Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 58 Kode Etik Berpakaian


__ADS_3

Miranda dan Renan pergi ke butik langganan para artis. “Ini terakhir kalinya aku membantumu!” dengus Renan tanpa menoleh pada Miranda. Dia tetap fokus berkendara. “Cepat buat skenario kita putus. Jangan terlalu lama membohongi publik. Kau sendiri yang akan rugi nantinya!”


Miranda hanya melirik sinis Renan. Pria itu meskipun berkata sinis tetapi selalu ada di sampingnya. “Setidaknya sampai aku tidak menjadi pusat perhatian,” timpal Miranda. “Kau tidak lihat berita yang beredar? Karenamu, nama baikku kembali lagi. Bahkan sekarang banyak perusahaan yang ingin aku menjadi brand ambassadornya,” ucapnya penuh bangga.


“Tapi mau berapa lama? Semakin karirmu naik, akan semakin menjadi pusat perhatian!” ketus Renan.


“Apa ruginya membantuku? Lagipula, kau tidak ada hati yang perlu dijaga bukan?” Miranda yakin, Renan tak memiliki kekasih. Dia bisa menggunakan Renan untuk kepentingannya dalam karirnya, sekaligus kepentingan hatinya sendiri.


“Ya, tapi tetap saja ….”


“Oh ya, bagaimana caranya agar produk kosmetikku digandrungi? Aku sedang mencoba membangun bisnisku sendiri. Meluncurkan produk dengan merek dagang dari namaku!” ucap Miranda antusias. Dia sengaja memotong ucapan Renan agar tak membahas hubungan mereka lagi.


“Kau harus menentukan target pasar terlebih dahulu. Pematangan konsep, kualitas dan yang tidak kalah penting adalah pemasaran. Kau sudah ada nama, kemungkinan produkmu dikenal sudah sangat menjanjikan.”


“Baiklah. Sepertinya, kau bisa membantuku dalam bisnis.”


Renan hanya melirik sekilas pada Miranda, dia tak bicara lagi hingga sampai di butik tujuan. “Aku mau ke toilet dulu,” bisik Renan.


“Kau tinggal lurus dan belok ke kanan,” jelas Miranda.


Renan langsung pergi ke toilet. Miranda langsung disambut oleh pegawai butik. Mulai mencari pakaian yang cocok yang akan digunakan di acara pernikahan rekannya.


Seorang pria kemayu dengan pakaian sedikit feminim menghampiri Miranda. “Hei Miranda, kau datang tepat waktu,” ucap Oscar, seorang designer sekaligus pemilik butik.


Miranda tampak sumringah. “Wah, kebetulan sekali bisa bertemu denganmu hari ini,” ujarnya seraya memeluk Oscar. Sudah dua bulan Oscar sibuk di New York untuk menghadiri acara fashion di sana.


“Aku pun sangat kangen kamu, jarang-jarang artis hectic sepertimu bisa ke sini,” ucap Oscar lemah lembut tanpa nampak dibuat-buat.


“Aku mencari baju untuk ke acara pernikahan,” jelas Miranda.


“Apakah datang ke acara pernikahan Rebecca?” tanya Oscar. Rebecca adalah artis blesteran Australia dan menikah dengan pria Amerika.


“Ya. Kau tidak datang?”


“Tidak! Dia tak pernah menggunakan rancanganku,” dengus Oscar. “Temanya apa?”


“Internasional, itu saja. Acara di hotel bintang 5.”


“Baiklah, aku akan carikan gaun yang sesuai untukmu,” jelas Oscar. “Ayo ikut aku,” tambahnya.

__ADS_1


Miranda mengikuti Oscar pergi. Mereka pergi ke lantai dua. “Aku membuat beberapa gaun baru, aku rasa bisa digunakan olehmu.”


...----------------...


Renan keluar dari toilet, dia tak melihat ada Miranda di lantai bawah. “Di mana wanita yang tadi di sini?” tanyanya pada seorang pegawai butik.


“Nona Miranda? Dia sedang berada di lantai dua,” jelas sang pelayan.


“Terima kasih,” ucap Renan lalu pergi ke lantai dua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Miranda melihat takjub rancangan-rancangan Oscar. “Aku ingin baju couple,” ucapnya.


“Couple?” tanya Oscar memastikan.


“Ya,” jawab Miranda singkat.


“Dengan pria?” tanya Oscar lagi.”


“Tentu saja!” ucap Miranda bangga.


Miranda mengerutkan dahi. “Bukan dengannya, aku hanya mengaguminya! Apa kau tak melihat berita?”


“Oh maaf. Aku tidak mengikuti berita karena terlalu fokus dengan pergelaran busana.”. “Siapa kekasihmu sekarang?” tanya Oscar penasaran.


“Renan,” ucap Miranda. Dia tak berniat mengatakan pada Oscar hubungannya dengan Renan hanya sebuah kesepakatan. Tidak ada yang pernah tahu masa depan. Jika dia berjodoh dengan Renan, biarkan menjadi ceritanya. Jika pun tak berjodoh, akan ada orang-orang yang membelanya bahwa mereka benar pernah menjalin hubungan.


“Apa dia seorang pengusaha?”


“Ya. Dia lama di luar negri,” gumam Miranda. Dia melihat gaun putih yang berdampingan dengan jas seorang pria. “Gaun ini bagus, cocok sekali dengan jas pria ini. Pasti akan tampak serasi.”


“Kau ingin datang ke acara pernikahan dengan gaun putih? Kau tamu undangan atau pengantinnya!” dengus Oscar.


“Memang tidak boleh tamu undangan menggunakan gaun putih?”


Oscar hanya mendengus. “Datang ke pernikahan tidak boleh tampil melebihi pengantin! Apalagi pernikahan yang mengusung tema internasional, yang notabennya sang pengantin menggunakan gaun putih. Kau akan terlihat tidak sopan. Tidak ada yang melarang memang untuk menggunakan gaun putih. Hanya saja, sudah menjadi bagian dari kode etik berpakaian. Aturan yang tak tertulis. Ya, aturan secara implisit.”


Miranda melepas tangannya yang menyentuh gaun putih tersebut. Walaupun kecewa tak bisa menggunakan gaun itu. Namun, dia masih menghargai sang pengantin. Matanya mengedar, mencari yang sesuai dengan keinginannya. “Aku mau gaun merah itu,” tunjuk Miranda pada gaun merah yang memiliki model sabrina dan rok panjang yang lebar hingga menyapu lantai. Gaun yang cukup berkilau karena terdapat batu permata.

__ADS_1


“Gaun merah itu?” tanya Oscar menunjuk gaun yang disebut Miranda.


“Ya. Kenapa? Tidak boleh juga?” tanya Miranda meninggikan suara.


“Bukan tidak boleh, terkadang merah menjadi warna terlarang untuk tamu undangan. Merah berarti, kau telah tidur dengan pengantin pria," ucap Renan penuh penekanan pada kalimat terakhir.


Oscar dan Miranda menoleh menatap Renan yang tiba-tiba masuk dalam obrolan mereka. “Mana ada hal seperti itu?” keluh Miranda. Dia melirik kembali pada gaun merah. “Kau asal bicara saja bukan? Merah lebih dominan yang melambangkan keberanian, sensual dan nakal!” sambungnya.


“Hanya menurut nenek moyang. Beberapa budaya negara, yang menganggap merah merupakan suatu keberuntungan. Pengantin menggunakan warna merah. Jika tamu menggunakan warna merah bisa jadi dianggap bagian dari pakaian pasangan pengantin tersebut,” papar Renan panjang lebar.


“Merah tak boleh! Putihpun tak boleh!” keluh Miranda. Sedangkan Oscar hanya memperhatikan Renan yang sedari tadi bicara.


“Kalau putih, dihindari karena beberapa budaya non-Barat mengasosiasikan warna tersebut dengan kematian dan masa berkabung!” seru Renan. “Tapi, kalau untuk budaya barat sendiri, dianggap tak menghargai pengantin.”


“Jadi aku harus pakai apa? Bukankah hitam juga bisa melambangkan berkabung?” keluh Miranda.


“Jika kau ingin menggunakan warna merah boleh saja. Yang kau hadiri adalah tema Barat internasional, yang pengantinnya kemungkinan besar menggunakan gaun putih. Warna merah hanya digunakan oleh beberapa negara seperti India, China, atau pernikahan lainnya yang warnanya mungkin memiliki makna budaya yang signifikan. Namun, aku merasa kau tak cocok menggunakan gaun merah itu ke acara pernikahan malam ini. Bukan karena warnanya atau budaya pernikahan yang mengusung pengantin gaun merah, melainkan karena kemewahan gaun ini,” jelas Oscar.


“Pakaian itu seperti preseden untuk mencoba mengalahkan pengantin wanita,” sambung Renan. “tidak peduli tingkat formalitas acaranya, ada satu aturan utama yang harus diikuti oleh semua tamu, pakaianmu tidak boleh melebihi sang pengantin!” serunya.


“Huft! Mau pergi ke acara pernikahan saja repot sekali!” keluh Miranda.


Renan hanya terkekeh. “Sebenarnya, bagaimana orang memandang saja. Terlepas dari itu, setiap pernikahan akan memiliki kode etik berpakaian yang berbeda, cobalah untuk menghormati itu dalam cara berpakaian, posisikan diri kita di tempat berpijak,” jelas Renan.


“Kau … sangat mengerti kode etik berpakaian,” puji Oscar menelisik Renan dari atas hingga bawah.


Renan tampak canggung. “Aku hanya tahu sedikit,” ucapnya.


Akhirnya Miranda memilih warna biru dengan aksen hitam. Dia dan Renan tampak serasi. “Terima kasih atas gaunnya,” ucap Miranda pada Oscar. Dia menepuk lengan sang designer.


“Tentu, Sayang. Kau bisa datang ke sini kapanpun kau mau. Aku punya banyak gaun,” ucap Oscar. Dia melirik sekilas pada Renan yang berjalan terlebih dahulu.


Miranda pun melihat Renan yang keluar dari butik tanpa pamit. “Kalau begitu, aku pamit.”


Miranda melepas tangannya dari lengan Oscar. Namun, Oscar menarik lengan Miranda. “Apa kau benar menjalin hubungan dengannya?” tanya Oscar dengan mimik serius.


“Ya, tentu. Kenapa?”


Oscar tampak ragu. Namun, dia tetap mengatakan apa yang ada dipikirannya. “Tidak apa. Aku hanya merasa, dia tidak tulus padamu. Saranku untuk menjauh darinya. Kau pantas mendapatkan pria sejati yang mencintaimu,” ucapnya.

__ADS_1


Miranda hanya tersenyum, tanpa menimpali lagi ucapan Oscar. Dia pergi meninggalkan sang designer. Sedangkan Oscar hanya bisa menatap punggung Miranda yang menghilang dibalik pintu. Berharap, artis itu mendapatkan pria yang tulus padanya.


__ADS_2