Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 7 Anyelir Putih


__ADS_3

“Kau cantik sekali,” ujar Krisan.


Anyelir hanya menundukkan kepala malu. “Apa sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri?” tanyanya.


“Apa kau pikir tadi hanya permainan?”


“Tidak.” Anyelir menggeleng. Meskipun pernikahan mereka teramat sederhana. Namun, ia tahu mereka benar-benar telah menikah.


“Maafkan aku, tidak bisa memberikanmu pernikahan yang megah. Tapi, aku akan berusaha untuk membahagiakanmu. Aku berjanji, akan membuat dirimu hidup berkecukupan seperti yang selama ini orang tuamu berikan.”


Anyelir menggeleng. “Tidak! Aku tidak mau kau seperti ayah ibuku. Aku tidak mau menuntutmu. Aku tidak mau karena diriku, kau menempuh jalur yang salah untuk mendapat kekayaan. Aku tak sanggup jika harus kehilangan lagi. Ayah dan ibu begitu menyayangiku, semua yang kuinginkan selalu diberikan. Tak pernah sekalipun mereka membentak atau menolak apa yang aku inginkan. Namun, hal itu membuat ayahku gelap mata. Demi kebahagian anak dan istrinya, dia mampu berbuat apapun. Meskipun, itu semua tindakan yang salah. Jadi, jangan lakukan hal yang melanggar hukum. Aku tidak ingin kehilangan dirimu.”


Krisan hanya tersenyum, menatap mata sang istri yang berembun. “Aku tidak akan seperti itu. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membuatmu bahagia dengan jalan yang benar.”


Anyelir menatap sang suami. “Buat aku selalu bahagia.”


Cup!


Krisan mencium sang istri untuk pertama kali. Anyelir mengedipkan mata karena terkejut. Itu adalah ciuman pertamanya.


“Apa itu ciuman pertamamu?”


Anyelir hanya menggigit bibirnya pelan, lalu sedikit mengangguk.


“Apa selama ini tak pernah pacaran?”


Anyelir menggeleng. “Ayah dan ibu tak mengizinkan. Lagi pula, aku tidak tertarik berpacaran.”


“Kenapa?”


“Kata ayah, boleh pacaran setelah usia 20 tahun. Tapi aku tak tertarik dengan hal itu. Temanku yang pacaran, pasti tak bisa bermain bersama lainnya karena pacarnya itu selalu melarang!” dengus Anyelir. Dia mengerucutkan bibirnya maju ke depan.


Krisan gemas melihat tingkah istrinya. Dia tahu, yang dia nikahi gadis muda berusia 18 tahun. Gadis manja yang masih memiliki pemikiran sedikit kekanakan.


Krisan menarik pinggang sang istri dan mendudukkannya di paha. Anyelir tak menolak, dia hanya menundukkan kepala. Krisan mengulurkan tangan, disentuhnya pipi sang istri lembut.


“Apa selama ini menggunakan produk kecantikan?” tanya Krisan menusuk pipi Anyelir dengan jari telunjuk.


Wajah istrinya begitu lembut dan kenyal, tak ada komedo atau pun jerawat di sana. Meskipun, memiliki dasar kecantikan alami. Namun, jelas sekali kulit Anyelir dirawat dengan sangat baik.


“Skincare. Tapi, tidak dengan make up.” Dia menoleh pada suaminya, orang tuanya tak memperbolehkan Anyelir menggunakan make up. Namun, untuk perawatan dari kepala hingga kaki, rutin dilakukan. “Apa aku sekarang sudah boleh menggunakan make up?”


Krisan mengerutkan dahi. “Apa beda skincare dan make up?”


“Tentu beda. Skincare itu hanya perawatan. Seperti membersihkan wajah hingga menggunakan moisturizer. Kalau make up itu seperti bedak, lipstik, blush on, eye liner. Pokoknya banyak."


Krisan menatap sang istri. “Tanpa make up pun kau sudah sangat cantik.”


“Jadi tidak boleh?”


“Bukan tidak boleh. Sangat boleh, tapi jangan berdandan terlalu cantik di luar. Di rumah saja cantiknya. Untukku saja.”


Anyelir tersenyum bahagia. “Aku mau coba merias diri,” ujarnya bersemangat.


“Tapi tidak untuk ke kampus. Cukup skincare kalau ke kampus.”

__ADS_1


“Baiklah.”


“Oh ya, merk apa biasanya menggunakan skincare?”


Anyelir menyebutkan beberapa brand skincare yang dia gunakan. Mulai dari wajah, rambut dan perawatan tubuh. Krisan hanya mengernyitkan dahi setelah mendengar merk yang disebutkan oleh Anyelir.


Tanpa datang ke store, Krisan bisa membayangkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan. Mungkin ini yang dibilang resiko memiliki istri cantik.


“Aku pastikan kau tidak akan kekurangan apapun!” ujar Krisan penuh yakin, meskipun hatinya menangis karena harus berusaha keras memenuhi kebutuhan istrinya.


“Aku bisa menggunakan brand apapun. Kulitku tidak s*nsitif,” ujar Anyelir menelisik wajah sang suami yang terlihat terbebani.


Krisan tertawa karena sang istri bisa membaca raut wajahnya. Begitu pula dengan Anyelir yang ikut terkekeh.


Sang pria menggendong istrinya masuk ke dalam kamar pengantin. Hati Anyelir berdesir, panik, tak tahu apa yang harus dilakukan.


Perlahan, Krisan merebahkan Anyelir di atas ranjang. Mereka tak menggunakan pakaian pernikahan. Anyelir hanya menggunakan dress panjang berwarna putih, sedangkan Krisan hanya menggunakan kemeja panjang.


Krisan menempelkan bibirnya pada bibir sang istri. Anyelir hanya melebarkan mata dangan hati yang berdebar. Pernikahan mereka bukanlah permainan. Bukan juga pernikahan kontrak untuk menghindari omongan orang lain karena mereka tinggal seatap.


Krisan menikahi Anyelir karena mencintainya. Bibir Krisan mulai bergerak, Anyelir masih mengunci rapat mulutnya. Jelas sang gadis tak berpengalaman.


“Buka mulutmu,” bisik Krisan.


Anyelir mematuhi sang suami dan sedikit membuka mulutnya, Krisan tak melewatkan kesempatan. Dia tahu Anyelir gugup, dia pun sama gugup dengan Anyelir. Namun, Krisan tak ingin menunda malam pertama mereka. Secara perlahan, dia melepas pakaian mereka berdua.


“Aku akan pelan-pelan,” ujar Krisan lagi.


Tangan Krisan terulur, menekan saklar. Seketika lampu padam. Suasana temaram nan hangat memenuhi isi ruangan. Air mata kebahagian lolos dari sudut mata Anyelir.


“Kris ....”


“Ya.”


“Apa ini kehidupan setelah menikah? Maksudku, apa kita akan sering seperti ini?" tanya Anyelir dengan wajah bersemu merah. Beruntung lampu kamar redup hingga dirinya tak terlihat seperti kepiting rebus.


Krisan berpikir sejenak. “Tentu, kita akan sering melakukan ini. Minimal sehari dua kali," ucapnya pasti. Krisan tak pernah menyangka, ternyata menikah begitu nikmat.


Anyelir hanya membentuk mulutnya huruf O. “Apa aku akan seperti tetangga sebelah?” tanya Anyelir.


Dia melihat tetangga sebelah mereka. Seorang istri yang terlihat sangat lelah mengurus segala sesuatu di rumah. Mulai dari memasak, bersih-bersih rumah, mengurus anak. Antar jemput anak sekolah. Belum lagi suami yang sering marah-marah dan hanya memiliki gaji kecil. Sehingga, terkadang sang istri harus menjadi kuli cuci.


Kehidupan seorang istri yang sangat berbeda sekali dengan ibunya. Anyelir menggigit bibirnya pelan. Berpikir nasibnya akan seperti itu atau tidak.


Krisan mengerti kekhawatiran istrinya, terlebih Anyelir masih begitu muda dan labil. Dia pun tahu bagaimana kehidupan tetangga mereka.


“Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Kau hanya perlu fokus pada keluarga kita. Kuliahlah hingga lulus dan jangan pikirkan apapun. Biar aku yang urus semuanya. Jangan pernah memikirkan orang lain berkata apa, karena kita yang menjalani rumah tangga.”


“Apa kau tidak keberatan dengan diriku yang seperti ini?”


Krisan mengeratkan pelukan pada sang istri. “Aku sangat yakin saat aku memintamu menjadi istriku. Apa kau tahu arti bunga anyelir?”


“Tidak.”


“Kenapa kau memilih dress putih untuk pernikahan kita? Jangan bilang padaku, bahwa gaun pernikahan identik dengan warna putih. Karena, saat kita bertemu, kau menggunakan pakaian putih. Baju-baju yang kau bawa, kebanyakan juga dress selutut berwarna putih. Bahkan untuk kuliahpun, kau meminta pakaian berwarna putih.”

__ADS_1


Anyelir tersenyum. “Sepertinya kau bisa menebak, bahwa aku menyukai warna putih.”


“Tentu, sangat terlihat kau suka warna putih. Karena itu, aku mengira kau kuntilanak yang sedang menyamar menjadi manusia.”


Pluk! Anyelir memukul dada sang suami. “Ih, jangan ingat lagi. Itu pengalaman pertamaku mendengar tawa seperti itu.”


Krisan hanya tersenyum. “Kau adalah anyelir putih, yang menandakan kepolosan, keberuntungan serta kesetiaan. Bunga untuk menunjukkan cinta yang murni dan kesetiaan.”


“Aku bahkan tak tahu arti namaku sendiri," timpal Anyelir.


Krisan mengecup pucuk kepala Anyelir. “Jadilah dirimu sendiri, dan tetap menjadi Anyelir yang penuh cinta.”


“Aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu,” ucap Anyelir sungguh-sungguh.


“Oh, tidak! Jadilah istri yang baik dan bukan yang terbaik!” ucap Krisan.


“Kenapa?” tanya Anyelir bingung.


“Karena jika terbaik, maka akan ada yang baik lainnya dan aku hanya ingin memiliki istri satu saja!”


“Kalau begitu, tunjukan saja bahwa kau mencintaiku dan jangan pernah bercerai dariku.”


“Kita tak akan bercerai, kita akan selalu bersama hingga tua nanti.”


“Maksudmu? Kita akan bercerai saat kita sudah tua?” tanya Anyelir menyipitkan mata.


Krisan mendengus.  “Iya, kita akan bercerai. Namun, cerai mati! Sampai ajal memisahkan kita saat kita tua nanti.”


“Lalu, jika aku dulu ya mati. Masa tuamu bagaimana? Kau akan kesepian.”


“Aku akan berdoa pada Tuhan, agar bisa menyusulmu.”


Anyelir mengerutkan dahi. “Jangan bahas kematian, kita baru saja menikah!” hardik Anyelir.


“Iya bener. Masih pengantin baru. Seharusnya kita enak-enak saja.”


Krisan langsung menindih kembali sang istri, mereka saling tatap. “Aku mencintaimu. Kau adalah milikku satu-satunya.”


“Aku juga mencintaimu dan akan selalu menjadi milikmu.”


Mereka tertawa bersama, Anyelir setuju dengan yang di katakan Krisan. Terbaik ada, jika ada kandidat yang baik lainnya dan dia bukanlah kandidat, melainkan satu-satunya yang ada di dalam hati Krisan.


*


*


Anyelir menatap air di sungai, air matanya menyumbang volume sungai yang memiliki kedalaman 30 meter. Sungai yang sangat dalam. Bayangan akan hari pertama mereka merubah status menjadi suami istri terasa begitu baru. Meskipun, itu semua sudah berlalu enam tahun yang lalu.


Sakit, dadanya terasa sakit. Tak pernah menyangka, saat Krisan membentaknya, terasa begitu menyayat hati. Terlebih dia langsung diceraikan sang suami dengan alasan bosan.


Apakah ini definisi tak pernah merasa sedih, sekalinya terluka akan sangat menderita? Apakah sikap dia terlalu berlebih menyikapi ini semua dengan derai air mata?


Mana janji yang dia ucapkan untuk selalu bersama hingga, status mereka berganti menjadi cerai mati? Yang ia terima, dia dicerai hidup.


Anyelir melepas satu tangannya pada handrail jembatan, menutup matanya. “Bukankah kau bilang kita akan cerai mati?” lirih Anyelir.

__ADS_1


__ADS_2