Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 19 I'am Sorry, I Love You


__ADS_3

Anyelir hanya bisa menatap langit-langit kamarnya. Dia menyentuh bibirnya sendiri, masih terasa apa yang telah ia dan Krisan lakukan. Permintaan Krisan untuk rujuk dengannya masih membekas di ingatannya.


Dia memukul kepalanya.


“Kenapa aku memikirkannya? Hempaskan dia jauh-jauh, Anyelir! Jika kau memaafkan, dia akan mengulang untuk kedua kalinya!”


Anyelir menutup matanya, mencoba mengusir Krisan dari kepalanya. Dia memejamkan matanya untuk terlelap. Namun, pikirannya melayang ke beberapa tahun yang lalu.


“Kenapa menangis?” tanya Krisan pada Anyelir yang sedang menonton drama Korea di televisi. Dia duduk di samping istrinya seraya memainkan rambut Anyelir.


“Sang wanita bunuh diri di makam sang pria,” jelas Anyelir seraya mengusap air matanya. Tatapannya masih tertuju pada drama Korea berjudul ‘I’am Sorry, I Love You’. Film lawas yang menurutnya sangat romantis.


“Bodoh!” dengus Krisan. “Apa yang dipikirkan gadis itu sampai harus mengakhiri hidupnya? Apa dia tak berpikir wanita yang melahirkannya akan bersedih? Memangnya tak ada cara lain untuk menjalankan hidup? Memang, dengan dia mengakhiri hidup akan merubah segalanya? Apakah sang pria akan hidup kembali? Atau mereka akan bertemu kembali di alam baka? Benar-benar picik! Berpikir kok sangat pendek!” gerutu Krisan panjang lebar. “Sudah jangan menangis karena film. Itu tak akan terjadi di dunia nyata!”


“Kata siapa? Kemarin ada berita seorang siswi SMA bunuh diri karena cinta yang tak direstui!” kilah Anyelir.


“Itu lagi. Benar-benar bodoh!” dengus Krisan.


Anyelir menoleh menatap sang suami. “Kau tidak mengerti! Tingkat sensitif orang itu berbeda-beda! Dari mana kau tahu kehidupan dia seperti apa? Siapa tahu beban hidupnya begitu besar! Mungkin … dia sudah tidak kuat lagi menjalani hidup!”


“Tapi tidak dibenarkan mengakhiri hidup sendiri! Benar-benar bodoh! Itulah jika seseorang terlalu mengagungkan sesama manusia. Mencintai boleh, mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang yang dicintai pun boleh.


Tapi, jangan pernah mengagungkan manusia seperti Tuhan. Bagaimanapun, manusia hanya ciptaan Tuhan! Jika sudah terlalu begitu mencintai seseorang sampai berpikir bodoh, lalu mengakhiri hidup. Dan, tiba-tiba Tuhan membalik hati kekasihnya itu hingga tak mencintainya lagi. Bukankah tindakannya hanya akan menjadi sia-sia? Bukankah itu merugikan diri sendiri?”


“Kau tidak tahu rasanya, hingga bisa bicara seperti itu! Kau hanya melihat isi berita tentang gadis SMA bunuh diri karena cinta. Tapi, kita tidak tahu beban yang sebenarnya itu seperti apa! Lagi pula hidup semati dengan orang yang dicintai bukannya romantis!” dengus Anyelir.


“Romantis apanya jika saling bunuh diri seperti Romeo dan Juliet!” pungkas Krisan. Menunjuk layar televisi. “Itu juga, film apa itu. Sangat bodoh!”


“Itu film sangat mengharukan. Judulnya 'I'am Sorry, I Love You'. Kau tahu tidak cerita di film itu seperti apa? Beban hidup sang pria begitu besar. Dia mendonorkan jantungnya untuk sang adik setelah dirinya mengalami kecelakaan. Setelah kematiannya, sang kekasih datang ke makamnya dan akhirnya meminum racun."


“Lantas menjadi bodoh hingga sampai bunuh diri? Sang pria mati kecelakaan, bukannya bunuh diri karena sang wanita.”


“Kau ini tak mengerti. Sebaiknya kau menonton dari episode awal. Pasti akan menangis jika menontonnya.”


“Film pembodohan seperti itu jangan ditonton. Seperti yang kau bilang setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang menganggap film itu sebagai hiburan saja. Tapi, ada juga yang tak bisa menyaring. Bisa jadi, karena film tersebut menjadi inspirasi orang yang menontonnya. Seperti yang kau bilang tadi, seorang remaja putri bunuh diri karena cinta tak direstui. Sangat bodoh! Jangan-jangan dia sehabis nonton film lalu bunuh diri.”


“Bodoh, bodoh, bodoh! Hanya itu yang ada di pikiranmu. Dan kau jangan lupa, kalau kau menikah dengan orang bodoh! Karena kita bertemu saat aku ingin bunuh diri!” ketus Anyelir lalu pergi meninggalkan suaminya.


Krisan menghembuskan napasnya. Gara-gara berita dalam televisi membuat mereka bertengkar. Mereka jarang bertengkar meskipun Krisan tahu istrinya begitu sensitif. Selama ini, dirinyalah yang selalu mengalah.


“Sayang!” seru Krisan mengejar sang istri menuju kamar mereka.


Seruan Krisan diabaikan Anyelir. Tetapi tak membuat Krisan berhenti membujuk istrinya. Dia menahan lengan sang istri. “Sayang.”


Anyelir menepis tangan Krisan. Dia menutup pintu kamar dengan kasar, beruntung Krisan sudah masuk ke dalam kamar.


“Jangan-jangan kau tak mencintaiku ya? Aku yang rela mati demi-mu tapi kau merendahkan cinta kita!” kesal Anyelir.

__ADS_1


Krisan memijit keningnya. Dia tahu sang istri sedang PMS. Namun, emosinya sudah sangat keterlaluan menurutnya.


“Dengar aku! Aku hanya mencintaimu. Karena aku mencintaimu, aku berusaha keras untuk membahagiakanmu. Namun, bukan berarti kisah kita seperti kisah Romeo dan Juliet yang katamu romantis. Bagiku, kisah seperti itu sangat bodoh! Aku merutuki kebodohanmu saat kau ingin mengakhiri hidup. Tapi, aku sungguh bahagia saat berhasil menghentikan dirimu.”


Krisan menarik Anyelir dan mendudukkannya di pangkuannya. “Menunjukan seberapa besar cinta itu bukan dari saling mengakhiri hidup. Siapa dirimu yang memutuskan hidup dan mati? Menunjukan besar cinta itu saat kau mampu membuat kekasih yang dicintai bahagia.


Bukan berarti aku tidak mencintaimu saat aku tidak setuju tentang bunuh diri karena cinta. Aku sangat mencintaimu. Kalau kau bilang cinta sehidup semati itu romantis. Aku setuju, tapi bukan bunuh diri. Itu hanya tindakan impulsif. Apa Tuhan menciptakan kita untuk mengakhiri hidup? Kau tahu cinta yang romantis itu seperti apa?”


Anyelir hanya menggeleng kepalanya pelan. Krisan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi sang istri. “Cinta yang berjuang untuk hidup mereka. Seperti Jack dan Rose di film Titanic. Menurutku, Jack sangat mencintai Rose hingga akhir hayatnya. Mereka tak menyerah untuk berjuang hidup. Mereka berdua naik ke dahan pintu. Namun, pintu itu hanya bisa menampung satu orang. Tentu Rose yang akhirnya naik ke dahan pintu, itu karena Jack mencintainya. Bahkan, Jack masih sempat menghembuskan napas hangatnya ke tangan Rose yang kedinginan. Meskipun, mereka berdua kedinginan. Jack tidak mengakhiri hidup, dia mati atas kehendak Tuhan setelah dirinya berjuang untuk menyelamatkan Rose. Apakah tindakan Jack tidak termasuk rela mati demi kekasihnya?”


Anyelir berpikir sejenak. “Ya, dia rela mati demi Rose.”


“Itu dia perbedaannya. Sama-sama Lonardo Dicaprio pemerannya. Namun, aku lebih suka film Titanic dibanding Romeo and Juliet. Jack, berusaha keras agar kekasihnya selamat untuk menjalani hidup panjang. Meninggal di ranjang yang hangat. Menurutku, itu cinta sejati. Rela mati, bukan berarti menyerah untuk bunuh diri.”


Anyelir menggeser duduknya, dia menatap lekat sang suami. “Aku mencintaimu, aku tidak tahu jika tak ada dirimu di sisiku. Maaf, aku terlalu kekanakan."


Krisan menatap dalam sang istri. “Jika aku tak bisa menemanimu. Jika Tuhan lebih dulu memanggilku. Berjanjilah, jangan pernah menyerah. Jalani hidupmu dengan bahagia. Tidak peduli seputusasa dirimu, seberat apapun itu, jangan pernah berpikir untuk menyerah. Kau pasti bahagia, Anyelir.”


“Jika aku yang mati terlebih dahulu, apakah kau akan bahagia dengan wanita lain?” tanya Anyelir yang mulai sendu.


Hanya memikirkan Krisan dengan wanita lainnya saja sudah cukup membuatnya menangis. Apalagi jika hal itu terjadi. Dia tahu, dirinya egois. Cintanya sangat egois. Menganggap Krisan satu-satunya miliknya. Membayangkan Krisan menjamah wanita lain begitu menyakitkan baginya.


“Aku tidak bisa berjanji apapun padamu. Namun, sampai detik ini, aku hanya mencintaimu. Selalu berdoa untuk selalu mencintaimu dan tak ingin wanita lain berada di hatiku. Jika memang Tuhan mengabulkan permohonanku untuk selalu mencintaimu, dan jika Tuhan mengambilmu terlebih dahulu. Aku, akan memilih untuk menduda selamanya. Bukankah bahagia seseorang bukan sebatas hanya berumah tangga? Aku bisa menciptakan bahagiaku sendiri, menunggu waktu untuk bertemu kembali denganmu.”


Anyelir semakin meneteskan air matanya. “Aku bersyukur memilikimu.”


Anyelir memeluk sang suami. “Aku mencintaimu, Kris.”


“Aku tahu, aku pun sangat mencintaimu. Mulai sekarang, jangan pernah berpikir buruk. Berprasangkalah yang baik pada Tuhan. Hargai setiap napas yang telah Tuhan berikan. Kita jalani hari-hari dengan indah, ikuti semua yang sudah Tuhan atur untuk kita.”


Anyelir menarik kepalanya. “Apa kau tak pernah merasa bosan denganku? Kesal akan sifatku yang menjengkelkan untuk sebagian orang?”


“Kenapa bertanya seperti itu?”


“Dulu, saat kita masih tinggal di kontrakan. Aku dibicarakan tetangga. Aku yang tidak bisa memasak, aku yang tidak pandai membersihkan rumah, dan aku yang hanya menjadi beban suami. Tidakkah kau membenciku? Mereka bilang, aku hanya modal cantik.”


“Tidak salah.”


“Apa?” tanya Anyelir terkejut.


Krisan hanya terkekeh. “Apa yang mereka katakan memang benar, dan kau tak perlu merasa tersinggung. Kau memang tak bisa memasak, tak bisa merapihkan rumah dan kau cantik. Itu benar. Namun, kalau beban suami? Itu salah, karena aku tak merasa dibebani. Aku menikah denganmu bukan untuk menjadikanmu koki, bukan pula menjadikanmu sebagai asisten rumah tangga. Namun, kau adalah tulang rusukku,” jelasnya.


Ya, Krisan pun mendengar tentang hal itu. Dirinya, di kantor pun diejek karena itu. Krisan yang tak pernah dibawakan bekel masakan sang istri dan selalu diejek resiko memiliki istri cantik.


“Jadi aku benar-benar menyebalkan di mata orang lain?"


“Yang pentingkan di mataku. Aku suamimu, karena itu, yang harus kau pedulikan adalah pandanganku.” Krisan menangkup wajah sang istri. “Aku tidak akan pernah memerintahmu atau memaksamu untuk mencuci pakaian, memasak atau pun membersihkan pekerjaan rumah lainnya. Namun, tanpa aku seperti itu pun, kau sendiri yang memiliki keinginan untuk memasak. Buktinya, kau membawakan makan siang hasil dari tanganmu itu. Aku tidak akan mengubah dirimu tanpa kau yang mengubah dirimu sendiri. Selama itu semua tidak bertentangan bagiku. Tapi, jika kau menggunakan pakaian minim depan orang lain, merias wajahmu berlebihan agar dilihat pria lain. Itu, aku baru marah!”

__ADS_1


Anyelir tertawa. “Suami posesif!” Ejeknya.


“Seperti yang kau bilang, setiap orang memiliki karakter yang berbeda, sifat dan tingkat sensitif yang berbeda. Inilah aku, aku tidak menuntutmu untuk pekerjaan rumah. Tapi, aku menuntutmu untuk selalu menjaga dirimu agar tak ditatap pria lain. Aku sangat benci jika ada pria yang menatapmu!”


“Aku juga, sangat sebal jika ada wanita di dekatmu!”


Krisan hanya memandang wanita yang usianya 7 tahun dibawahnya. “Cium aku,” pintanya.


Cup! Anyelir mencium sekilas sang suami.


“Lagi,” titah Krisan.


“Mau-nya nambah mulu deh!”


“Biarin aja! Cuma bisa cium bibir soalnya, nggak bisa lebih dari itu. Harus nunggu seminggu dulu ‘kan?”


“Iya, iya, iya,” kekeh Anyelir. Setelah itu, dia mencium kembali sang suami. "Bulu di wajahmu mulai tumbuh."


"Sakitkah?"


"Sedikit, geli-geli gitu kena wajahku."


"Harus dicukur?"


Anyelir mengangguk. "Iya, biar enak. Tapi sebenernya, ganteng sih wajah dipenuhi bulu yang baru tumbuh. Jadi tambah macho."


"Macho! Tapi memuja artis Korea yang mulus tanpa bulu!" keluh Krisan.


"Kau tuh beruntung dapet aku yang pemuja aktor Korea. Karena, aku tidak akan bisa selingkuh."


"Benarkah?"


"Iya, soalnya, kamu itu selingkuhannya. Suaminya tetap Lee Min Ho," ujar Anyelir terkekeh.


"Dasar nakal!" ujar Krisan mencubit hidung sang istri.


Krisan menggendong sang istri dan membawanya ke kamar mandi. Mendudukkannya di atas wastafel. "Cukur wajahku."


Anyelir mematuhi sang suami, mengoles krim ke wajah sang suami dan dengan hati-hati mencukur rambut-rambut halus di wajah Krisan.


"Wah, tampan sekali suamiku," puji Anyelir melihat wajah Krisan yang sudah bersih dari bulu-bulu halus.


Mereka saling menatap, perlahan wajah mereka semakin mendekat dan akhirnya ... ciuman romantis terluang lagi.


"Akh!" Anyelir terbangun dari tidurnya, membangunkan mimpi tentang kenangan masa lalu. Air matanya menetes, dia mengingkari janjinya untuk tak menyerah.


Dia terlalu takut ditinggal oleh Krisan hingga membuat dirinya menceburkan diri dari jembatan. "Bodoh! Bodoh! Aku memang bodoh! Tidak seharusnya aku mencoba bunuh diri," lirih Anyelir menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2