
Hati bicara apa? Tubuh bicara apa? Itu yang sedang terjadi pada Anyelir. Pertahanannya runtuh atas ciuman yang diberikan oleh sang suami. Cinta? Benci? Terkadang, dua kata tersebut tak bisa dibedakan. Jika pun ada beda, mungkin hanya setipis selembar tisu yang akan melebur jika terkena dengan air.
Krisan terus mencium sang pujaan hati. Dia terus menginvasi rongga mulut Anyelir, ciuman tersebut semakin kuat. Krisan terus mendorong Anyelir ke belakang sofa. Dia membuka jas limited edition yang melekat di tubuhnya, dirinya serasa panas. Jas itu tergeletak di lantai. Krisan mulai menarik dasi yang seolah mencekiknya.
Anyelir mencoba menarik kepalanya, secepat kilat Krisan menahan tengkuk sang istri agar ciuman mereka tak terlepas. Krisan merebahkan Anyelir di sofa dengan lidah yang masih saling membelit. Krisan semakin tak terkontrol, tangannya berada di paha sang istri dan mulai menyusup ke dalam dress ketat yang melekat pada Anyelir.
Tersadar akan buaian, Anyelir mendorong kasar sang suami. Tekat yang sudah bulat untuk berpisah dengan Krisan membuat dirinya marah. Marah dengan Krisan yang dengan kurang ajar-nya mencium dirinya dan marah karena dirinya ikut terbuai. Ya, Anyelir tak akan kembali lagi pada Krisan. Bukan hanya perkataan Krisan yang menyakitkan sebelumnya.
Namun, begitu banyak yang dipertimbangkan oleh Anyelir, termasuk—dirinya yang belum bisa memberikan keturunan pada suaminya. Tak ingin menambah persoalan baru lagi. Sudah banyak yang mempertanyakan mereka belum juga dikaruniai buah hati. Hal itu pula yang membuat Anyelir tertekan.
Krisan jatuh terduduk di lantai sedangkan Anyelir bangkit dari posisi tiduran, dia duduk di sofa dengan mengatur napasnya yang memburu karena Krisan terlalu lama menciumnya.
"Sayang ...," ucap Krisan tercekat. Dia masih sangat menginginkan istrinya. Ingin rasanya langsung mengukung sang istri masuk ke dalam kamar, seperti yang sering ia lakukan di masa lalu. Mendekap Anyelir, meng-klaim bahwa gadis itu hanya miliknya.
"Jangan panggil aku seperti itu! Kita akan segera bercerai!" hardik Anyelir, air mata lolos dari mata indahnya.
"Anyelir, kumohon ... kembalilah padaku. Kita masih saling mencintai. Tadi adalah buktinya, kamu menikmati ciuman—"
Krisan begitu meyakini bahwa mereka saling mencintai. Meskipun, dirinya tak akan mengatakan pada sang istri alasan dirinya menceraikan Anyelir pada saat itu.
"Pergi dari sini sekarang juga!" teriak Anyelir memotong ucapan Krisan.
“Anyelir, aku mohon. Tidak bisakah kau pikirkan lagi? Aku salah di masa lalu. Itu kebodohanku yang berpikir pendek. Setelah aku kehilanganmu. Aku sadar, kau sangat berarti bagiku.”
“Hentikan omong kosongmu itu! Aku tidak akan termakan dengan perkataan memelasmu itu!”
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" tanya Renan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Tidurnya terganggu karena suara berisik di ruang tamu.
Krisan menoleh ke sumber suara. Matanya membulat saat melihat seorang pria yang baru saja keluar dari dalam kamar. Pria itu hanya menggunakan celana pendek dan kaos singlet.
Mereka bertiga saling tatap. Rahang Krisan mengeras dan tak sanggung berkedip, menatap Anyelir yang seketika menundukkan kepala saat dirinya menatap lekat netra indah Anyelir. Otaknya berkelana, terlalu banyak yang dia pikirkan tentang Anyelir. Sesuatu yang buruk meracuni otaknya.
Anyelir mengangkat dagunya. “Karena kalian sudah bertemu, aku akan perkenalkan.” Dia menoleh pada Renan. “Renan, ini Krisan mantan suamiku.” Lalu, dia menoleh pada Krisan. “Kris, ini Renan kekasihku.”
Alis Krisan menaut menatap Anyelir, menyangkal apa yang baru saja dikatakan oleh anyelir. “Kau bohong bukan?”
“Tidak. Seperti yang kau lihat. Kami tinggal bersama.”
Krisan tersenyum setengah. Sakit, hatinya sakit saat mendengar penuturan Anyelir. Laki-laki itu berpakaian santai, jelas sekali dia nyaman tinggal di sana. Apa yang sudah mereka lakukan?
“Hai,” sapa Renan.
Krisan hanya menatap tajam Renan, bukan waktunya mereka saling berkenalan. Apalagi terhadap pria yang menjadi musuhnya. Ingin sekali dia meninju wajah pria yang tampak tak berpori itu. Wajah Renan begitu mulus, tak ada jerawat satu pun.
__ADS_1
“Pergilah. Besok, aku antar surat cerai padamu,” ucap Anyelir memotong apa yang sedang Krisan pikirkan.
Sedih, marah, perasaan itu campur aduk di dalam otak Krisan. Perlahan, dirinya bangkit, dia butuh menenangkan diri sendiri. Tanpa bicara, dia melangkah pergi. Sebelumnya, dia menatap dalam sang kekasih yang hanya bisa menundukkan kepala. Dia pergi meninggalkan unit apartemen Anyelir.
Renan menghampiri Anyelir. “Kau tidak apa-apa?”
“Ya,” jawab Anyelir singkat.
Renan melihat jas yang tergeletak di lantai milik Krisan. “Jas suamimu tertinggal.”
“Mantan,” ucap Anyelir membenarkan kalimat Renan.
“Oh iya, mantan. Kembalikan saja besok.”
“Buang saja!”
Renan mengambil jas tersebut, dia mengerutkan dahinya. “Ini jas limited edition. Sangat sulit mendapatkannya.”
“Kalau begitu, kau saja yang mengantarkannya!” dengus Anyelir.
Renan mengambil kaos lengan pendek lalu memakainya, menyisir rambutnya sendiri dengan jemarinya. Dia mencoba mengejar Krisan dengan jas di tangannya. Beruntung, Krisan belum masuk ke dalam lift. Beberapa kali lift penuh hingga Krisan menunggu antrian lift.
“Kris!” seru Renan yang berjalan menghampiri Krisan.
Renan menghampiri Krisan dengan senyum lebar sangat berbanding terbalik dengan Krisan yang menampakan wajah suram. Bukankah seharusnya mereka berseteru?
“Jas-mu tertinggal,” ucap Renan seraya menyodorkan jas-nya pada Krisan.
Krisan semakin kesal dengan raut wajah Renan yang ramah. Pria yang baru saja bangun tidur, tetapi rambutnya masih terlihat rapi. Kulit wajah yang sangat sehat dan mulus, mengingatkan dia pada aktor-aktor dari negri ginseng.
Ya, Anyelir pecinta drama Korea, sangat memuja entah siapa nama pemerannya. Yang jelas, para pria itu tampak tak berpori karena terlalu mulus. Apakah istrinya mewujudkan cita-citanya untuk memiliki pria tinggi, berkulit putih dan wajah yang mulus?
Sangat berbeda dengan dirinya yang sedikit mengabaikan penampilannya. Rambut gondrong tanpa perawatan wajah berlebih. Jika bukan Anyelir yang memaksanya untuk menggunakan facial wash dan para teman lainnya seperti toner dan moisturizer, mungkin Krisan tak akan pernah mengenal skincare seperti itu. Ya, hanya sebatas itu yang ia pakai. Itu pun ia gunakan jika mengingatnya.
Mungkin, yang membuat Anyelir pernah suka dengannya adalah tinggi badannya yang mencapai 1,87 m. Tidak kalah dengan aktor-aktor Korea yang di tonton sang istri. Namun, untuk penampilan lainnya, dia jauh berbeda dengan para artis itu.
Krisan mengambil paksa jas tersebut tanpa ada keinginan mengucapkan terima kasih. Hidungnya mencium aroma wangi yang menusuk. Lelaki di depannya menggunakan parfum. Dia menatap kembali rivalnya. Wajah teduh dan tatapan yang teduh, semakin dirinya kesal.
Apakah Anyelir tak nyaman bersama dirinya? Mengingat kembali Krisan yang kurang memperhatikan penampilan diri sendiri. Terkadang, Krisan membiarkan wajahnya ditumbuhi bulu, kadang dia malas bercukur hingga wajahnya di tumbuhi brewok tipis.
Dia pun tak menggunakan parfum jika tidak pergi bekerja. Bahkan, karena terlalu tidak memperhatikan penampilan, dia asal mengambil parfum. Tak jarang dia menggunakan parfum Anyelir. Ya, itu sering terjadi saat mereka masih hidup sangat sederhana. Krisan lebih mementingkan kebutuhan Anyelir hingga dirinya tak membeli untuk kebutuhannya sendiri. Karena itu, dia menggunakan sedikit parfum Anyelir saat berangkat kerja.
Pria di depannya memiliki kulit yang putih. Berbeda dengan dirinya yang memiliki kulit gandum. Krisan melirik sekilas ada Renan, pria itu mengulas senyum, semakin membuat Krisan kesal.
__ADS_1
“Dari mana kau mendapatkan jas itu?” tanya Renan menunjuk jas yang kini ada di tangan Krisan.
“Kenapa?” tanya Krisan. Dia tak pernah memperhatikan dirinya beli barang apa.
“Itu jas limited edition Louis Vuitton. Hanya ada lima di dunia.”
“Oh, hadiah dari rekan bisnis.”
“Rekan bisnis?"
“Ya,” jawab Krisan singkat. Dia tak ingin berbicara omong kosong. Apalagi yang dibicarakan hanya sebuah pakaian.
Renan mengerutkan dahi. Orang yang memberikan jas itu, pasti memiliki perasaan pada Krisan. Namun, dia tak akan mengatakan pada mantan suami sepupunya itu. Dia menelisik dari atas hingga bawah Krisan, dia melihat sampai ke sepatu yang digunakan oleh mantan suami sepupunya.
“Kau menggunakan jas terbaru Louis Vuitton tapi sepatumu menggunakan Prada musim lalu.”
Krisan hanya mengerutkan kening. Apa salah jika menggunakan barang lama? Krisan telah lama hidup sederhana. Jika barang yang masih bisa digunakan maka dia tidak akan membuangnya. Terlebih, jika barang itu nyaman dipakai. Dia tak pernah mempermasalahkan barang-barang yang digunakan. Sewaktu Anyelir di sampingnya, memang lebih banyak Anyelir yang menyiapkan semua keperluan. Mulai dari keperluan perawatan kulit hingga pakaian yang digunakannya. Jadi, dia tak mengerti tentang fashion. Yang Krisan tahu, dia memiliki banyak barang, entah itu jas, jam tangan, ataupun sepatu tanpa tahu brand yang digunakan.
“Sepertinya kau tahu banyak tentang fashion!” dengus Krisan lalu pergi meninggalkan Renan.
Dia pergi dengan kesal. Mungkin, pria itu cocok dengan istrinya yang selalu update dengan barang-barang branded. Dia sadar, meskipun memanjakan Anyelir. Namun, dia bosan jika harus mengejar barang-barang yang katanya limited edition.
Krisan melangkah dengan menundukkan kepalanya, tatapannya tertuju pada sepatu yang digunakannya. Sepatu Prada yang dia gunakan adalah sepatu tiga tahun lalu. Sepatu yang Anyelir belikan untuknya. Masih tampak bagus dan nyaman, maka dari itu masih ia gunakan. Langkah kaki Krisan melambat, dia melebarkan matanya.
"Ini bukan sepatu musim lalu!" batin Krisan.
Dia masih ingat berburu sepatu itu karena Anyelir yang menginginkannya.
Krisan menoleh kebelakang, Renan belum beranjak pergi, Krisan menghampiri Renan dengan menyunggingkan senyum.
“Kekasihmu, pasti sangat mencintaimu bukan?”
“Ya, tentu,” ujar Renan dengan wajah berseri. Dia jadi merindukan kekasih yang harus dilupakan.
Krisan hanya mengangguk. “Terima kasih telah menjaga istriku. Berikan dia pelukan menenangkan jika dia bersedih,” ujarnya pada Renan.
“Ha?” Renan tak mengerti apa yang diucapkan oleh Krisan.
Krisan berbalik dengan senyum lebar di wajahnya. Tanpa mempedulikan Renan yang bingung di tempat.
"Kau tidak bisa membohongiku, Anyelir! Aku akan membawamu pulang," gumamnya hanya dalam hati.
Krisan pergi dengan langkah pasti, meyakinkan pada dirinya bahwa dugaannya benar. Sekarang, hatinya tenang setelah yakin Anyelir dan Renan tak memiliki hubungan kekasih.
__ADS_1