Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 3 Mati Lampu


__ADS_3

“Kau ingin mandi air hangat?” tanya Krisan.


“Ya.”


“Tunggu di sini, aku rebus air panas untukmu dulu. Kalau untuk shower, aku tak punya. Kau bisa menggunakan gayung.”


“Rebus?” tanya Anyelir penuh heran.


“Ya, aku tidak ada water heater. Tentu harus merebus air dulu sebelum mandi air hangat.”


“Baik, tolong siapkan untukku.”


Krisan beralih ke dapur, merebus air dan menyiapkan air hangat ke dalam bak mandi. Kamar mandi kecil tetapi tetap bersih karena Krisan pria yang rajin.


“Apa sudah siap?” tanya Anyelir.


“Sudah.”


“Apa sudah memasukan aroma terapi ke dalam bak mandi?”


“Tidak punya seperi itu. Tapi, sabun punyaku sangat wangi.”


Krisan mengeluarkan sabun batang dari dalam storage box kamar mandi. Sabun mandi batang dengan bungkus gambar penuh bunga-bunga. Dia membuka bungkus tersebut dan menyodorkan pada Anyelir. “Ciumlah, harum sekali bukan?”


Anyelir menerima sabun batang tersebut. “Iya wangi.”


“Mandilah.”


“Krisan,” panggil Anyelir.


“Ya?”


“Kamar mandinya aman ‘kan?”


“Tentu saja, tidak ada yang mengintip dan tak akan ada binatang liar yang masuk. Oh ya, kau belum beri tahu aku bagaimana kau tahu namaku?”


Tatapan Anyelir turun ke bawah, menatap dada Krisan. Sang pria mengikuti arah pandang Anyelir. Seketika dia terkekeh melihat pakaiannya yang terdapat bordir namanya. “Jadi kau tahu namaku dari sini,” gumam Krisan.


Anyelir hanya tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Meskipun tak nyaman, dia terpaksa melakukannya. Anyelir tak bisa berlama-lama di dalam kamar mandi, dia mempercepat mandinya. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya.


Jep! Lampu tiba-tiba padam. Seketika Anyelir panik, dia berteriak, “Krisan!”


Krisan terkejut saat mendengar teriakan Anyelir, dia terburu-buru lari menuju kamar mandi. Beberapa kali tersandung karena tak ada penerangan. Dia membuka pintu kamar mandi yang memang kunci telah rusak.


Krisan tak memperbaiki kunci kamar mandi karena dirinya hanya tinggal sendiri. “Apa kau tidak apa-apa?” tanya Krisan tanpa tahu di mana Anyelir berada.


Grep! Anyelir memeluk erat Krisan. “Kenapa lampunya padam? Aku takut gelap,” lirih Anyelir dengan tubuh bergetar.


Krisan memeluk Anyelir. “Tenang, ada aku di sini. Ayo kita keluar.”


Krisan menuntun Anyelir keluar dari kamar mandi. “Kenapa gelap sekali?”


“Pemadaman menyeluruh,” ujar Krisan.


“Oh.”


“Kau duduk di sini dulu. Aku akan cari lilin.”


“Tidak mau, aku takut.” Anyelir menggenggam erat lengan Krisan.


“Baiklah,” jawab Krisan pasrah.  Krisan meraba ke laci meja dapur. Mencari keberadaan lilin.

__ADS_1


“Ah!” teriak Anyelir.


“Ada apa?”


“Seperti ada yang menyentuh betisku.”


“Mungkin tikus,” jawab Krisan asal.


“Apa?” Anyelir semakin mengeratkan tubuh pada Krisan. Dia semakin masuk ke dalam dada sang pria.


Krisan terkejut, dia meraih pinggang Anyelir yang terbalut handuk. Wangi harum tubuh Anyelir menusuk hidungnya. Tanpa sadar, dia mendekatkan hidungnya ke rambut Anyelir. Menghirup aroma wangi rambut sang gadis.


Tangan Krisan beralih ke pundak sang gadis. Lembut, kulit gadis itu lembut. Krisan kesulitan menelan salivanya sendiri. “Aku cari lilin dulu.”


Anyelir meregangkan tubuhnya, memberi ruang untuk Krisan mencari lilin. Cahaya mulai menyinari. Wajah Anyelir yang sehabis mandi terlihat begitu cerah, semburat merah mewarnai wajah cantik itu.


Krisan menatap lekat gadis itu, baru menyadari, gadis yang ditolongnya sangat cantik.


“Sampai kapan lampunya akan padam?”


“Bisa 30 menit atau mungkin 1 jam lebih.”


“Selama itu? Apa tidak ada genset?”


Krisan tertawa, “Apa kau pikir ini perusahaan?”


Anyelir hanya mendengus sebal. Mereka duduk di bangku mini bar dapur. Meskipun rumah sederhana. Namun, Krisan mendekor agar huniannya nyaman.


Tatapan mata Krisan menurun, bertepatan dengan pandangannya yang melihat setengah paha Anyelir yang tak tertutup sempurna oleh handuk. Dia mengalihkan pandangannya.


“Apa kau ingin berpakaian dulu?” tanya Krisan hati-hati.


“Bisa antar aku ke kamar?


Mereka keluar dari dapur dan menuju kamar. “Bawa lilin ini, aku tunggu di luar,” titah Krisan.


Anyelir mengambil lilin dari tangan Krisan yang berdiri tegak di atas piring kecil. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian dengan cepat. Anyelir keluar dari kamar. Gadis itu hanya menggunakan kaos dan celana pendek.


Krisan hanya mengerutkan dahinya sepintas, ingin sekali marah pada gadis itu yang menggunakan celana setengah paha. Namun, dia tak punya hak untuk marah atau menghakimi gadis itu.


“Apa kau seorang pelajar?” tanya Krisan.


“Baru lulus tahun ini.”


“Oh, mau masuk universitas?”


“Tidak,” ujar Anyelir menunduk.


“Apa yang membuatmu ingin mengakhiri hidup?”


Anyelir menghembuskan napasnya. “Orang tuaku mengalami kebangkrutan dan mereka tak kuat menghadapinya. Serangan jantung penyebab kematian orang tuaku, mereka meninggal dengan jarak yang dekat,” papar Anyelir dengan menahan tangis.


“Aku pun sebatang kara. Malah, sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar.”


Anyelir mendongak menatap Krisan. “Lalu, bagaimana kau hidup?”


“Panti asuhan. Hanya tempat itu yang menampungku.” Dia menatap lekat Anyelir. Namun, ingatannya menerawang ke masa lalu.


Masa kelam keluarganya. Dia melihat sendiri bagaimana orang tuanya dihancurkan rekan bisnisnya. Dia menggeleng pelan, mengusir bayangan masa lalu.


“Jadi kau besar di panti asuhan?”

__ADS_1


“Hanya untuk mendapatkan wali. Setidaknya, aku masih memiliki satu rumah peninggalan orang tuaku. Setelah lulus sekolah, aku menjual rumah itu untuk biaya masuk kuliah. Tidak mudah menjual rumah. Banyak yang datang untuk menawar dengan harga rendah.”


“Kau seorang mahasiswi?”


Krisan mendecak. “Sudah bukan mahasiswa. Umurku sudah 25 tahun, aku sudah bekerja. Seharusnya kau memanggilku Mas, Kakak atau Abang!”


Anyelir hanya terkekeh. “Mau dipanggil seperti itu?”


“Senyaman dirimu saja.”


“Aku … berapa lama boleh tinggal di sini?”


“Sampai kau bisa bangkit dan tak berpikir untuk mengakhiri hidupmu lagi.”


Mereka mengobrol selagi menunggu lampu menyala. Obrolan ringan diselingi oleh cahaya lilin. Setelah beberapa saat, lampu menyala.


“Sudah menyala.”


Krisan hendak meniup lilin tersebut. Namun, dihentikan oleh Anyelir. “Biar aku saja.”


Huft! Anyelir meniup lilin tersebut. Gerakan yang hanya meniup lilin, membuat hati Krisan bergetar.


“Apa kau lapar?”


“Ya, sedikit.”


“Mau nasi goreng?”


“Boleh.”


“Tunggu di sini.”


“Aku ikut.”


“Kau sudah mandi, nanti bau masakan kalau ikut.”


“Aku bisa membantumu.”


“Kau bisa memasak?”


“Tidak. Tapi, aku bisa membantumu mengusir tikus. Aku akan memegang sapu untuk menakutinya," ucap Anyelir penuh semangat.


Krisan tertawa. “Tidak ada tikus, meskipun rumah ini sederhana. Namun, aku merawatnya cukup baik. Tadi, aku hanya asal bicara saja. Kemungkinan yang menyentuh betismu hanya taplak meja saja yang menjuntai. Aku belum merapihkan taplak meja di dapur.”


Anyelir hanya tersenyum. “Tapi aku mau ikut. Tidak mau sendiri.”


“Baiklah, lihat keahlianku memasak,” ujar Krisan.


Krisan menunjukan keahlian memasaknya. Tanpa bumbu racik, semua disiapkan secara manual. Mengupas bawang dan bahan-bahan lainnya. Mengulek untuk menjadi bumbu. Lalu memotong cumi dan beberapa bakso untuk campuran nasi goreng.”


Anyelir melihat setiap gerak gerik Krisan memasak. Ada rasa hangat di hatinya. Pria yang terlihat cukup tampan, sangat mempesona saat memasak.


Dua piring nasi goreng telah jadi. Anyelir langsung mencoba masakan itu. “Enak sekali,” pujinya.


“Makanlah, buat perutmu kenyang.”


Anyelir makan dengan lahap, dia memakan sedikit terburu-buru. Etika makan yang diajarkan oleh keluarganya seakan terlupakan. Terlebih lagi, dari kemarin sore dia belum makan karena bersedih.


“Pelan-pelan,” ujar Krisan.


Anyelir menghabiskan sepiring nasi goreng buatan Krisan. Dia menenggak segelas air. Sebulir sisa nasi goreng menempel di sudut bibir Anyelir.

__ADS_1


“Ada nasi di bibirmu,” ujar Krisan.


Tidak hanya menginformasikan. Namun, Krisan mengulurkan tangan dan melepas nasi yang menempel. Nasi tersebut terjatuh. Tetapi, tidak dengan tangan Krisan. Ibu jari Krisan mengusap bibir pink gadis itu. Tidak sekali, Krisan mengusap bibir itu dua kali tanpa sadar.


__ADS_2