Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 61 Kari Mie


__ADS_3

Miranda tak ada keinginan melepas tangannya yang mengalung di leher Renan. Dirinya semakin menggoda pria di depannya. Tak ada niatan melepas tautan bibir mereka.


Lidahnya mulai menginvasi rongga mulut Renan. Sang pria yang awalnya membeku mulai memberikan reaksi. Dia membalas setiap ciuman Miranda.


Cukup lama mereka berciuman. Hingga akhirnya ... dengan enggan Miranda melepas tautan itu. "Ini sudah membuktikan kita saling terikat," ucapnya sensasional.


Miranda menjilat bibir Renan sebagai akhir dari ciuman panjang mereka. Namun, Renan tak membiarkan hal itu terjadi. Dia menarik pinggang sang wanita hingga duduk di pangkuannya. Beruntung memiliki gaun lebar yang tidak menyulitkan Miranda bergerak.


Miranda duduk dipangkuan Renan. Sang pria begitu erat menggenggam pinggang sang artis. Tangan Miranda terulur ke samping. Jok mobil perlahan menurun. Mereka semakin memperdalam ciuman.


Ciuman Renan beralih. Bergeser ke dagu dan terus ke leher hingga ke tulang selangka. Sang wanita begitu menikmati. Miranda membiarkan Renan berbuat apapun. Bibirnya mengulas senyum. Membuang kekhawatiran sebelumnya.


Tangan Renan tak tinggal diam. Bagian belakang sang wanita tak luput mendapatkan pukulan pelan. Tetapi, Miranda tak keberatan. Dia mengangkat dagu sang pria dan mulai menciumnya kembali. Renan merebahkan tubuhnya. Tubuh Miranda berada di atas Renan.


Kini, Miranda yang memegang kendali. Ciumannya menjelajah ke wajah Renan. Hingga ke leher sang pria maskulin itu dan memberi tanda cinta di sana. Tangannya dengan lincah membuka beberapa kancing kemeja Renan. Dia merasakan perubahan pada tubuh sang pria, dia yakin Renan menginginkannya. Miranda menghembuskan napasnya pelan ke telinga sang pria dan berbisik, "Apa perlu kita pindah ke rumahku?"


Renan tersadar, mereka sudah terlalu jauh. Dia mendorong pelan Miranda. "Pergilah," ucapnya dengan suara berat.


Miranda terdiam, dia menatap lekat sang pria. Jelas sekali di wajah Renan begitu menginginkannya. Namun, pria itu menghentikan aktivitas mereka.


"Kita sudah terlalu jauh," tambah Renan.


Miranda turun dari pangukan Renan. Mengulum bibirnya sekilas. Mereka membisu di dalam mobil. Tak ada yang berbicara, mereka hanya menetralkan napas setelah sebelumnya berburu oksigen, hingga beberapa saat kemudian, Miranda bersuara, "Aku pulang dulu."


"Ya," ucap Renan singkat.


"Aku akan menunggumu selesai syuting," ucap Miranda tanpa melihat Renan.


Miranda membuka mobil. Dia berjalan tertunduk hingga masuk ke dalam rumah. Renan hanya melihat kepergian Miranda hingga sang gadis tak terlihat. Melempar suara rendahnya, dadanya seakan tertimpa batu. Dia mengguyar rambutnya sendiri.


...****************...


Hari berganti, syuting berjalan lancar. Cindy beberapa kali menghubungi Miranda dan menawarkan untuk menjemput. Namun, semua itu ditolak oleh Miranda.


"Aku datang ke sana ya?" tanya Cindy di sebrang telepon. Dia tak menemani Miranda syuting karena diminta sang artis untuk mengurus keperluan lain.


"Tidak perlu, Renan akan menjemputku," tolak Miranda.


"Miranda! Berhentilah. Jadikan pelajaran saat kau menyukai Krisan. Berhenti mengharapkan pria yang tidak menyukaimu."


"Renan berbeda. Dia pasti menjemputku," lirih Miranda.


"Jangan keras kepala! Aku akan datang! "

__ADS_1


"Akan kubunuh kau jika datang!" ancam Miranda.


Miranda menunggu di lokasi syuting. Beberapa artis sudah pulang. Hanya tinggal beberapa kru yang tersisa.


"Apa kau tidak pulang?" tanya Bram, seorang sutradara. Tidak biasanya Miranda pulang akhir.


"Aku sedang menunggu jemputan," jawab Miranda.


"Kekasihmu?" tanya Bram lagi.


Miranda hanya mengulas senyum. Sang sutradara pamit pulang terlebih dahulu. Salah satu kru menghampiri Miranda. "Apa butuh kami antar?"


"Tidak perlu, kalian pulanglah. Aku akan dijemput," tolak Miranda. Hatinya mulai getir, khawatir Renan benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi.


Tiga orang kru tidak tega meninggalkan Miranda. Mereka memilih menemani Miranda di lokasi syuting selama menunggu jemputan. "Apa kekasihmu masih jauh?" tanya Miranda.


"Sepertinya sedang dalam perjalanan. Dia tak mengangkat panggilanku," ucap Miranda.


"Lebih baik, kami antar kau pulang. Kau bisa mengirim pesan bahwa sudah pulang."


"Bisa tunggu sebentar lagi? Aku yakin sebenar lagi akan tiba."


Miranda menghitung detik pada arloji jam tangannya. Sudah 30 menit dia ditemani para kru dan Renan belum juga menampakan batang hidungnya.


"Apa masih mau menunggu?" tanya salah satu kru.


Tiga kru film saling tatap. Mereka bertiga saling berlawan arah dari Miranda. Besok pagi sekali mereka masih harus syuting. Sangat melelahkan jika harus mengantar Miranda terlebih dahulu.


"Baiklah, kami akan pastikan kau naik taxi dulu," ucap sang kru.


"Terima kasih. Aku akan memastikannya pulang dengan selamat," ucap Renan yang tiba-tiba berada di antara Miranda dan para kru.


Miranda hanya tersenyum melihat kedatangan Renan secara mengejutkan. Dia setengah berlari menghampiri sang pria. Para kru pamit setelah melihat Renan.


"Kenapa datang tak bersuara? Mobilmu tak terdengar," ucap Miranda.


"Ban mobil pecah. Sedang dikerjakan oleh petugas derek. Kebetulan sudah tak jauh lagi. Jadi, aku putuskan ke sini dulu," jelas Renan.


Miranda melihat ke pakaian Renan. Pakaian yang tak sebersih biasanya. Terdapat beberapa noda di kemeja putihnya. "Kenapa dengan bajumu?"


"Oh, ban mobil yang kempes. Aku bawa satu serep dan menggantinya. Namun, pada sudah mau sampai ternyata ada satu ban lagi yang pecah. Jadi aku panggil jasa derek."


Miranda hanya mengangguk. Dia mengulur tangan dan membersihkan noda di dahi Renan. Hanya sedikit noda. Namun, kebiasaan bersih Renan sangat kontras dengan adanya noda di wajahnya. Membuat pria itu tampak macho.

__ADS_1


Renan hanya mematung saat Miranda membersihkan dahinya. Dia mengedipkan matanya sekali, jantung terpompa semakin cepat. "Ayo kita pulang."


Miranda mengangguk. Mereka berjalan beriringan. Tangan Miranda terulur dan mencoba menggandeng Renan. Tangan mereka saling bertaut. Namun, tatapan mereka tertuju pada jalan. Hanya ada senyum kecil di keduanya.


Berjalan terasa sangat lama meskipun jarak tempuh tergolong dekat. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat mobil terparkir. Ban mobil sudah diganti. Renan mengantar Miranda ke rumahnya.


Tak ada pembicaraan hingga sampai rumah. "Apa kau sudah makan?" tanya Miranda.


Renan hanya menggeleng. Tak bohong, dia memang belum makan malam.


"Mau mampir makan malam?" tanya Miranda.


Renan hanya mengangguk. Renan duduk di ruang tamu. Miranda masuk ke are dapur bersih.


"Apa kau butuh bantuan?" tanya Renan mengingat Miranda tak bisa memasak.


"Tidak. Kau duduk saja di sana. Aku sudah sedikit-sedikit belajar memasak. Aku akan memasak kari untukmu. Kau harus mencoba mencicipinya," tandas Miranda.


Renan hanya mematuhi perkataan Miranda. Dia duduk kembali. Tak terlalu lama bagi Miranda memasak. Dia memanggil Renan untuk ke meja makan.


Renan melihat dua mangkuk mie. Dia hanya mengulas senyum karena Miranda hanya memasak mie instan dengan ditambah sebuah telur.


"Kau tidak keberatan bukan?" tanya Miranda menahan senyum.


Renan hanya menggeleng dan mulai mencicipinya. "Rasa kari."


"Ya. Kari dengan variasi mie," ucap Miranda dengan malu.


"Aku rasa kau juga bisa memasak rasa soto atau ayam spesial," ucap Renan setengah tertawa. Namun dia memakan dengan lahap.


"Tidak hanya itu. Aku bahkan bisa membuatkanmu ramen," ujar Miranda yang ikut terkekeh. Sudah banyak jenis mie instan dengan berbagai rasa. Ramen atau ramyeon kemasan pun ada di toserba.


Renan mengambil tisu dan mengelap bibirnya. "Kau mau memaksakan aku ramen?"


"Tentu, sudah banyak yang jual ramyeon instan di super market. Katanya di-klime memiliki rasa yang sama seperti di Korea. Bahkan, beberapa sudah dilengkapi dengan tteok, pangsit atau bubuk keju," papar Miranda.


"Kau tahu banyak tentang makanan Korea?" tanya Renan.


"Ya. Besok aku buat ramen untukmu."


"Kau juga tahu, apa artinya seseorang mengundang makan ramen?" tanya Renan hati-hati.


"Ha? Apa ada makna tertentu?" Miranda tampak bingung.

__ADS_1


Renan hanya mengedipkan matanya sekali. Ramen memiliki implikasi atau makna ganda di Korea Selatan. Makna ajakan makan ramen di Korea Selatan bukan hanya berarti ingin menyantap ramen bersama-sama. Namun, digunakan sebagai ajakan seseorang setelah berkencan untuk bermalam bersama.


"Tidak ada," ucap Renan. Dia melanjutkan kembali makannya.


__ADS_2