
"Bagaimana kau bisa datang dengan membawa buku nikah kita?" tanya Anyelir.
Mereka sudah tiba di apartemen milik Krisan. Setelah membersihkan diri, mereka berbincang santai di atas kasur. Sang suami sedang memijat kaki sang istri. Kebiasaan dahulu terulang kembali. Hari yang panjang membuat Anyelir lelah.
Membalur kaki sang istri dengan minyak esensial yang harum dan menenangkan. Kaki putih dan mulus tampak mengkilap. Namun, bukan karena minyak yang dibalur. Krisan tak pernah berlebihan membalur minyak esensial ke kaki sang istri. Kaki Anyelir yang terhidrasi sempurna membuatnya lembut, halus, dan bening layaknya kaca.
Krisan menggigit kecil jari kaki sang istri. "Aku lihat berita di internet. Terpikirkan saja untuk membawa buku nikah," jawab Krisan.
Anyelir menarik kakinya. Tak suka dengan kelakuan Krisan yang seperti itu. Meskipun sudah mandi dan dibersihkan. Namun, tetap membuat dirinya tak nyaman. Seolah sang suami tunduk padanya. "Jangan lakukan itu."
Krisan hanya terkekeh. Dia selalu mengagumi sang istri seutuhnya. Dia mulai memijat kembali pergelangan kaki sang istri. "Apa kau mau kita buat pesta pernikahan lagi?"
"Untuk apa?" tanya Anyelir.
"Kita belum sempat membuat pesta pernikahan yang megah. Aku ingin memberitahukan pada semua orang bahwa kau istriku."
Anyelir hanya melirik sekilas pada sang suami. "Apa yang kau lakukan tadi, sudah cukup memberi tahu semua orang bahwa kita suami istri."
Krisan hanya mengangguk. "Benar juga. Tapi, tidak ada jaminan pria lain berhenti menatapmu."
"Biarkan saja menatap asal tidak mengganggu!" dengus Anyelir.
"Itu dia, aku bahkan tak rela jika dirimu dijadikan bahan fantasi pria lain!" keluh Krisan.
"Kau terlalu berlebih! Siapa yang mau menjadikanku bahan fantasi!" dengus Anyelir.
"Kau saja yang tak mengetahui otak lelaki! Aku seorang lelaki, jadi aku tahu pikiran para lelaki! Mereka berpikir tidak jauh dari otak di bawah perut!"
"Sepertimu?" tanya Anyelir menaikan sebelah alis.
"Rata-rata memang seperti itu. Aku tidak berkilah, aku memang ingin selalu mendekapmu. Tapi, tidak menjadikan wanita lain sebagai fantasi. Kau sudah sangat sempurna untukku hingga tak perlu yang lain lagi. Apalagi berfantasi dengan wanita lain. Sungguh menjijikkan!"
"Ah! Bicaramu bagaikan pujangga cinta. Mengagungkan nama cinta tapi menceraikanku karena alasan bosan! Sungguh tak masuk akal bicaramu. Mungkin, kau ingin kembali padaku karena masih banyak pria lain yang bersedia memungutku. Hingga kau merasa ingin memiliki kembali!" cerocos Anyelir.
Meskipun sudah mengetahui bahwa suaminya mencintainya. Dirinya pun tak meragukan cinta Krisan. Namun, Anyelir selalu merasa Krisan menutupi sesuatu darinya.
Krisan hanya menghela napasnya pelan. Benar-benar hati wanita sedalam samudera. Sang istri masih menyindir kejadian perceraian. Tak ingin berlarut dalam bahasan penyebab dirinya meminta cerai. Dia memilih menghindari pembahasan tersebut. "Baiklah-baiklah. Aku tak akan banyak bicara lagi. Aku akan tunjukan padamu bahwa aku hanya mencintaimu," ujarnya sangat yakin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Engh ... Ish!" Vinnie mencoba meraih botol air mineral yang ada di samping ranjangnya. Namun, dirinya tak bisa meraih benda tersebut.
Menggeser secara perlahan tubuhnya. Tetapi masih belum bisa meraih botol tersebut.
"Perlu bantuan?" tanya Aryo mengambil botol mineral. Dia membuka botol, memasukan sedotan dan menyodorkan ke arah mulut Vinnie. Dia terbangun dari tidurnya dan matanya bertepatan melihat dengan Vinnie yang berusaha mengambil botol air mineral.
"Terima kasih," ucap Vinnie seraya menyedot minuman tersebut.
"Kalau butuh bantuan, tinggal bilang saja. Tak perlu ambil sendiri" ujar Aryo.
"Ya," jawab Vinnie.
Aryo melihat Vinnie yang kurang nyaman. Dia beralih ke bawah ranjang Vinnie dan mulai mengatur ketinggian kasur. Perlahan, tubuh Vinnie naik.
"Apa segini cukup?" tanya Aryo mendongak, dirinya masih jongkok di bawah ranjang.
__ADS_1
"Ya, sangat nyaman," jawab Vinnie.
Dia melirik pada Aryo, pria itu sering datang ke rumah sakit untuk menemaninya. Tak ingin membuat pria itu lelah. Maka, Vinnie tak membangunkan Aryo yang terlelap hanya untuk mengambil sebotol air mineral.
Aryo tak pernah membiarkan dirinya sendiri. Jikapun tak bisa menemani, pria itu akan meminta bantuan seorang perawat untuk selalu menemaninya.
"Kau bisa pulang, istirahatlah di rumah. Aku tahu, kau pasti tak nyenyak tidur di sofa. Aku bisa di sini dengan perawat," tutur Vinnie.
Aryo hanya tersenyum. "Sudah, kau jangan sungkan. Krisan sudah memerintahkan untuk langsung menjagamu. Ya, bisa saja menyewa jasa perawat. Tapi, apa kau bisa mengobrol dengannya seperti kau mengobrol denganku?" celotehnya.
Krisan memang meminta Aryo menjaga Vinnie. Gadis itu mengalami luka lebih parah dari yang lainnya. Bahkan sang sopir sudah diperbolehkan pulang.
Vinnie hanya mengangguk. "Aku hanya tak ingin merepotkan. Aku yakin akan baik-baik saja jika hanya dengan perawat."
"Aku pun sedang tidak terlalu sibuk di kantor. Jadi, tak usah tak enak hati." Aryo duduk di kursi samping ranjang Vinnie. "Kau ingin makan apa?"
Vinnie melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul 10.00. "Tidak. Aku belum lapar," jawab Vinnie.
"Memang belum masuk jam makan siang. Aku bertanya untuk nanti siang," kekeh Aryo.
"Oh. Makanan dari rumah sakit saja," ucap Vinnie. Dia tak ingin terlalu merepotkan Aryo.
Aryo mengambil satu buah apel yang ada meja samping ranjang. "Kalau begitu, snack pagi ini saja ya?" tanyanya seraya mengangkat apel merah di tangannya.
"Boleh."
Aryo mulai mengupas kulit apel dengan cara gerakan memutar searah jarum jam. Kulit apel mulai terlepas dari daging apel. Kulit yang terlepas tampak seperti tali pita merah yang memanjang.
"Kau bisa mengupas apel seperti itu tanpa putus?" tanya Vinnie tampak kagum.
Dia mengangkat kulit apel yang sudah memanjang, seolah hal tersebut sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli.
Kulit apel yang memanjang diletakkan di atas piring. Aryo memotong daging apel menjadi beberapa bagian. Memisahkan biji apel, hingga potongan apel tersebut siap dinikmati.
Menusuk satu potong apel dengan garpu lalu menyodorkan ke arah Vinnie. "Makanlah."
"Aku bisa sendiri," tolak Vinnie halus.
"Sudah, buka saja mulutmu!" titah Aryo.
Vinnie membuka mulutnya dan mulai menerima suapan dari Aryo.
Selagi menunggu Vinnie mengunyah. Aryo mengambil kulit apel lalu menggulung kulit apel tersebut hingga menjadi sebuah bunga mawar. "Tara ... sekuntum bunga mawar telah jadi," ucapnya sumringah bahagia. "Untukmu," tambahnya tetap dengan senyum mengembang.
Vinnie tertegun, sedikit berdebar menerima bunga yang terbuat dari kulit apel tersebut. "Terima kasih."
Aryo dengan telaten menyuapi apel yang tersisa pada Vinnie. Tidak lama setelah itu, seorang dokter datang ke ruangan. Memeriksa keadaan Vinnie. Perban mulai di buka, terdapat beberapa bekas luka di wajah Vinnie.
"Lukanya akan segera mengering. Beberapa saat akan meninggalkan bekas. Namun, hal ini bisa diatasi. Kau akan cantik seperti sedia kala. Beberapa hari lagi sudah boleh pulang," papar sang dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Vinnie.
Sang dokter pergi, Vinnie meminta cermin pada Aryo. Dia mengerenyitkan dahi saat melihat wajahnya sendiri.
Aryo melihat kekhawatiran Vinnie. "Kau tidak dengar kata dokter, lukanya akan hilang nanti."
__ADS_1
"Ya, tapi tak tahu berapa lama akan hilang sempurna. Mungkin, masih akan sedikit meninggalkan bekas," keluh Vinnie. Mungkin dirinya akan mengalami sedikit codet di dahinya.
"Setiap orang pasti menyukainya keindahan. Begitu pula dengan pria. Keindahan selalu menjadi utama. Namun, apa yang disebut dengan keindahan? Keindahan memiliki definisi yang berbeda. Kita bisa bilang si A buruk. Namun, belum tentu si A buruk di mata orang lain. Terlebih hanya keindahan fisik. Semua orang punya standar keindahan yang berbeda. Yang terpenting adalah keindahan hati," papar Aryo. Dia memberikan senyum pada Vinnie.
Vinnie hanya mengulum senyum. Dia memandang bunga mawar kulit apel pemberian Aryo. Sang pria kembali menyuapi Vinnie. Mereka mengobrol bersama.
...****************...
Hari terus berlalu, Anyelir menyempatkan diri menjenguk Vinnie di rumah sakit bersama Krisan. Asistennya sudah diperbolehkan pulang.
"Apa kau mau melakukan prosedur operasi plastik?" tanya Anyelir pada Vinnie.
"Apa terlalu buruk? Dokter bilang bekasnya akan hilang," jelas Vinnie.
Anyelir menelisik wajah Vinnie. "Yang di pipi sepertinya tak akan meninggalkan bekas. Tapi yang di dahi, aku tidak yakin tak meninggalkan bekas."
"Dokter bilang akan ada sedikit bekas di dahi, tapi aku rasa tidak masalah. Lukanya tak panjang. Kemungkinan tidak sampai 5 cm," timpal Vinnie.
"1, 3, atau 5 cm. Tetap saja luka. Wajah adalah bagian terpenting bagi wanita. Kau kecelakaan saat masih di jam kerja. Aku bertanggung jawab penuh terhadapmu. Aku bisa membuatmu cantik kembali. Soal biaya, aku yang akan menanggungnya."
"Tidak perlu, Nona. Aku tak masalah dengan luka kecil ini," tolak Vinnie halus.
Bukan tak ingin cantik. Baginya itu hanya luka kecil. Jika harus memilih menjadi cantik dengan jalur operasi. Dia akan mundur, jarum suntik baginya sangat menakutkan. Cukup baginya dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Dirinya tak ingin lagi mencium aroma disinfektan.
"Baiklah jika itu maumu. Yang penting aku sudah menawarkan!" dengus Anyelir.
Dia mulai membantu memasukan barang-barang Vinnie ke dalam tas.
"Nona, biar aku saja," ujar Vinnie.
"Sudah kau duduk saja. Aku bisa membereskan barang-barangmu," tolak Anyelir. Dia kembali merapihkan barang-barang sang asisten.
Anyelir membuka lemari, memasukan semua barang-barang asistennya. Beralih ke meja samping ranjang, membuka laci dan menemukan kulit apel berbentuk mawar. Anyelir hendak membuang kulit mawar tersebut.
"Jangan buang mawar itu!" jerit Vinnie.
Anyelir tersendak. Baru pertama kali melihat sang asisten berteriak. "Ada apa?"
"Tidak apa. Hanya saja, itu jangan dibuang," tunjuknya pada kulit mawar tersebut.
"Ini?" Anyelir menyodorkan kulit mawar tersebut pada Vinnie. "Apa kekasihmu datang ke sini? Apa ini pemberian kekasihmu?" cecarnya. Dia mengerutkan dahi. "Tapi Aryo tak mengatakan apapun sebelumnya."
"Bu–kan," jawab Vinnie gugup. "Hanya terlihat bagus, rencananya mau aku keringkan untuk pajangan."
"Pajangan? Kau ada-ada saja!" cibir Anyelir.
Vinnie tak mempedulikan ocehan Anyelir. Dia langsung mengamankan kulit apel tersebut. Vinnie tak tinggal diam. Dia merapihkan barang-barangnya, meraih ponselnya dan mengecek sebentar.
Matanya seketika membesar saat membuka media sosial miliknya. Lingkup pertemanan nya lebih banyak orang kantor. Dia melihat satu postingan dari salah satu rekan kerjanya yang mengucapkan bela sungkawa.
"Nona ...," ucap Vinnie sedikit bergetar.
"Ya?"
"Tuan Andy meninggal."
__ADS_1
"Apa?"