
Krisan dan Anyelir mengantar Vinnie ke rumahnya. Begitu juga dengan Aryo. Mereka memutuskan untuk makan siang bersama.
Krisan dan Aryo memasak di dapur mini milik Vinnie. Sebelumnya, mereka mampir ke supermarket terdekat untuk membeli bahan masakan.
“Apa tidak apa membiarkan para pria yang memasak?” tanya Vinnie khawatir.
“Tidak apa. Kris pandai memasak. Kau pasti menyukai masakannya,” timpal Anyelir mengembangkan senyum lebar. Dia takjub dengan kondisi rumah Vinnie yang sederhana namun tampak nyaman karena dekorasi unik di rumah tersebut.
Vinnie menganggukkan kepala saat mencicipi masakan yang dibuat oleh para lelaki. Sudah terlalu lapar atau memang masakan yang lezat, semua makan dengan lahap. Tampak harmonis dengan sesekali melontarkan sebuah lelucon. Tidak terlihat siapa atasan atau bawahan, mereka tampak seperti sahabat.
Anyelir melirik ke sang suami. “Kris, apa kau sudah tahu kabar tentang Andy?” tanyanya.
“Ya,” jawab Kirsan singkat. Dia tak tertarik lagi membicarakan pria itu.
“Apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Anyelir lagi.
“Tidak tahu,” jawab Krisan sibuk dengan makanan di piringnya. Aryo pun tak menimpali obrolan sepasang suami istri itu. Krisan mengambil sepotong salmon dan memindahkan ke piring sang istri. “Makanlah, baik untuk kesehatan.”
“Seharusnya ditambah lemon sedikit, pasti akan lebih enak,” ujar Aryo sembari memasukan sepotong salmon ke mulutnya.
“Tidak ada lemon. Begini juga tidak terlalu buruk,” timpal Krisan.
“Tidak ada yang bilang tidak enak. Aku hanya bilang akan lebih baik jika ditambah lemon!” cibir Aryo.
Vinnie melihat interaksi Aryo dan Krisan yang tampak akrab. Sangat berbeda saat mereka bekerja. Saat ini hanya ada penampakan persahabatan di antara mereka.
“Nona, apa kau butuh mangkuk? Akan aku ambilkan,” ujar Vinnie melihat Anyelir mengambil tom yam dan meletakan di atas piring.
“Tidak perlu, aku hanya icip saja. Oh ya, jangan bicara formal padaku saat diluar jam kerja,” ujar Anyelir.
Vinnie hanya tersenyum. Merasa dirinya masih kurang pantas untuk bicara non formal pada Anyelir.
__ADS_1
Tidak ada lagi pembahasan tentang Andy. Mereka lebih banyak bersenda gurau. Terkadang membicarakan resep masakan atau saling melontarkan tebak-tebakan.
Anyelir dan Krisan pamit dari rumah Vinnie setelah usai menikmati makan siang. Mereka punya satu tempat untuk dikunjungi. Mereka meninggalkan Aryo dan Vinnie.
“Tidak usah di cuci. Biar aku yang mencuci piring,” ujar Vinnie yang melihat Aryo bersiap mencuci piring.
Aryo menyentuh bahu Vinnie. Dia mendorong pelan agar Vinnie duduk di sofa depan tv. “Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Biar aku saja yang mencuci piring.”
Aryo mencuci piring. Sedangkan Vinnie duduk di sofa dengan sesekali melirik ke arah Aryo. Lelaki itu tidak hanya mencuci piring. Namun, dia juga membersihkan area dapur miliknya.
“Jika kau butuh bantuan apapun. Jangan sungkan untuk menghubungiku,” ujar Aryo seraya duduk di sofa samping Vinnie. Dia menatap ke arah tv yang sedang menayangkan permainan badminton.
“Terimakasih,” ucap Vinnie penuh senyum. Dia ingin bertanya pada Aryo kenapa pria itu tidak pulang. Sedangkan bosnya sudah setengah jam lalu pergi. Namun, pertanyaan itu tak dilontarkannya. Entah mengapa dia enggan menanyakan hal tersebut.
“Ah! Seharusnya di smash! Padahal bola nanggung!” keluh Aryo.
Vinnie hanya memberikan senyum simpul. Menikmati siaran langsung pertandingan badminton dengan pria yang berhasil menggetarkan hatinya.
“Lumayan,” jawab Vinnie.
“Lain kali, kita harus nonton secara langsung di lapangan. Mau ikut jika aku dapat tiketnya?”
“Boleh,” jawab Vinnie sedikit malu.
Ponsel Aryo berdering, dia mengambil segelas air dan menenggaknya sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut. “Ya, hallo.”
Vinnie hanya sedikit melirik Aryo yang sedang menelpon. Sang pria tak berpindah tempat untuk membuat batas privasi menelpon. Memiringkan kepala pun tidak, meskipun telinganya terhubung dengan ponsel. Namun, matanya tetap tertuju pada layar tv.
Melihat Aryo yang tak membatasi privasinya. Membuat Vinnie enggan berpindah tempat untuk memberikan ruang Aryo agar leluasa menelpon. Bukan niat hati mencuri dengar. Namun, dari gelagat Aryo, sambungan telepon itu tak ada hal yang penting atau dirahasiakan.
“Baiklah. Ok. Miss you,” ujar Aryo diakhir sambungan teleponnya.
__ADS_1
Kalimat terakhir terdengar oleh Vinnie. Dia hanya mengedipkan matanya sekali, merasa ada yang janggal pada kalimat terakhir. “Apa itu dari ibumu?” tanya Vinnie ragu. Berharap lelaki di sampingnya mengatakan benar yang menelponnya adalah sang ibu.
“Bukan. Dari kekasihku,” ucap Aryo santai. Dia memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. “Aku dan Helga dijodohkan. Kami baru menjalin kasih dua bulan ini. Ibuku khawatir aku tak menikah. Karena itu aku dijodohkan dengan anak teman ibuku,” ujar Aryo sedikit terkekeh.
Vinnie sedikit terkejut mendengar ucapan Aryo. Pria yang sangat perhatian padanya ternyata memiliki kekasih. Apakah perlakuan baiknya murni hanya sebuah titah dari atasan? Ya, Krisan meminta Aryo untuk menjaganya. Semua yang dilakukan oleh Aryo adalah tugas. Benarkah seperti itu? Tidak adakah ketulusan di dalamnya? Atau, selama ini adalah bentuk kasihan karena dirinya hanya tinggal sendiri di kota besar?
Vinnie mencoba tenang. “Dijodohkan? Kau langsung menerima perjodohan itu?” tanyanya dengan nada normal, berusaha untuk santai.
“Entahlah. Aku hanya menjalani saja. Lagi pula, perempuan itu tidak buruk. Jadi, aku mencoba menjalani perjodohan ini. Dia pun tak pernah mengeluh dengan pekerjaanku yang hectic,” papar Aryo.
“Oh.” Vinnie menyentuh tengkuknya sendiri. “Aryo.”
“Ya,” jawab Aryo.
“Sepertinya aku lelah. Aku ingin istirahat,” ucap Vinnie. Hanya sebuah alasan yang dia buat agar Aryo meninggalkan rumahnya.
“Apa ada yang sakit?” tanya Aryo khawatir.
“Tidak ada. Aku hanya butuh istirahat. Sepertinya tidur akan membuatku jauh lebih baik.”
“Kalau begitu tidurlah. Aku akan berjaga di sini.”
“Kau tau perlu menjagaku lagi. Ini bukan rumah sakit, pasti melelahkan telah menjagaku selama ini. Aku sudah baik-baik saja. Pulanglah,” ucap Vinnie menahan sesak di dada yang tiba-tiba saja hadir.
Aryo sedikit canggung. “Baiklah.” Dia bangkit dari duduknya. “Akan aku beri tahu jika sudah dapat tiket nonton badminton. Helga pun suka badminton, kalian pasti bisa menjadi teman baik.”
“Oh, iya,” ujar Vinnie.
Aryo keluar dari rumah Vinnie. Sedangkan sang gadis masuk ke dalam kamarnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak makan yang berisi kulit apel berbentuk mawar. Vinnie menatap kulit mawar tersebut, dipindahkan kulit apel itu ke dalam kotak kaca. Diletakan dengan sangat hati-hati, dia mengusap lembut kulit apel berbentuk mawar tersebut sebelum ditutup. Tanpa sadar Vinnie meneteskan air matanya.
Mengusap kasar pipi yang dibasahi oleh air mata, entah mengapa dirinya menangis? Apa ini yang dinamakan patah hati sebelum memiliki?
__ADS_1