
Krisan merangkak naik untuk mensejajarkan wajahnya dengan Anyelir. “Luka apa?” tanyanya dengan mimik yang serius.
“Sama seperti yang di dada,” jawab Anyelir. Ya, dia hanya tahu bekas luka tersebut ada setelah dirinya bangun dari koma.
Krisan hanya menautkan alis, dia diam sejenak untuk berpikir. Spekulasi memenuhi otaknya. Namun, dia enggan untuk mengatakan apa yang ada di kepalanya.
Dia mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi sang istri. Menatap ke dalam netra sang istri. Begitu pula dengan Anyelir yang hanya bisa menatap sang suami.
Krisan tak berhenti memandang Anyelir tanpa pergerakan, dia hanya menatap lekat pada wajah sang istri. Wajah yang tanpa riasan yang menimbulkan kecantikan alami.
Anyelir tak nyaman di tatap begitu lama oleh sang suami. Dia mengulurkan tangan, mencoba untuk menekan saklar agar lampu padam. Namun, lengannya yang terhalang oleh lengan Krisan, membuatnya tak bisa menekan saklar itu.
Krisan langsung mengulurkan tangan dan menekan saklar. Suasana menjadi gelap. Krisan menunduk dan mulai mencium sang istri.
...****************...
Awal yang canggung kembali lagi kembali ke rumah. Anyelir berusaha tampak seperti biasa. Dia menyapa para pelayan. Menuju dapur untuk sedikit membantu menyiapkan sarapan.
“Nyonya,” sapa seorang koki.
“Biar aku membantumu,” ujar Anyelir.
Tidak banyak yang berubah dari suasana di dapur. Anyelir dengan fokus memasak untuk sang suami. Krisan keluar dari kamar dan tak mendapati sang istri. Dia beralih dari kamar dan langsung menuju dapur. Pemandangan yang sudah lama tak ia lihat.
Sang koki melihat Krisan. Saat akan menyapa, Krisan meletakan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat pada sang koki untuk diam dan pergi dari dapur.
Melangkah pelan menghampiri sang istri lalu memeluknya dari belakang. “Morning,” bisik Krisan.
“Kau sudah bangun?” tanya Anyelir tanpa menoleh. Dia fokus dengan masakan di depannya.
“Emm,” jawab Krisan sembari mengendus rambut sang istri.
“Lepaskan aku, aku siapkan sarapan untukmu.”
Dengan enggan Krisan melepas pelukannya pada sang istri, dia menunggu di meja makan. Anyelir menyiapkan sarapan untuk mereka.
Hanya ada senyum di wajah Krisan. Mereka sarapan bersama. “Sangat enak,” puji Krisan.
Anyelir hanya mengangguk mendapat pujian dari sang suami. “Miranda datang ke apartemen semalam,” ujarnya.
“Mungkin dia ingin meminta maaf,” ucap Krisan datar. Dia pun mendengar perbincangan istrinya dengan Renan.
“Kenapa?”
“Tentu saja tentang pemberitaan itu. Aku akan membatalkan semua kontrak jika dia tak meminta maaf padamu.”
“Kenapa seperti itu? Dia pun tak mengatakan apapun tentang kita. Bukankah itu sangat berlebihan?” keluh Anyelir.
“Tetap harus meminta maaf. Aku tak memintanya untuk meminta maaf melalui media. Aku hanya ingin dia meminta maaf padamu secara langsung,” papar Krisan.
Anyelir hanya menyipitkan mata. “Sudah, masalah ini jangan diperbesar. Biarkan saja, lagi pula kita baik-baik saja.”
Krisan hanya mengangguk. Namun, bukan berarti dia menyetujui sang istri. Pendiriannya sangat kuat, tak akan membiarkan siapapun mengganggu istrinya.
“Aku harus ke Jerman. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Krisan.
“Kapan?”
__ADS_1
“Dalam minggu ini.”
“Pergilah, aku ada pekerjaanku sendiri.”
Krisan meletakan garpu dan sendok di atas piring lalu menatap sang istri. “Aku berharap kau ikut.”
“Seperti selama ini aku menemanimu dinas saja!” dengus Anyelir.
Krisan selalu menyembunyikan Anyelir begitu rapat hingga tak banyak yang tahu tentang hubungan mereka di masa lalu. Tentu, tak pernah diajak ke acara kantor atau urusan bisnis.
“Ya aku tahu. Tapi rasanya tak tenang meninggalkanmu sendiri di rumah.”
“Tak tenang bagaimana? Aku tidak akan kabur!” ketus Anyelir.
“Sekalian kita berlibur. Sudah lama bukan kita tak pergi bersama.”
“Kerja ya kerja. Liburan ya liburan. Sekarang, kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu!”
“Kalau begitu, kita harus atur waktu untuk liburan.”
“Ya, terserah dirimu saja!”
...----------------...
Baru dua hari kembali ke rumah. Anyelir harus ditinggal oleh sang suami dinas. Anyelir tak keberatan akan hal itu. Dia kembali ke rutinitasnya sebagai seorang pemimpin.
“Apa kau sudah bisa bekerja?” tanya Anyelir pada Vinnie.
“Ya, Nona,” jawab Vinnie sembari menyerahkan sebuah dokumen pada Anyelir. “Saya dapat email dari asisten Miranda. Dia bilang Miranda ingin bertemu denganmu.”
Bukan tak menghargai, hanya saja belum ada waktu untuk sekedar menerima permintaan maaf. Baginya, pekerjaannya lebih penting. Dia pun tak mempermasalahkan Miranda meminta maaf padanya atau tidak.
“Baik, akan saya sampaikan,” ujar Vinnie.
Selama tiga hari Anyelir disibukan dengan pekerjaannya, bahkan dirinya tak ada waktu untuk menghubungi sang suami. Begitu pula dengan Vinnie yang menghabiskan waktu di rumah dan di kantor.
Ponsel Vinnie berdering. Aryo menelponnya. “Hallo.”
“Aku sudah dapat tiket badminton, ayo kita nonton,” seru Aryo.
“Ha?”
“Bukankah kau sudah berjanji untuk menonton bersama?”
“Ya, tapi … apa kau tidak ke Jerman?”
“Tidak. Aku urus perusahaan di sini. Kau sudah sampai rumah?”
“Belum, masih di kantor, baru akan pulang.”
“Kalau begitu aku jemput.”
“Aku ….”
Tut! Tut! Tut! Aryo mematikan sambungan telepon, dengan terpaksa Vinnie menunggu Aryo menjemputnya. Tidak perlu menunggu lama, mobil Aryo sudah sampai di kantor GLK.
Aryo turun dari mobil dan menghampiri Vinnie. “Ayo, pertandingan akan segera di mulai. Nanti kita terlambat.”
__ADS_1
Vinnie tak diberi kesempatan bicara, Aryo mendorong Vinnie hingga ke mobil. Membuka pintu mobil bagian penumpang belakang dan memasukan Vinnie ke dalam.
Belum sadar akan situasi, Vinnie hanya bisa duduk di kursi penumpang. Tidak sadar di dalam mobil sudah ada orang lain.
“Hai,” sapa seorang wanita yang duduk di bagian depan.
Vinnie mendongak, menatap seorang gadis yang duduk di bangku penumpang depan. “Hai,” sapanya. Hatinya kurang nyaman, sudah menduga siapa gadis yang sedang duduk di depan.
“Helga, ini Vinnie, gadis yang aku ceritakan padamu,” jelas Aryo setibanya masuk ke dalam kemudi.
“Helga,” ujar Helga.
Vinnie hanya menatap Aryo dan Helga bergantian. “Aku Vinnie,” ujarnya.
“Aryo sudah menceritakan tentangmu padaku. Hampir saja aku cemburu buta. Bosnya kalau sudah perintah tak mengenal jenis pekerjaannya. Bahkan menjaga orang sakit pun harus ditangani oleh kekasihku,” papar Helga.
“Maaf merepotkan,” lirih Vinnie.
“Tidak apa, aku juga khawatir jika tidak turun tangan secara langsung,” jelas Aryo tersenyum. Ya, dia tak bohong. Krisan memang menjaga ketat Vinnie, itu semua dilakukan karena takut anak buah Andy melakukan sesuatu. Meskipun, pada kenyataannya tidak terjadi apapun.
Mobil berjalan menuju tempat pertandingan. Hanya ada obrolan tentang badminton yang mereka lontarkan, kebanyakan Helga dan Aryo yang lebih sering mengeluarkan suara.
“Vinnie juga sangat menyukai badminton, karena itu aku langsung mengingatnya saat mendapatkan tiket,” ujar Aryo.
“Lebih banyak yang nonton akan semakin seru,” ucap Helga.
Vinnie hanya bisa menghela napasnya pelan dengan sesekali melihat interaksi sepasang kekasih di depannya. Hingga akhirnya pertandingan dimulai, Vinnie hanya ikut bersorak tanpa tahu apa yang terjadi.
Tatapannya melihat pertandingan. Namun, pikirannya berkelana. Dia harus segera menghempaskan Aryo di kepalanya. Melirik sekali lagi pada pasangan di sampingnya, Helga tampak begitu perhatian pada Aryo. Begitupula dengan sang pria yang begitu nyaman dengan kekasihnya.
“Ayo kita pulang,” usul Aryo setelah pertandingan usai.
“Aku pulang sendiri saja. Kebetulan jarak rumahku tak terlalu jauh. Kalian masih ada rencana lain bukan?” Vinnie tak sanggup jika harus satu mobil lagi dengan pasangan kekasih itu.
“Jangan seperti itu. Aku yang mengajakmu, tentu aku juga yang harus mengantarmu pulang,” ujar Aryo.
“Tidak apa. Aku bisa pulang sendiri. Kalian pergilah,” tolak Vinnie.
“Tapi ini sudah malam,” sanggah Aryo.
“Belum tengah malam, jalanan masih ramai. Aku masih ada janji,” tolak Vinnie halus.
“Biarlah dia pulang sendiri, mungkin dia ingin bertemu dengan kekasihnya,” ucap Helga memotong Aryo yang baru saja akan menimpali ucapan Vinnie.
“Kau … sudah memiliki kekasih?” tanya Aryo.
Vinnie hanya tersenyum, Helga menarik lengan Aryo untuk meninggalkan tempat. “Hati-hati,” ucap Aryo.
“Kalian pun hati-hati,” ucap Vinnie.
Vinnie berjalan tak tentu arah setelah melihat kepergian mobil Aryo. Dia masuk ke dalam minimarket. Membeli secara acak makanan dan minuman ringan untuk mengalihkan pikirannya.
Setelah puas berbelanja, dia masuk ke dalam kamar. Mengeluarkan kotak kaca berisi kulit apel. Tangannya berhenti di udara, tak sanggup membuang kulit apel tersebut.
Vinnie luruh, dia duduk di kasur. Mengusap kasar wajahnya sendiri. Hatinya masih sakit melihat lelaki yang dicintainya sudah memiliki seseorang.
Dia kembali menyimpan kulit apel tersebut ke dalam laci. Menyimpannya untuk diri sendiri. Seperti hati yang disimpan tanpa orang lain tahu.
__ADS_1