
“Makna mengajak makan ramen di Korea Selatan bisa digunakan sebagai ajakan seseorang untuk mengundang pacarnya untuk bermalam di tempatnya untuk kegiatan yang lebih intiim,” ucap Miranda membaca informasi dari ponselnya.
“Ya, memang seperti itu. Apa kau baru tahu? Di drama-drama seperti itu. Aku bahkan tahu dari drama korea ‘what's wrong with secretary kim’,” papar Cindy.
“Benarkah?” tanya Miranda memastikan. Dia terpikirkan dengan pertanyaan Renan saat mereka makan mie instan, Renan menanyakan dirinya tahu atau tidak arti undangan makan ramen. Sehingga membuat dirinya mencari informasi di internet.
“Kenapa wajahmu terkejut?” tanya Cindy.
“Aku mengajak Renan makan ramen,” gumam Miranda. Wajahnya pias.
Cindy seketika tertawa terbahak-bahak. “Itu hanya di negri ginseng. Kalau di sini tak bermakna apapun," timpalnya.
Miranda tak akan mengatakan pada Cindy penyebab dirinya mencari informasi karena Renan yang terlebih dahulu menanyakannya. Dia yakin, Renan sudah tahu tentang mitos tersebut.
...****************...
"Kenapa diam saja?" tanya Krisan yang melihat Anyelir membiarkan kapas menempel di pipi.
Anyelir tersadar, dia segera menyelesaikan penggunaan toner-nya. "Apa kau sudah pernah bertemu dengan kekasih Aryo?"
Krisan menggeleng. "Belum. Kenapa?"
"Hari ini, aku bertemu dengannya. Tapi tidak melihatnya," ucap Anyelir.
"Bertemu tapi tidak melihat. Bagaimana ceritanya?"
"Pada saat kami pulang ...." Anyelir menghentikan ucapannya. Hampir saja dia mengatakan bahwa dirinya baru saja dari makam orang tuanya. Dia tahu Krisan tak akan marah jika mengatakannya. Hanya saja, Anyelir masih belum bisa menerima kenyataan sesungguhnya.
"Aku terlalu fokus dengan iPad. Hampir saja kami kecelakaan karena Vinnie tak fokus berkendara," sambung Anyelir.
"Apa? Kecelakaan?" tanya Krisan menghampiri sang istri. "Apa kau terluka?" tanyanya panik.
Anyelir menepis tangan suaminya yang menangkup wajahnya. "Aku bilang hampir! Vinnie lalai berkendara karena melihat kekasih Aryo bermesraan dengan pria lain di dalam mobil!" serunya.
"Syukurlah kau tidak apa-apa. Mulai sekarang gunakan saja sopir. Biar kalian lebih aman." Dia menarik lengan Anyelir hingga membuat wanita itu berdiri. Krisan memutar tubuh sang istri untuk memastikan kondisi istrinya.
"Aku sedang bercerita tentang Aryo!" tegas Anyelir. Suaminya seperti tak terlalu mendengarnya bercerita.
"Iya aku dengar. Tapi, aku lebih tertarik jika itu berkaitan denganmu."
"Kau tidak peduli pada sahabatmu itu?" telisik Anyelir.
"Tentu aku peduli. Bahkan mereka sudah bertunangan. Aku sudah tahu itu. Aryo pun mengatakan padaku kekasihnya itu sangat mencintainya."
"Kris! Kau tidak kasihan pada Aryo jika Aryo diselingkuhi?"
"Siapa yang bilang kekasihnya berselingkuh? Kau lihat sendiri?"
"Tidak. Tapi Vinnie yang melihat."
"Jangan asal menuduh jika kau tak melihatnya secara langsung. Jika tak benar akan menjadi fitnah. Lagi pula, Aryo tidak bodoh. Dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."
__ADS_1
Anyelir hanya menghela napasnya. Ya, dia pun tak bisa langsung menuduh. "Oh ya, saat Aryo ke kantor. Dia bilang akan diadakan ulang tahun perusahaan. Apa benar?"
"Ya. Rencananya hanya mengadakan di kantor. Buat acara makan malam bersama para karyawan dan juga para keluarganya. Seperti layaknya family gathering saja. Tapi nanti akan ada outing juga untuk para karyawan."
Anyelir terdiam. Dia tak begitu mendengar Krisan tentang ulang tahun perusahaan. Dirinya masih memikirkan Aryo.
"Nanti kau juga harus datang," ujar Krisan memecah lamunan Anyelir.
"Aku bukan karyawanmu!" elak Anyelir.
"Tapi kau istriku. Tidak hanya karyawan yang diundang, keluarganya juga boleh datang."
"Ya, ya, ya. Nanti aku pikirkan."
"Masih harus dipikirkan?" tanya Krisan meninggikan suaranya. Anyelir hanya terkekeh melihat suaminya cemberut.
...----------------...
{Selesai syuting jam berapa?}
Miranda tersenyum saat melihat chat dari Renan. Tentu dia langsung membalas chat itu.
{Selesai pukul 8}
{Aku jemput di lokasi}
{Baik.}
"Aih! Kau sudah tak membutuhkan aku sebagai asistenmu?"
"Sudah, jangan banyak bicara!" ketus Miranda.
"Baiklah, baiklah! Aku harap dia tulus padamu."
Miranda hanya tersipu malu. Dia menunggu kedatangan Renan.
"Kau sudah mau pulang?" tanya Bram. Seorang sutradara.
"Ya," jawab Miranda.
"Jangan pulang dulu. Kita makan-makan dulu. Rating kita naik. Kau harus datang. Semua juga berkat kerja kerasmu."
Miranda hanya menggigit bibir dalamnya. "Apa aku boleh mengajak seseorang?"
"Apa kau ingin mengajak kekasihmu?" tanya Bram.
"Ya," jawab Miranda singkat.
Miranda langsung menghampiri Renan saat pria itu tiba. "Ada acara perayaan. Rating drama kami naik. Apa kau mau ikut?"
"Aku antar kau saja. Tidak enak jika aku bergabung. Aku bukan orang film," jelas Renan.
__ADS_1
"Aku sudah izin sutradara. Bergabunglah," bujuk Miranda.
Renan menyetujui ajakan Miranda. Mereka masuk ke dalam club malam. Minuman beralkohol dihidangkan. "Tidak usah minum," bisik Renan.
Miranda hanya melirik Renan. "Ya," lirihnya seraya menatap minuman beralkohol di depannya. Dia menelan liurnya sendiri. Bagaimanapun Miranda pernah menjadi pecandu alkohol.
"Kau tidak minum?" tanya Bram.
"Tidak," lirih Miranda.
Bram melirik Renan. "Kau juga tidak minum?"
"Tidak," lirih Renan.
"Kalian hidup sangat sehat," ujar Bram.
Renan hanya tersimpul senyum. Ya, dia memang sangat menjaga tubuhnya. Bukan tak menyukai pesta. Renan sudah lama meninggalkan dunia seperti itu.
Miranda mulai tak nyaman berada di sana. Jiwa liarnya ingin sekali menenggak minuman tersebut. Renan melirik Miranda yang sedikit gelisah. "Apa kita pulang saja?" bisiknya.
"Bolehkah? Aku tak enak dengan yang lainnya," jawab Miranda juga berbisik. Meskipun, belum tentu orang yang berada di sana mendengar mereka karena musik begitu bergelegar.
Renan hanya melirik sekeliling. "Kita tunggu sebentar lagi."
Hanya menunggu 10 menit, Miranda mencoba pamit pada sang sutradara.
"Kau ini, semenjak mempublikasikan kekasihmu menjadi tidak betah pesta!" dengus Bram.
Miranda hanya tersenyum. Dia menggandeng lengan Renan dan keluar dari club malam tersebut. Renan berjalan selangkah di depan Miranda dengan tangan yang masih saling melekat.
Club penuh dengan pengunjung. Miranda menguatkan pegangan tangannya pada Renan. Banyak orang berlalu lalang hingga dirinya menabrak orang lain.
"Auh! Maaf," ucap Miranda. Pundaknya menabrak seseorang.
"Tidak apa," ucap seorang pria. Dia melirik Miranda lalu melirik pria di depannya. Memicingkan mata untuk memastikan. "Renan!" serunya.
Renan menoleh ke sumber suara. Dia sedikit melebarkan matanya. "Qiaz," lirihnya.
"Ya, ini aku," ucap Qiaz menatap Renan dan pandangannya jatuh pada tangan Miranda yang sedang menggenggam tangan Renan erat.
"Hai," ucap Renan. "Kau di sini?"
"Ya, baru beberapa hari," jawab Qiaz. "Kau tak memperkenalkannya padaku?" tanya Qiaz melirik Miranda.
"Oh. Ini Miranda," ucap Renan.
Miranda mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Qiaz. "Miranda," ucapnya. Dia menelisik Qiaz dari atas hingga bawah. Pria yang tidak jauh dengan Renan. Kulit bersih dan sangat menjaga penampilan.
"Qiaz," ucap Qiaz. Dia menoleh pada Renan. "Kau tampak bahagia."
Renan hanya tersenyum. Dia langsung pamit dan mengajak keluar Miranda. Sedangkan Qiaz hanya menatap punggung temannya itu.
__ADS_1
Qiaz mencari tempat sepi, dia mengeluarkan ponsel dan mencari kontak seseorang. "Mantanmu ... sepertinya sudah menemukan pengganti dirimu."