
"Hai," sapa Aryo yang berdiri tepat di depan Vinnie.
"Hai," jawab Vinnie singkat. "Apa ingin bertemu dengan Nona Fransisca?"
"Aku hanya mampir untuk mengantar sesuatu dari suaminya."
"Masuklah, sedang tidak ada tamu." Vinnie mencoba menghindari Aryo dengan berpura-pura ke pantry. Tak ingin berlama-lama berdekatan dengan pria yang menggetarkan hatinya, terlebih dia sudah menyatakan perasaannya. Namun, Aryo tak beranjak pergi.
"Apa kau sudah sehat? Kenapa sudah masuk kerja?" tanya Aryo dan menghentikan langkah Vinnie.
"Ya, aku baik-baik saja." Vinnie menggeser ke ke kanan tetapi Aryo ikut bergeser sehingga membuat Vinnie tak bisa berjalan.
"Apa kau menghindariku?"
"Tidak."
"Bisakah kita seperti dulu? Aku tidak ingin hubungan kita menjadi canggung."
Vinnie menggigit bibirnya pelan. Bagaimana bisa hubungan mereka seperti dulu lagi sedangkan dia sudah pernah menyatakan cintanya yang tak terbalas. "Aku rasa ... tidak ada perubahan apapun."
"Kau jelas menghindariku."
"Tidak," elak Vinnie.
"Apa karena kemarin, kau jadi seperti ini?"
Vinnie mendongak. "Kau tahu bagaimana rasanya malu?" Bisa-bisanya Aryo memintanya bersikap biasa padahal dia tahu dirinya jelas menyatakan cinta.
"Kau bisa menganggap tak pernah mengatakan hal itu. Aku pun akan menganggap tak mendengarnya. Aku hanya ingin kita seperti dulu."
Vinnie hanya memutar bola matanya jengah. Semudah itu Aryo mengatakan untuk tak pernah terjadi apa-apa. Dia hanya mengatakan perasaannya. Namun, dia pun tak ingin menyiksa dirinya karena dekat dengan pria itu. “Seperti dulu?”
“Ya.”
“Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja dan kita sudah menjalaninya bukan?”
“Maksudku … kau jangan menghindar. Aku ingin kita tetap akrab.”
Vinnie hanya menatap tak mengerti pada Aryo. “Aku pikir kau mengerti ucapanku. Ternyata aku salah. Aku profesional dalam bekerja. Kuharap kau juga seperti itu.” Dia langsung pergi meninggalkan Aryo yang terdiam.
Vinnie masuk ke dalam pantry. Begitu menyebalkan pria yang mengisi hatinya. Semudah itu memintanya untuk tetap akrab. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya. Bukankah egois pemikiran Aryo?
Aryo masuk ke dalam ruangan Anyelir sesuai dengan tujuan awal dia datang. Namun, dia masih belum pergi dan menunggu jam pulang kerja. Dia menunggu Vinnie pulang kerja. Vinnie hanya mengulas sedikit senyum formalitas saat berpapasan.
Tidak ada keinginan Vinnie untuk bertanya alasan Aryo masih ada di kantor Anyelir. Dia tak peduli dan tak ingin tahu. Tak mungkin juga menunggu Anyelir karena dia tahu bos-nya sudah memiliki janji dengan suaminya.
Mereka masuk ke dalam lift yang sama. Tidak ada orang di dalam lift selain mereka. Vinnie memang menggunakan lift khusus yang tidak sembarang orang menggunakannya.
__ADS_1
“Apa kau pulang sendiri?” tanya Aryo memecah keheningan.
“Ya,” jawab Vinnie singkat.
“Mau aku antar?”
“Tidak. Terima kasih.”
“Tubuhmu masih belum stabil. Biar aku mengantarmu.”
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”
“Jangan keras kepala. Aku merasa bersalah padamu.”
Vinnie menoleh pada Aryo. “Kau tidak bersalah apapun padaku. Sikapmu seperti ini membuatku terlihat buruk. Kau seolah sedang menghibur wanita yang telah kau tolak.”
“Aku sedang tak menghiburmu. Namun, sikapmu yang membuatku merasa bersalah. Aku hanya ingin kita seperti sebelumnya. Aku nyaman berada di dekatmu. Meskipun aku tahu, hubungan kita hanya bisa menjadi teman. Apakah kita tidak bisa menjadi teman? Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Vinnie mengedipkan matanya beberapa kali secara cepat. Begitu ajaib pemikiran pria di depannya. “Apa kau ingin aku menjadi kekasih simpananmu?”
Aryo tampak tak bisa berkata apa-apa. “Bukan be—gitu maksudku. Aku hanya … ingin kau tak menghidariku. Aku kira, kita bisa menjadi teman baik.”
“Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita. Jika tak bisa menjadi kekasihku. Maka, lebih baik menjauh dariku. Dan kita … bisa profesional dalam bekerja.” Vinnie mencoba mengatur napasnya. Bukannya egois atau memaksa Aryo memilih. Namun, dirinya tak ingin saling menyakiti. “dan aku pun tak ingin merusak hubungan orang lain!”
“Pikiranmu terlalu jauh. Aku hanya ingin kita menjadi teman. Aku tidak mungkin meninggalkan kekasihku.”
Ucapan Vinnie bertepatan dengan bunyi lift. Dia keluar dari lift dan segera meninggalkan pria itu. Aryo masih tak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia memang menjalin hubungan dengan Helga dan juga mulai menumbuhkan benih-benih cinta pada kekasih yang dijodohkan dengannya itu. Terlebih, kedua orang tua mereka sudah merencanakan pernikahan. Namun, dia selalu merindukan eskpresi wajah Vinnie yang begitu lugu.
Dari awal meminta nomor ponselnya untuk mencari tahu tentang Anyelir. Hingga dirinya sendiri yang terbiasa dengan gadis itu. Dia masuk ke dalam mobilnya, keluar dari gedung Anyelir, bertepatan dengan Vinnie yang sedang menunggu taxi.
Aryo memilih menghentikan mesin mobilnya dan memperhatikan gadis itu. “Apa kau begitu ingin menjadi kekasihku?” lirihnya.
Tak lama, Helga menghubunginya. Dia berbincang sedikit dengan kekasihnya itu. Tetapi matanya masih tertuju pada Vinnie yang sedang menunggu taxi.
Vinnie masuk ke dalam taxi dan pergi begitu saja. Sedangkan Aryo memandang ponselnya yang baru saja mati. Helga merupakan wanita baik dan juga direstui orang tuanya. Tidak ada kesalahan yang diperbuat Helga. Tampak gadis itu pun tulus mencintainya.
Aryo menggusar wajahnya kasar. Membanting suara lemahnya. “Apa aku seorang brengsek?”
...****************...
Anyelir duduk di pusara kedua orang tuannya. Sudah sangat lama dia tak mengunjungi orang tuanya. Kenyataan yang baru saja diketahui masih belum bisa ia terima. Meskipun, dia yakin Krisan sudah mendapatkan informasi yang lengkap.
"Ayah, apa kau benar melakukan itu?" gumam Anyelir.
Cukup lama duduk di makam orang tuanya. Hanya sibuk dengan pemikirannya sendiri. Hingga dia disadarkan oleh suara Vinnie. “Nona, apa kau masih ingin di sini? Kita masih ada rapat yang harus dihadiri,” jelas Vinnie.
Matahari begitu terik, Anyelir datang ke makam orang tuanya di jam kerja tanpa memberitahu suaminya. Dia masih malu dengan masa lalu orang tuanya. Dia pun malu terhadap suaminya. Meskipun, obrolan panjangnya dengan sang suami untuk melupakan sejarah orang tua mereka. Tetap saja mengganjal hatinya.
__ADS_1
Anyelir bangkit, dia membenarkan kaca mata hitamnya. “Kita kembali ke kantor.”
“Baik.”
Vinnie yang mengendarai mobilnya. Anyelir duduk di bangku belakang, dia mengeluarkan ipad-nya dan mulai sibuk dengan benda itu.
Cit …!
“Vinnie, hati-hati!” teriak Anyelir.
Vinnie berhasil membanting stir sehingga mereka tak mengalami kecelakaan. Wajahnya panik karena kecerobohannya berkendara. Truk yang hampir ditabraknya tak terpengaruh dari pergerakan mobil Vinnie.
“Ada apa? Kau seperti tak fokus,” ucap Anyelir.
“Maaf Nona, aku hanya kurang konsentrasi,” ucap Vinnie. Matanya menatap mobil yang baru saja melewati mobil mereka.
“Apa yang kau pikirkan hingga tak fokus?” cecar Anyelir.
“Tidak ada.”
“Jangan bohong padaku?” tanya Anyelir yang sedari tadi memperhatikan arah pandang asistennya. “Katakan padaku, apa yang kau lihat?” tanyanya memicingkan mata.
Vinnie tahu tak bisa membohongi Anyelir. “Helga.”
“Helga?”
“Kekasih Aryo,” jawab Vinnie dengan suara rendah.
"Kalian sudah pernah bertemu?"
"Ya." Tentu kebersamaan mereka menyaksikan pertandingan bulu tangkis bersama tak akan dilupakan Vinnie.
“Lalu?” tanya Anyelir. Dia sudah tahu asistennya menyukai Aryo. Dia juga yang menyarankan untuk menjauh agar hatinya tak tersakiti.
“Aku melihatnya sedang bermesraan dengan laki-laki lain.”
“Apa kau tidak salah lihat?”
“Tidak,” jawab Vinnie yakin. Tidak mungkin dia melupakan wajah rival cintanya.
“Kau mau bilang dia berselingkuh?” telisik Anyelir.
“Entahlah. Tapi aku melihat dia dan pria itu begitu mesra.”
“Bisa jadi ayah atau saudaranya?”
“Aku rasa tak ada saudara berciuman bibir. Apalagi hingga saling membelit.”
__ADS_1
Anyelir terdiam. Dia sendiri tak melihatnya. Tak bisa langsung mempercayai atau membantah ucapan Vinnie. Namun, jika ucapan Vinnie benar. Dia hanya mengkhawatirkan Aryo, laki-laki yang selama ini tak pernah mempermainkan wanita.