
Anyelir dan Krisan saling tatap di dalam private room sebuah restoran . Krisan meminta untuk bicara empat mata. Anyelir tak menolak, dia memenuhi permintaan mantan suaminya. Sedangkan para asisten mereka menunggu di luar ruangan. Ada sebuah ruang tunggu bagi para tamu yang belum mendapatkan ruangan. Pengunjung cukup ramai sehingga restoran tersebut memberlakukan sistem waiting list.
“Ke mana kau selama ini?” tanya Krisan tanpa melepas pandangannya pada sang istri. Hampir saja dia bisa memeluk sang istri. Namun, dengan cepat Anyelir menepis.
“Tidak penting di mana diriku selama ini.” Anyelir menelisik wajah Krisan yang tak banyak berubah. “Lama tak berjumpa, kau tampak tak banyak berubah,” tambahnya.
“1.120 hari. Selama itu kita tak berjumpa,” ujar Krisan.
Anyelir hanya menaikan alisnya sebelah. Bagaimana mungkin Krisan menghitung secara detil lama mereka tak bertemu.
“Kau memang sangat teliti,” puji Anyelir.
“Kau yang banyak berubah.”
“Seperti yang kau lihat.”
“Bagaimana pun kau merubah penampilan. Aku pasti bisa mengenalimu.”
Anyelir tak mempedulikan perkataan Krisan. “Karena kita sudah bertemu. Kita selesaikan masalah kita sekarang. Maafkan aku yang menghilang tiba-tiba darimu. Sekarang aku tidak akan menundamu lagi.”
“Menunda?”
“Ya, maaf jika kau tidak bisa menikah dengan wanita lain karena belum mengurus surat cerai denganku. Aku akan sangat bekerja sama untuk menyelesaikan masalah pernikahan kita. Aku yang akan mengurus surat cerai kita,” ujar Anyelir dengan tenang.
“Anyelir … aku tidak ingin bercerai darimu.”
Anyelir tertawa ringan. “Apa perlu aku ingatkan bahwa kau yang menceraikan aku?” Dia menghembuskan napasnya pelan. Masih teringat jelas saat Krisan mencampakkannya setelah mendapat kepuasan darinya. “Untuk masalah perceraian, lebih baik diselesaikan secepatnya.”
Anyelir bangkit, dia hendak pergi meninggalkan ruangan. Namun, tangannya dicekal oleh Krisan. “Kita belum selesai bicara!”
“Lepaskan tanganmu, hubungan kita sudah berakhir!”
“Aku bisa jelaskan padamu. Saat itu aku sedang kacau! Aku tahu aku salah, tetapi ….”
“Apa kau pikir pernikahan sebuah lelucon?” tanya Anyelir mulai meninggikan suaranya. Dia sudah berlatih untuk menahan amarahnya. Namun, kini tersulut kembali saat berhadapan dengan orang yang membuatnya terluka.
“Sayang … aku minta maaf,” gumam Krisan.
“Fransisca. Panggil aku seperti itu!” Anyelir menepis tangan Krisan yang mencekalnya. “Sudah terlambat untuk sebuah kata maaf!” tegas Anyelir lalu keluar ruangan.
Bruk! Krisan mendorong pintu yang hampir terbuka oleh Anyelir. Dia berdiri tepat di depan Anyelir. Tubuh Krisan yang tinggi cukup untuk menghalangi pintu. Krisan sulit mengendalikan dirinya. Cukup baginya menderita selama ini. Dia akan membawa paksa istrinya.
“Menyingkir!” hardik Anyelir.
“Aku mau berdiri di sini.”
“Kau menghalangi jalanku. Pergilah!”
__ADS_1
“Tapi sayang, aku tidak ingin pergi.”
“Aku tidak bisa lewat, jika kau masih berdiri di depan pintu!”
“Kalau begitu, tak usah pergi.”
Anyelir menatap Krisan tak percaya. Mengapa mantan suaminya menjadi menyebalkan seperti itu. Enam tahun tinggal bersama pria itu dan hanya sebuah kelembutan yang diterimanya. Namun, saat ini begitu menjengkelkan.
Anyelir hendak mendorong kasar Krisan. Namun, pria itu menggeser tubuhnya sebelum Anyelir mendorongnya. Hingga, membuat Anyelir kehilangan keseimbangan.
Sebelum Anyelir terjatuh, sebuah tangan menariknya hingga masuk ke dalam pelukan sang mantan suami. Punggung Anyelir bertubrukan dengan dada bidang sang suami.
Krisan mengendus rambut cokelat Anyelir yang bergelombang. “Mengapa kau ubah rambutmu?”
Anyelir mengangkat kakinya, dia hendak menginjak kaki Krisan. Namun, lagi-lagi Krisan bisa menghindar. “Aku bisa membaca gerakanmu. Jadi, tidak perlu melakukan hal itu lagi,” bisik Krisan.
Anyelir melepas tangan Krisan yang melingkar di perutnya, dia menatap nanar sang suami. “Apa ini menyenangkan bagimu? Tidak cukupkah kau mempermainkanku? Jika kau bilang bisa membaca gerakanku. Tidak mungkin kau membiarkanku hampir mati tiga tahun lalu!” ujar Anyelir penuh amarah. Matanya mulai memerah mengingat dirinya yang hampir mati.
Krisan melihat kesedihan di mata Anyelir. Seketika lidahnya kelu. Apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu? Mengapa Anyelir mengatakan dirinya hampir mati? Apakah benar Anyelir menceburkan diri ke sungai karenanya?
Begitu banyak pertanyaan yang ada di otak Krisan. Namun, melihat amarah bercampur kesedihan di wajah Anyelir, membuat Krisan bergeming.
***
“Kau sudah lama bekerja untuk Anyelir?”
“Apa?” tanya Vinnie.
“Oh, tidak. Nona Fransisca baru pulang beberapa hari ini. Selama itu juga aku bekerja dengannya.”
“Jadi, kau pun baru mengenalnya?” tanya Aryo lagi.
“Ya,” jawab Vinnie.
“Selama ini, dia berada di mana?” tanya Aryo lagi. Mencoba mencari informasi daru Vinnie.
“Di luar negri.”
“Di sana dengan siapa?”
Vinnie melirik sekilas pada Aryo. “Kenapa kau selalu bertanya?”
Aryo tampak salah tingkah. “Hanya ingin tahu saja. Selama berkecimpung di dunia bisnis, aku tidak pernah melihat bos-mu itu. Terlebih, kalian menolak kerja sama dengan perusahaan kami,” terang Aryo.
“Jadi, kalian perwakilan dari PT AYL?” tanya Vinnie.
“Dari tadi kita mengobrol, kau baru menyadari?”
__ADS_1
“Maaf, aku tidak tahu.”
“Bisa aku minta kontak pribadimu?”
“Untuk apa?”
“Siapa tahu perusahaan kita bekerja sama. Bukankah lebih baik jika bertukar kontak.”
“Kita bisa konfirmasi melalui email.”
Aryo menyodorkan ponselnya pada Vinnie. “Ketikan nomormu, menghubungi melalui telepon lebih mudah daripada melalui email,” terang Aryo.
Vinnie mengetikan nomor teleponnya pada ponsel Aryo. Baru akan menyentuh icon call, dia mendengar ketukan sepatu high heels. Anyelir sudah keluar dari ruangan. Dia melirik Aryo sekilas lalu beralih ke Vinnie.
“Ayo kita pergi,” ujar Anyelir.
“Baik, Nona," jawab Vinnie seraya mengembalikan ponsel Aryo.
Vinnie mengikuti langkah Anyelir yang berjalan dengan cepat. “Lain kali, jangan asal memberi nomor telepon pada laki-laki! Mereka bukan makhluk yang bisa dipercaya. Mereka akan mencampakanmu setelah merasa puas!” ujar Anyelir seraya menyentuh dadanya sendiri, menepuk sekali untuk sedikit mengurangi rasa sesak. Vinnie hanya menautkan alisnya sebelah, tak berani membantah sang direktur.
*
*
*
“Fransisca Anyelir Galenka,” gumam Krisan.
Dia mengeraskan rahangnya, dia bahkan tidak tahu nama depan sang istri. Dari dokumen yang dimiliki sang istri saat menikah dengannya. Istrinya hanya memiliki nama Anyelir Galenka. Krisan melempar berkas yang diberikan oleh Aryo.
Istrinya selama ini bersembunyi di Singapura, tidak jauh dari dirinya berada. Bahkan beberapa kali Krisan datang ke negri tersebut untuk keperluan bisnis. Namun, dia tak menemukan petunjuk apapun.
“Apa hanya ini informasi yang didapat?” tanya Krisan lagi.
“Ya, Bos,” jawab Albert, seorang detektif suruhan Krisan. “Saya hanya mendapat informasi Nona Anyelir memegang jabatan direktur pemasaran pada salah satu perusahaan di sana.”
“Bagaimana dia bisa sampai di sana? Apa yang terjadi sebelum dirinya ke Singapura? Aku yakin, pasti ada yang membantunya!” jelas Krisan.
Krisan sangat mengenal istrinya. Bahkan dia tahu lingkup pertemanan Anyelir, tidak mungkin istrinya tiba-tiba bisa berada di sana. Pasti ada seseorang dibelakangnya.
“Hanya itu yang saya dapatkan. Itu pun, sangat sulit untuk mendapatkan informasi tersebut, seolah ada yang menutup rapat,” papar Albert.
“Baiklah, kau boleh pergi.”
Albert hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Krisan dan Aryo di ruangan.
“Buat janji dengan Lukas. Aku akan membuatnya memilih bekerja sama dengan kita,” ujar Krisan pada Aryo.
__ADS_1
Krisan menggenggam erat pulpen yang dipegangnya. Dia akan membawa kembali Anyelir dalam pelukannya.
“Baik,” jawab Aryo.