Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 5 Manja


__ADS_3

Anyelir mengecup bibir sang suami untuk membangunkannya. Sekali kecupan tak cukup, dia mengecup bagian lain. Kening, mata, hidung dan pipi tak luput dari kecupannya. Terakhir, dia mengecup lebih lama di bibir sang suami.


Krisan mulai mengerjapkan mata. Perlahan melebarkan matanya, dia tersentak karena terkejut di depannya ada wanita yang dicintainya, sekaligus dibencinya.


“Kau sudah bangun, Mas?” tanya Anyelir dengan senyum indah.


“Sudah,” jawab Krisan datar.


“Aku sudah siapkan air hangat untukmu. Kau mau mandi?”


Krisan bangkit dari tidurnya. “Ya, aku akan ke kantor.”


Anyelir hanya menatap sang suami yang berlalu meninggalkannya. Dia merasa ada yang berbeda pada suaminya. Suaminya akan membalas ciumannya ketika dirinya memulai lebih dahulu. Bahkan, suaminya selalu meminta lebih. Namun, kali ini berbeda, Krisan menghindarinya.


Anyelir hanya mengerutkan dahi, sudah hampir sebulan ini suaminya berubah. Dulu, di saat mereka masih hidup sederhana, suaminya pernah bertingkah tak biasa, hingga membuatnya murka. Namun ternyata, itu semua karena sang suami yang berusaha keras untuk memberi kejutan padanya. Memberikan sebuah kalung di hari ulang tahun pernikahan yang didapat dari kerja kerasnya. Bekerja di kantor dan juga bekerja serabutan lainnya.


Kali ini, suaminya pun bersikap aneh. Seperti sedang menghindar dengan alasan pekerjaan. Sering pulang larut, bahkan beberapa kali tidak pulang karena banyak pekerjaan.  Anyelir masih berpikir positif, mungkin suaminya ingin memberi kejutan padanya.


“Nanti malam tidak pulang larut lagi ‘kan?” tanya Anyelir. Kini, mereka sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Dia berharap bisa merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang keenam.


“Belum tahu,” ujar Krisan datar. Sudah hampir seminggu dirinya pulang sangat larut.


“Aku akan memasak untukmu. Kau pulanglah cepat.”


Krisan meletakan sendok dan garpu di atas piring. Dia menoleh pada istrinya. Gadis belia yang dia nikahi dari usia Anyelir 18 tahun. Tidak banyak berubah dari gadis itu. Gadis manja yang sudah dinikahinya selama 6 tahun. Masih tampak cantik diusianya yang kini berusia 24 tahun.


“Aku sudah bilang, kau tidak perlu memasak.”


“Kemampuan memasakku sudah lebih baik. Aku yakin kau akan suka,” ujar Anyelir antusias.


Krisan menghembuskan napasnya pelan. “Aku berangkat ke kantor!” ujarnya lalu pergi meninggalkan Anyelir tanpa kecupan di kening.


Anyelir hanya terdiam melihat sang suami yang bertingkah aneh. Tiga hari yang lalu, dia pernah menanyakan alasannya pada sang suami. Namun, Krisan hanya mengatakan sedang lelah karena banyak pekerjaan.


Anyelir masih berpikir positif tentang suaminya. Dia pun pergi ke tempat kursus ikebana. Dia menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan. Pernikahan mereka yang sudah berumur 6 tahun, belum menghadirkan buah hati. Karena itu, Anyelir menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan. Mulai melakukan perawatan tubuh, kursus merangkai bunga ala jepang hingga berlatih yoga.


Anyelir mengambil 3 tangkai untuk membuat segitiga asimetris. Tiga tangkai yang memiliki julukan yang berbeda-beda. Dai Ten (surga), chi (bumi) dan jin (manusia). Kali ini, dia merangkai bunga dengan gaya shoka. Teknik Ikebana yang tidak terlalu formal namun masih mengandung unsur tradisionalnya. Anyelir mulai merangkai bunganya.


Hasil dari kursus Ikebana, akan ia berikan pada sang suami. Anyelir berencana untuk datang ke perusahaan dan memberi kejutan pada sang suami. Namun, dia terlebih dahulu pulang untuk mencoba memasak.


“Nyonya, biar saya yang lakukan,” ujar salah seorang koki di rumahnya.

__ADS_1


“Tidak apa, saya ingin buatkan makan siang untuk suamiku.”


Sang koki mempersilakan Anyelir memasak untuk sang suami. Anyelir begitu bahagia melihat hasil masakannya. Memasukan ke dalam wadah dan bersiap untuk pergi ke kantor sang suami.


Sebelum pergi, Anyelir berganti pakaian. Meletakan hasil rangkaian bunga di dalam kamar setelah itu bersiap untuk menemui sang suami.


Belum juga keluar rumah, seorang pengacara suaminya datang menemui Anyelir di rumah. “Pak Husein, suamiku sedang tak ada di rumah,” ujar Anyelir pada sang pengacara.


“Kedatangan saya ke sini bukan untuk bertemu dengan pak Krisan. Melainkan bertemu denganmu,” terang husein.


“Bertemu denganku? Ada apa?”


Husein mengeluarkan sebuah sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada Anyelir. “Silakan dibaca.”


Anyelir menerima amplop cokelat tersebut. Membuka isinya dan mulai membaca surat tersebut. Tangan Anyelir bergetar saat membaca isi surat tersebut.


“Apa ini sebuah lelucon?” tanya Anyelir tercekat. Dirinya bagaikan tersambar oleh petir. Namun, dia tetap mencoba untuk tenang.


“Tidak, ini adalah surat cerai dari Tuan Krisan. Anda bisa langsung menandatanganinya. Tidak ada perjanjian pra nikah di antara kalian. Namun, Tuan Krisan akan tetap memberikan harta gono gini pada Anda.”


“Tidak mungkin. Dia tak mungkin menceraikanku. Dia sangat mencintaiku,” sangkal Anyelir.


Dia langsung berdiri dan menuju kantor sang suami. Perasaannya kalut, menyangkal apa yang dikatakan oleh Husein. Berpikir bahwa sang suami sedang mengerjainya. Ya, suaminya tak akan meninggalkannya. Krisan telah berjanji tak akan meninggalkannya.


“Nyonya maaf, Tuan sedang tak bisa diganggu,” ujar Maryam, seorang sekretaris.


“Aku istrinya, aku bisa kapan saja menemui suamiku!” hardik Anyelir.


“Tetap tak bisa Nyonya,” ujar Maryam seraya menghadang Anyelir untuk masuk ke dalam ruangan suaminya.


Anyelir menepis tangan sang sekretaris. “Jangan menghalangi aku!” hardiknya.


Anyelir mendorong pintu ruang kerja suaminya. Dia ingin meminta penjelasan pada sang suami.


“Sayang ….”


Ucapan Anyelir terputus saat melihat sang suami berpelukan mesra dengan wanita lain. Wanita cantik dan s*ksi, menggunakan pakaian ketat, dress merah yang hanya bisa menutupi setengah pahanya. Potongan dada rendah yang tak bisa menampung keseluruhan isinya.


“Kenapa kau ke sini?” tanya Krisan datar. Tangannya masih bertengger di pinggang wanita berbaju merah.


“Apa maksudmu dengan ini?” tanya Anyelir dengan menyodorkan surat cerai. Dia masih berpikir bahwa suaminya sedang mengerjainya, dia tak ingin terburu-buru menghakimi sang suami.

__ADS_1


Krisan hanya melirik sekilas pada surat cerai yang diletakan di atas meja oleh Anyelir. “Seperti yang kau lihat. Aku ingin menceraikanmu.”


“Jangan mempermainkan aku seperti ini. Ini tidak lucu, Mas!”


“Aku tidak sedang mempermainkamu. Aku serius ingin mengakhiri pernikahan kita.”


Krisan menatap wanita di sampingnya. Mendapatan tatapan dari Krisan, sang wanita pergi meninggalkan sepasang suami tersebut. Dia tersenyum sekilas pada Anyelir saat meninggalkan ruangan.


Senyuman tersebut, dianggap Anyelir sebagai ejekan. Namun, dia tidak ada keinginan untuk menjambak wanita yang memeluk suaminya. Dia hanya fokus pada Krisan.


“Tanda tangani surat cerai ini. Aku akan memberikan kompensasi untukmu.”


“Tidak! Aku tidak akan bercerai darimu. Aku akan tetap menjadi istrimu!”


“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan tetap memberikan harta gono gini padamu. Kau tidak akan kekurangan apapun. Kau masih bisa hidup mewah.”


Anyelir menghampiri sang suami, dia berdiri tepat di depan Krisan. Mencari kebohongan pada wajah sang suami. “Kau sedang mengerjaiku, bukan?”


Anyelir hendak mencium sang suami. Namun, Krisan dengan cepat menghindar. “Pergilah, aku tidak bisa bersamamu lagi. Aku sudah tidak cinta lagi padamu.”


“Bohong! Kau bohong padaku!”


“Apa kau pikir aku masih mencintaimu sedangkan aku bercinta dengan wanita lain?”


Anyelir mengerutkan dahinya, dadanya seperti dihantam palu besar. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan wajah pias.


“Apa kau tidak merasakannya saat aku tidak pulang ke rumah? Apa kau tidak berpikir mengapa aku pulang larut?”


“Maksudmu … kau bersama wanita lain?”


“Apa kurang jelas?”


Air mata Anyelir mulai turun, dia mer*mas erat jas yang digunakan oleh suaminya. “Kau bohong! Kau sudah berjanji akan selalu mencintaiku. Bukankah kau bilang tak akan meninggalkanku? Jangan seperti ini, kau milikku. Hanya kau yang kumiliki!”


Krisan memutar bola matanya, rahangnya mengeras. Dia meraih tangan Anyelir dan menghempaskan tangan tersebut dari jas yang digunakannya.


“Kau tidak pernah mencintaiku, Anyelir! Kau bersamaku karena akulah yang menyelamatkanmu. Aku hanya tempatmu bergantung, karena saat itu kau tidak memiliki siapapun. Kau bersamaku karena membutuhkanku dan bukan karena mencintaiku!”


Anyelir menggeleng keras. “Tidak! Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Bukankah kau bilang sangat mencintaiku? Bukankah kau bilang aku adalah gadis paling cantik?”


“Pergilah! Aku sudah muak melihatmu! Kau tidak pernah berubah, kau hanya gadis manja yang hanya membutuhkanku. Tapi kau tenang saja, kau masih bisa hidup mewah. Aku akan tetap memberikan sebagian hartaku padamu. Sekarang kau bebas mencari pria lain.”

__ADS_1


“Tidak mau! Aku hanya ingin menjadi istrimu!” rajuk Anyelir dengan air mata yang berlinang.


“Hentikan tangismu! Aku muak dengan tingkah manjamu!”


__ADS_2