Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 12 Waltz


__ADS_3

Bukan kuingin menyalahkan waktu.


Tapi, waktu yang membuat aku bertahan.


Dalam luka, dalam hati yang tersakiti.


Tak mampu menepis rasa, karena cinta itu begitu dalam tersimpan di hati.


Inginku menyalahkan takdir. Tapi kusadari, aku mencintaimu.


Menepis rasa. Itulah yang kulakukan saat ini.


Pertemuan yg tak kusangka, membuat aku larut dalam cinta yang sempurna.


Hadirmu adalah harapanku. Tapi perpisahan yang kau ciptakan membuat aku kecewa.


Hingga … aku berfikir, apa ini cinta yang dulu, ataukah benci yang menghancurkan?


*


*


*


Aryo meminta kesedian Lukas untuk bertemu dengan Krisan. Mereka datang ke Dekashi Corporation.


“Kami sudah memiliki janji sebelumnya,” jelas Aryo.


“Mohon maaf. Tapi, Tuan Lukas saat ini tak bisa ditemui. Masih ada tamu bersamanya,” terang sang sekretaris.


Ya, sekretaris Lukas yang langsung meminta maaf pada Krisan dan Aryo, karena dia memang sudah membuatkan janji temu. Namun, siapa sangka seseorang datang dan membuat Lukas membatalkan janjinya dengan Krisan.


“Kalau begitu, kami akan tunggu sampai Tuan Lukas selesai dengan tamunya.”


“Saya tidak bisa menjanjikan Anda bisa bertemu dengannya atau tidak. Karena, Tuan Lukas sendiri yang meminta untuk membatalkan semua janji siang ini. Saran saya, lebih baik reschedule di lain hari.”


“Siapa orang yang sedang bersamanya? Sepertinya sangat penting,” ujar Aryo.


“Maaf, kami tak ada kewenangan untuk memberitahu,” jelas sang sekretaris.


“Baiklah. Kalau begitu, kami akan datang lagi besok,” ujar Krisan lalu pergi meninggalkan kantor Dekashi.


“Tuan tunggu dulu di sini. Biar saya ambil mobil,” ujar Aryo.


“Ya.”


Krisan menunggu di lobby, sedangkan Aryo mengambil mobil di basement. Krisan hanya mengetuk lututnya dengan jari telunjuknya. Tatapan matanya tertuju ke bawah, di otaknya banyak berbagai permasalahan yang harus diselesaikan.


Krisan masih menunggu di lobby, tak menghiraukan orang yang berlalu lalang. Dia menengadahkan kepalanya, melihat sosok yang selama ini selalu ia rindukan. Anyelir masuk ke dalam sebuah mobil, di sampingnya terdapat orang yang ingin ditemuinya.


Seketika Krisan berdiri, mendorong pintu kaca putar di lobby. Mencoba mengejar Anyelir. Sang wanita tanpa sengaja menoleh ke belakang. Sedetik, hanya sedetik menatap Krisan. Namun, dia yakin itu adalah mantan suaminya. Bibirnya mengulas senyum samar, lalu masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Lukas.


Krisan hanya menendang udara karena kesal. Bisa-bisanya dia kalah cepat dengan Anyelir. Dia baru akan mendiskusikan pada Lukas keuntungan jika berkerja sama dengannya. Namun, lelaki itu membatalkan janji dan lebih memilih mantan istrinya.


*


*


“Aku sangat senang kita bertemu di sini,” ujar Lukas.


“Aku baru beberapa hari pindah ke sini. Tak kusangka, kau pun dipindah ke sini. Saat presentasi, aku seperti mengenalmu, setelah diingat-ingat, ternyata itu kau,” ujar Anyelir.


“Aku pun hampir tak mengenalimu, kau tampak berbeda saat pertama kali kita bertemu. Dulu kau tampak sangat lugu.”


Anyelir dan Lukas pernah bertemu di Singapura dua tahun lalu. Pada saat itu, Anyelir dibawa oleh Petra ke acara jamuan. Mereka sempat berkenalan sejenak, tetapi tak sampai bertukar kontak. Dia baru ingat seusai presentasi. Lukas adalah orang yang ditemuinya di Singapura, karena itu, dia datang pada Lukas.

__ADS_1


Lukas memandang Anyelir penuh kagum. “Aku harap kau bisa datang,” ujarnya.


“Apa kau mengharapkan aku datang?” tanya Anyelir mengulum bibir. Lalu, menyesap minuman yang ada di gelas kaca. Mereka memutuskan untuk makan siang bersama.


“Tentu. Kau adalah orang yang akan aku tunggu kedatangannya,” ucap Lukas tanpa melepas tatapannya pada Anyelir.


“Lihat saja nanti. Aku bisa datang atau tidak,” ucap Anyelir dengan nada rendah.


Dia melirik sekilas pada Lukas. Laki-laki yang telah memiliki istri. Namun, masih bisa mengajak makan wanita lain.


“Kau memang pandai membuat orang penasaran,” ujar Lukas.


“Kuanggap itu pujian.” Anyelir mengelap sudut bibirnya dengan serbet.


Gerakan tangannya sangat elegan, jari kelingkingnya tampak lentik. Bagaikan sedang menari dan menggoda. Dia tahu, Lukas sedang menatapnya intens. Namun, dia bertingkah seolah tak mengetahuinya.


“Baiklah, karena sudah tidak ada yang dibicarakan. Aku pamit undur diri. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” lanjut Anyelir.


Lukas tersadar. “Apa mau kuantar?”


“Tidak perlu. Aku sudah memberitahu asistenku untuk menjemput.”


Anyelir keluar dari restoran dengan senyum lebar. Dia sudah sangat yakin perusahaannya akan bekerja sama dengan Dekashi Corporation. Terlintas wajah Krisan yang terkejut melihat dirinya bersama Lukas, membuat Anyelir bersorak dalam hati.


***


“Kenapa kau lama sekali?” tanya Krisan dengan nada tinggi.


Aryo yang melihat kemarahan Krisan membuat dirinya bingung. Sebelumnya, suasana hati bos-nya tak begitu buruk. Namun, dalam sekejap berubah sangat drastis.


“Maaf,” ucap Aryo. Hanya satu kata yang keluar dari mulut Aryo.


Krisan dan Aryo kembali ke perusahaan. Hari telah berganti. Namun, suasana hati Krisan masih sangat kacau jika membayangkan Anyelir masuk ke dalam mobil yang sama dengan Lukas. Tak pernah dirinya sekacau ini. Terlebih lagi, selama menjadi istrinya. Anyelir tidak pernah menggunakan pakaian yang sangat ketat seperti itu.


Aryo masuk ke dalam ruangan Krisan, dia melihat bos-nya yang masih dalam keadaan buruk.


“Bos,” sapa Aryo. Berubah lagi panggilannya terhadap Krisan. Bos, Tuan, Presdir. Hanya Aryo yang bisa melakukan itu.


“Ada apa?”


“Anda mendapat undangan pesta dansa dari Tuan Lukas.” Aryo meletakan sebuah kartu undangan di depan Krisan.


“Apa?”


“Undangan pesta dansa tertutup yang hanya dihadiri oleh orang terdekat tuan Lukas. Sebagai bentuk dirinya telah kembali ke negara ini. Sebelumnya, dia ditempatkan di Korea. Namun, dipindahkan ke sini untuk memajukan perusahaan di sini.”


“Mengapa aku diundang? Aku bahkan tak pernah berbincang dengannya sebelumnya.”


“Sepertinya, sebagai permohonan maaf karena telah membatalkan janji temu denganmu.”


“Aku tidak akan datang!” seru Krisan. Dia menatap kartu undangan tersebut. “Kapan acaranya?” tanyanya.


Aryo hanya mengerutkan dahi, bingung dengan perubahan sikap Krisan. “Akhir pekan ini.”


“Siapkan suit sesuai tema!” sambung Krisan.


Aryo hanya menghela napasnya pelan.


***


Krisan hanya bisa mendecak dalam hati. Dia bukan kalangan konglomerat. Meskipun, dulu hidup dengan limpahan kekayaan dan kini berhasil membangun perusahaannya sendiri. Namun, dia benci acara-acara yang dibuat oleh para konglomerat.


Bukan pertama kali mengikuti acara yang dibuat oleh kaum yang mengaku elite. Demi tercapainya tujuan, Krisan mau tidak mau mengikuti standar para kalangan atas.


Tujuannya dia datang adalah memastikan wanita yang statusnya masih menjadi istrinya datang atau tidak di pesta itu. Alunan lagu klasik masuk ke dalam telinga para tamu undangan. Orkestra dengan pemainnya yang tampak begitu profesional. Lagu-lagu yang diklaim sebagai lagu bagi kalangan elite.

__ADS_1


Krisan hanya menaikan sudut bibirnya ke atas. Bahkan hanya sebuah jenis lagu harus diklasifikasikan untuk golongan tertentu. Lamunan Krisan buyar, saat di pintu masuk datang seorang wanita yang menjadi pusat perhatian.


Seorang wanita dengan gaun hitam panjang, dengan belahan yang cukup tinggi. Sebagian paha terekspose. Kulit putihnya sangat kontras dengan gaun hitam yang digunakan. Warna putih di belakang tubuhnya terlihat mengintip. Ya, Anyelir datang dengan gaun punggung terbuka. Namun, karena rambut bergelombangnya terurai membuat kulit di punggungnya bagaikan sedang mengintip.


Krisan berjalan untuk mendekati sang istri. Namun, dia kalah cepat oleh sang pemilik hajat.


Lukas membungkuk bagaikan ksatria. “May I?”


Anyelir mengulurkan tangan yang dibalut dengan sarung tangan hitam, menerima tawaran Lukas untuk berdansa. Berjalan menuju lantai dansa. Krisan semakin mengeraskan rahangnya.


Namun, dia harus mengontrol dirinya. Tidak mungkin dia meninju wajah Lukas di depan umum. Jika hal itu terjadi, Anyelir tak mungkin kembali lagi ke sisinya. Seorang wanita menghampiri Krisan, mengajaknya untuk ikut berdansa.


Krisan tak menolak, dia menggenggam tangan sang gadis dan ikut berdansa di lantai dansa. Bukan lagu romantis yang harus saling berpelukan. Namun, tangan mereka saling bersentuhan. Tarian waltz dimulai. Namun, bukan tampak sebagai pertunjukan. Pesta dansa yang dibuat hanya sebagai penambahan isi acara.


“Kau cantik malam ini,” puji Lukas.


“Tapi aku selalu merasa cantik setiap hari,” timpal Anyelir.


“Kau sangat percaya diri.”


“Bukan percaya diri, melainkan kenyataan.”


Lukas terkekeh. Tak pernah dia bertemu dengan wanita yang begitu lantang. “Ya kau benar. Namun, dengan gaun ini, kau semakin menawan.”


“Simpan pujianmu untuk istrimu,” ujar Anyelir mengingatkan Lukas bahwa pria itu sudah beristri.


Lukas hanya tersenyum getir. “Istri yang tak mungkin diceraikan. Namun, bukan berarti harus bersama,” jelas Lukas.


Dasar lelaki!


Anyelir hanya mengulas senyum. “Setidaknya, jangan sakiti hatinya.”


“Lalu, bagaimana dengan hatiku? Sepertinya, aku baru merasakan benar-benar tertarik dengan seorang wanita.”


“Aku cukup tersanjung dengan ucapanmu. Namun, aku bukan perusak hubungan orang lain. Tapi, jika kau butuh teman curhat, kau bisa datang padaku.”


Yang dibutuhkan Anyelir hanya kerja sama antar perusahaan. Dia tak menggoda, meskipun tampilannya yang memang menggoda para pria.


“Aku tidak hanya butuh teman curhat. Tapi, aku butuh dirimu.”


“Hentikan perasaanmu, sudahi drama ini.”


“Cintaku, bukan sebuah drama.” Lukas bicara sangat lantang. Saat mereka pertama bertemu, dia memang sudah tertarik dengan Anyelir. Namun, saat itu Anyelir masih tampak polos.


Anyelir hanya bisa menelan salivanya sendiri. Setelah dirinya menandatangani kontrak kerja sama. Dia akan menjauh dari pria itu.


Saatnya bertukar pasangan. Entah dari mana, pinggangnya direngkuh seseorang. Anyelir menoleh, sedikit terkejut karena di depan matanya terdapat orang yang sangat dibencinya. Namun, dia dengan mudah menetralkan raut wajahnya.


“Sepertinya, kau sangat menikmati pestanya,” ujar Krisan. Dia mengencangkan tangannya di pinggang sang istri.


“Kehidupan para konglomerat bukannya sangat menyenangkan?” tanya Anyelir tersenyum smirk.


Krisan tahu, istrinya terbiasa hidup mewah. Sejak tinggal bersamanya, dia pun sudah berusahalah untuk memenuhi kebutuhan Anyelir.


Mereka saling menyahut. Namun, mereka tetap berdansa bersama.


Krisan mendengus. “Kau sangat hebat, dalam beberapa tahun, kau membuat dirimu menjadi pusat perhatian! Banggakah kau ditatap setiap pria?”


Anyelir menggigit bibir dalamnya. “Kau kenapa? Apa kau cemburu? Ups! Kau tidak punya hak untuk cemburu!”


“Sepertinya, aku harus mengingatkan dirimu bahwa kau masih istriku!”


“Oh tenang saja. Dalam sebulan, aku pastikan status kita berubah!” ujar Anyelir tegas.


Krisan hanya menatap tajam istrinya. Anyelirnya telah berubah drastis. Tidak ada lagi anyelir yang manja dan lugu. Saat ini, adalah wanita keras kepala yang tak bisa diajak bicara.

__ADS_1


__ADS_2