
Napas Anyelir tersengal, dia mencoba mengatur napasnya. Matanya belum mengantuk, dirinya begitu rindu pada suaminya. “Apa kau tidak lelah setelah penerbangan panjang?”
“Tidak, baru saja isi daya,” ujar Krisan.
Pluk! Anyelir menepuk dada sang suami. “Kau ini!”
“Aku selalu bersemangat jika bersama denganmu.”
“Terima kasih,” lirih Anyelir.
Krisan melebarkan matanya. Tidak biasanya sang istri berterimakasih setelah percintaan mereka. Dia mencium kening sang istri lagi. “Terima kasih untuk apa?” tanyanya.
“Terima kasih telah membeli kembali rumahku,” lirih Anyelir.
“Kau tahu?”
“Ya, aku ke sana kemarin.”
“Apa kau senang?”
“Tentu. Kenapa kau tak bilang padaku?”
Krisan terdiam sejenak. Dia berhasil mendapatkan rumah itu sebelum dirinya tahu penyebab kematian orang tuanya. Berencana memberi kejutan pada sang istri. Namun, dalam proses renovasi rumah itu, Krisan mengetahui penyebab kematian orang tuanya. Karena itu, dia tak sempat memberi tahu Anyelir.
“Waktu itu belum selesai direnovasi dan kita terlanjur berpisah,” jelas Krisan pelan. Tatapannya menurun, mengingat keputusan gegabah yang disesalinya.
“Oh," lirih Anyelir.
“Maaf, aku telat memberitahumu,” lirih Krisan.
“Tidak apa.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berita tentang Miranda belum surut. Kejadian di depan Mall diabadikan oleh para pengunjung Mall. Miranda yang ditarik dari kerumunan oleh seorang pria, membuat berbagai spekulasi baru.
Hanya pernyataan singkat yang dibuat oleh Miranda di media sosialnya bahwa dia dan Krisan tidak ada hubungan apapun. Bahkan dia sudah meminta maaf karena pernyataannya membuat pihak lain merasa dirugikan.
Ada yang masih mencelanya, ada pula yang memuji jiwa besar artis itu. Terlebih, ada sosok pria yang melindungi Miranda dari kerumunan orang banyak. Menimbulkan opini tunangan Miranda yang sesungguhnya.
"Kau seharusnya membuat konferensi persnya!" dengus Cindy.
"Buat apa?" sungut Miranda. "Orang-orang saja yang memperlebar masalah!" tambahnya.
"Kau akan tetap menjadi buruan reporter. Mungkin masyarakat bisa melupakan kasusmu dengan Krisan tapi tidak dengan pangeran berkuda hitam yang menolongmu itu!" cerocos Cindy.
"Pangeran berkuda hitam?" tanya Miranda dengan menghina. "yang ada si tukang menyebalkan!"
"Bagaimanapun, dia yang menolongmu. Mereka akan bertanya hubunganmu dengannya!" dengus Cindy. "Kau akan jawab apa jika ditanya hubungan kalian? Jangan lupakan, kau pernah bilang dirimu sebenarnya sudah bertunangan. Bisa saja orang lain berpikir Renan adalah tunanganmu."
__ADS_1
"Aku tidak bisa membayangkan jika bertunangan dengan orang seperti dia! Hari-hari ku bagai di neraka jika hidup dengannya!" sungut Miranda.
"Membencinya tapi bisa menciumnya!" ejek Cindy.
"Hei! Itu hanya ucapan terima kasih! Apa aku tidak pernah menciummu? Bukankah cium pipi kanan kiri sudah menjadi budaya?" Miranda menaikan sebelah alisnya.
"Ya, ya, terserah dirimu saja!" dengus Cindy. "yang penting karirmu terus berjalan," tambahnya.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Miranda mengalihkan pembicaraan.
"Syuting iklan dan juga pemotretan."
"Ayo kita lakukan!"
...****************...
“Nona, kita harus mengunjungi pabrik pagi ini.”
“Ada meeting siang hari dan malam ini kita harus menghadiri launching produk baru.”
Vinnie membeberkan aktivitas Anyelir satu hari penuh. Kesibukan Anyelir membuat dia dan Krisan tak bisa bertemu walau hanya untuk makan siang. Anyelir akan pulang malam, begitu pula dengan Krisan.
“Kau sangat lelah,” gumam Krisan.
“Hmm.” Hanya gumaman yang keluar dari mulut Anyelir, dia tak membuka matanya.
Krisan hanya memeluk sang istri dalam pelukannya, tak tega melihat istrinya kelelahan karena bekerja. Ingin sekali membuat Anyelir berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya seperti masa silam. Namun, tentu dirinya tak akan mengekang Anyelir lagi.
“Vinnie, apa kau baik-baik saja?” tanya Anyelir melihat Vinnie yang tampak pucat.
“Ya, Nona. Aku baik-baik saja,” jawab Vinnie.
“Wajahmu tampak pucat,” ucap Anyelir memicingkan mata. Mereka sedang ada di area proyek, matahari siang ini sangat terik.
“Tidak apa, Nona.”
“Kita cari tempat sedikit sejuk,” ujar Anyelir.
Anyelir berjalan terlebih dahulu, Vinnie mengikuti dari belakang. Baru tiga langkah, Vinnie jatuh tak sadarkan diri.
“Vinnie!” teriak Anyelir melihat Vinnie yang terkapar.
Vinnie pingsan karena kelelahan. Anyelir mengendarai mobilnya sendiri untuk mengantar asistennya ke rumah.
“Benar tidak perlu ke rumah sakit?” tanya Anyelir memastikan. Dirinya sudah membujuk Vinnie untuk pergi ke rumah sakit.
“Tidak perlu, Nona. Aku hanya butuh istirahat,” jawab Vinnie lemah.
“Kalau begitu, besok tidak perlu masuk. Istirahat saja seminggu ini.”
__ADS_1
“Seminggu? Aku rasa besok sudah bisa bekerja kembali.”
“Tidak. Istirahat saja beberapa hari ini. Kau baru pulang dari rumah sakit tak lama ini. Mungkin, kondisi tubuhmu masih belum stabil. Tak usah memikirkan pekerjaan. Kau pun sudah membuat jadwalku seminggu ini bukan?”
“Tapi, Nona ….”
“Tidak ada tapi! Ini perintah!” ucap Anyelir penuh penekanan.
Vinnie tak bisa membantah perintah Anyelir. Hingga akhirnya mereka tiba di kediaman Vinnie. Anyelir membuka pintu mobil untuk membantu Vinnie, dia melirik jam di tangannya. “Kau tidak apa sendiri? Aku tidak bisa menemanimu, masih ada meeting,” jelas Anyelir.
Vinnie tak nyaman diperlakukan sangat baik oleh Anyelir. Dia menggenggam tangan Anyelir dan keluar dari mobil. “Oh, tidak apa-apa, Nona. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena merepotkan.”
“Kau tidak merepotkan, kau sudah banyak membantuku,” ujar Anyelir tersenyum lalu masuk ke mobil. Dia melambaikan tangan dan melesat meninggalkan rumah Vinnie. Dia langsung menuju kantor.
Anyelir mengambil ponselnya, dia langsung menghubungi Renan. “Ren,” ujar Anyelir begitu Renan mengangkat panggilan teleponnya.
“Ya, ada apa?”
“Bisa kau menggantikan aku datang ke perjamuan? Aku ada meeting sore ini di kantor, Vinnie pun sedang sakit, baru saja dia pingsan. Jadi, aku menghandle semua sendiri. Gantikan aku datang ya?” pinta Anyelir tanpa memikirkan Renan sibuk atau tidak. Dia yakin, dirinya tak mungkin bisa hadir dalam jamuan.
“Baiklah, kirimkan saja undangannya padaku.”
“Akan aku kirim chat padamu.”
Tut! Anyelir langsung mematikan sambungan teleponnya.
“Apa-apan dia!” dengus Renan menatap layar ponselnya. Tidak lama, chat masuk ke dalam ponselnya. Undangan yang dikirim oleh Anyelir. Renan bersiap datang ke perjamuan. Banyak pelaku bisnis yang hadir.
Krisan dan Aryo sudah sampai terlebih dahulu ke tempat jamuan. Krisan melihat Renan dan menghampirinya. “Kau datang?” tanyanya pada Renan, matanya mengedar.
“Dia tak datang!” ucap Renan tak menjawab pertanyaan Krisan. Dia tahu, yang dicari adalah Anyelir.
“Kenapa?” tanya Krisan.
“Masih meeting.”
“Apa sedang sesibuk itu?”
“Ya, begitulah. Apalagi asistennya sedang sakit,” jelas Renan.
“Vinnie sakit?” tanya Aryo yang sedari tadi diam.
“Ya, katanya tadi siang pingsan.”
“Apa? Pingsan? Kenapa?” tanya Aryo khawatir.
“Aku tidak tahu, Anyelir tak mengatakan lebih lanjut,” jelas Renan.
Krisan menepuk pundak Aryo. “Kau di sini gantikan aku. Jika ada yang menanyakanku, bilang saja aku masih ada urusan.”
__ADS_1
Aryo hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Dia baru saja ingin izin untuk melihat kondisi Vinnie. Namun, atasannya yang gila cinta sudah terlebih dahulu pergi untuk menemui istrinya.