
“Argh!” teriak Miranda.
“Seharusnya kau mengontrol emosimu!” dengus Cindy. Dia mendorong Miranda agar masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana aku bisa mengontrol emosiku? Pria yang kusuka tergila-gila dengan wanita yang berselingkuh!” ujar Miranda berapi-api.
Dirinya habis memaki Renan yang telah membuat pengakuan bahwa dirinya kekasih Anyelir. Terjadi perang mulut antara dirinya dan Renan.
“Tapi tidak usah bertengkar berteriak seperti itu? Sangat memalukan!” keluh Cindy. Beruntung area tersebut sepi hingga mereka tak menjadi bahan tontonan orang lain.
“Maksudmu aku memalukan? Yang seharusnya memalukan adalah pria itu! Tak sepantasnya seorang pria bertengkar dengan seorang wanita seperti itu! Mulutnya sudah seperti tukang gosip yang tak berhenti bicara! Sangat menyebalkan!” dengus Miranda.
Cindy hanya menghela napas, dia menjalankan mobil dan meninggalkan area apartemen. Jika dirinya yang tak menarik Miranda, mungkin mereka sudah bergelut.
...****************...
“Selamat malam, Nyonya,” ujar seorang pelayan.
“Malam,” jawab Anyelir.
Hatinya berdegub kencang, sudah lebih dari 3 tahun dirinya meninggalkan rumah tersebut. Semua pelayan menyapa kedatangannya dengan hangat. Dirinya kembali menjadi nyonya di rumah mereka lagi.
Krisan menarik pinggang sang istri, mencium pucuk kepala Anyelir. Tak bicara, hanya dengan sebuah sentuhan cukup untuk mengalirkan kasih sayang.
Mereka masuk ke dalam kamar mereka, tidak ada yang berubah di sana, pandangan Anyelir menyapu seisi ruangan, suaminya tak mengubah apapun.
Perlahan Anyelir melangkah ke meja riasnya. Semua perlengkapannya tidak ada yang berkurang satu pun. Semua barang dengan merek dagang yang sama.
Krisan hanya mengikuti sang istri yang bagaikan sedang sidak kamar mereka, memastikan tidak ada jejek orang lain yang tinggal di kamar tersebut. Lemari pakaian pun masih sama. Pakaian lama Anyelir masih tersusun rapih. Hanya ada penambahan baju-baju baru yang Krisan persiapkan untuk sang istri.
Anyelir berdiri di ambang jendela. Menatap ke halaman rumah. Dia sering menunggu kedatangan sang suami di ambang jendela, menunggu suara mobil Krisan. Matanya mulai berembun mengingat masa lalu mereka yang sangat bahagia. Tidak ada cobaan besar kala itu. Dari hidup sederhana hingga merangkak menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses.
Bodoh! Keputusan pendek yang membuat dirinya hampir kehilangan nyawa dan membuang banyak masa karena kebodohan yang telah mereka perbuat. Krisan memeluk Anyelir dari belakang. Dia mencium wangi rambut sang istri.
“Aku sangat senang kau kembali lagi ke sini,” bisik Krisan. Semua yang ada di rumah tersebut adalah keinginan Anyelir dan Krisan hanya membatu mewujudkan keinginannya.
Anyelir hanya tersenyum, Krisan tak melepas pelukannya. Kini, ciumannya tidak hanya tertinggal di rambut. Krisan mulai menyusuri leher jenjang Anyelir.
“Kris ….” Anyelir mencoba melepas pelukan dari sang suami. Namun, Krisan semakin erat memeluknya. “Kris, aku mau mandi,” sambungnya.
“Nanti saja,” ujar Krisan masih asik dengan aktivitasnya di leher sang istri.
“Badanku lengket semua, aku ingin membersihkan diri,” ucap Anyelir mencoba melepas tangan Krisan yang melingkar di perutnya.
“Bersama ya?” pinta Krisan.
__ADS_1
“Lepas dulu!” elak Anyelir.
“Biar aku gendong,” ujar Krisan langsung menggendong sang istri menuju kamar mandi.
Anyelir hanya mendongakkan kepala sebentar, putus asa karena dirinya tahu tidak akan bisa lepas dari sang suami.
Mereka berendam bersama, tatapan Krisan jatuh pada bekas luka di dada sang istri. Dia mengusap tubuh sang istri, Anyelir hanya menunduk malu, bukan pertama kali. Dulu pun mereka sering mandi bersama. Namun, karena sudah 3 tahun berpisah, membuatnya sedikit malu.
“Biar aku saja,” ujar Anyelir meminta spons dari Krisan.
“Sudah diamlah, biar aku yang membersihkan tubuhmu.”
Setelah berendam, Krisan tak akan mengulur waktu. Dia langsung melempar sang istri ke atas ranjang. Sudah lama ranjang mereka seolah bertapa karena sang empu tak tak pernah datang. Kini, Krisan bersorak bahagia karena tidak akan pernah lagi ranjang mereka kesepian, akan menjadi saksi bisu aktivitas romantis mereka.
Belum juga memulai, ponsel Anyelir berbunyi. Dia mendorong Krisan yang hendak menciumnya. “Aku angkat telepon dulu.”
Krisan hanya merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Jika dulu, dia tak akan ragu menjauhkan yang mengganggu aktivitas panas mereka. Namun kini, Krisan lebih menghargai sang istri, apapun kepentingannya.
“Kau sudah pulang?” tanya Anyelir dengan ponsel di pipinya.
“Ya, sedang di apartemenmu. Kau di mana?” tanya Renan.
“Aku tidak pulang malam ini,” ujar Anyelir pelan.
“Tadi ada seorang wanita datang mencarimu!”
“Namanya Miranda.”
“Miranda?” tanya Anyelir memastikan.
“Ya.”
“Mau apa dia mencariku?”
“Tidak tahu! Yang jelas, dia tampak tak menyukaimu. Dia bahkan mencaciku.”
“Mencacimu? Bagaimana bisa?”
“Dia mengatakan aku tak tahu malu,” ucap Renan santai. “Salah! Kita yang tak tahu malu. Ya, dia bilang kita adalah pasangan tak tahu malu,” jelas Renan.
“Ha? Aku tak mengerti?”
Jarak yang dekat, ruangan yang sunyi, membuat Krisan dapat mendengar apa yang diperbincangkan oleh Anyelir di telepon. Dia tahu, yang menelpon adalah sepupunya. Sehingga, Krisan semakin mendekatkan diri pada sang istri karena tak perlu khawatir mengganggu karena itu bukan urusan kantor.
“Aku bilang aku adalah kekasihmu, dia malah memakiku karena berselingkuh dengan wanita bersuami!” dengus Renan. “Kau kembali bersama Kris?” tambahnya. Dari tuduhan Miranda yang mengatakan dirinya dan Anyelir berselingkuh, dia menyimpulkan bahwa sang sepupu kembali bersama suaminya.
__ADS_1
“Maaf aku belum memberitahumu,” ucap Anyelir pelan.
“Kau sudah berpikir matang-matang?” tanya Renan. Dia begitu peduli pada Anyelir, tak ingin wanita itu tersakiti.
Anyelir diam sejenak, Renan menunggu jawabannya, begitupula dengan Krisan. Dirinya memang sudah bersama Krisan. Namun, terkadang masih ada rasa khawatir di hatinya.
“Ya,” lirih Anyelir.
“Kau sedang bersamanya?” tanya Renan lagi.
“Ya,” jawab Anyelir lagi.
“Aku akan mendukungmu jika itu yang terbaik.” Hanya dukungan yang bisa diberikan pada sang sepupu.
“Terima kasih.”
Anyelir menutup panggilan telepon. Dia terdiam sejenak. Krisan langsung menarik sang istri dan mengukungnya.
"Ada apa?" tanya Krisan, dia melihat wajah sang istri yang terlihat bersedih.
"Tidak apa," jawab Anyelir menatap mata sang suami yang sedang berada di atasnya.
"Apa kau menyesal?"
Anyelir menggeleng pelan. "Tidak."
"Benarkah?"
"Ya," jawab Anyelir seraya menarik kepala Krisan.
Dia mencium terlebih dahulu sang suami. Tentu Krisan tak menolak, di wajahnya tercetak senyum. Namun, hatinya ada kegusaran, merasa sang istri menyembunyikan sesuatu.
"Aku mencintaimu," bisik Krisan.
"Aku tahu," jawab Anyelir.
Krisan selalu merindukan sang istri. Dia memberikan bukti kepemilikan atas Anyelir. Tiap sentuhan mendeklarasikan bahwa dia lah sang pemilik.
"Matikan lampunya," pinta Anyelir.
"Biarkan menyala, aku ingin melihat semua ekspresimu," bisik Krisan.
Anyelir hanya melenguh atas setiap sentuhan sang suami. Bibir Krisan menyapu ke seluruh tubuh sang istri.
Mulai dari ujung kepala, dahi dan terus ke bawah hingga sampai bermain di belly sang istri.
__ADS_1
Samar, sangat samar. Meskipun sangat terang, tetapi penglihatan Krisan begitu tajam. Dia tahu ada yang berbeda di bagian perut bawah sang istri. "Apa ini?" tanya Krisan menatap garis samar di bagian perut bawah sang istri.