
Andy menggebrak meja setelah kepergian Anyelir. Suatu penghinaan dirinya ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita. Yudha, sang asisten hanya berdiri di samping Andy yang sedang terbakar amarah.
Tidak sembarang orang bisa bekerja sama dengannya. Perusahaan yang cukup besar. Tak jarang, rekan bisnis yang ingin bekerja sama dengannya memberikan fasilitas sebuah kenikm*tan. Bisa menyodorkan wanita panggilan, atau mungkin jika pihak yang bekerja sama dengannya adalah seorang wanita muda, tidak jarang Andy meminta kencan satu malam.
“Aku ingin dia. Hari ini juga!” ujar Andy geram.
“Baik,” ucap Yudha.
*
*
Anyelir keluar dari ruangan, sudah ada Vinnie yang menunggunya. “Bagaimana hasilnya Nona?”
“Gagal!” jawab Anyelir singkat.
Vinnie hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Dia mempercepat langkah kakinya karena Anyelir berjalan begitu cepat.
Dari private room lain, keluar seorang pria tampan dengan rambut gondrongnya yang dikuncir. Krisan baru saja selesai pertemuan dengan kliennya. Selain mengurus AYL, dia pun mengurus beberapa perusahaan lain miliknya. Meski di setiap perusahaannya memiliki CEO yang dipercaya. Namun, terkadang Krisan ikut andil.
Perusahaan Krisan memang tidak besar. Namun, dia memiliki beberapa perusahaan yang sedang berkembang. KRS adalah group dari beberapa perusahaan yang dinaungi. Bahkan Anyelir sendiri tidak tahu berapa perusahaan yang dimiliki oleh Krisan.
Krisan memicingkan matanya saat melihat sosok yang sedang berjalan tergesa. Terlihat dari gestur tubuhnya. Wanita itu sedang emosi. Dia yakin, perempuan itu adalah istrinya. Krisan hanya bisa menatap sang wanita yang perlahan menjauh.
Dirinya memang tak ingin gegabah untuk membawa kembali istrinya. Dia takut Anyelir berbuat nekat. Kemungkinan pergi meninggalkannya lagi bisa saja terjadi. Tidak lama, dua orang yang sebelumnya satu ruangan dengan Anyelir keluar.
Krisan melihat Yudha dan Andy keluar dari sebuah private room. Krisan tahu track record Andy seorang man*ak s*k yang sudah terkenal dikalangan bisnis.
“Malam,” sapa Krisan. Bagaimana pun mereka saling kenal. Maka dari itu, Krisan mencoba menyapa Andy.
“Malam, tidak sangka kita bertemu di sini?” ujarnya tanpa keramahan. Andy masih tersulut emosi karena Anyelir. Namun, dia bisa menstabilkan raut wajahnya.
“Kebetulan ada jamuan bisnis. Bagaimana dengan Anda?”
“Sama sepertimu,” ujar Andy. “Kebetulan bertemu di sini, ada yang ingin saya bicarakan pada Tuan Krisan,” lanjutnya.
Andy melirik pada Yudha. Sang asisten mengerti kode mata dari Andy. “Saya pamit terlebih dahulu,” pamit Yudha.
“Kerjakan pekerjaanmu dengan benar,” timpal Andy.
“Baik,” jawab Yudha.
Yudha pergi meninggalkan Krisan dan Andy. Pada perusahaan Krisan yang lain, mereka memang pernah bekerja sama. Sedikit berbincang, Krisan pamit undur diri, dia tak suka pembicaraan selain bisnis. Terlebih, dia tahu bisnis Andy mencakup hitam dan putih. Jika dilihat, perusahaan milik Andy tak sebesar Dekashi. Namun, jika dihitung jumlah semua aset. Kekayaan Andy sangat patut diperhitungkan. Sebagian besar bersumber dari dunia kelam.
Berkecimpung dalam dunia bisnis, membuat Krisan lebih hati-hati. Terlalu banyak orang kejam dalam lingkup dunia bisnis. Bukan ingin menggeneralisasikan. Namun, itu yang banyak ditemui oleh Krisan. Tak jarang pula, dirinya diajak bermain wanita. Bahkan, antar pemimpin beda gender pun saling berbagi keuntungan di atas ranjang. Terkadang, dia pun diajak bekerja sama dengan dunia mafia. Tetapi, Krisan selalu menolak, dia tak berniat masuk ke dunia hitam.
Pengalaman masa lalu, ingatan masa kecil tentang kejamnya dunia bisnis masih terekam di otaknya. Karena itu pula, Krisan selalu menyembunyikan Anyelir dari para rekan bisnisnya. Dia memilih bisnis dengan benar. Membuka perusahan-perusahaan baru untuk mengembangkan usahanya. Tak terlihat besar. Namun, jumlahnya yang banyak. Para pesaing bisnis tak ada yang mengganggunya. Perusahaan yang tidak mencolok, perusahaan yang tampak kecil. Membuat para pesaing meremehkan perusahaan Krisan.
__ADS_1
Hal itu yang membuat dirinya bertahan dalam kejamnya dunia bisnis. Tampak bagai CEO yang lemah, dengan cara itu pula dia melindungi Anyelir. Hanya saja, saat dia mengorek tentang kematian orang tuanya. Membuat Krisan bimbang akan hubungannya dengan Anyelir. Dari sikap tak tegasnya, membuat dia dan Anyelir terpisah.
Dirinya bagai sedang menanam ranjau, menyebar ke seluruh area. Kecil, tetapi memiliki tenaga ledak yang cukup dahsyat. Itulah yang dilakukan oleh Krisan. Tak semua perusahannya dia yang memegang, beberapa dipegang oleh orang kepercayaan. Karena itu pula, tak banyak yang tahu total kekayaan yang dimiliki oleh Krisan.
Krisan masuk ke dalam mobil, menyandarkan tubuh pada jok mobil. Membuka ponselnya dan membuka photo profil istrinya. Diam-diam mengulas senyum miris. Dirinya hanya bisa menatap sang istri melalui layar ponsel.
***
“Kenapa berhenti?” tanya Anyelir saat merasakan mobil yang berjalan semakin pelan dan akhirnya berhenti.
“Tidak tahu Nona, tiba-tiba berhenti, sepertinya mogok," jawab Vinnie. Dia melepas sabuk pengamannya. “Aku periksa dulu,” tambahnya.
Vinnie keluar dari mobil. Anyelir menghembuskan napasnya pelan. Keluar dari mobil untuk menemani sang asisten.
Asistennya seorang wanita, meskipun mereka bos dan bawahan. Namun, mereka sama-sama perempuan.
“Apa kau mengerti mesin?” tanya Anyelir, berdiri di samping Vinnie.
“Sedikit,” jawab Vinnie ragu. Belum satu bulan mereka bekerja sama. Vinnie cukup tahu kebiasaan Anyelir. Bos-nya itu tidak suka dengan jawaban, ‘tidak tahu’, ‘tidak bisa’. Kata-kata kramat yang tak boleh keluar dari mulut.
Jawab dengan kata ‘Ya, bisa.’ Itu adalah jawaban yang sangat disukai Anyelir. Namun, jika tidak bisa. Maka, jangan pernah menjawab dengan lantang kata ‘Tidak’. Setidaknya, keluarkan kata-kata yang lebih menyakinkan diri sendiri, bahwa tak ada yang tak bisa di dunia ini.
Vinnie membuka kap mobil, sedikit asap keluar dari dalam kap. Anyelir hanya mendecak, merasa dirinya sedikit sial. Baru saja bertemu dengan pimpinan m*sum dan saat ini, mobilnya mogok.
“Telepon jasa derek saja,” ujar Anyelir.
Vinnie menghubungi pihak jasa derek setelah itu dia menyalakan lampu hazard, sebagai isyarat pada pengendara lain di belakang bahwa mobil mereka sedang ada masalah.
Sebuah mobil berhenti di samping mobil Anyelir. Bukan mobil derek, melainkan mobil BMW, seorang pria keluar dari dalam mobil. “Ada yang bisa dibantu, Nona Fransisca?”
“Yudha?” gumam Anyelir.
“Ya, saya di sini.”
“Oh, tidak apa. Saya sedang menunggu jasa derek. Kau bisa melanjutkan perjalananmu."
“Nona, Tuan Andy mengundang Anda untuk meminum teh malam ini,” ujar Yudha.
“Apa kau lupa? Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu?”
“Tuan Andy mengundang Anda untuk membicarakan bisnis,” timpal Yudha.
“Tolong katakan padanya. Aku tidak berminat bekerja sama dengan perusahaan kalian. Jadi, tidak ada acara minum teh untuk saat ini dan kedepannya,” ujar Anyelir.
“Nona, Tuan Andy memintaku untuk membawamu datang malam ini. Dia memastikan, kalian akan bekerja sama.”
“Sudah aku bilang, aku tidak tertarik!” ketus Anyelir.
__ADS_1
Vinnie memegang tangan Anyelir, jelas dirinya takut. Anyelir hanya menatap Vinnie, meskipun hatinya mulai tak nyaman. Namun, dia harus menyembunyikannya. Tak ingin Vinnie panik.
“Tuan Andy memerintahkan untuk membawamu ke hadapannya. Jika memang kau tak ingin ikut. Terpaksa aku harus menggunakan cara lain,” ujar Yudha.
Dia hanya menjentikkan jarinya. Tidak menjentikkan dengan mengangkat tangannya. Yudha hanya menjentikkan jarinya pelan yang berada di sisi tubuhnya. Tak lama, dua orang dari dalam mobil keluar. Dua orang bertubuh kekar dengan menggunakan jas hitam.
“Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Anyelir dengan tatapan nanar.
“Seperti yang sudah saya bilang. Saya hanya akan mengantar Anda menemui tuan Andy.”
Dua orang pria dibelakang Yudha maju ke depan. Vinnie mengeratkan genggamannya pada Anyelir.
“Baik, aku akan ikut denganmu. Tapi, biarkan dia pergi,” ujar Anyelir seraya menunjuk Vinnie dengan dagu.
“Nona ….” Vinnie bukan anak berusia 3 tahun. Dia mengerti kondisi saat ini.
“Pergilah. Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ujar Anyelir.
Yudha hanya tersenyum mengejek. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh Anyelir. Jika pun Vinnie melapor polisi, Yudha tak takut. Tuannya, Andy, memiliki koneksi di kepolisian hingga membuat kejahatan yang dilakukan oleh Andy tak pernah masuk ke meja hijau. Karena itu, bisnis ilegal Andy pun tak tercium hukum. Lebih tepatnya, ada oknum kepolisian yang membuat kejahatan Andy tampak tak terlihat.
Anyelir melepas genggaman tangan Vinnie, mengisyaratkan pada gadis itu untuk segera pergi. Anyelir tahu, tujuan Andy adalah dirinya karena itu, dia tak ingin melukai Vinnie. Hanya bisa menatap Vinnie yang berlari menjauh. Setelah dirasa aman, Vinnie langsung menghubungi pihak kepolisian.
“Silakan, Nona,” ucap Yudha mempersilakan Anyelir masuk ke dalam mobil.
Bukan maju, Anyelir mundur selangkah. Dia tahu, apa yang akan terjadi jika dirinya ikut masuk ke dalam mobil. “Pergilah! Aku tidak akan menemuinya!”
“Maaf Nona, ini bukan persetujuan. Namun, suatu perintah untuk membawamu ke hadapan tuan Andy.”
“Kau tidak bisa memaksaku untuk ikut! Ini namanya penculikan!”
“Apapun yang kau katakan. Yang jelas, kau harus ikut bersama kami.”
Anyelir menatap nanar pada Yudha. “Awas saja jika kalian menyentuhku! Aku bukan wanita yang tak memiliki kekuasaan. Aku bisa menuntut kalian ke meja hijau!”
“Silakan jika itu yang kau inginkan,” ucap Yudha sopan. Namun, raut wajahnya begitu menyebalkan.
Yudha bukan pertama membawa paksa seorang wanita, bos-nya cukup memiliki kekuasaan. Hingga membuat dia tak takut menjalankan perintah bos-nya.
Anyelir mengencangkan kepalan tangannya, bersiap jika tiba-tiba orang-orang Andy menyerangnya. Dua orang pria berjas hitam hanya terkekeh melihat tingkah Anyelir. Mereka menghampiri wanita itu.
“Jangan mendekat!” hardik Anyelir.
Dua orang berjas tak mempedulikan teriakan Anyelir, mereka bersiap meringkus Anyelir.
“Jangan pernah menyentuhnya!”
Suara serak dan dingin terdengar di telinga Yudha dan dua bawahannya. Begitu pula dengan Anyelir yang mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara yang selalu enak didengar di telinganya. Namun, suara itu juga yang telah menyakitinya.
__ADS_1