
Sedangkan di tempat Alesya, ia sudah keluar dari lubang yang kotor dan gelap. Namun ia bukannya bahagia, namun badannya masih bergetar. Alesya segera meninggalkan Istana, untungnya para penjaga dan prajurit sedang di sibukan oleh berita kehancuran salah satu penjara.
Namun Alesya mengetahui, jika tempat yang ia lewati sekarang ini ada di belakang Istana.
' Bagus! Disini jauh lebih aman ' *batin
Istana yang luas memiliki berbagai banyak gerbang. Salah satunya dibelakang Istana yang bertujuan keluar atau masuk nya kereta kuda.
Gadis itu berlari sampai keluar Istana, namun apa yang ia lakukan selanjutnya? Apakah Alesya kembali ke ibunya? Namun ia sadar jika ibunya sedang ada di rumah orang tua nya. Menanggung malu atas tindakan anak dan suami nya.
Apakah ide bagus kembali dan membuat seisi rumah heboh karena kedatangan Alesya. Bukan berakhir baik, namun berakhir buruk. Alesya hanya berjalan tanpa arah. Saat berjalan, ia menemukan jubah hitam dengan sedikit noda dan debu bertebangan.
Tanpa rasa geli, ia memakainya. Ia memiliki tujuan agar terus hidup. Cukup jauh ia berjalan, namun langkahnya berhenti saat ia melihat ada seorang gadis sedang menangis. Alesya berniat menghiraukan anak itu, tetapi hati nurani nya tidak tega melihat gadis kecil yang menangis.
Ia belum pernah merasakan perasaan ini. Perasaan iba? Mungkin... Alesya juga tidak mengerti, padahal dulu ia sangat tidak peduli oleh orang sekitar. Angkuh kata yang tepat untuk menggambarkan diri Alesya. Namun saat melihat gadis itu, entah mengapa hatinya menjadi sakit.
Alesya mendekat ke arah nya, seketika anak itu tersentak kaget. Alesya hanya memandang dan memperhatikan gadis itu. Tak lama, badan nya membungkuk menyesuaikan tinggi gadis kecil.
Bagaimana cara aku menghiburnya, sedangkan aku tidak bisa berbicara... tunggu.
Alesya menulis di tanah dan membentuk tulisan kata 'hai, kau kenapa?'. Gadis kecil itu diam sejenak dan menghapus air matanya. Namun tak lama ia juga melakukan hal yang sama seperti Alesya.
'Apa ada yang saya bantu?' ~Gadis
Apakah ia juga tidak pandai berbicara? Astaga, dan kenapa jawaban nya seperti itu.
'Kau baik- baik saja?'
Alesya sekali lagi menulis kata- kata di tanah. Tak lama, gadis kecil itu tiba- tiba menangis dengan sendirinya. Alesya menjadi panik dan segera menepuk pundak gadis itu secara perlahan. Ia menjadi lebih tenang dan tangisan nya mulai mereda.
"Aku di pecat dalam kerjaan ku, hiks... jika begini bagaimana nasib adik- adik ku. Persediaan makanan pun mulai menipis"
Ucap gadis itu sambil terisak. Alesya juga bingung harus berkata apa.
'Dimana orang tua mu?'
Gadis itu melihat kembali tulisan yang Alesya buat.
"Mereka pergi begitu saja... benar- benar brengsek"
Apakah ia yatim piatu? Apa yang harus aku lakukan sekarang. Lebih baik aku pergi saja, toh ini tidak ada hubungan nya dengan ku.
Alesya berdiri dan hendak meninggalkan gadis itu. Namun tak beberapa lama...
...Kruyukk...
' ... '
Terdengar suara perut keroncongan dari gadis itu. Ia hanya memalingkan wajahnya dengan perasaan malu.
__ADS_1
Aku juga lapar. Bahkan aku tidak punya makanan atau uang. Si brengsek itu bahkan tidak memberikan sepeser koin pun kepada ku.
Sial, bahkan udara disini semakin dingin. Padahal musim gugur belum usai, namun hawa musim dingin terasa lebih cepat. Ini hari tersial ku.
Gadis kecil itu juga merasakan apa yang Alesya alami. Baju tipisnya membuat udara dengan mudah masuk ke tubuhnya dan membuat gadis kecil bergetar kedinginan.
"Kakak, apakah kakak tidak punya tempat tnggal?"
Alesya hanya menggelengkan kepalanya. Gadis berumur sekitar 13 tahun itu terkejut dan memegang tangan Alesya.
"Bahkan aku yang tidak punya makanan memiliki rumah! Apakah kakak baik- baik saja!?"
Dia anak yang terlalu jujur sampai membuat hatiku retak dengan sendirinya. Entah apakah harus marah atau hanya diam meladeni gadis kecil ini.
Alesya sekali lagi menggelengkan kepalanya dan hendak pergi. Namun gadis itu menarik kembali Alesya dan menatap nya.
"Kakak bisa tinggal bersama kami!"
Ucap nya dengan percaya diri.
Bagaimana bisa aku tinggal bersama anak- anak yang tidak aku kenal?! Bahkan ia juga memiliki masalah ekonomi, apa ia juga tidak tau siapa aku?!
Alesya melepaskan jubah yang menutup wajah nya. Dan kemudian ia menunjuk wajah nya ke gadis itu dengan maksud... ' apakah kau tidak tau siapa aku? Aku salah satu penjahat dan kau dengan senang hati mengizinkan ku tinggal bersama!? '
Gadis itu bingung dengan tindakan Alesya sekaligus tidak mengerti apa yang ia maksud.
"Apa kakak baik- baik saja?"
Yah, setidak nya aku punya tempat tinggal *batin
Mereka menyelusuri ruangan yang sempit dan gelap karena tidak ada penerangan disana. Hanya dibantu oleh penerangan lentera dengan cahaya yang redup.
' Kau tinggal disini? '
Alesya dengan susah payah menggerakan tangan nya untuk membuat sebuah kode agar anak itu mengerti.
"Tinggal disini? Tentu saja"
Ucap gadis itu dengan datar. Tak beberapa lama, gadis itu kembali membuka suaranya.
"Apakah kakak tidak bisa berbicara?"
Alesya mengangguk pelan. Gadis itu mengerti dan hanya diam. Tak terasa, mereka sampai di rumah dengan pintu yang sangat rapuh. Bahkan ini sudah tidak layak lagi di sebut rumah, itulah yang ada di pikiran Alesya.
Dengan langkah pasti dan hati- hati, gadis itu membuka pintu nya. Ia mempersilahkan Alesya untuk masuk terlebih dahulu.
...Tap tap tap......
Langkah kaki mengarah ke mereka. Dan...
__ADS_1
" Ka..kak? "
Seorang anak laki- laki hanya diam melihat mereka berdua. Betapa terkejutnya Alesya karena melihat anak itu mengendong seorang bayi di tangan nya. Walau ia sudah mengetahui fakta bahwa gadis kecil memiliki saudara, namun tak pantas mereka tinggal di rumah yang sempit dan tak layak ini. Bahkan dilihat dari umur anak laki-laki itu sepertinya lebih muda dari gadis kecil yang ada di samping nya.
Apakah ini tidak terlalu berlebihan?Seumur hidup aku menemui rakyat jelata mereka lah yang paling menyedihkan. Pikir Alesya.
Namun anak laki- laki itu seperti sudah biasa menggendong nya, bahkan bayi yang ada di pelukan nya tidak menangis dan sebagainya. Alesya mencoba berkomunikasi kembali ke gadis itu.
' Kau benar- benar tinggal sendiri? '
Gadis itu mengerti apa yang di maksud Alesya.
"Ada seorang lagi, dia kakak laki- laki kami"
Ucap gadis itu sambil menggendong adik nya yang masih kecil. Anak laki- laki itu sembunyi di belakang kakak nya.
"Dia siapa?" *bisik
"Dia akan tinggal sementara disini" ~gadis
Aku tidak boleh merepotkan mereka, lebih baik aku pergi saja.
Alesya berbalik dan sial nya ia menabrak sesuatu. Rasa sakit ia tahan, lalu ia melihat apa yang di tabrak. Bukannya benda yang gadis itu lihat namun seorang pria tinggi besar ada di depan nya.
"Kak Hugo!?"
Seketika anak- anak menyambut pemuda itu. Alesya ingin cepat- cepat keluar, tetapi...
"Siapa yang kau bawa Lily?"
Ucap pria bernama Hugo, ia memegang jubah Alesya agar tidak kabur.
Gadis itu bernama Lily ya, setidaknya tolong lepaskan dulu! Pria bernama Hugo itu yang dimaksud Lily? Kakak mereka.
"Kak Hugo, tolong lepaskan kakak itu dulu"
Hugo menuruti permintaan adik nya, Alesya membungkuk kan badan dan berniat untuk pergi. Namun lagi- lagi ia di tahan oleh Hugo.
"Nona, sepertinya anda terburu- buru. Tunggu! Kau kan..."
Sial, apakah aku akan ketahuan secepat ini!? *menutup kembali jubah
.......
.......
.......
...B e r s a m b u n g ......
__ADS_1
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️ )...