
“Apa masih ada nasi yang tertinggal?” tanya Anyelir.
Krisan terkesikap, dia terlarut memandang wajah cantik gadis di depannya. “Tidak ada, sudah bersih," ujarnya seraya menarik tangannya.
“Masakanmu enak,” puji Anyelir.
“Terima kasih.”
“Oh ya. Apa pekerjaanmu?” tanya Anyelir.
“Hanya seorang karyawan biasa.”
“Sampai malam seperti itu ya bekerjanya?”
“Oh, aku mengambil dua pekerjaan sekaligus. Setelah pulang kerja, aku bekerja paruh waktu di pom bensin.”
“Kau sangat pekerja keras. Pasti itu kau lakukan untuk biaya menikah ya? Kau bilang kau hampir menikah. Mantan calon istrimu itu pasti menyesal menyia-nyiakan pria pekerja keras sepertimu.”
Krisan sedikit canggung. Dia memang pekerja keras. Namun, bukan karena ingin menikah, melainkan ingin menjadi sukses demi tujuan hidupnya. Jangankan menikah, memikirkan tentang cinta pun tidak.
“Ya, dia pasti sangat menyesal.”
Anyelir sedikit bergeser, menoleh pada Krisan. “Apa kau ada photo wanita itu? Aku ingin melihat wajah wanita yang menolak dirimu. Pasti matanya buta.”
“Sudah tidak ada. Kau benar, dia buta.”
“Tenanglah, dia pasti menyesal. Aku yakin, masih ada wanita yang tertarik padamu.”
“Yang jelas harus tidak buta.”
“Ya benar.”
“Apa kau buta?” tanya Krisan.
“Ha?”
“Apa kau buta?” tanya Krisan lagi.
“Tentu saja tidak!”
“Kalau begitu, kau tidak akan meninggalkanku bukan?” tanya Krisan dengan wajah yang tegang.
Anyelir terdiam, sejenak tak mengerti ucapan dari Krisan. Sang pria menatap sang gadis dalam. Pertama kali hatinya bergetar oleh seorang gadis. Selama ini, tak ada yang bisa menggetarkan hatinya.
Tatapan jernih gadis di depannya sukses membuatnya bergeming. Hatinya berdebar, dia yakin saat ini dirinya sedang jatuh cinta, pada gadis yang baru beberapa jam ditemui.
Anyelir hanya menggaruk pipinya yang tak gatal. Dia akui, pria di depannya membuat dirinya nyaman.
***
Hari-hari berlanjut, sudah hampir sebulan Anyelir tinggal di rumah Krisan. Mereka hidup dengan damai. Meskipun, Anyelir tidak bisa membantu apapun di rumah itu. Semua pekerjaan rumah, Krisan yang lakukan sehabis pulang kerja dan dirinya tak pernah sedikitpun mengeluh pada Anyelir.
Krisan memperkenalkan Anyelir sebagai adiknya dari kampung pada para tetangga. Masyarakat tempatnya tinggal masih tabu akan tinggal seatap tanpa hubungan pernikahan. Karena itu, Krisan terpaksa menjadikan Anyelir sebagai adiknya.
“Kau bawa apa?” tanya Anyelir antusias.
“Aku bawa sate. Kita makan bersama,” ajak Krisan.
__ADS_1
Anyelir membawa tas kerja Krisan. Mereka makan bersama.
“Enak,” ujar Anyelir.
“Apa kau suka?”
“Ya.”
Krisan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Ini formulir pendaftaran. Kuliahlah, aku akan berusaha membiayai pendidikanmu.”
Tatapan Anyelir terfokus pada brosur dan juga formulir yang sedang dipegang Krisan.
“Apa kau serius?” tanya Anyelir melebarkan matanya.
“Tentu. Aku akan bekerja dengan giat agar kau bisa kuliah.”
Anyelir langsung berhambur menghampiri Krisan dan memeluknya. “Terima kasih, aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi padamu. Kau benar-benar Kakak yang baik,” tutur Anyelir.
“Tapi aku bukan Kakakmu,” ujar Krisan serius.
“Ya, aku tahu. Kau bilang pada tetangga bahwa kita saudara karena takut digrebek ‘kan?”
“Ya,” lirih Krisan.
Anyelir mengurai pelukannya. Dia tersenyum manis pada Krisan. “Terima kasih.”
“Anyelir.”
“Ya.”
Krisan mengedipkan matanya sekali, dia sedikit gugup. “Kita sudah hampir sebulan tinggal seatap. Tidak bisa selamanya berpura-pura sebagai adik dan kakak. Lambat laun, orang lain pasti akan tahu. Tidak hanya takut hinaan dari orang lain jika mengetahui kita tinggal seatap tanpa hubungan resmi. Namun, apa yang kita lakukan pun salah. Tidak sebaiknya kita tinggal serumah.”
“Bukan seperti itu,” sanggah Krisan.
“Lalu?” tanya Anyelir dengan mata yang mengembun.
“Aku ingin kau menjadi istriku.”
“Ha? Apa kau sedang melamarku?”
“Ya. Maukah kau menjadi istriku?” tanya Krisan yang tiba-tiba berlutut dengan kaki sebelah. Di tangannya terdapat sebuah cincin.
“Aku ….”
Anyelir terdiam, dia tak memberi jawaban pada Krisan. Usianya belum genap 19 tahun. Dirinya pun tak tahu apakah siap menikah muda.
“Aku tidak bisa memasak, aku tidak bisa beres-beres. Aku takut, tidak bisa menjadi istri yang baik. Tapi, aku juga tak ingin jauh darimu,” ujar Anyelir.
Krisan menatap Anyelir. Dia tahu gadis di depannya masih sangat belia. Hidup sebulan bersama dengan Anyelir, sudah cukup untuk mengenal gadis itu.
Anyelir adalah sosok gadis manja, gadis yang terlahir dari keluarga kaya yang tak pernah hidup susah. Ditambah lagi dengan usia yang sangat muda, tidak heran jika gadis itu masih sangat labil. Namun, yang disuka Krisan adalah, gadis itu tak mengeluh dengan kesederhanaan yang diberikan olehnya.
“Apa selama ini aku memintamu mencuci piring?” tanya Krisan.
Anyelir menggeleng. “Tidak,” jawabnya pasti.
“Apa aku memintamu memasak?”
__ADS_1
“Tidak,” jawab Anyelir lagi.
“Apa kau tak mencintaiku?” tanya Krisan lagi.
“Apa kau mencintaiku?” tanya Anyelir kembali.
“Apa aku akan melamar wanita tanpa cinta?”
Anyelir menyerengitkan dahinya. “Kau memintaku menikah denganmu untuk menggantikan posisi mantan calon istrimu itu?”
Krisan sudah merasa pegal karena cincin yang dia sodorkan tak kunjung disambut oleh Anyelir. “Tentu tidak. Karena wanita itu tak pernah ada.”
“Maksudmu? Bukankah kau bilang hampir saja menikah?”
“Aku hanya bergurau. Itu kulakukan agar kau mengurungkan niatmu untuk bunuh diri.”
“Jadi kau menipuku?” tanya Anyelir sedikit meninggikan suaranya.
“Kalau tidak seperti itu, kau akan melompat bukan?”
“Tapi tidak boleh dengan cara berbohong.”
“Baiklah. Aku tidak akan berbohong lagi. Sekarang, kau menerima lamaranku tidak?”
Anyelir mengigit bibirnya. “Tapi, bukankah kita masih terlalu muda untuk menikah?”
“Ya aku tahu usiamu masih sangat muda. Namun, aku tak ingin kita tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan.”
“Apa kau mencintaiku?”
“Aku tahu ini terlalu cepat. Aku pun tak tahu apakah debaran di hatiku setiap melihatmu adalah cinta, karena aku pun belum pernah jatuh cinta. Namun, yang aku tahu, aku selalu ingin bersamamu.”
Anyelir menatap pria yang sedang berlutut di depannya. Dia menatap lekat wajah sang pria penyelamatnya. Dia pun bergetar setiap berdekatan dengan Krisan. Pada akhirnya, dia menganggukkan kepala.
Krisan tersenyum lebar, dia menyematkan cincin di jari manis Anyelir. Tidak lama, mereka pindah kontrakan dekat dengan kampus Anyelir mengemban ilmu. Pernikahan mereka dilaksanakan secara sederhana.
Anyelir tidak keberatan dengan pernikahan sederhana itu. Selama menjalani pernikahan, Krisan selalu memanjakannya. Tidak sekalipun membiarkan Anyelir kesulitan. Tidak sekalipun dia membentak sang istri. Meskipun, banyak kekurangan dari diri istrinya.
Anyelir tidak pernah membantu pekerjaan rumah. Tinggal berdua membuat Anyelir memilih untuk membeli makanan di warung dari pada harus memasak. Bahkan, pekerjaan rumah pun Krisan yang melakukannya.
Krisan berusaha keras untuk menjadi sukses. Tidak sedikit yang menganggapnya pria bucin, pria itu rela mengeluarkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan sang istri. Meskipun bukan barang mewah, Anyelir tidak kekurangan pakaian, tidak pernah kekurangan perawatan tubuh. Dia berusaha keras untuk bisa membiayai pendidikan Anyelir. Hingga akhirnya, dirinya bisa mendirikan perusahaannya sendiri di usia pernikahan mereka yang keempat.
“Apa kau suka?” tanya Krisan menoleh pada sang istri sejenak lalu menatap rumah mewah di depannya.
Anyelir mengangguk dengan semangat. “Sangat suka. Terima kasih,” ujarnya dengan menitikkan air mata.
“Mengapa menangis? Aku bekerja keras untuk melihatmu tersenyum dan bukannya menangis,” ujar Krisan mengelap air mata istrinya.
“Aku menangis karena bahagia. Kau sudah berusaha keras hanya untuk melihatku bahagia. Kau bukan hanya sekadar suami. Kau malaikatku, my guardian angel!” isak Anyelir semakin keras.
Krisan memeluk sang istri. “Terima kasih karena telah bersedia menemaniku dari nol. Aku mencintaimu, Anyelir.”
“Aku pun mencintaimu, Mas.”
“Jangan pernah meninggalkanku!”
“Aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau yang memintaku untuk pergi.”
__ADS_1
“Jangan bicara sembarangan, aku tidak akan meninggalkanmu!”
“Ya, aku percaya.”