
Mereka saling tatap, lampu kamar yang terang benderang memperpampangkan dengan jelas wajah mereka.
"Tidak cantikkah?" tanya Anyelir sedikit tercekat.
Jari lembutnya terulur, mengusap air mata di pipi sang suami. Seolah memberi tahu bahwa dirinya baik-baik saja.
"Cantik, sangat cantik," lirih Krisan. Dia mencium guratan bekas luka di dada sang istri.
Tanpa rasa jijik, disapukan luka tersebut dengan lidahnya.
Kini, tangan Anyelir yang terulur, dia mematikan saklar lampu di samping tempat tidur. Suasana kembali menjadi temaram.
Dia menangkup wajah suaminya. Menatap dalam gelap mata sang suami, dia menarik wajah Krisan. Tanpa aba-aba, Anyelir mencium dengan lembut.
Saling mengenal tubuh masing-masing, sudah tahu bagian mana yang menjadi titik sensitif.
Perasaan bersalah, perasaan ingin melindungi telah bercampur menjadi kesatuan. Menjadi pacu agar dirinya lebih ektra lagi mencintai sang istri.
Saling membelit, saling meraba. Memberikan sentuhan penuh kasih. Terlarut dalam nikmatnya dunia. Gerangan rendah dari seorang pria.
Sudah terlalu lama Anyelir tak merasakan keindahan ini, membuatnya tak tahan akhirnya menjerit kesakitan. Namun, di telinga Krisan terdengar bagaikan alunan musik yang menggoda sangat indah.
Gemuruh gairah pun meledak. Lama tak melakukan, membuat Krisan terburu-buru. Tetapi, dirinya tak ingin segera mengakhiri permainan.
Krisan berhenti sejenak, mencoba lebih lama, tetapi tetap saja menemui tahap akhir. Dia menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang istri. Mencoba mengatur napasnya tanpa melepas penyatuan. Meskipun ... dirinya sudah membuang sesuatu pada rahim sang istri.
Merutuki dirinya sendiri yang tak sampai 15 menit telah mengakhiri permainan mereka. Terlalu lama berpuasa, membuat Krisan dengan cepat menyelesaikan yang bisanya bisa mencapai waktu yang lama.
Anyelir hanya diam, dia tahu harga diri laki-laki terletak pada kejantanan memimpin perang ranjang.
Perlahan melepaskan diri dan tidur terlentang di samping Anyelir. Pandangan matanya menatap langit-langit. Masih kesal karena dirinya terlalu cepat keluar.
Anyelir hanya melirik sepintas pada sang suami. Dia mengulurkan tangan, meraih tangan sang suami.
Menyentuhkan pipinya sendiri pada telapak tangan kasar Krisan. Sang pria menoleh, melihat apa yang dilakukan oleh sang istri.
Tidak hanya menyentuhkan pipinya. Anyelir memasukan satu jari Krisan ke mulutnya. Gerakan Anyelir lembut, satu persatu dikulumnya jemari tersebut.
Tenggorokan Krisan tercekat. Dia menatap sang istri. Anyelir melepaskan jari terakhir dengan gerakan lambat. Dia memberikan senyum lembut.
Anyelir hanya menatap sang suami. Meskipun bukan kategori pria tampan seperti pria-pria yang sering dia tonton. Bukan pria berkulit putih dengan wajah yang sangat mulus. Namun, Anyelir selalu mengagumi suaminya. Tampan yang khas, yang hanya ada pada diri Krisan.
Tatapan tajam Krisan yang menurutnya misterius. Bibir tebalnya tak berlebihan, sangat alami dan pas untuknya. Alis yang terukir bagai pedang seolah bersiap untuk perang, penuh dengan ketegasan.
Tak tahan dengan apa yang dilakukan sang istri. Krisan menarik Anyelir hingga posisi kali ini, Anyelir berada di atas Krisan.
__ADS_1
Krisan menyentuh pipi sang istri. Menatap lembut wajah Anyelir dalam penerangan yang minim. Dari dahi hingga ke dagu, tak ada celah untuk dirinya mengeluh. Apa yang ada pada sang istri, selalu sempurna di matanya.
"Kau sangat menggoda, Sayang," ujar Krisan lalu mencium kembali sang istri.
Anyelir membalas antusias ciuman sang suami. Tubuh mereka yang saling menempel. Tak sedikitpun Krisan keberatan dengan beban tubuh sang istri yang sedang menindihnya, tanpa menahan berat tubuh.
Anyelir merasakan sang suami yang tersulut gairah kembali. Bibir Anyelir menyinggung senyum samar. Dia berhasil menaikan harga diri seorang laki-laki.
Malam yang sudah sangat larut berangsur menuju pagi. Kini, Anyelir sedikit menyesal atas apa yang dilakukannya. Suaminya, tak memberikan celah untuk dirinya beristirahat.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, dan tepat pada waktu itu, Krisan mengakhiri permainannya. Anyelir sudah sangat kelelahan. Tak ingin dirinya memulai terlebih dulu lagi.
Sebagian besar kantor tidak beroperasi pada hari Sabtu. Begitu pula dengan kantor pusat Krisan dan Anyelir.
Krisan menghabiskan waktu dengan menatap sang istri yang terlelap. Tak pernah bosan memandang sang istri.
Anak rambut seolah bermain di dahi Anyelir. Sebagian rambutnya berantakan di atas bantal. Namun, hal itu tampak indah di mata Krisan.
Rambut Anyelir yang tak lagi hitam lurus, tetap menunjukan pesonanya. Rambut cokelat bergelombang menambah tampilan semakin menantang.
Krisan membuka sedikit gorden, cahaya matahari masuk melalui kaca. Hal tersebut tak mengganggu Anyelir yang tertidur. Mungkin, karena gadis itu terlalu lelah.
Krisan mengecup seluruh wajah Anyelir. Hatinya membuncah bahagia, membayangkan akan menjalani hari-hari bahagia bersama dengan sang istri.
Jemari Krisan menyusuri wajah Anyelir. Mulai dari dahi terus turun sampai ke dagu. Dengan tatapan lembut mengagumi kecantikan sang istri.
Krisan bangkit setelah puas menatap Anyelir yang tertidur, dia beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mulai menyalakan shower dan membasahi tubuh.
Anyelir mulai mengerjapkan mata. Merasakan tubuhnya yang seolah remuk. Dia mulai bangkit dari tidurnya kerena keinginan untuk membuang air kecil. Mulai menginjakan kaki di lantai dengan kesadaran belum penuh sempurna.
Dia berjalan gontai menuju kamar mandi. Matanya setengah tertutup. Unit Apartemen yang sama dengan unit apartemennya sendiri. Tak sulit baginya masuk ke dalam kamar mandi yang masih berada di dalam kamarnya.
Membuka pintu dan duduk di closet. Menghela napas lega setelah buang air kecil. Menekan splash untuk membuang air di closet. Matanya masih terpejam saat dirinya membersihkan bagian inti. Dahinya mengerut, masih sedikit terasa sakit di sana. Dia tak hendak pergi, Anyelir masih terduduk di closet dengan mata terpejam.
Krisan mematikan shower. Dia memperhatikan Anyelir dari saat masuk ke dalam kamar mandi. Closet dan shower hanya dibatasi oleh kaca, setengah bening dan setengah lagi buram dari tengah ke bawah. Dia berjalan menghampiri sang istri dengan senyum terukir di wajah.
"Apa kau ingin tidur di kamar mandi?" tanya Krisan. Hal tersebut membuat Anyelir membuka matanya lebar.
"Kenapa kau di sini?" tanya Anyelir bingung.
Dia melihat sekeliling. Bukan kamar mandinya. Melihat kembali sang suami yang tak berbusana. Lalu, melihat dirinya sendiri yang juga masih dalam keadaan polos. Dia hanya menautkan alis, teringat apa yang telah mereka lakukan semalam.
Krisan mendekati Anyelir, mengusap rambut sang istri. "Masih lelah?"
"Em," jawab Anyelir. Dia hendak berdiri, tetapi bahunya ditahan oleh Krisan. Hingga Anyelir tetap terduduk di closet.
__ADS_1
Anyelir hanya menatap sang suami. Begitu pula dengan Krisan yang tak lepas pandangannya pada Anyelir.
"Sambutlah," lirih Krisan dengan anda tertahan.
"Ha?"
Krisan langsung menarik tengkuk sang istri untuk mendekat. Usia pernikahan mereka bukan usia pernikahan hitungan jari. Sudah banyak yang mereka lalui.
Anyelir tahu maksud sang suami. Dia melakukan titah sang suami. Sekali lagi, mereka mengulang yang terjadi semalam. Hanya berpindah tempat di kamar mandi.
"Kris, perbanmu basah. Ada darah yang keluar," ujar Anyelir mencoba mendorong Krisan. Dia panik, meskipun Krisan tak mengalami luka berat. Namun, tetap saja Anyelir khawatir, ingin segera mengganti perban sang suami.
Sedikit darah keluar dari kepala Krisan. Hal tersebut tak diindahkan olehnya. "Biarkan saja. Nanti saja ganti perbannya."
Anyelir hanya pasrah, mengikuti alur yang dibuat sang suami. Bak pengantin baru, mereka tak keluar dari apartemen hanya untuk bermesraan.
"Apa kita akan makan makanan siap saji lagi?" tanya Anyelir.
Sebagian waktu dihabiskan untuk bercinta, bahkan makan siang pun memilih makanan siap saji untuk menghemat waktu.
Krisan melirik sang istri. "Bersiaplah, kita makan malam di restoran saja," ujarnya seraya mencium sekilas sang istri.
...----------------...
Anyelir menggunakan dress hitam selutut, selalu tampak cantik meskipun dengan riasan minimalis.
Mereka masuk ke dalam sebuah restoran. Memesan beberapa makanan untuk mereka. Anyelir menikmati pemain biola yang sedang menghibur para pengunjung.
"Makan yang banyak, kamu pasti sangat lapar."
"Ya," jawab Anyelir seraya memasukan makanan ke mulutnya.
"Kita pesan untuk dibawa pulang. Siapa tahu tengah malam kamu lapar," ucap Krisan.
"Kau ingin buat aku gendut dengan makan tengah malam?"
"Makan malam tanpa kegiatan bisa menambah lemak. Tapi 'kan kau beda, nanti malam akan ada kegiatan olah raga membakar kalori. Jadi, tak usah takut gemuk," ujar Krisan santai.
Anyelir hanya mendengus, suaminya mulai menunjukan sifat m*sumnya. Mereka menikmati makan malam dengan sesekali bersenda gurau.
Selesai makan, mereka bersiap pulang. Krisan membukakan pintu sang istri sebelum masuk ke mobil. Krisan mencium sekilas bibir sang istri.
"Kau ini!" keluh Anyelir karena dicium di tempat parkir.
Krisan hanya terkekeh. Dia memutar dan masuk ke dalam mobil. Duduk di kemudi lalu melajukan kendaraannya.
__ADS_1
Klik! Satu photo tercetak dalam kamera seseorang. Orang tersebut tersenyum puas dari hasil jepretannya. Bukan hanya satu photo Krisan dan Anyelir di tempat parkiran. Orang tersebut sudah mengambil gambar makan malam romantis mereka.