
"Ayah bukan pembunuh," gumam Anyelir. Dia sangat yakin bahwa ayahnya bukan seorang pembunuh. "Paman Petra. Ya, mungkin dia tahu."
Anyelir mengambil ponselnya, mencari kontak nomor sang paman. Belum sempat menghubungi, pintu kamar ada yang membuka. "Kenapa kau ada di sini?" tanya Anyelir menatap Krisan yang menerobos masuk ke dalam kamar.
"Meluruskan semuanya," ucap Krisan rendah. Ya, dia harus gerak cepat. Kesalahannya membiarkan masalah berlarut tak akan diulangi lagi. Sudah cukup baginya berpisah 3 tahun hanya karena dirinya mengulur waktu menyelesaikan masalah.
"Kau membohongiku selama ini!" ketus Anyelir.
"Aku tahu aku salah telah menyembunyikan ini. Aku rasa, kau tak perlu tahu akan hal ini ...."
"Dan kau akan tetap menganggapku sebagai seorang anak pembunuh!" potong Anyelir.
Krisan menggeretakan gigi untuk mengontrol emosinya. Pada saat itu, dirinya masih teramat kecil. Namun, tatapan ayah Anyelir masih sangat diingatnya. Ingin membalas dendam pun tak mampu. Orang yang menjadi penyebab kematian orangnya pun sudah tak ada. Tidak mungkin dia melampiaskan pada Anyelir. Sudah cukup kebodohan yang ia buat. Meskipun Anyelir adalah anak dari pembunuh orang tuanya, dirinya sangat mencintai wanita itu.
"Kita tak bisa mengubah masa lalu. Apapun yang terjadi pada orang tua kita, itu tidak ada hubungannya dengan kita. Kita hanya seorang anak-anak pada saat itu."
"Kau juga tak bisa menerima kenyataan itu dengan mudah bukan?” tanya Anyelir dengan nanar. Jika Krisan bisa mudah mengatakan tak akan ada yang pernah berubah. Maka, mengapa sebelumnya dia pernah diabaikan hingga diceraikannya? “Kau mempercayai apa yang kau yakini. Hingga kau mengabaikanku dan menceraikanku!”
__ADS_1
“Aku tahu, aku salah pada saat itu. Aku menyadarinya, aku mencoba untuk berdamai, Anyelir. Yang terpenting saat ini, kau adalah istriku. Kita saling mencintai. Kita ... lupakan hal itu.” Krisan mencoba untuk meraih lengan sang istri. Namun, Anyelir langsung menepis tangan Krisan. “Sayang ….”
Anyelir mengusap wajahnya dengan kasar. “Kita tak akan bisa seperti dulu lagi.” Dia tak ingin ditatap oleh suaminya sebagai anak pembunuh. “Ayahku tak mungkin melakukan itu,” lirihnya. Tubuh Anyelir luruh, dia terduduk di lantai, menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang dengan dahi bertumpu pada lutut.
“Tentu kita inginkan yang terbaik untuk kehidupan kita. Akupun ingin mengubah masa lalu. Tak ingin diriku besar di panti asuhan. Ingin tidur dalam dekapan seorang ibu. Ingin diajarkan oleh ayahnya merangkai puzzle. Ingin dimanja dengan masakan seorang ibu, ingin diusap kepalanya sebelum tidur. Tapi, kita tak mungkin bisa kembali ke masa lalu. Jikapun bisa, apakah bisa mengubahnya?” Krisan mulai menekuk lututnya perlahan. Berlutut di depan sang istri yang menyembunyikan wajahnya.
“Aku memang menyelidiki kematian orang tuaku saat hidup kita mulai mapan. Ada dendam di hati ini sejak kecil. Ingin membalas orang yang merenggut masa kecilku. Apa kau tahu, bagaimana kematian orang tuaku?” tanya Krisan dengan suara bergetar.
Anyelir mendongak dengan air mata yang mengalir. Dia hanya bisa menatap sang suami. “Aku baru saja pulang sekolah, saat itu sore hari. Aku berlari untuk menemui ayahku. Namun, belum juga masuk ke dalam rumah, yang kutemui adalah jasadnya di halaman depan rumah,” jelas Krisan.
Dia hanya seorang anak kecil, sebelum dirinya menemukan jasad orang tuanya. Dia berpapasan dengan sebuah mobil di halaman rumahnya. Seorang pria dewasa membuka sedikit kaca jendela dan menatapnya. Hanya mata pria itu yang dilihat Krisan. Mata yang sangat mirip dengan Anyelir.
Ya, Krisan ingin bebas dari belenggu masa lalu kelam. Seorang bocah kecil yang masih berusia 8 tahun dan tak begitu mengetahui keadaan. Melihat ayahnya terbujur kaku, dia hanya tahu penyebab kematian ayahnya adalah jatuh dari lantai 2 rumahnya. Hanya itu yang ia ketahui. Namun, pria di dalam mobil membuat dirinya memiliki pemikiran sendiri dan mulai menyelidiki saat dia memiliki kuasa.
Anyelir tak henti meneteskan air mata. Dia tahu beratnya hidup Krisan. Kisah hidup di panti asuhan sudah pernah diceritakan olehnya. Hasil penyelidikan itu, dia pun masih belum bisa menerima kenyataan. Dia sangat yakin bahwa ayahnya bukan seorang pembunuh. Namun, bukti sudah sangat jelas. Bagaimana bisa dirinya berdiri tegak di depan suaminya? Anyelir tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
“Terlepas siapa latar belakang kita. Aku tidak peduli, yang aku tahu, kau adalah Anyelirku,” ucap Krisan pasti.
__ADS_1
Tak mungkin dirinya membalas dendam pada Anyelir. Dirinya begitu mencintai wanita di depannya. Hasil penyelidikan begitu menyakitkan. Ayah Anyelir bisa bebas begitu saja dari jerat hukum. Tak ada alasan lagi untuknya membalas dendam. Orang yang menjadi penyebab kematian orang tuanyapun sudah tak menginjak kaki di bumi ini. Ya, dia hanya ingin berdamai dengan masa lalu. Merangkai masa depan dengan istrinya. Krisan beralih ke samping sang istri, dia ikut bersandar pada ranjang.
“Kehadiranmu, membuat hidupku bahagia. Aku memiliki tujuan lain dalam hidupku. Ingin menua bersamamu dengan damai.” Krisan menyandarkan kepalanya ke ranjang, dia menatap langit-langit kamarnya.
Anyelir menoleh pada sang suami. Menatap sisi samping wajah Krisan. “Bagaimana denganku? Menyangkal tak bisa. Bagaimana caraku berdiri di depanmu? Apa aku harus menebus kesalahan ayahku? Bagaimana caramu menatapku? Bayangan itu akan selalu ada di dirimu.”
Meskipun berat mengetahui kebenaran. Meskipun dirinya hancur saat orang tuanya meninggalkan dirinya sendiri. Namun, apa yang sudah dilewati Krisan jauh lebih berat dari yang ia alami. Hidup sebatang kara dan harus berjuang hidup dengan bayang-bayang kelam.
Krisan menoleh pada sang istri. Dia mengulurkan tangan dan mengusap pipi sang istri. “Kau tidak perlu melakukan apapun. Jadilah dirimu sendiri, dan aku hanya akan menatapmu sebagai Anyelir. Bayangan itu pasti ada. Namun, semua itu sudah menjadi pudar dengan kau yang ada di sisiku. Tolong jangan pernah meninggalkanku, tetaplah di sampingku.”
Anyelir tak henti meneteskan air mata. Krisan langsung menarik Anyelir dalam pelukannya. “Bagaimana bisa takdir kita seperti ini?” isak Anyelir yang membuat suaranya terbata.
“Kita tak bisa mengubah masa lalu. Kita pun tak mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di masa lalu. Tapi kita bisa merencanakan masa depan. Kita layak untuk bahagia, dan aku hanya ingin bahagia bersamamu.”
“Tetap saja menyesakan,” lirih Anyelir.
“Ya, aku tahu.”
__ADS_1
Krisan semakin erat mendekap sang istri, dirinya ikut menangis bersama Anyelir. Meskipun menyakitkan, tetapi ada kelegaan di hati Krisan. Tidak ada lagi hal yang disembunyikan. Bebannya telah berkurang. Sekarang, dirinya hanya ingin menyongsong masa depan yang indah.