Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 59 Waduk


__ADS_3

"Kenapa lama sekali keluarnya?" keluh Renan. Dia bahkan menekan klakson agar Miranda cepat keluar.


Miranda hanya tersenyum sinis. "Hanya berbincang sedikit. Tidak akan terlambat juga! Lagi pula, kenapa jadi kamu yang bersemangat!"


"Bukan bersemangat. Hanya ingin cepat selesai!" timpal Renan.


Renan melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Miranda hanya melirik sekilas pada Renan. Ucapan Oscar masih membekas di otaknya. Setibanya di tempat acara. Mereka masih sama menjadi pusat perhatian, Miranda merangkul lengan Renan sepanjang acara pernikahan. Bahkan wanita itu tak mencicipi hidangan di acara tersebut.


"Kenapa tidak makan?" tanya Renan.


"Diet," jawab Miranda singkat.


"Kalau gitu kita pergi saja. Tak perlu berlama-lama di sini."


"Tunggu sebentar, aku hanya ingin menyapa para kenalanku."


"Kau bukan pengantinnya! Tak perlu menyapa tamu!"


"Tapi banyak yang kukenal!"


"Ya sudah, aku makan, kau sendiri yang menyapa."


Miranda mendecak. "Kalau begitu, kita pergi saja!"


Renan dan Miranda pamit pada para tamu undangan. Saat mereka keluar dari gedung, awak media menghampiri. Sedikit memberikan selamat untuk pengantin dan menerangkan sedikit alasan mereka pulang lebih awal karena masih ada acara lain.


“Baju secantik ini hanya dipakai sebentar, sayang sekali,” keluh Miranda sesaat masuk ke dalam mobil.


“Aku tidak memaksamu untuk pergi. Kau sendiri yang memutuskan untuk pergi!” protes Renan. Seolah dirinya yang mendesak Miranda untuk pulang.


“Tidak ada yang menyalahkanmu!” ketus Miranda. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi.


Renan dengan stabil mengendarai mobilnya menuju rumah Miranda. Sang artis hanya memainkan ponsel. Dia melihat sekeliling, hanya sekitar 20 menit akan sampai di rumahnya. “Aku lapar,” gumamnya.


“Bukankah kau bilang sedang diet?” tanya Renan.


“Iya, tapi sekarang lapar. Aku ingin makan,” ujar Miranda.


Renan mendecak. “Sebentar lagi sampai, kau bisa makan di rumah.”


“Di rumah tidak ada makanan.”


“Kau bisa masak.”


“Tidak ada bahan makanan yang bisa di masak.”


“Beli saja. Pinta asistenmu beli!”


Belum ada kesempatan menimpali ucapan Renan. Ponsel Miranda bergetar, ponsel yang sedang dalam mode getar. Miranda menggeser icon call berwarna merah pada layar ponselnya. Cindy menghubunginya, tetapi dirinya enggan mengangkat panggilan telepon asistennya itu. “Cindy sedang bebas tugas. Dia izin menjaga adiknya yang sedang sakit!” ucapnya mengarang cerita. Kenyataannya, Cindy tak memiliki adik.


“Kalau begitu, beli saja di pinggir jalan.”

__ADS_1


“Apa tidak lihat, sepanjang perjalanan ke rumahku tidak ada yang berjualan!”


“Lalu, maumu apa?”


Miranda memutar bola matanya. “Di depan, belok kiri saja.”


“Kenapa?”


“Cari makan.”


Dengan enggan, Renan mengikuti kemauan Miranda. “Beli untuk dibawa pulang saja. Aku masih ada urusan.”


“Baiklah.”


“Dari sini mau ke mana?”


“Itu,” tunjuk Miranda.


“Mall?”


Miranda menggeleng. “Terus saja dulu. Sampai bertemu dengan deretan rukan (rumah kantor) yang ada di samping Mall.”


Renan hanya mengangguk, terkadang banyak rukan yang masih buka. Rukan yang disewa tidak hanya berfungsi untuk kantor-kantor kecil. Namun, beberapa berfungsi sebagai tempat usaha yang menjual berbagai macam makanan. Mereka masuk ke area Rukan. Mata Renan menelisik setiap rukan, terdapat beberapa bank yang memang menyewa rukan tersebut. Klinik kecantikan dan Bimbingan belajar. “Kenapa tidak ada yang jual makanan?” gumam Renan.


“Ada, tapi rata-rata sudah tutup dari jam 7 malam. Di blok F sana ada rukan, ya hampir berfungsi sebagai kantin. Usaha makanan di sini cukup menjanjikan, karena para karyawan yang bekerja di sini, banyak yang beli makanan di kantin.”


“Kau tahu banyak tempat ini seolah kau adalah penjaga kantin!” ejek Renan.


“Kok tahu? Aku memang dulu penjaga kantin.”


“Tentu saja, tapi hanya sehari. Setelah itu, aku jual kopi keliling menggunakan sepeda disekitar rukan ini. Aku tahu rasanya diserbu pembeli. Aku juga tahu sedihnya saat barang yang kita jual tak ada yang beli,” ucap Miranda lemah.


Renan melirik Miranda sekilas, wajah teduh, mata bagian atas turun kebawah dengan bagian sudut bibir sedikit turun. Semakin jelas menampakan kesedihan. Seketika Miranda tertawa terbahak melihat wajah Renan yang tampak bersalah. “Aku memang pernah menjadi penjual kopi keliling dalam drama. Peranku menjadi gadis miskin penjual kopi,” kekehnya.


Renan hanya mendecak. “Itu ada mini market, beli itu saja!” tunjuknya dengan dagu. Mini market masih dalam salah satu rukan.


“Tidak mau! Kau mau aku makan-makanan instan? Itu tidak baik untuk tubuhku!”


“Lalu kau mau apa!”


“Terus saja jalan. Nanti, kita belok kiri setelah ujung rukan ini. Di sana ada jalan di antara dua blok rukan.”


Renan mengikuti jalan yang di maksud. “Kita mau ke mana ini? bukankah ini sudah masuk kebelakang rukan?”


“Iya, kita memang keluar rukan. Tapi ini jalan belakang. Di sana ada sebuah gedung pertemuan. Di sebelahnya ada tempat untuk bersantai. Ada danau yang indah.”


“Danau?”


“Ya. Pokoknya tempatnya bagus.”


“Kau benar-benar tahu tempat ini?”

__ADS_1


“Aku syuting selama satu bulan lebih, jadi tahu tempat ini. Rukan depan adalah tempat syutingku menjajakan kopi,” terang Miranda. “Kita berhenti di situ. Mobil tak bisa masuk. Kalau pagi, tempat ini beralih fungsi menjadi jogging track.”


Renan menghentikan mobilnya. “Kau akan keluar dengan pakaian seperti itu?”


Miranda melihat ke arah gaunnya. Berjalan santai dengan gaun memang sangat tidak cocok. “Mau bagaimana lagi.”


Renan menoleh ke belakang, dia mengambil sweater yang ada di kursi belakang mobil. “Pakai ini. Gaunmu hanya sebatas lutut. Orang akan mengira kau menggunakan Rok.”


Miranda menerima sweater pemberian Renan. Menghirup harum di sweater tersebut. Parfum khas yang sering digunakan oleh Renan. Dia menggunakannya. Sedangkan Renan, dia membuka jas dan menggulung kedua kemeja di lengannya sebatas siku. Mengambil tas selempang kecil untuk dipakainya.


“Fendi,” gumam Miranda melihat tas yang digunakan Renan. Tas selempang branded dan tentu kekinian.


“Kau tahu?”


“Apa kau pikir aku tidak tahu merek!” dengus Miranda.


Miranda menaikan hoodie ke kepalanya dengan rambut yang ia sampirkan ke depan agar menutupi wajah. Mereka menuju jogging track. Tak perlu lama berjalan kaki untuk menuju tempat tersebut. Jogging track dipinggir waduk, terdapat lampu-lampu berkelap kelip menghiasi indahnya malam.


“Ini bukan danau. Ini hanya sebuah waduk di pinggir kota. Lihat, kita bahkan bisa melihat jalan raya di sebrang sana,” tunjuk Renan pada seberang waduk. “Tapi lumayan juga, terdapat ruang terbuka hijau yang sudah jarang di kota. Bisa juga untuk sarana refreshing dari kepenatan kota.”


“Aku ‘kan sudah bilang tempatnya bagus. Di sini juga banyak tenant untuk para pedagang menjual aneka kuliner.”


“Di sana ada bean bag, kita duduk di sana,” usul Renan.


“Ya. Kau pesan makanan. Jangan aku yang pesan, nanti jadi pusat perhatian. Oh ya, jangan beli makanan berat, cukup cemilan saja.”


Renan dengan patuh membeli beberapa cemilan dan minuman lemon di tangannya. Dia duduk di sebelah Miranda. “Terima kasih,” ucap Miranda


“Ini tidak kotor bukan?” tanya Renan menelisik bean bag yang sedang ia duduki.


“Sekilas mata sih bersih. Tapi tidak tahu juga jika dilihat pakai microsoft, secara tempat umum yang pastinya dipakai secara bergantian.”


“Maksudmu mikroskop? Kalau microsoft itu perusahaan!” ujar Renan tanpa ada nada tawa.


“Cih, hal kecil saja dipermasalahkan. Hanya salah ucap sedikit saja!”


“Tatap saja maknanya beda.”


Miranda hanya mendecak kesal. Dia mengambil churros yang dibeli Renan. Tiba-tiba tangannya dipukul oleh Renan. “Auw! Ada apa?”


“Kau belum cuci tangan!” Renan mengambil hand sanitizer di dalam tas selempangnya. “Gunakan ini dulu.” Setelah itu mengeluarkan tisu basah kecil.


Miranda hanya menatap Renan. Pria dengan rambut yang sangat tertata, wajah mulus, pakaian yang selalu rapi dan harum. Tentu modis dan trendi. Tidak hanya itu, pria itu juga sangat menjaga kebersihan dan penampilannya.


“Ada apa?” tanya Renan memecahkan lamunan Miranda.


“Tidak apa.” Miranda membersihkan tangannya dengan hand sanitizer. Setelah itu mengambil churros dan memakannya. Hanya satu gigitan lalu diletakan kembali. Dia mengambil minuman lemon tea dan menyedotnya. Miranda menarik kasar sedotan dari mulutnya. Hingga, sisa carian dari dalam sedotan terciprat ke arah Renan.


“Kau ini bagaimana minumnya?” kesal Renan. Dia langsung mengambil tisu basah dan membersihkan kemeja yang terkena cairan. Raut wajah Renan sangat kesal saat bajunya kotor.


"Biar aku bantu." Miranda mengambil tisu basah dan mencoba membantu membersihkan kemeja Renan.

__ADS_1


Renan menghindar. "Biar aku saja."


Miranda melihat apa yang dilakukan oleh Renan. “Aku ingin pulang ….”


__ADS_2