuk jidatnya.


" Dasar anak itu " *gumam

__ADS_1


Tak lama, Lily kembali dengan membawa kentang yang sudah dicuci. Kemudian Hugo segera menghampiri Lily, ia menatap tajam adik nya.


" Siapa yang menyuruhmu bekerja? "


Ucap Hugo dengan nada serius. Lily tersentak kaget dan melihat ke arah Alesya, Alesya hanya menuliskan kata "maaf" karena tidak tau akan ada kejadian seperti ini.


" Hanya beberapa kok "


Ucap Lily sambil mengalihkan pandangan. Hugo menyesuaikan tinggi nya ke Lily, kemudian mengelus kepalanya secara perlahan.


" Jadi saat kau bilang menemukan beberapa koin itu bohong ya, koin itu semua dari hasil kerja keras mu... hahaha. Kau jangan khawatirkan itu, ini sudah menjadi tugas ku. Pekerjaan lebih baik serahkan saja pada kakak mu ini oke "


Ucap Hugo sambil tersenyum kaku. Disatu sisi ia senang adik nya sangat perhatian kepadanya, namun ia juga merasa tidak enak ke Lily. Seharusnya ia bisa bermain bersama anak lain sambil membawa boneka di tangan nya. Begitu juga adik- adik nya. Hugo hanya ingin mereka bisa merasakan masa kecil, dan tidak terganggu oleh masalah ekonomi dan keluarga yang berantakan.


Lily hanya mengangguk mengerti. Ia memberikan kentang nya ke Hugo dan kembali mengendong adik nya. Terlihat bayi kecil sedang menguap, tak sesekali mata tertutup karena sudah tidak tahan dari rasa kantuk. Lily serta adik laki- laki nya membawa bayi itu ke kamar dan membiarkan nya untuk tidur.


" Jadi kau siapa? "


Hugo kembali curiga ke Alesya.


" Aku... hanya seorang pengembara. Jika boleh, biarkan aku disini sampai beberapa waktu. Aku akan membantu kalian sebisa ku dan berusaha tidak merepotkan kalian "


Hugo sempat berbikir, apakah ia bisa menerima tamu dengan rumah yang sempit ini.


" Nona, walau agak jauh di sekitar sini masih ada penginapan. Aku bisa mengantarkan mu "


Alesya menggelengkan kepala nya. Kemudian ia menulis kembali.


Alesya mengembalikan badan nya. Hugo hanya menghela nafas.


" Kau bisa tinggal disini, yah walaupun rumah ini tidak seberapa. Dan kau harus menepati janji mu untuk bekerja membantuku "


Alesya menganggukan kepala dan menjabat tangan Hugo sebagai tanda kesepakatan. Mereka menatap satu sama lain, inilah waktunya mempercayai seseorang. Pikir Alesya


" Sepertinya kita akan mulai memasak "


Ucap Hugo sambil mengambil kentang yang sudah dicuci oleh adik- adik nya.


" Kau bisa memasak kan? Yah walaupun sekarang kita hanya merebus kentang saja "


" Aku pernah membuat pancake dan dibawah nya terdapat warna hitam pekat. Apakah itu sudah masuk ke katagori bisa memasak? "


Hugo membaca tulisan Alesya.


" O..ke, sepertinya kau harus mengupas kentang saja "


Alesya menuruti permintaan Hugo, namun sepertinya seorang mantan keluarga kaya juga tidak pandai dalam hal ini.


" Jika potongan mu seperti ini, kentang kita akan cepat habis "


Ucap Hugo memukul jidat nya saat melihat Alesya memotong kulit kentang yang kebesaran. Semua pekerjaan dilakukan oleh Hugo.

__ADS_1


" Aku agak ragu jika kau bisa membantuku " ~Hugo


" Setidak nya aku akan berusaha " ~Alesya


" Usaha saja tidak cukup. Oh ya, siapa nama mu? Aku kurang sopan karena belum memperkenalkan diri, namaku Hugo "


Alesya menulis kembali ke kertas yang sudah disiapkan.


" Alesya "


Hugo mengerti dan segera menyiapkan kayu bakar untuk memasak.


" Ambilkan air "


Perintah Hugo kepada Alesya. Mereka memasak bersama dan mengobrol sampai makanan sudah siap. Walau agak sulit bagi Hugo, namun ia sudah mulai terbiasa membaca tulisan Alesya.


Awalnya Alesya agak ragu memakan makanan rakyat biasa, namun ini lebih baik daripada makanan di penjara.


.......


.......


.......


Di Kediaman Duke...


Eira hanya diam tidak bergeming. Ia harus banyak ber konsentrasi untuk menambah kekuatan baru, yaitu air. Sedangkan Felix yang ada di sebelah nya juga bingung dengan sikap majikan nya.


Ini mudah bagiku, hanya perlu tidak melakukan kegiatan apa- apa kan. Namun konsentrasi ku hilang karena seseorang.


Seorang salah dari prajurit mengetuk pintu kamar. Ia memanggil Felix, entah karena apa. Mereka berdua mengobrol di depan agar Eira tidak terganggu.


" Anda di perintahkan untuk segera ke Istana "


" Benarkah? Baiklah, aku akan segera berangkat "


Felix kembali masuk ke kamar Eira dan memberi hormat kepadanya.


" Nona, saya meminta izin untuk keluar sebentar "


Ucap Felix sambil memberi hormat. Eira hanya mengangguk memperbolehkan.


Kenapa ia terburu- buru seperti itu?


.......


.......


.......


...B e r s a m b u n g ......

__ADS_1


...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...


__ADS_2