Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 35 Fitnah


__ADS_3

Membuka lemari pakaian yang tersedia di dalam apartemen suaminya. Tidak sulit bagi Anyelir menemukan pakaian yang pas untuknya.


Tak perlu khawatir apakah pakaian tersebut milik wanita lain. Pakaian yang terjejer rapih adalah miliknya yang memang sudah disiapkan oleh Krisan. Semua yang tersedia adalah barang baru yang belum pernah digunakan oleh orang lain.


Anyelir memadukan kemeja biru beraksen tie neck yang unik. Mengikat membentuk pita di atas dada, sehingga tidak membutuhkan tambahan aksesoris untuk tampak lebih ceria.


Dia mengambil pencil skirt berwarna kontras yang akan menonjolkan atasannya. Memasukan kemeja ke dalam rok yang digunakan.


Perpaduan warna kemeja baby blue dan rok putih ini tetap memberikan kesan feminim dan dengan cara yang lembut dan tidak berlebihan.


Krisan melihat sang istri yang sedang bersiap ke kantor. Memperhatikan bentuk tubuh sang istri. Tidak ada blouse ketat yang dipadukan oleh blazer, seperti yang sering digunakan oleh istrinya.


Kemeja dan rok pencil sangat cocok ditubuh sang istri. Krisan membawa sebuah dasi dan menghampiri sang istri. Menyentuh pinggang sang istri dan berbisik, "Pakaikan."


Anyelir hanya menatap sang suami dari pantulan cermin di depannya. Sebuah cermin panjang yang bisa menangkap pantulan diri dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Lepaskan tanganmu jika ingin kupakaikan!" ujar Anyelir. Sang suami meminta bantuan, tetapi dirinya dipeluk dari belakang dengan tangan Krisan yang tak lepas dari pinggangnya.


Krisan hanya terkekeh, dia membalik tubuh sang istri hingga mereka berhadapan. Menundukkan sedikit kepalanya agar sang istri dapat memasangkan dasi.


Anyelir mulai memasangkan dasi pada sang suami. Dia fokus membuat dasi tersebut agar pas di tubuh Krisan. Wajah Anyelir mengeras, menandakan betapa keras usahanya membuat sebuah simpul dasi.


Krisan bergeming, membiarkan sang istri fokus dalam pekerjaannya. Dia tahu, sang istri tak pandai memasangkan dasi. Namun, sang istri tak pernah mengeluh jika diminta tolong.


Lengan Krisan tak lepas dari pinggang sang istri. Tatapannya selalu tertuju pada wajah cantik istrinya. Menikmati setiap mimik wajah sang istri.


Sudut bibir Anyelir naik ke atas. Krisan tahu pembuatan simpul dasi di lehernya sudah tahap akhir.


"Selesai," ujar Anyelir penuh kelegaan.


Cup! Ciuman mendarat di bibir Anyelir. "Terima kasih," ujar Krisan.


"Sama-sama," kata Anyelir. "Sudah, ayo kita berangkat," ajaknya. Sang suami masih enggan melepas tangan di pinggangnya.


"Rasanya tak ingin bekerja hari ini. Aku ingin di sini saja bersamamu."


Anyelir hanya terkekeh. "Sudah, cepat kita pergi kerja! Kita sudah menghabiskan waktu dua hari di sini."


"Tetapi selalu merasa kurang," keluh Krisan manja.


Anyelir mendorong sang suami. "Jangan manja. Ayo berangkat!" tegasnya.


Krisan mengantar Anyelir ke kantor. Tak pernah lepas senyum di wajahnya.


"Kenapa tersenyum terus?" tanya Anyelir heran.


Krisan melirik sang istri. "Karena bahagia," terangnya.


"Nanti akan dibilang orang gila jika kau tersenyum seperti itu terus!" dengus Anyelir.


"Aku menang sudah gila karenamu," ujar Krisan. Dia menunjuk sang istri dari bahu hingga bawah. "Lain kali pakai pakaian seperti ini saja untuk kerja. Tetap tampil cantik dan sopan. Suasana kerjanya pun dapat. Jadi, tidak usah pakai yang ketat-ketat tanpa lengan lagi!"

__ADS_1


Tidak jarang Anyelir menggunakan blouse ketat turtle neck tanpa lengan yang di padukan dengan blazer. Meskipun tampak cantik. Namun, Krisan tak suka melihat sang istri menggunakan pakaian yang terlalu ketat hingga terpampang bentuk tubuhnya.


Tidak hanya ketat, terkadang sang istri menggunakan blouse terusan. Namun, tinggi blouse beberapa centi di atas lutut. Hal itu selalu membuatnya kesal.


"Aku pakai ini, bukan karena di lemari ada ini. Melainkan karena aku rasa sangat cocok denganku. Namun, jika aku merasa tak suka, aku tidak akan menggunakannya. Jadi, untuk gaya busanaku, tidak perlu kau yang memutuskan. Aku akan memakai apa yang aku inginkan," tegas Anyelir.


Dia tak ingin selalu diatur suaminya. Dia akan menjadi dirinya sendiri.


"Oke," lirih Krisan. Dia tak ingin bertengkar hanya karena pakaian. Mereka baru saja kembali bersama.


"Aku masuk dulu," ucap Anyelir. Mereka sudah tiba di PT GLK.


"Makan siang bersama. Aku akan menjemputmu," ujar Krisan.


"Sepertinya aku akan makan di kantor. Vinnie masih dirawat," tolak Anyelir.


Krisan hanya mengangguk. "Baiklah, aku akan menjemputmu selepas kerja."


"Ya." Anyelir hendak membuka pintu. Namun, Krisan masih mengunci pintu mobil. "Buka pintunya!"


Krisan membuka pintu mobil. Setelah itu menarik lengan Anyelir agar mereka berdekatan. "Kiss sebelum pergi," pintanya. Krisan langsung mencium Anyelir.


"Lipstik-ku pudar," keluh Anyelir setelah Krisan melepasnya.


"Nanti akan aku belikan yang banyak untukmu," kekeh Krisan melihat sang istri yang merajuk.


Anyelir hanya memutar bola matanya jengah. Dia langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor.


Seberapapun sibuk, tetap tak bisa mengalahkan waktu yang terus bergulir. Di tempat tinggal Miranda, sudah berjejer awak media yang menunggu untuk meminta klarifikasi.


"Terlalu banyak wartawan," ujar Cindy mengintip dari balik jendela.


"Biarkan saja, aku tak mau keluar," lirih Miranda. Pagi ini, terdapat berita tentang Anyelir dan Krisan yang sedang menghabiskan waktu bersama.


Mulai datang ke acara malam amal hingga makan malam di sebuah restoran. Yang membuat Miranda lemah tak bergairah karena berita tersebut menangkap gambar Krisan yang mencium Anyelir.


"Kau ini kenapa? Hanya karena berita itu menjadi tak bersemangat hidup!" cibir Cindy.


Miranda menoleh pada Cindy. "Bagaimana tidak! Aku kalah sebelum berjuang. Aku sangat yakin Krisan tak memiliki kekasih sebelumnya. Kenapa beritanya menjadi seperti ini?" celotehnya. Dia membenamkan wajah dengan bantal.


"Ini karena patah hati? Atau karena statement mu saat wawancara yang tersirat bahwa kau dan Krisan bertunangan?" cecar Cindy.


Dia hanya bisa menatap sang bos. Bahkan Miranda memberikan klarifikasi bahwa pria yang menggendongnya adalah pria yang sama di majalah bisnis dengannya.


Ya, Miranda memang tak membuka konferensi pers. Dia hanya mengatakan di akun media sosialnya, sesaat majalah bisnisnya terbit dan gossip tentang dirinya menyebar. Memang tak ada kebohongan bahwa Krisan benar menggendongnya. Namun, gestur dan gaya bahasanya membuat seolah menggiring opini pada maksud tertentu.


Miranda melepas bantal dari wajahnya. "Ah! Entahlah!"


"Kau lihat medsos mu sekarang. Banyak yang mengira kau dan Tuan Krisan menjalin hubungan. Itu semua karena kau yang tak menjelaskan secara tegas bahwa tidak ada hubungan apapun dengannya. Sekarang kau bisa malu jika orang-orang tahu kau tidak ada hubungan apapun dengannya. Kau bisa dianggap mendekati seorang pengusaha!"


"Hei! Kalau aku hanya ingin memiliki kekasih pengusaha. Aku bisa mendapatkan Presdir yang lebih tinggi darinya. Krisan hanya Presdir dari perusahaan berkembang!" ketusnya.

__ADS_1


Kalau bukan karena kebaikan dan sifat sopan Krisan. Miranda tak mungkin jatuh hati pada pria itu.


"Jadi sekarang bagaimana? Kau harus mengahadapi media!" keluh Cindy.


"Biarkan saja para awak media itu. Bilang saja aku sedang tak bisa ditemui karena kondisi kesehatan yang memburuk."


Cindy hanya menghela napas. "Kau ingin aku berbohong?"


"Siapa yang memintamu berbohong? Aku memang dalam keadaan tidak baik-baik saja!" Miranda kembali membenamkan kepalanya ke dalam bantal. "Urus semua jadwal syutingku. Aku ingin berdiam diri di rumah dua hari ini!" teriaknya.


Cindy hanya melirik atasannya. Dia menemui para media yang ingin mewawancarai Miranda. Hanya mengatakan Miranda tak bisa ditemui karena kondisi tubuhnya. Tak memberikan informasi apapun tentang kedekatan Miranda dan Krisan.


Berita tentang kesehatan Miranda yang menurun tersebar. Miranda adalah sosok artis yang sedang naik daun. Spekulasi sakitnya Miranda dihubung-hubungkan dengan berita tentang Krisan yang menggandeng wanita lain.


Dalam sekejap, akun-akun gossip menyebarkan fitnah bahwa Miranda sakit karena pengkhianatan tunangannya. Para fans menggiring opini bahwa Krisan menyelingkuhi Miranda.


Miranda memang tak pernah mengatakan secara gamblang bahwa dia menjalin hubungan dengan Krisan. Namun, sering kali Miranda melontarkan pernyataan tersirat bahwa dia menjalin hubungan dengan Krisan.


...****************...


Hari yang sibuk untuk para pebisnis membuat tak ada waktu bagi Anyelir ataupun Krisan melihat berita tentang selebritis. Mereka disibukan dengan segala urusan kantor.


Bahkan sepulang kerja, Anyelir tak ingin mampir ke manapun. Dia ingin langsung pulang karena pekerjaannya menumpuk. Terlebih, Vinnie masih belum bisa membantunya.


Krisan hanya bisa menyetujui sang istri, bahkan dia sendiri yang menyiapkan makan malam untuk Anyelir. Tak mengeluh, dia senang melakukannya.


Tinggal di unit apartemen Krisan. Membuat mereka kembali ke masa awal pernikahan mereka. Krisan yang rajin memasak untuk sang istri.


"Nanti tak perlu menjemput," ujar Anyelir.


"Kenapa?"


"Bukankah kau bilang hari ini akan ke luar kota?"


"Iya, kemungkinan masih bisa menjemputmu, kalau urusan cepat diselesaikan. Jarak pun tak begitu jauh."


"Aku pulang sendiri saja. Kau pasti lelah. Lagipula, aku harus mengunjungi galeri di mall hari ini. Ada pameran, perusahaan kami bekerja sama dengan galeri."


"Kalau begitu, aku jemput saja di sana."


"Baiklah, kabari aku saja."


"Ya."


Di sore hari, Anyelir datang ke mall. Sebuah galeri perhiasan dibuka untuk umum. Sebuah konferensi pers dilaksanakan untuk membahas tentang galeri tersebut.


Namun, disela sesi tanya jawab, tiba-tiba ada yang mengajukan pertanyaan diluar konteks perhiasan.


"Nona, apa benar kau menjalin hubungan terlarang dengan Presdir dari PT AYL?" tanya seorang reporter.


Seketika Anyelir melebarkan mata mendengar penuturan dari sang reporter.

__ADS_1


__ADS_2