Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 54 Menyatakan Cinta


__ADS_3

Matahari belum menunjukan diri, Vinnie terbangun dari tidurnya. Kepalanya sudah tak sepusing semalam. Merasa tangannya yang berat. Pandangannya langsung tertuju pada lengannya sendiri. Sebuah kepala menjadikan lengannya sebagai sandaran. Tangan Vinnie terulur, mengusap lembut kepala pria yang dicintainya diam-diam.


Baru satu usapan, Aryo terbangun. "Kau sudah bangun?"


Vinnie merasa canggung, tangannya melayang di udara. "Ya, baru saja ingin membangunkanmu," ucapnya mencoba tenang. “kenapa ada di sini?”


Aryo mengusap wajahnya. “Sepertinya aku ketiduran.” Dia bangkit dari duduknya. “Aku akan buatkan sarapan untukmu.”


“Tidak perlu repot-repot.” Vinnie mencoba bangun dari tidurnya. Dia tak ingin merepotkan Aryo. Namun, kepalanya masih berat untuk diangkat.


Aryo menyentuh pundak Vinnie. “Istirahat saja, biar aku melakukannya.”


Vinnie hanya melihat kepergian Aryo. Sang pria langsung sibuk di dalam dapur. Tak berniat memasak makanan berat. Aryo membuka pintu kulkas dan menemukan susu dan granola. Memotong beberapa buah alpukat untuk dicampur dengan sereal tersebut.


Aryo kembali ke kamar Vinnie. Meletakan dua mangkuk sereal di atas meja dan membatu Vinnie untuk duduk. “Terima kasih,” ucap Vinnie. Aryo berniat menyuapi Vinnie. Namun, sang wanita menolaknya. “Biar aku saja,” pinta Vinnie.


“Tidak apa,” ujar Aryo.


“Kau juga makan, aku masih kuat untuk mengangkat sendok,” jelas Vinnie.


Aryo hanya tersenyum, dia mengambil satu mangkuk di atas meja untuk dirinya sendiri. Mereka sarapan bersama. “Apa kau tak berniat ke rumah sakit hari ini? Aku bisa mengantarmu,” ucapnya lembut.


“Tidak perlu, aku sudah merasa lebih baik.”


“Tapi wajahmu masih tampak pucat.”


“Aku akan berjemur nanti.”


Aryo terkekeh. “Apa kau bayi yang dijemur pagi hari?”


“Apa bule merupakan bayi saat berjemur di pantai?” sergah Vinnie.


Lagi-lagi Aryo hanya tertawa. “Benar, bule sangat suka musim panas untuk menghangatkan tubuh mereka.”


Aryo melahap suapan terakhir serealnya. Vinnie melirik jam di dinding. “Kau tidak kerja?”


“Tentu saja kerja, Krisan bisa marah jika aku tak ke kantor!” dengus Aryo.


“Pergilah, jangan sampai terlambat.” Vinnie mengambil mangkuk Aryo dan menumpuknya pada mangkuknya. Berniat untuk membawanya ke dapur.


“Biar aku saja,” pinta Aryo, mengulurkan tangan untuk mengambil mangkuk di tangan Vinnie.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Tenang saja, aku sudah merasa baikan,” tolak Vinnie. Dia berjalan menuju dapur dengan Aryo mengikutinya.


“Kau tidak ke kantor bukan?” tanya Aryo seraya duduk setengah berdiri di meja dapur.

__ADS_1


“Aku sudah mendapat izin nona Fransiska untuk istirahat beberapa hari.” Vinnie mulai mencuci bekas makan mereka. Hanya dua mangkuk sehingga membuat aktivitas mencuci piring begitu singkat.


“Baguslah,” ucap Aryo lalu bangkit dari duduknya. “Nanti siang, aku akan mampir lagi membawa makan siang untukmu. Kau jangan masak sendiri, istirahat saja.”


“Tidak usah. Kau urus saja pekerjaanmu,” tolak Vinnie lagi.


“Aku datang ke sini disaat jam makan siang. Tidak mengganggu jam kerjaku. Kau jangan terlalu banyak bergerak. Baru beberapa hari keluar rumah sakit, sekarang kau drop lagi. Bagaimana aku bisa diam saja!”


“Aryo … kumohon berhentilah mengkhawatirkanku.”


“Ada apa? Apa aku membuatmu tak nyaman?”


Vinnie mengangkat kepalanya, mencoba untuk menatap pria itu. Tentu dia tak nyaman dengan kebersamaan mereka. Hatinya yang tak nyaman dengan perlakukan lembut pria itu. “Bukan itu, aku hanya tak ingin kita terlalu dekat.”


“Ada apa? Kau asisten Anyelir dan aku asisten Krisan. Tentu, kita akan sering bertemu. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Mendapat kabar kau sakit membuatku ingin segera melihat keadaanmu.”


“Tapi aku bukan adikmu!” hardik Vinnie.


Aryo cukup tersentak dengan suara Vinnie yang meninggi. Gadis itu biasanya sangat lembut dalam berbicara. “Ada apa denganmu?”


“Berhenti mengkhawatirkanku, berhenti bersikap lembut padaku,” ucap Vinnie menundukkan kepala.


“Vinnie … apa kau baik-baik saja?”


Aryo terpaku, dia nyaman bersama Vinnie. Namun, dia pun tahu ada kekasih yang dijodohkan dengannya. “Kau tahu aku sudah memiliki kekasih bukan?”


Vinnie mengangkat kepalanya. Menatap pasti pada Aryo. “Aku tidak bisa menganggapmu sebagai kakakku! Aku tidak bisa menjadi adikmu. Aku tahu kau tak menyukaiku. Jadi, berhenti mempedulikanku, jangan pernah menemuiku lagi. Keberadaanmu di sisiku hanya membuat hatiku sakit!” tegas Vinnie.


Aryo mengedipkan matanya sekali, seketika dia tak tahu harus bicara apa. “Vinnie ….”


“Pergilah,” lirih Vinnie tanpa ada keinginan melihat Aryo.


Aryo menghembuskan napasnya pelan. “Maaf,” lirihnya lalu berbalik badan meninggalkan Vinnie.


Mendengar pintu tertutup, membuat Vinnie berani untuk mengangkat kepalanya. Dia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Bukankah setelah mengutarakan apa yang ada di hati akan melegakan dada? Kenapa setelah menyatakan cintanya, hatinya tetap merasa sesak?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa benar kau menjalin hubungan dengan Miranda?” tanya Anyelir antusias, dia melihat pemberitaan pagi ini bahwa sepupunya bisa mencium seorang wanita.


“Aku hanya membantunya,” dengus Renan.


“Tapi kau menciumnya!” timpal Anyelir.


“Itu hanya untuk meyakinkan para wartawan bahwa kami bertunangan. Miranda dituduh menyebarkan berita palsu tentang dirinya yang seolah memiliki tunangan suamimu itu! Aku pikir, dia menyukai suamimu! Lebih baik kau berhati-hati, siapa tahu suamimu tergoda olehnya!” papar Renan. Dia ingin Anyelir tak membahas hubungannya dengan Miranda.

__ADS_1


“Krisan bisa dengan mudah bersamanya saat kami berpisah dan hal itu tak dilakukan olehnya. Itu artinya, Miranda tak memiliki pesona untuk menggoda suamiku,” ucap Anyelir percaya diri. “mungkin, pria lain yang terpesona olehnya," ucapnya dengan menyipitkan mata.


“Sudah jangan bahas lagi,” ucap Renan. Dia bangkit dari duduknya untuk pergi dari kantor sepupunya.


“Mau ke mana?”


“Makan siang!” teriak Renan.


“Kau tidak mengajakku?”


“Bukankah kau mau makan siang dengan suamimu?”


“Tidak! Tunggu aku! Aku ikut denganmu!”


Anyelir dan Renan makan siang bersama. Tidak ada Vinnie membuat Anyelir tak berniat makan siang di luar kantor. Jam terus berputar, perusahaan akan terus berjalan. Hingga sore menyapa, Krisan tak bisa menjemput Anyelir. Dia meminta sopir untuk menjemput Anyelir.


“Nyonya mau langsung pulang?”


“Ke kantor Tuan dulu saja,” ucap Anyelir. Mengingat Krisan menunggunya bekerja sebelumnya, membuat Anyelir ingin melakukan hal yang sama.


“Tuan sedang ada di kantor KRS bukan AYL,” ucap sang sopir. Jarak tempuh ke KRS lebih jauh dari pada AYL.


“Tidak apa, antar aku ke sana.”


Anyelir tiba di kantor pusat Krisan. Dia langsung menuju ruangan sang suami. Namun, Krisan masih sibuk di ruang meeting. Tatapan Anyelir teduh, dia mengedar ke ruang suaminya. Melihat sofa di ruang tamu sang suami. Mengingat mereka pernah bercinta di sana. Percintaan terakhir mereka sebelum berpisah.


Anyelir tersenyum kecut, mengingat kembali kejadian kelam sebelumnya. Dicerai setelah melayani sang suami. Dia menggeleng, mencoba untuk melupakan masa lalu. Dia berjalan dan duduk di kursi kebesaran Krisan. melihat photo dirinya terletak di meja kerja sang suami membuatnya tersenyum.


Anyelir menarik laci meja sang suami. Sidak isi laci tersebut, mencari apakah ada jejak perselingkuhan sang suami. Meskipun, hal itu dilakukan hanya untuk keisengan saja, karena dia yakin Krisan tak akan selingkuh.


Dulu, Anyelir jarang menggeratak kantor sang suami. Meskipun dia tidak jarang masuk ke ruang kerja sang suami. Namun, dirinya hanya melayani sang suami, makan bersama dan tak jarang Krisan meminta haknya sebagai suami di dalam kantor.


Tangan Anyelir menjulur, sebuah photo menarik perhatiannya. Sebuah photo keluarga. Dia melihat sepasang suami istri bersama dengan seorang anak kecil. Memperhatikan anak kecil tersebut yang sangat mirip dengan suaminya. “Apa ini kau?” gumam Anyelir tersenyum.


Tatapannya beralih ke photo dua orang dewasa. Tak pernah sekalipun Anyelir tahu wajah mertuanya. Dia menelisik photo tersebut, photo yang tampak tak asing. Mencoba mengingat-ingat photo pria dewasa itu.


Anyelir mengedipkan matanya sekali, dia teringat bahwa pria itu adalah pria yang ada di album photo orang tuanya. Ya, ingatan Anyelir masih hangat, dia baru beberapa waktu lalu membuka album orang tuanya. Senyum dibibir Anyelir merekah, dia menduga orang tua mereka bersahabat. “Kita memang ditakdirkan bersama,” gumamnya.


Anyelir meletakan kembali photo tersebut. Tangannya meraih amplop cokelat yang ada di sana. Hatinya menuntun untuk tidak membuka amplop tersebut. Namun, otaknya memerintah untuk membukanya.


Dia membaca secara perlahan lembar laporan di dalam dalam amplop itu, tangan Anyelir mulai bergetar melihat isi dari hasil sebuah penyelidikan. Hasil penyelidikan yang membuat suaminya menceraikannya.


“Anyelir ….” Ucapan bersemangat Krisan melemah saat melihat istrinya memegang amplop cokelat yang dia tahu isi berkas tersebut.


“Tidak mungkin!” ucap Anyelir tercekat.

__ADS_1


__ADS_2