
"Kau ke sini?" tanya Anyelir pada Renan. Sang sepupu tanpa permisi langsung masuk ke dalam kantornya.
"Apa aku tidak boleh ke sini?" keluh Renan.
"Bukan begitu! Aku senang kau membantuku," timpal Anyelir.
"Aku terlalu sibuk beberapa hari ini. Jadi, aku belum dengar cerita lengkapmu kenapa bisa kembali lagi bersama suamimu," ujar Renan seraya duduk di depan Anyelir. “Oh ya, sekalian ceritakan padaku, wanita yang datang ke apartemen dan membuat keonaran.”
Anyelir menekan tombol control + s untuk menyimpan dokumen yang sedang ia kerjakan di komputernya. Dia mulai menceritakan yang terjadi antara dirinya dan Krisan. Memberi kesempatan sekali lagi pada sang suami. Tentu menceritakan mengapa dirinya sampai mempublikasi pernikahan.
Renan hanya bisa menyimak sang sepupu. “Kau tidak ada rencana bilang pada pamanmu?”
“Aku ingin mengatakan secara langsung. Tapi, bukannya kau sendiri yang bilang bahwa paman sedang ada di Eropa?”
“Ya, ayah semakin sibuk akhir-akhir ini. Entah apa yang dikerjakan,” papar Renan.
“Bukankah kau membantu di Singapura?” tanya Anyelir lagi.
“Ya, semua aman terkendali. Perusahaan berjalan sangat stabil. Hanya saja, aku seperti tak mengenal ayahku sendiri. Dia selalu punya hal yang dikerjakan,” jelas Renan sembari mengerutkan kening.
Hubungannya tak seakrab ayah dan anak. Semua orang tahu dirinya adalah anak dari Petra meskipun sebenarnya dia hanyalah anak angkat. Dirinya hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik.
“Ya, kau benar,” gumam Anyelir.
Petra, meskipun mengatakan dia adik ayahnya. Namun, Anyelir tak punya kenangan dengannya. Selama 3 tahun dirinya ditolong pun tak banyak interaksi antar keduanya. Petra tak punya banyak waktu untuk Anyelir, minim komunikasi. Lebih banyak Renan bersamanya. Belajar bisnis pun sepupunya itu yang membantu.
Saudara sepupu yang saling termenung tak sedikitpun menimbulkan suara. Anyelir dan Renan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nona maaf, Anda tidak bisa masuk,” ujar Vinnie pada Miranda. Tidak ada janji temu membuat Vinnie berinisiatif untuk menahan Miranda.
“Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar,” ucap Miranda dengan tenang. Dia sengaja datang sendiri tanpa sang asisten. Bahkan dirinya datang menggunakan taxi. Tentu dengan menggunakan kaca mata, masker dan juga topi agar tak dikenali. Dia tahu, Cindy tidak akan setuju jika dia datang langsung.
“Nona Fransisca sedang tidak bisa diganggu.” Vinnie mencoba memberi pengertian pada Miranda agar wanita itu pergi.
__ADS_1
Miranda hanya memutar bola mataya malas. Jika bukan karena Krisan yang memintanya meminta maaf, dirinya tak sudi mengemis pada seorang wanita.
“Apa kau pikir aku tidak ada pekerjaan? Aku ke sini dengan cara baik-baik. Temui aku sebentar saja dengannya,” cerocos Miranda.
“Saya mohon maaf. Nona Fransisca sedang ada tamu yang tidak bisa diganggu.”
Miranda melihat jarum jam di arlojinya, waktu sudah menunjukan jam makan siang. Dia yakin, setiap orang membutuhkan makan siang. “Kalau begitu, aku akan tunggu di sini!” Dirinya langsung duduk di kursi tunggu yang berada di seberang meja Vinnie.
Vinnie menghampiri Miranda. “Jadwal Nona Fransisca sangat padat, untuk hari ini sudah tidak bisa menambah jadwal temu lagi. Saya akan mencoba membuatkan jadwal untuk Anda. Setelah mendapatkan waktunya, saya akan konfirmasi pada Anda,” jelasnya.
Tak mungkin dirinya langsung mengusir tamu begitu saja. Semua membutuhkan etika. Vinnie melirik sekilas pada id card visitor yang menggantung pada leher Miranda. Gadis itu masuk ke perusahaan sesuai dengan prosedur pengunjung. Resepsionis tak salah memberikan kartu tersebut. Selain karyawan, pengunjung wajib menukar sementara kartu identitas dengan kartu visitor selama berada di dalam perusahaan. Entah tujuan apa yang dilontarkan Miranda hingga mendapat kartu visitor dari resepsionis. Namun, hal tersebut tak membuat penasaran Vinnie. Terlalu banyak pengunjung yang keluar masuk perusahaan GLK. Entah untuk wawancara, magang mahasiswa atau kunjungan para supplier.
“Aku akan tunggu di sini sebentar, jika memang tak memungkinkan bertemu, aku akan pergi,” ucap Miranda. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai menyibukan diri dengan ponsel di tangan.
“Baik,” jawab Vinnie lalu kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya. Belum juga 10 menit mendaratkan bokongnya di kursi, sudah ada pria yang selama ini mengisi hatinya di depan mata.
“Apa Anyelir ada di ruangan?” tanya Aryo dengan membawa sebuah box berwarna pink.
“Ya,” jawab Vinnie mencoba tenang. Berhadapan dengan Aryo membuat hatinya kacau.
“Aku akan menemuinya,” ucap Aryo lagi.
“Tak masalah. Aku hanya sebentar mengantar barang,” jelas Aryo sembari memberikan senyum manis pada Vinnie.
Aryo langsung masuk ke dalam ruangan Anyelir tanpa melihat ke arah Miranda duduk. Miranda terlalu fokus dengan ponselnya hingga dirinya tak mengetahui Aryo datang. Dia hanya melihat punggung sang asisten kepercayaan Krisan yang menghilang dibalik pintu. Dia bangkit dan menghampiri Vinnie. “Kenapa dia diperbolehkan masuk?”
“Itu tamu nona Fransisca,” jawab Vinnie.
“Kenapa dia boleh masuk sedangkan aku tidak?” cecar Miranda, dia bahkan menghentakan high heels yang digunakan.
Vinnie mencoba untuk bersabar. Tak mungkin dia menghalangi Aryo, sudah titah Anyelir jika Krisan dan Aryo bebas datang ke kantornya.
“Anda pun boleh masuk jika memang sudah memiliki janji,” terang Vinnie. Lebih memilih mengalihkan alasan Aryo datang yang memang sudah memiliki hak bebas akses masuk perusahaan.
Miranda hanya mendecak dan kembali lagi ke kursinya.
__ADS_1
“Kenapa melamun?” tanya Renan memecah kesunyian.
Anyelir tersadar. “Kau juga sama!” dengusnya.
“Sudah siang. Mau makan siang bersama?” tanya Renan lagi seraya berdiri dari duduknya.
“Boleh,” ujar Anyelir yang ikut berdiri.
Mereka berencana makan siang bersama, pintu terbuka dan Aryo masuk ke dalam. “Kau datang kemari?” tanya Anyelir melihat sang asisten suaminya.
“Ya, mengantar barang untukmu,” ujar Aryo meletakan box pink di atas meja kerja Anyelir. Dia melirik Renan sekilas dan memberikan senyum pada sepupu istri bos-nya.
“Untukku?” tanya Anyelir memastikan.
“Ya, bukalah, dari suamimu,” ucap Aryo.
Anyelir mengerutkan dahi. Namun, dia tetap membuka box pink tersebut. Sebuah tas limited edition dari brand ternama. “Kau datang hanya untuk mengantarkan ini?” tanyanya menyipitkan mata menatap Aryo.
“Seperti tak mengenal suamimu saja!” dengus Aryo. Perintah tetaplah perintah, sekalipun itu hanya untuk memberi barang dan dirinya melakukan tugas dengan baik.
“Jangan meremehkan! Tak semua orang memiliki kesempatan memiliki tas itu. Seharusnya kau berterima kasih pada suamimu yang sangat perhatian meskipun dia sedang berada di Jerman!” petuah Renan.
“Yup, dia benar!” ujar Aryo.
“Bukannya tak suka. Hanya saja, tak perlu repot sampai seperti ini. Aku bukan shopaholic!” bela Anyelir.
“Seingatku, kau yang selalu memaksa suamimu untuk memburu barang-barang branded,” ujar Aryo.
Anyelir hanya mendecak, meskipun menyukai barang-barang tersebut. Namun, tidak sampai membuat dirinya menjadi shopaholic, terlebih Krisan selalu mewujudkan keinginannya. Anyelir langsung melepas hangtag label agar bisa langsung ia gunakan. “Ayo makan siang.”
“Kau ingin bergabung bersama kami?” tanya Renan pada Aryo.
“Boleh?” tanya Aryo memastikan.
“Tentu,” ujar Anyelir.
__ADS_1
Mereka keluar dari ruangan. Miranda mendongak setelah mendengar pintu terbuka. Dia langsung menghampiri Anyelir. Melihat dua pria yang sedang berjalan berdampingan dengan wanita itu membuat Miranda terkejut. Dia mengenal Aryo dan tentu masih mengingat Renan.
“Boleh aku bicara denganmu?” pinta Miranda.