Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 73 Tak Sanggup


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" tanya Renan yang melihat Miranda sibuk di dapur.


Miranda menoleh. "Kau sudah pulang? Bukankah bilang pulang jam 9?"


"Ternyata selesai lebih cepat. Kau dapat salam dari Anyelir." Renan mendekati Miranda yang sedang sibuk menuangkan cairan pudding ke dalam cetakan.


Miranda hanya mengangguk. "Kau memanggilnya Anyelir dan bukan Fransisca?"


"Sama saja. Kau buat puding?" Mata Renan tertuju pada puding buatan Miranda.


"Iya, karena kau bilang pulang jam 9. Aku rasa kau sudah makan malam. Jadi, aku mau buatkan cemilan saja, eh kau sudah tiba jam segini."


"Apa kau sudah makan?"


"Sudah."


"Delivery?"


"Tidak. Aku makan oat meal."


"Kenapa makan itu?"


"Diet." Miranda memasukan puding ke dalam pendingin.


Renan mengusap kepala Miranda. "Masih panas jangan dimasukan ke lemari es. Tunggu setelah sedikit dingin baru dimasukan."


"Oh." Miranda langsung mengeluarkan puding dan meletakan di atas meja dapur.


Renan hanya tertawa ringan. "Sepertinya, kau berbakat memasak."


"Ini pujian atau hanya sekedar menghibur?" tanya Miranda sembari menarik pinggang Renan hingga mereka saling berdekatan.


Cup! Ciuman singkat diberikan Renan pada Miranda. Mereka hanya tersenyum bersama. Renan tak pulang, mereka menghabiskan malam dengan mengobrol dan bercanda. Mereka tertawa lepas.


"Tidurlah, sudah malam. Aku akan pergi jika kau sudah tidur," ucap Renan lembut. Dia mengusap rambut sang kekasih. Mereka masih berpelukan di atas ranjang.


"Tidak mau menginap di sini?"


Renan menatap Miranda ragu. Dia terdiam sejenak. "Jika diizinkan."


Miranda menarik dagu sang pria lalu menciumnya. "Apa ini sudah memberi jawaban?"


Renan hanya terkekeh lalu mencium Miranda lagi. Selalu candu, selalu tak puas jika hanya sebentar. Dia mulai menindih Miranda, ciuman mulai turun ke rahang dan terus turun ke bawah.


Tangan Miranda membuka kancing kemeja Renan, dengan gerakan lembut membuka kemeja itu secara sempurna. Tidak kalah aktif dengan Miranda. Tangan Renan pun aktif bermain. Mengusap perut sang gadis yang sukses membuat Miranda mend*sah.


Usapan itu terus ke atas. Renan melepas gaun tidur Miranda dan hanya meninggalkan two piece yang mengekspos sebagian besar tubuh.

__ADS_1


Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Renan menghentikan gerak tangannya yang sedang menyentuh aset kembar Miranda. "Jangan berhenti," pinta Miranda.


Renan mencoba mengatur napas, kulit mereka saling bersentuh. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang kekasih. "Aku sudah tidak tahan," ucapnya dengan suara rendah.


Hati yang sudah terpatri, wanita yang dicintai sedang terkukung di bawahnya. Bagaimana pun seorang pria merawat diri. Namun, tidak akan bisa menyaingi seorang wanita sesungguhnya, dan itu membuat Renan sulit mengendalikan diri. Terlebih, Mereka hanya menggunakan penutup bawah dengan kulit saling menempel. Lembut, kenyal bagai marshmellow. Membuat Renan semakin gila.


"Lakukan apa yang kau mau," lirih Miranda. Dia sudah pasrah. Dia pun menginginkan Renan seutuhnya.


"Apa kau yakin?" tanya Renan dengan suara tertahan.


"Ya," jawab Miranda. Jawaban singkatnya, terdengar menggoda di telinga Renan.


Peluh keringat membasahi keduanya. Tak ada percakapan lagi dan hanya ada suara-suara erangan. Napasnya terengah hingga akhirnya mereka terlelap bersama.


...****************...


Setengah berlari Cindy berjalan menuju rumah Miranda. Dirinya memiliki kunci rumah itu. Dia mendengus kesal karena sang bos tak mengangkat panggilan teleponnya, padahal ada jadwal syuting pagi ini.


Menuju kamar Miranda dan mulai membukanya. "Miranda ...," teriak Cindy.


Matanya membulat saat melihat kekacauan di kamar sang artis. Kemeja berserakan, begitu pula dengan gaun tidur sang artis. Tidak hanya itu, dia bahkan melihat penutup aset kembar Miranda yang tercecer di lantai.


"Argh!" teriak Renan yang juga terkejut melihat kedatangan Cindy.


Mendengar keributan, membuat Miranda pun ikut terbangun. Dia menatap sang asisten. "Keluarlah dulu," ucapnya santai.


"Kenapa dia bisa masuk?" tanya Renan setelah kepergian Cindy.


"Dia punya kunci rumahku," jawab Miranda.


Renan hanya menghela napas. "Temuilah, sepertinya dia marah besar padamu."


Renan bangkit dari ranjang, dia hanya menggunakan boxer. Meraih kemeja dan menggunakannya.


"Kau tidak mandi dulu?" tanya Miranda.


"Tidak. Aku akan kembali ke apartemen terlebih dulu baru ke kantor," ucap Renan sembari menggunakan celana panjangnya.


Miranda mencari gaun tidurnya dan memakainya. "Kau akan ke sini lagi bukan?"


"Kau kekasihku. Kemana lagi tujuanku?" Renan menarik tengkuk Miranda dan memberi ciuman. "Aku pergi dulu."


"Aku antar." Miranda berjalan berdampingan dengan Renan. Sesekali merapihkan rambut Renan yang berantakan. Sang kekasih tampak beda dari sebelumnya. Lelaki yang selalu tampak rapi. Kini, seperti tak memperhatikan penampilannya.


Di ruang tamu sudah ada Cindy. Renan hanya memberi senyum kecil pada Cindy. Dia keluar dari rumah sang kekasih.


Miranda menghampiri asistennya yang masih kesal. "Belum terlambat untuk syuting, bukan?"

__ADS_1


Cindy melempar bantal sofa pada Miranda. Sang artis hanya menghalau serangan asistennya. Cindy menarik paksa jubah tipis gaun tidur Miranda dan melihat ke tulang selangka sang artis.


"Dasar gila! Baru kemarin menangis karena dia memilih kekasih pria-nya dan sekarang kau tidur dengannya! Apa kau tak punya otak? Percuma aku menjagamu agar tak ternoda. Kau malah dengan suka rela memberikan pada pria seperti itu!" hardik Cindy.


Ya, dia yang menjaga Miranda selama ini. Dia tahu sang artis gila alkohol, karena itu, Cindy selalu menjaga extra agar Miranda tak dimanfaatkan oleh pria tak bertanggung jawab.


"Ya, aku berterima kasih padamu. Tapi, apa kau lupa, yang terakhir menolongku adalah Krisan. Jika tak ada dia, mungkin aku sudah dibungkus pria otak dangkal!" celoteh Miranda.


"Dan sekarang kau dengan murahnya memberikan pada pria setengah matang seperti itu?" sindir Cindy.


"Hei, jangan bicara sembarangan. Kami itu saling cinta. Lagi pula, Renan tak seburuk yang kau katakan," bela Miranda. Tak suka kekasihnya dihina.


"Aku melihat kalian tak berbusana! Apa yang tak buruk?" cecar Cindy dengan bahu sedikit bergetar.


"Ini tidak seperti yang kau bayangkan," lirih Miranda.


"Lalu, apa yang kalian lakukan dengan kondisi seperti itu?"


Miranda mengedipkan mata sekali. "Kami hanya berciuman, lalu ... berkeringat bersama."


Cindy mengguyar rambutnya. "Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti kemarin lagi. Jangan sampai kau merengek karena kekasihmu berselingkuh dengan seorang pria!"


Miranda hanya menghela napas. "Bisakah kau bicara yang baik tentangnya? Dia tak seperti yang kau bayangkan. Dia ... pria sejati."


Cindy frustasi. "Apa kalian menggunakan pengaman?"


Miranda menggeleng. Emosi Cindy tersulut kembali. Dia langsung memukul Miranda dengan bantal lagi. "Gila! Gila! Benar-benar otak udang. Aku belikan kau obat dulu."


Miranda menarik tangan Cindy. "Tidak perlu."


Cindy menepis tangan Miranda. "Apa yang tidak perlu? Kalau kau hamil bagaimana?" cecarnya.


Miranda menggigit bibir dalamnya. "A—ku, masih perawan," lirihnya.


Cindy menautkan dahi. "Apa maksudmu?"


Miranda membuang napas kasar. "Kami tidak sampai melakukan itu."


"Apa kau pikir aku akan percaya setelah apa yang kulihat tadi?"


"Aku sungguh-sungguh," ucap Miranda cepat untuk membungkam Cindy yang terus cerocos.


"Aku tidak mengerti."


"Kami hanya ... berciuman dan saling menyentuh," jelas Miranda. "Dia ... sepertinya tak tega untuk menodaiku," lanjutnya.


Cindy hanya melebarkan matanya. "Dalam keadaan hampir polos kalian tak sampai tahap itu? Kau benar-benar naif!" Cindy mengusap wajahnya kasar. "Miranda, apa kau tidak berpikir bahwa dia sedang mempermainkanmu? Tidak mungkin pria normal dengan keadaan kalian seperti itu tidak melanjutkannya. Kecuali, dia memang benar-benar tak sanggup untuk melakukannya. Mungkin, karena dia sadar kau perempuan dan tak menarik baginya. Karena itu dia tak melanjutkannya."

__ADS_1


__ADS_2