
Krisan begitu bersemangat setelah mendengar Anyelir menunggunya di kantor. Dengan tergesa menuju ruangannya untuk segera memeluk sang istri. Dia membuka pintu dan berteriak, “Anyelir ….” Ritme suara Krisan melemah saat melihat apa yang dipegang sang istri.
“Tidak mungkin!” ucap Anyelir tercekat, tangannya bergetar hebat, dia menatap nanar suaminya.
Krisan berjalan perlahan, dia mendekati sang istri. “Aku bisa jelaskan ini semua,” ucapnya pelan.
“Orang tuaku bukan pembunuh!” tegas Anyelir.
Krisan hanya menghela napas. “Aku tak ingin mempercayainya, tapi itulah kenyataannya.”
“Karena ini kau menceraikanku? Kau menganggap aku adalah anak seorang pembunuh?” tanya Anyelir penuh penekanan, matanya memerah, tak bisa lagi membendung air mata. Dia sangat yakin orang tuanya bukan orang jahat. Dia bahkan sangat dimanja dengan limpahan kasih sayang.
Wajah Krisan mulai pias. “Sayang. Aku tahu ini berat bagimu, tapi kita tidak bisa mengubah apapun.”
Anyelir mereemas amplop cokelat itu. “Ayahku bukan pembunuh!” tegasnya lagi.
Anyelir melangkah, tak bisa membayangkan masa depan rumah tangganya dengan Krisan. Sekarang ia tahu penyebab Krisan menceraikannya. Dia tak ingin melihat Krisan lagi. Dia tak ingin hidup dengan pria yang menatapnya sebagai anak seorang pembunuh.
Krisan langsung mengejar istrinya. Ditariknya tangan Anyelir, lalu didekapnya dari belakang. “Aku tahu ini sulit bagi kita. Kau tahu aku mengabaikanmu saat itu. Aku bimbang, hingga akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk berpisah. Namun, aku sadar … bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku mencintaimu.”
Anyelir menutup matanya, pelukan hangat sang suami tak bisa menghangatkan hatinya. Bagaimana dia bisa hidup dengan seorang laki-laki yang memiliki kebencian terhadapnya. Dia yakin, Krisan pasti sangat membenci orang tuanya. Meskipun, Anyelir sangat yakin bahwa ayahnya tak membunuh orang tua Krisan.
Anyelir mencoba melepas tangan Krisan yang melingkar diperutnya. "Aku ingin sendiri!"
"Sayang," lirih Krisan.
"Biarkan aku sendiri," ucap Anyelir tanpa melihat suaminya. Dia langsung pergi meninggalkan kantor sang suami.
"Anyelir ....," lirih Krisan menatap kepergian istrinya.
Anyelir langsung pulang ke apartemennya sendiri. Sedangkan Krisan pulang ke rumahnya. Dia berharap sang istri pulang ke rumah.
"Apa istriku di rumah?" tanya Krisan pada pelayan di rumahnya.
__ADS_1
"Belum, Tuan. Nyonya belum pulang ke rumah dari berangkat tadi pagi."
Krisan hanya menghembus napasnya kasar. Dia langsung menuju kamar mereka. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang istri. "Kenapa kau jadi sering kabur," gumamnya.
Krisan mendaratkan bokongnya di kasur, meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Anyelir. Anyelir tak mengangkat ponselnya. Krisan terus menurus menghubungi sang istri. Dia harus memastikan Anyelir tidak melakukan hal bodoh.
Tidak dapat menghubungi Anyelir, Krisan mencoba menghubungi Renan. Namun, Renan pun tak mengangkat panggilan teleponnya.
...----------------...
“Aku harus pulang,” bisik Renan pada Miranda.
“Acaranya belum selesai, tunggu sebentar lagi,” ujar Miranda yang juga berbisik.
“Kau bilang hanya sebentar!” ucap Renan penuh penekanan. Mereka sedang berada di bioskop, pemutaran perdana film terbaru Miranda. Film yang diproduksi setahun lalu. Namun, karena beberapa kendala, membuat penayangan film tersebut diundur.
“Durasi film saja 2 jam 20 menit. Belum lagi akan ada sesi wawancara,” jelas Miranda.
“Ini acaramu, mengapa melibatkanku?” dengus Renan.
Renan hanya bisa memberikan senyum palsu. Dirinya hanya mendampingi Miranda bagaikan kekasih yang selalu mendukung karir kekasihnya. Mereka bagaikan pasangan yang sempurna. Renan bahkan tak mengetahui Krisan berulang kali menghubunginya.
Film romance yang sebenarnya lumayan menarik bagi Renan. Namun, dia hanya tak suka dengan banyaknya adegan pelukan. Renan sedikit memicingkan mata saat melihat adegan Miranda berciuman dengan sang pemeran utama pria.
Miranda hanya melirik sekilas pada Renan saat adegan ciuman tersebut berlangsung. “Syuting film ini setahun yang lalu, tapi baru release tahun ini,” bisik Miranda seolah menegaskan ciuman tersebut dilakukan sebelum mereka berkenalan.
“Aku tidak peduli!” gumam Renan dingin.
Miranda hanya menyandarkan tubuhnya di kursi, dia tak mengajak Renan berbincang lagi. Dia akui, berada di sisi Renan membuatnya sedikit nyaman. Terlebih setelah ciuman tiba-tiba yang diberikan Renan. Entah karena dirinya yang mulai nyaman atau memang haus akan kedekatan dengan pria.
Setelah acara pemutaran perdana. Renan mengantar Miranda. "Sudah sampai, turunlah!" titah Renan.
"Terima kasih. Besok jangan lupa ada acara pernikahan teman artisku," ucap Miranda.
__ADS_1
"Apa hubungannya denganku?" tanya Renan menaikan sebelah alis.
Miranda membuka pintu mobil. Mengeluarkan sebelah kakinya dan menoleh pada Renan. "Jadilah orang baik yang menolong orang lain secara tuntas. Wedding party-nya malam. Jadi, kau bisa mendampingiku hadir bukan?"
Belum juga Renan membalas ucapannya. Miranda sudah melesat pergi dari hadapan Renan. "Hei! Aku bukan babumu!" teriak Renan yang diabaikan Miranda.
Miranda hanya tersenyum mendengar teriakan Renan. Semakin lama, dirinya begitu nyaman di samping pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anyelir menghiraukan dering ponsel yang tak henti berbunyi. Dia langsung menuju apartemennya sendiri. Membuka sandi apartemen dan langsung masuk menuju kamarnya. Tidak ada keberadaan Renan, tak membuatnya mencari sepupunya itu.
Dia langsung membaringkan tubuh di kasur dan menangis bak remaja putus cinta. Cinta pertamanya telah dituduh sebagai pembunuh oleh suaminya sendiri. Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya sendiri.
Anyelir tak mempercayai ayahnya membunuh orang tua suaminya sendiri. Dia tahu bagaimana ayahnya memperlakukan dirinya bagaikan seorang putri raja. Namun, bukti-bukti yang ditemukan Krisan begitu kuat, membuat dirinya sakit untuk mengetahui hal tersebut.
Ponsel Anyelir terus berdering, tak tahan dengan bunyi tersebut. Akhirnya, Anyelir mengangkat panggilan dari suaminya itu. “Aku tidak akan melakukan hal bodoh! Aku hanya ingin sendiri!” cerocos Anyelir tanpa memberi kesempatan Krisan berbicara. Dia langsung menutup panggilan telepon suaminya setelah berteriak pada Krisan.
Krisan hanya menatap layar ponselnya. Setidaknya hatinya tenang setelah mendengar langsung suara sang istri. Meskipun, dia tak tahu nasib rumah tangganya ke depan, yang ia yakin, dia akan tetap mempertahankan Anyelir.
Daya ponsel Krisan melemah, dia langsung menuju meja dan membuka laci. Mencari charger ponsel. Namun, matanya tertuju pada album yang ada di dalam lemari. Album yang baru pertama dilihatnya.
Krisan mengambil album tersebut. Mulai membuka lembar demi lembar photo album itu. Photo keluarga keluarga istrinya. Photo yang tampak bahagia. Hingga, dia menemuka photo ayahnya bersama dengan orang tua Anyelir. Tampak akrab, meskipun mereka tak sering bertemu.
Melihat photo yang begitu akrab, membuat Krisan tak menyangka sahabat ayahnya itu bisa menghancurkan keluarganya. Krisan menutup album photo itu, dia hanya bisa termenung. Hingga, akhirnya bangkit dari duduknya untuk menemui Anyelir. Ingin segera meyakinkan istrinya bahwa mereka akan baik-baik saja. Kehidupan lampau masa lalu orang tua mereka tak akan mempengaruhi kehidupan mereka.
Krisan langsung menuju apartemen Anyelir, dengan cepat mengendarai mobilnya. Tak menunggu besok, dia ingin menghadapi bersama-sama. Tak ingin ada penyesalan lagi.
Dia langsung mencetak tombol lift menuju apartemen Anyelir. Secara bersamaan, Krisan dan Renan keluar dari lift di lantai yang sama dari kabin lift yang berbeda.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Renan. "Oh ya, kau menghubungiku? Ponselku mati setelah melihat histori panggilan. Jadi tak bisa menghubungimu kembali."
"Aku akan tinggal di apartemen Anyelir, kau tinggal saja di apartemenku. Sandinya ulang tahun Anyelir," jelas Krisan tanpa ada keinginan menceritakan yang terjadi pada Renan. Dia langsung berjalan setengah berlari meninggalkan Renan.
__ADS_1
Renan hanya menatap punggung suami sepupunya yang masuk dalam apartemen Anyelir. Dia hanya mengangkat bahu lalu masuk ke dalam unit apartemen Krisan.