Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 9 Kembali


__ADS_3

“Batalkan kerja sama!” ujar Krisan tegas.


“Tapi, baru kali ini PT Ndaragi mundur dalam pengiriman barang, apa tidak diberi kesempatan sekali lagi?” tanya Aryo.


“Mundur sampai seminggu? Aku akan mentolerir jika itu satu atau dua hari. Tapi, ini seminggu. Apapun alasannya, aku anggap ini sebuah ketidakprofesionalitasan!” tegas Krisan.


Aryo hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Sahabat sekaligus bosnya menjadi begitu kejam dalam berbisnis setelah kepergian sang istri. Tiga tahun kehilangan Anyelir membuat Krisan gila kerja. Namun, hal itu membuat perusahaan Krisan semakin maju.


“Baik, akan aku laksanakan pembatalan kerjasama,” ujar Aryo.


“Apa Perusahaan yang kita ajukan kerjasama belum memberi jawaban?” tanya Krisan.


“PT GLK belum memberi jawaban,” jelas Aryo.


“Sudah hampir sebulan, jika tidak ingin bekerjasama, artinya dia ingin bersaing dengan perusahaan kita,” gumam Krisan.


Aryo pergi dari ruangan. Krisan membuka laci mejanya, mengeluarkan photo Anyelir dan mengusap photo tersebut. “Maafkan aku, Aku mencintaimu.”


Penyesalan yang selalu datang terlambat. Seharusnya dia memikirkan bahwa Anyelir bisa melakukan hal nekad. Gadisnya, gadis manjanya yang selalu gegabah, ceroboh dan berpikir pendek. Seharusnya, dia tak ikut gegabah seperti istrinya. “Aku merindukanmu,” lirih Krisan lagi.


*


*


*


“Direktur baru, katanya datang hari ini?”


“Ya, perusahaan keluarga. Tentu saja yang naik adalah anggota keluarga.”


“Katanya cantik, masih dibawah 30 tahun.”


“Hanya modal cantik, tapi tidak bisa bekerja, sama saja bohong!”


“Apa dia sudah menikah?”


Desas desus direktur baru akan segera datang. Tidak ada yang pernah melihat sosok itu sebelumnya. Para karyawan, hanya mengetahui direktur baru masih anggota keluarga.


****


Seorang wanita dengan rambut bergelombang, tubuh ramping berjalan keluar dari bandara. Di hidungnya bertengger kaca mata hitam, kulit putihnya sangat kontras dengan rambut cokelat panjang.


Gaun merah sedikit ketat dipadukan dengan blazer kulit, sepatu boot yang menambah menawan saat berjalan. Bibir merah itu begitu menggoda, menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.


Orang-orang tersebut tak tahan untuk melihat gadis itu. Perlahan memberi jalan pada gadis tersebut.


“Terima kasih.”


Wanita itu menurunkan kaca matanya sedikit pada orang yang telah membantunya mengambil passport yang tak sengaja terjatuh.

__ADS_1


“Ti—dak masalah,” ujar sang pria gugup yang telah membantu mengambil passport.


Anyelir hanya tersenyum melihat kegugupan dari pria tersebut. Krisan memang kerap memujinya cantik. Namun, Krisan tak pernah membiarkan dirinya merias diri.


Ponsel Anyelir berbunyi, dia mengangkat panggilan telepon dari orang yang menjemputnya.


“Apa kau yang menjemputku?” tanya Anyelir melihat papan nama yang dibawa oleh seorang gadis.


“Apa Anda Nona Fransisca?”


“Ya,” jawab Anyelir.


“A—ku Vinnie,” ujarnya gugup seraya mengulurkan tangan pada Anyelir.


Vinnie memang mendengar, yang akan menjadi bosnya adalah seorang wanita cantik. Namun, dia tak menyangka wanita di depannya sangat cantik hingga membuatnya gugup.


Anyelir menerima uluran tangan Vinnie untuk berjabatan tangan. Hanya sekilas, Anyelir melepas kembali jabatan tangan Vinnie.


“Ayo kita pergi,” ujar Anyelir.


“Baik.”


Vinnie membukakan pintu untuk Anyelir, mereka masuk ke dalam mobil.


“Kau yang akan menjadi asistenku, bukan?”


“Ya, Nona.”


“Besok, ganti tampilanmu!”


“Maaf?” tanya Vinnie tak mengerti.


“Ganti sepatumu dengan high heels. Buang kemeja putihmu itu. Kau seperti anak magang yang baru lulus sekolah!” dengus Anyelir.


“Baik Nona.”


Tidak ada percakapan lagi, Anyelir hanya melihat kesamping jendela, tidak banyak yang berubah dari kota tersebut. Namun, tidak dengannya. Dia bukan Anyelir yang dulu, dia adalah Fransisca.


“Putar arah, antar aku ke apartemen Royal High.”


“Tapi Nona. Perintah Tuan untuk mengantar Anda ke mansion ….”


“Jangan membantah,” potong Anyelir.


Vinnie hanya bisa mematuhi perintah Anyelir. Dering ponsel menggema. Anyelir mengangkat panggilan telepon tersebut.


“Ya, Paman.”


“Apa kau sudah sampai?”

__ADS_1


“Ya, lagi di mobil.”


“Aku sudah siapkan rumah untukmu. Tinggallah di sana.”


“Tidak perlu, rumah itu terlalu besar. Aku akan tinggal di apartemen.”


“Baiklah, terserah dirimu saja.”


“Terima kasih Paman.”


Anyelir menutup sambungan teleponnya. Tatapannya tertuju ke depan, menerawang masa lalu. Tiga tahun dirinya telah pergi dari negara ini dan kini, dirinya kembali untuk meneruskan usaha keluarga.


Petra, adik dari almarhum ayahnya berhasil menemukan Anyelir dan menolongnya. Sepuluh bulan Anyelir koma dan dibawa ke luar negri oleh Petra. Setelah sadar, dirinya belajar bisnis dari Petra.


Kini, Petra akan memberikan hak Anyelir. Petra telah lama tinggal di luar negri, hubungannya dengan orang tua Anyelir tak berjalan harmonis. Karena itu, dia tak mengetahui tragedi yang terjadi pada keluarga Anyelir.


Memiliki perusahaan di dalam negri atas namanya. Namun, selama ini dikelola hanya oleh orang kepercayaannya. Meskipun atas nama Petra. Namun, perusahaan tersebut adalah perusahaan keluarga. Kini, dia menyerahkan pada Anyelir.


“Sudah sampai, Nona,” ujar Vinnie.


Anyelir keluar dari mobil. Vinnie membuka bagasi dan mengeluarkan koper Anyelir.


“Biar aku saja. Kau pulanglah,” ucap Anyelir menghentikan Vinnie yang hendak membawa kopernya.


Vinnie mengelus dadanya saat Anyelir pergi meninggalkannya. “Gugupnya,” lirih Vinnie.


Anyelir masuk ke dalam apartemennya. Dia langsung menuju kamar mandi, menyalakan shower dan membasahi tubuhnya. Dia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri yang telah bebas dari riasan.


Dia membuka bathrobe yang digunakan, menatap tubuhnya yang tanpa busana. Beberapa bekas luka dibiarkannya tanpa ada rasa ingin menghilangkan. Dia meraba dadanya yang terdapat luka tusuk. Dia bahkan sudah lupa, tusukan dari besi atau bukan saat dirinya menceburkan diri.


Tangannya turun lagi ke bawah, melihat ke bagian perut bawah. Sebuah garis melintang di sana, Anyelir bahkan tak tahu mengapa bagian itu pun terluka.


Dia memakai pakaian santai. Besok, dirinya mulai bekerja. Membuat cokelat panas lalu membawanya ke depan tv. Tangannya mengulurkan remote, acara bisnis menjadi favoritnya sekarang.


Fluktuasi luar ngeri, harga saham yang semakin meningkat. Tak terasa siaran telah berganti. Sosok pengusaha muda dan tampan menjadi sorotan. Seorang pria yang menjadi inspirasi.


Gerakan tangan Anyelir terhenti, dia meletakan cangkir di atas meja. Anyelir hanya menyunggingkan senyum kecil saat mantan suaminya ada di dalam layar kaca. Dia jarang menyoroti berita dalam negri, tak menyangka Krisan ada di dalam layar kaca.


“Bisa-bisanya aku bertindak bodoh untuk pria seperti itu!” rutuknya.


Anyelir mematikan saluran televisi dan masuk ke dalam kamarnya untuk tidur. Terlelap untuk melupakan Krisan.


Berbeda dengan Anyelir, Krisan tak mungkin tidur cepat. Dia akan terus disibukan dengan pekerjaan untuk sedikit melupakan kesedihannya. Hingga larut malam, dia baru pulang ke rumah.


Krisan naik ke atas ranjang, mengambil pigura kecil di meja samping tempat tidur. “Selamat tidur, Sayang,” ujar Krisan sebelum menutup matanya.


...❤️❤️❤️❤️...


Happy Reading 🥰

__ADS_1


Yang suka cerita geng motor bisa cek novel temen Age 👇



__ADS_2